PERHATIAN!

Blog ini berisi berbagai macam tulisan saya. Untuk memudahkan pencarian, silahkan pilih menu kategori di samping! (Setelah pilihan Editor)

Selamat Membaca!
Reaksikan dan beri komentar!

My Radio Station

Rabu, 05 Oktober 2011

Mengajar Oh Mengajar...


Hari demi hari kulalui pengabdianku dengan penuh suka dan duka. Dari bekerja di bagian, ikut kerja bersama kuli bangunan, kuliah, dan yang ga kalah penting yaitu mengajar. Aku teringat saat aku masih santri dulu. Betapa aku tak bisa membuka mataku selebar-lebarnya saat guru mengajar pelajaran di kelas. Apalagi jika pelajaran tersebut ku benci dan suasananya vakum. Tak tahu, Allah memang Maha Berkehendak. Dulu saat ada pelajaran tarjamah, aku sering terlelap di kelas dan kebanyakan teman-temanku seperti itu. Tapi, ada hasrat yang menarikku untuk bangun. Meskipun hasrat itu lemah tapi sekali dua kali pernah membuatku terbangun di pelajaran Tarjamah ini. Ternyata rasanya beda mendengarkan penjelasan guru dengan tidur saat guru menjelaskan. Owh… sebenarnya apa yang  membuatku mengantuk saat belajar di kelas… Kini, di pengabdianku, aku mendapat jam pelajaran mengajar Tarjamah di kelas 2F Gontor 3. Sungguh, pada awalnya aku bingung bagaimana metode mengajar tarjamah kepada anak didik yang baik dan benar? Tapi, aku takkan gentar. Berbagai cara kulakukan agar kelas 2F yang kuajar ini mau mendengarkan penjelasanku. Walhasil, usahaku sia-sia. Tepat dua hari yang lalu, aku mengajar Tarjamah. Saat itu banyak sekali kelas 2F yang ramai sendiri saat aku membuka pintu pertanyaan untuk mereka. “Siapa yang kurang paham arti dari potongan ayat agar bertanya”, ujarku. Dalam suasana yang agak berisik, satu persatu bertanya dan aku menulis apa yang mereka pertanyakan di papan tulis. Papan tulis hampir penuh. Mereka masih tetap ngrumpi sendiri tak menghiraukan aku yang berdiri di depan.  Saat pintu pertanyaan akan kututup, ternyata yang tadinya berbincang-bincang sendiri kini telah menelungkupkan kepala mereka di lekukan tangan mereka dengan meletakkannya di atas meja. Dan tentunya dengan mata terpejam. Owh.. Amarahku sempat membludak. Sebenarnya masih ada yang ingin bertanya tapi aku tak menghiraukan mereka yang bertanya karena diriku terliputi oleh rasa marah. Ada lagi yang bertanya lagi-lagi tak kuhiraukan. Ada lagi dan tak kuhiraukan lagi sampai aku selesai menulis di papan tulis. Lalu, kubalikkan badan menghadap mereka. Baru ketika itu mereka terdiam dan yang tidur semakin terjun dalam mimpi indah mereka. Mata mereka tertuju padaku dengan mulut membisu. Suasana kelas tenang sejenak. Semua terdiam seribu bahasa. Kemudian, aku mulai bicara, “siapa yang ingin bertanya lagi?”. Satu orang mengangkat tangan lalu pertanyaannya ku tulis di papan tulis begitu seterusnya sampai lima orang yang bertanya. Lalu kujelskan pelajaran sampai akhir. Kulihat wajah-wajah mereka yang masih bangun. Aku… merasa trnyuh melihat wajah mereka yang antusias memperhatikan penjelasanku. Rasa trenyuhku juga disebabkan karena mereka seakan memelas ingin meminta ilmu tapi aku sebagai guru malah mementingkan amarahnya dan tak menghiraukan mereka. Tapi, rasa itu hanya berlalu sejenak. Aku sempat ingin menitikkan air mata ketika itu. Semoga mereka tak sadar akan hal ini. Bel tanda pergantian pelajaran berbunyi. Aku segera menutup pelajaran. Lalu, kuucapkan salam kepada mereka tapi….. Ketika itu setelah kututup pelajaran, aku berjalan ke meja guru untuk mengambil buku I’dad dan  Al-qur’anku lalu pergi ke arah pintu sembari mengucapkan salam. Tak tahu mereka mendengar salamku atau tidak yang jelas saat itu yang menjawab salamku sangat sedikit sekali. Di luar kelas rasa sesalku semakin menjadi-jadi… Ya Allah.. aku bingung bagaimana cara mendidik mereka… berikan petunjukMu ya Allah……