PERHATIAN!

Blog ini berisi berbagai macam tulisan saya. Untuk memudahkan pencarian, silahkan pilih menu kategori di samping! (Setelah pilihan Editor)

Selamat Membaca!
Reaksikan dan beri komentar!

My Radio Station

Minggu, 24 Juni 2012

Perjalanan Ke Gontor Putri 3

Owh.... Jum'at siang itu.....


Aku berangkat menuju tempat adik2ku berjuang. Di Gontor Putri 3, Karangbanyu, Widodaren, Ngawi. Jauuuuhh..... Puol... Yah... aku ingin melihat keadaan adikku di sana. Semoga mereka baik2 saja dan mereka bisa belajar dengan baik dan mendapatkan pendidikan yang sangat banyak. Mumpung hari2 ini masih kosong dan para santri sedang belajar untuk persiapan ujian tulis, ya... kenapa nggak. Sama, di gontor putri juga sedang hari2 belajar dan belum memulai untuk ujian. Perjalanan sungguh jauh. Aku sendiri masih mikir2 sebelum berangkat gara2 saat itu aku dalam keadaan seperempat sakit kepala. Sakit kepalanya nih, sisa dari sakit kepala 2 hari yang lalu yang pas sebelum UAS (seperti yang kuceritakan sebelumnya). Ok lah! Bismillah. Yakin semua akan baik-baik saja. Everything is Gonna be Okay!. Sebelum berangkat aku makan sop kikil dulu di warung lalu naik bis. Perjalanan dimulai....
Nasi Sop Kikil
Pengamen di Bis (sorry gelap.
kamere HPnya jelek sih)
Pertama naik, untung ada tempat duduk. Tapi, yang duduk di depanku nyalain AC. Waaahhhh.... aku paling ngga tahan sama yang namanya AC mobil n Bis ditambah saat itu aku lagi seperempat pusing. Wah... ningkat jadi setengah pusingnya. Tapi, lama kelamaan, orangnya turun. Pas dia turun langsung kumatiin tuh AC. Ah... lega deh. Perjalananku berlanjut sampai malam hari. Banyak sekali pengamen2 yang bervariasi dalam ngamennya. Hahahaaa... sempet kurekam dan nanti akan kuupload di posting berikutnya...
Setelah menunggu di perjalanan selama 3 jam lebih, sampailah aku di Pondok Gontor Putri 3. Aku bersyukur bisa sampai dengan selamat. Setelah turun, ada temanku nelpon. Lumayan lama sih. Setelah itu baru aku ngojek ke Pondok. Tadi aku turunnya di gerbang pinggir jalan. Untuk masuk ke pondoknya harus mbecak dulu karena jauh di tengah sawah. Hahahaaa.... Setelah sampai, segera aku menuju bagian penerimaan tamu untuk meminta tolong memanggilkan adikku. Sambil nunggu karena saat aku datang, adik2ku masih belajar sampe jam 10.00, aku nyari makan malam. Laper nih belum makan.... Hehe... ternyata ga ada warung yang buka. Terpaksa naik ojek cari nasi di pasar gendingan. Alhamdulillah dapeet... kirain malam ini aku akan kelaparaan.. Lalu aku kembali kepondok, makan dan menunggu adikku.
Jam 10.12, adikku datang dan kami ngobrol panjang melepas kerinduan... Obrolan kami tak terasa sampai jam 11.30 dan pada jam itu, adikku harus pulang ke rayonnya. Yap. silahkan kembali dan jangan lupa berdo'a ya! begitu pesanku pada adik.
Gontor Putri 3 (BAPENTA)
Keesokan harinya, Kami bertemu lagi dan sarapan bareng. Acara sarapan bareng ini mengingatkanku akan rumah. hahaaa. (nggak sampe nangis kok). Lalu, kami lanjutkan obrolan kami sampai jam 07.30 kemudian, adik2ku belajar sampai jam 11.00 . Siangnya kami bertemu lagi dan makan siang bersama. Setelah itu, kami banyak ngobrol tentang kehidupan masa depan dan juga tentang pelajaran yang tidak dipahami oleh adik2ku. berhubung mereka berdua akan menghadapi ujian, maka mereka bertanya padaku apa yang tidak mereka bisa atau yang tidak dipahami.

Akhirnya, jam menunjukkan pukul 14.50. Dan saat itu mendekati waktu Ashar. Waktu itu adalah waktu yang sebenarnya menyedihkan bagi kami karena kami akan berpisah. Aku berencana kembali ke pondok Bumio Darul Ma'rifat Kediri jam 3 sore biar ngga terlambat. Sebelum berpisah, aku berpesan kepada mereka untuk selalu berdo'a untuk kesuksesan mereka, Orang tua dan adik2 serta aku juga. Lalu, agar kita semua (keluarga :ayah, ibu, aku n adik2) hidup bahagia selamanya dan tidak ada gangguan atau belenggu jahat apapun yang mencengkeram kami. Dan satu lagi, untuk agar Allah mengampuni dosa2 kami, dosa orang tua kami dan dosa kaum mukminin di hari terjadinya hisab. Kemudian, kami berpisah setelah mereka bersalaman denganku. Aku hanya bisa menepuk bahu mereka. Kalau dipeluk ngga enak diliat orang. Hiks.. Belum jauh mereka meninggalkanku, kupanggil lagi mereka karena aku lupa dengan satu hal. Yaitu berfoto. Alhamdulillah... akhirnya kami sempat berfoto meskipun posisi fotonya salah... aaaahhh... aku sangat menyayangkan kesempatan berharga ini yang tidak bisa dibeli seberapapun harganya. Lalu, mereka berpamitan dan kata2 terakhir yang kuucapkan untuk mereka adalah "Ma'annajah...Ma'annajah". Kemudian aku pergi menuju gerbang dan naik ojek lalu menunggu bis.

Ya Allah... saat itu kepalaku pusing. Aku tak bisa membayangkan kalau nanti dalam perjalanan pulang di bis aku seperti orang pingsan pastinya. Biarlah...
Bersambung.....

Jumat, 22 Juni 2012

UAS Telah Usai....

Alhamdulillah.............
Kemarin malam, Ujian Akhir Semester Genap telah berakhir. Di semester 2 ini, aku telah melangkah lebih baik dari semester 1 lalu. Tapi, entah aku akan melanjutkan perjuangan semester 2 ini sampai S1 ataukah keluar pondok dengan tujuan yang telah kurencanakan dengan orang tuaku. Allah yang Maha Tahu dan aku hanya bisa berdo'a plus Tawakkal.
banyak hal yang terjadi saat ujian. Hal itu selalu kurasakan setiap aku menjalani ujian. Pertama, karena soalnya mudah, aku fokus terhadap lembar jawaban dan mengisinya sampai selesai. Kedua, aku tak bisa mengerjakan soal entah soal pertama atau kedua, yang pasti soal yang tak bisa kukerjakan ini menghambatku untuk mengerjakan soal. Otomatis tanganku terhenti dari mengerjakan soal. Lalu apa yang kulakukan? Menoleh ke kanan ke kiri, ke depan tapi ngga ke belakang heheheh. Yang kulihat, teman2 semesterku tetap mengerjakan soal dan fokus pada lembar jawaban. Ketiga, Saat aku melihat teman2ku yang tetap fokus mengerjakan sedangkan aku melihat teman2ku yg masih fokus pada lembar jawaban. Posisiku seperti ini adalah saat aku sudah selesai mengerjakan semua soal atau ada satu soal yang menghambatku. Aku pikir, apakah teman2ku ngawur jawabannya atau membuat uraian sendiri atau bahkan aku yang terlalu pinter sampai selesai duluan dari yang lain atau mungkin juga jawabanku terlalu singkat dan kurang tepat. Hahahaaa... Kita lihat hasilnya nanti. Keempat, 2 hari sebelum UAS berakhir, aku jatuh sakit. Entah kenapa kepalaku serasa seperti ditusuk paku sebesar balok dan menancap di dahi sebelah kanan. Rasanya amat nyeri sampai ke bola mata. Dan ini membuatku tak bisa bergerak semalam 2 jam. Ouch.... Setelah 2 jam akhirnya aku bisa sedikit memaksakan untuk ikut UAS. Saat ujian, aku tak bisa fokus. Baru menulis satu kalimat sudah pusing. Sekarang pun, saat aku menulis tulisan ini, pusingnya masih tertinggal dikit2. Kelima, karena aku sakit, malamnya aku tak bisa baca buku. Terpaksa yang kulakukan hanya mendengarkan teman2ku menghafal. Eh, ada yang ngejek. "Halah... sok bisa ngesave apa yang diomongin orang. Aslinya dia nggak bisa baca tulisan arab. hahahaa", begitu ucapnya. Sebenarnya aku marah. Dasar. Meskipun dulu aku 6Q dan yang mengejekku dulu 6P, tapi aku bisa lebih pintar dari dia (ga sombong loh....). Padahal sama2 gobloknya kok ngejek. Ah biarlah... liat saja nanti hasilnya.... Terakhir, saat UAS terakhr kemarin, kami satu semester menggunakan baju yang sama. Kemudian kami mengadakan perfotoan dengan guru senior. Kapan waktu fotonya akan kuupload ke Blog. heheee.. filenya belum di minta.
Ini sedikti goresanku usai UAS tadi malam. Semoga apa yang kurasakan di pondok ini sebelum aku pulang dan meneruskan perjuangan di rumah, bermanfaat untukku, untuk orang tua, adik2, keluargaku, para santriku dan Pondok. Aamiin.....

Jumat, 08 Juni 2012

Aku dan Kursi Guru

Allahu Akbar!
Hari ini, Rabu, 7 Juni 2012, adalah hari terakhir bagiku untuk mengajar di Pondok Modern Gontor 3 darul Ma'rifat. Seketika aku melaksanakan sujud syukur usai Sholat Dzuhur tadi siang. Meski belum pasti aku masih terus mengabdi di Bumi Darul Ma'rifat ini atau keluar untuk tujuan yang telah direncanakan olehku dan orang tua. Mungkin aku harus lebih beristikharah lagi agar Allah memberiku petunjuk lewat apapun itu bahkan lewat hatiku sendiri.
Banyak sekali hal-hal yang terjadi minggu ini. Hari selasa kemarin adalah hari di mana untuk pertama dan terakhir kalinya (mungkin) aku mendudukkan diriku di atas kursi Guru. Seumur-umur, baru sekali ini aku duduk di atas kursi guru. Saat calon pelajar, tak terpikir olehku untuk duduk di atas kursi guru. Tapi saat menginjak ke kelas 1 KMI, aku mulai melihat banyak teman-temanku yang duduk di atas kursi guru saat guru tidak ada atau bahkan saat tidak masuk kelas. Perilaku mereka membuatku ingin sekali mencoba bagaimana rasanya duduk di atas kursi guru. Ternyata ada sesuatu yang menahanku untuk duduk di atasnya. Perasaan dan pikiranku berkata bahwa aku belum pantas duduk di kursi yang sanagat berwibawa tinggi itu menurutku. Okelah. Aku akan mendudukinya ketika aku lulus nanti dan menjadi ustadz.
Aku di kelas 2-B Gontor 3 Darul Ma'rifat
Waktu berlalu dan kini aku sudah menjadi seorang Guru. Mestinya sudah pantas jika dipikir2 untuk duduk di atas kursi guru. Tapi, pikiranku mengganjal lagi. Lagi-lagi hatiku mengatakan yang pantas untuk duduk di sini adalah guru yang sudah tua atau yang lebih senior dariku. Yap... akhirnya selama setahun aku tak duduk di kursi guru saat mengajar dan yang kulakukan adalah berdiri, keliling berpindah2 tempat dan kurasa itu lebih baik agar mengajar terasa lebih berisi. Dan kemarin, aku telah mengkhatamkannya dengan duduk di atas kursi guru. Aku bersyukur akhirnya di saat akhir aku masih sempat duduk di sini. Pengalaman yang tak terlupakan.
Hari ini, karena masuk kelas terakhir, aku berencana untuk membuat kelas yang ku ajari mengakhiri pertemuan denganku secara HAPPY ENDING. tapi yang terjadi adalah kebalikannya. yang ada hanyalah kemarahan, kekhilafan, tangisan dan terakhir permohonan maaf. Aku sebenarnya ikut terharu tapi hanya terlihat sedikit bagi murid2ku (semoga). di kelas 1-M, aku terpaksa marah habis2an dan kuungkapkan semua sakit hatiku terhadap mereka. Suasana kelas hening. Tapi setelah itu kuberi mereka motivasi lantaran kelas mereka bawah yaitu "M" jadi kemampuan mereka belum keluar semua dan jika direndah2kan akan lebih down lagi. Lanjut ke 1-I. Sebelumnya, di kelas 1-I aku belum pernah marah karena aku berusaha menjadi orang yang ramah di kelas 1-I. Keadaan kelas 1-I saat ini memang dalam keguncangan hubungan antara mereka dengan wali kelasnya. Dan aku tak akan menambah mereka pusing dengan kemarahanku yang meluap2. Tapi, akhirnya terjadi. Setelah aku menjelaskan tentang pelajaran Tarikh Islam, sebagian besar dari mereka tertidur lelap..... Lalu, kudiktekan pertanyaan untuk mereka dan dari mereka yang matanya masih terbuka, ku minta untuk mengerjakan soal2 tadi di luar kelas tapi di tempat yang teduh. Dan sisanya tinggal yang masih tidur.... Setelah semua yang bangun keluar kelas, kututup pintu dengan keras dan saat itu juga aku berteriak "BANGUN SEMUA! BERDIRI!"... Dan tak ada hal lain kecuali hukuman bagi mereka. Ugh.... Lalu, lagi lagi karena mereka kelas bawah, kuberi motivasi dan nasehat agar mereka tidak down nantinya. Dan selanjutnya ke kelas 1-C. Sebenarnya aku ingin mengadakan CC (Cerdas Cermat) di kelas tsb tapi gara2 ada 10 orang tidak mengumpulkan tugas PRnya, berubahlah suasana kelas layaknya neraka yang menyala-nyala kobaran apinya. Saat masuk kelas, mereka kuminta untuk maju ke depan dan tak ada yg lain selain hukuman bagi mereka. Pertama adalah push up. Lalu, sedikit kulakukan ru'yah bagi mereka di bagian kaki dan terakhir jewer beruntun. Ini semua kulakukan demi mereka agar mereka tidak mudah meremehkan guru pengajar yang selama ini sejak pertama kali mengajar tak pernah menampakkan raut muka cemberut dan marah tapi sesekali kuperlihatkan pada mereka raut mukaku yang lain. Selesai hukuman, kuberi peringatan bagi mereka yang berdiri dan yang duduk bahwasanya Gontor beda dengan yang lain. Jika anda pintar tapi akhlaq anda rendah dan buruk, maka jangan heran anda tidak naik kelas atau naik tapi di kelas yang sangat bawah atau rendah sekali. betapa Gontor mementingkan Pendidikan daripada pengajaran. Lalu, kupersilahkan yang berdiri tadi untuk duduk kembali. Setelah itu aku memberi nasihat bagi mereka agar mereka selalu giat belajar dan tidak bosan2 untuk berbuat baik. "Hal apa saja yang sudah kalian lakukan untuk orang tua? Yang sudah bisa memberikan sesuatu untuk orang tuanya silahkan angkat tangan!", begitu ucapku kepada mereka. Lalu dengan pertanyaan yang sama tapi kata orangtua kuganti dengan guru. Tetap tidak ada yang mengangkat tangannya. Kemudian kulanjutkan pembicaraanku tentang belajar di pondok. Lima menit sebelum bel, kuucapkan kata-kata maaf kepada mereka dengan suara agak lirih karena saat itu tenggorokanku tercekik rasa ingin menangis. Semua permohonan maafku kulontarkan. Sampai di akhir permohonan maaf dan ingin kuucapkan "kita tutup pelajarn fisika kita di tahun ini dengan membaca Al-hamdallah" tapi baru kuucapkan "ki..", ada seorang murid yang mengangkat tangan. Namanya Farid Ibrahim. Ternyata dia menangis! Ya Allah... hatiku semakin trenyuh... bukan dia saja. tapi banyak... Lebih trenyuh lagi... Farid mengucapkan kata2 maaf mewakili kelas 1-C. Di kelas 2-F kemarin, Zadiq yang mengucapkan kata maaf mewakili satu kelas.Ya. Semua kumaafkan kesalahan2 mereka sejak awal tahun sampai sekarang (1-B, 1-C, 1-D, 1-F, 1-I, 1-L, 1-M, 2-F, 2-B, 2-D) yang tidur saat kujelaskan tentang pelajaran, yang ngobrol sendiri saat kujelaskan tentang pelajaran atau saat aku menulis di papan tulis dan ada juga yang menghina dari belakang semua sudah kumaafkan agar mereka bisa tenang dalam belajar dan tidak terbebani dosa apapun. Semoga mereka naik kelas semua dan sukses Ilman, khuluqon, adaban wa ubudiyatan. Aamiin..... dan.... semoga ilmu yang mereka dapatkan (ilmu yang baik) akan lekat sampai akhir hayat mereka termasuk pengajar ilmu tersebut. Aamiin.............

Sabtu, 02 Juni 2012

Mendekati Ujian

Lama tak nge-Blog....

Wah.. kayaknya gue harus ngebiasain diri untuk ngeblog nih biar update terus blognya. No Problem.
Yups.... Di pondok, ujian akhir tahun untuk para santri makin lama makin dekat. Belajar secara terbimbing mulai diperketat dan waktunya pun juga ditambah. Dibarengi dengan semangat para guru yang terus mengiringi santrinya agar tetap semangat dalam belajar. Semua saling berusaha dan membantu. Santri berusaha dan berdo'a untuk kesuksesannya dan guru hanya bisa membimbing belajar serta mendo'akan santri-santrinya. That's right. itulah yang kualami. Semoga hal ini berkelanjutan sampai tahun-tahun berikutnya dan sampai kiamat sekalipun. Jika tidak, hancur gontor.

Lika-liku kegiatan belajar mengajar pasti kualami dan sebelum-sebelumnya telah kuceritakan di artikel tentang mengajar. Sungguh sedih jika tidak diperhatikan oleh murid saat mengajar. Wuiiiihhh..... lebih-lebih kalau muridnya ngejek gurunya dari belakang. Bener2 bikin muak. Banyak dari guru2 yang mendapat perlakuan seperti itu. Selain diejek dari belakang juga ada yang tidak menaati perintah gurunya, ada juga yang sopan di depan gurunya tapi dibelakang gurunya ia menjadi Penjahat kelas Kakap. Ngeri deh.
Contoh di kelas ....... ada beberapa orang yang tidak taat dengan wali kelasnya. Mestinya ketika belajar itu harus bareng-bareng di satu tempat agar bisa dipantau oleh wali kelas eeeh.... ada dua orang yang beda dari yang lain. Belajarnya jauuuuh.... menghindari perkumpulan. Akhirnya kena deh. Wali kelasnya marah tapi tidak dengat teriak-teriak. Ungkapan kemarahnnya diwujudkan dalam bentuk diam dan tidak menghiraukan. Yang kena jadi satu kelas. Wali kelas tersebut jadi tidak pernah menghiraukan semua anggota kelasnya lantaran ada yang tidak taat. Selain itu juga karena banyak yang tidak mengumpulkan PR... Yang lain... aku sendiri. Yah, lagi2 kelas 2F. Ketika aku praktek sebagian besar tertidur di kelas.... yang memperhatikan pun sepertinya kurang niat... Ouch... dan kelas ........ yang ku ajar ternyata menjelek2 ku dari belakang. Meski cuma satu orang tapi gara2 satu orang itu aku jadi kurang ikhlas. Aku belum tahu siapa orangnya. Tapi memang mengurangi rasa ikhlas itu nggak ada gunanya blas. Cuma merugikan saja. Aku rugi karena dzalim ngga ngajar secara sempurna dan mereka rugi karena ngga dapat ilmu secara sempurna. Ya Allah.... Semoga semua perbuatan mendapat balasan...
Sebagai guru aku harus siap menghadapi rintangan yang bermacam2. OK! jalan masih panjang. Kesempatan tak akan habis dan kesempatan emas tak datang dua kali. Ini adalah kesempatan emas bahwa aku pernah menjadi seorang guru di GONTOR 3. Yeah... Semangat! Keep Smile! Because Everything is Gonna be OK! Terakhir.... untuk murid2ku.. GOOD LUCK !!!! Jangan kecewakan semua gurumu!!!

Jumat, 30 Maret 2012

Aku dan Teman lamaku

Waktu itu..................
Aku menginjakkan kakiku setelah turun dari Bis tepat di depan gerbang sebuah Institusi Pendidikan. Gontor. Gontor 2 Siman Ponorogo. Kala itu, aku terkagum-kagum dan tak ada rasa ragu bagiku untuk mendalami ilmu di dalamnya. Perlahan kumasuki area Gontor 2 melalui gerbang bersama Ayahku. Wow... kulihat banyak bangunan megah. Inikah asramanya...??? aku mulai membayangkan bagaimana aku nanti saat di asrama ya..?? hahahaa... Karena lapar, kami mencari warung di dalam pondok. Ada! untung nasi masih tersedia. Kami makan dengan lahapnya. Setelah itu, melakukan pendaftaran dan menuju kamar yang akan kuhuni nanti. Saat aku masuk, ternyata sudah ada banyak orang yang datang. Tujuan mereka sama sepertiku. menuntut Ilmu. Yah... mereka adalah teman-teman sekamarku nantinya. Sebagian dari mereka ada yang masih bersama orang tua, almari dibereskan orang tua, semua orang tua. Tapi, ada juga yang awalnya datang sendiri dan segalanya ia sendiri. Sungguh perjuangan. sejak awal sudah sendirian. Setelah memasuki kamar dan mendapatkan almari yang telah ditentukan untukku, aku segera merapikan baju-bajuku sendri serta barang-barang yang lain. Saat itulah aku mengenal seorang yang bernama Eduan Rinaldi. Orang yang pertama kali aku kenal saat itu. Saat masih calon pelajar. Lalu, aku dan ayahku keluar kamar dan berjalan-jalan sebentar. Aku masih ingat. Ayahku pernah menunjukkan jarinya pada sebuah tulisan putih huruf kapital di atas papan warna hijau terletak tepat di bawah jam dinding gedung utama. Bertuliskan "KE GONTOR APA YANG KAU CARI?". Aku selalu mengingatnya. Saat aku dalam kesulitan, kebimbangan, kemalasan, kehampaan dan segala masalah pasti aku mengingatnya dan secara tiba-tiba, aku merasakan ada sesuatu yang merasuk dalam tubuhku. Gara-gara sesuatu itu, semua masalahku menjadi sedikit ringan, masalahku mudah dihadapi, dan kesulitan-kesulitan menjadi tiada guna. Wow... luar biasa.... 
Sebulan berlalu....   aku mulai dekat dengan teman sekamarku. Meskipun Ayahku telah pulang ke rumah, tapi aku tak boleh putus asa. Memang, rasa rindu akan rumah, orang tua, adik-adik di rumah dan teman saat sekolah tak akan bahkan tak ada yang bisa membendungnya. Akhirnya, untuk menutupi kerinduan tersebut, aku mulai berbaur dengan teman-teman di sekitarku agar rasa rinduku tertutupi. Aku mulai mengenal yang namanya Sunki Mahmud Sulthon, Wiwit, Ronaldy, Angga Aulia Jaya, Bayu, Roni, Rae Febriansyah, Fakhrur Rizqi yang ternyata satu daerah denganku, Muhajir, Apria Dwi Ramadhan, Dwian Desi Saputra, Zaki Maramis, Rikki Imam Haikal, Fahmi Dwi Putra, Raden M. Adlan Rahim, Donny dan Kholil ketua kamar kami dan masih banyak lagi. Alhamdulillah.... selain Eduan, aku juga dekat dengan yang lainnya.... Aku pernah akrab dengan Eduan. Di mana ada Eduan, pasti ada aku, Fahmi, Zaki dan Rikki. Kami selalu bercanda. Setelah sebulan berlalu, kami sering berpisah. Aku sering sendirian. Eduan tak bersamaku lagi dan aku tak tahu ia di mana. memang almarinya bersebelahan denganku tapi kami tak seakrab kami pertama bertemu dulu. 
Suatu hari, Angga Aulia Jaya mendekatiku. ternyata ia juga tak punya teman. Akhirnya ia menjadi sahabatku yang kedua. Tapi itu hanya berlangsung seminggu... tanpa disadari, Angga sudah berganti sahabat dan ia bersahabat dengan Wiwit. Kini aku sendirian lagi. Kulihat sekelilingku. Ternyata ada yang lebih sendirian daripada aku. Rae. Dia ternyata tak segembira aku meskipun wajahku nampak sedih. Yah... memang semua yang ada di kamar Palestina 114 ini berteman. hanya saja untuk mengungkapkan isi hati butuh seseorang yang mau menerima luapan isi hati seorang teman. Itu yang dicari manusia-manusia yang diam. Mungkin Rae seperti itu. Aku mendekati Rae yang diam. Akhirnya kami akrab lebih akrab dari teman-temanku yang sebelumnya. Saat senang kami bersama. Saat susahpun bersama. Yap... Sandal Rae hilangpun aku ikut sedih... hahahaa.. ternyata setelah itu sandalku ikut hilang juga. Lucu. Hal ini berlangsung selama sebulan lebih sampai tiba waktunya Yudisium Calon Pelajar. Aku duduk bersama Rae dan Fakhrur Rizqi. Fakhrur di sebelah kanan dan Rae di sebelah kiri. 
Nomor ujian mulai dibacakan untuk yang lulus di Gontor 1. Gontor 1 adalah Gontor pusat dan pastinya yang bagus-bagus di luluskan di sana. Banyak yang berteriak "Ah... nomorku tidak disebut". Ada yang bilang "Yess....". Betapa senangnya ia.... hantinya mungkin berbunga-bunga dan senangnya bukan main..
 Tiba nomor 1157.... aku mulai deg-degan... setelah nomor 1157 ternyata 1158 tak disebutkan. Langsung ke nomor 1159. Ternyata itu nomor milik Fakhrur Rizqi. Yah... spontan ia berteriak gembira.. Lalu.... 1160. Nomorku! Yeah.... Aku senang. Tapi senangku belum sepenuhnya karena Rae belum disebutkan. Aku terus menyemangati Rae agar terus bersabar... sabar.. sabar..... pasti Allah memberikan yang terbaik.. lima menit kemudian, selesailah untuk yang lulus di gontor 1. Kemudian berlanjut yang lulus di Gontor 2,3,5 dan 6. Aku dan fakhrur terus menemani Rae smapai namanya disebutkan. Mata rae makin berkaca-kaca saat panggilan sudah di Gontor 6. Masih tanda tanya antara ia lulus atau tidak.... ternyata... namanya tidak ada. Ia tak bisa membendung lagi air matanya. Aku masih menyemangatinya untuk terus bersabar.... Tibalah waktunya dibacakan untuk yang belum lulus. Yah.... Rae termasuk di dalamnya. Aku tak mampu menyemangatinya lagi. Kesabarannya sudah ahabis. Tangisnya tak tertahankan lagi. Aku hanya bisa merangkulnya dan bilang "sabar"... Tidak apa-apa. Kita pasti bertemu nanti. Yah... ia pasti sedih telah mengecewakan orang tuanya. Aku hanya bisa berdo'a semoga temanku ini diberi kebaikan oleh Allah...
Malam hari datang. Tiba saatnya perpulangan. Aku dan Rae berpisah karena Konsulat Malang pulang lebih dulu. Sementara Rae masih di pondok karena pulangnya belakangan. Yap.. aku sedih berpisah dengan sahabatku. Kami berjanji akan bertemu di suatu saat nanti.. Aku menangis sepanjang perjalanan. Karena lelah akhirnya aku tertidur lelap....

*****
 
Siang itu.......
"jih, beli sate yuk!", ucap Ustadz Helmi Lisnawan yang saat itu memboncengku di atas sepeda motor setelah dari kantor pos untuk membuka rekening. Sialnya, untuk membuka rekening tidak bisa dengan kartu tanda mahasiswa (ktm). Terpaksa aku mundur teratur dan mengurungkan niatku untuk membuka rekening. Aku menjawab "oke!". Yup! Siang itu kami menikmati sate ayam dan kambing di daerah Gurah. Usai makan, Ustadz Helmi menanyakan sesuatu kepadaku. "awakmu nggak ke Gontor untuk menanyakan majalah ITQAN?". "Ke Gontor? Naik apa ustadz?", balasku. "Ikut Tonny aja kan dia nganterin Pak Muslih", jawabnya. Memang saat itu kami sedang mengadakan seminar dengan pembicara Dr. Muhammad Muslih dari Gontor Ponorogo. Wah... itu ide bagus. Aku coba menghubungi Ustadz Nur Wahyudin karena beliau ketua seminar. Aku menanyakan apakah aku boleh ikut ke Gontor. Ia menjawab dengan ribuan pertanyaan, kenapa? dsb. Tapi, akhirnya aku pergi juga ke Gontor meskipun ada beberapa orang yang kelihatannya kurang senang dengan ikutnya aku ke sana. Hahahaaa....
Aku dan Rae Febriansyah Wibowo
Usai mengantarkan pembicara, kami mampir ke Gontor. Pertama kami transit sebentar di KUK dan setelah Sholat Maghrib kami transit di Yayasan. Hanya saja aku tidak ikut. Aku memilih untuk pergi ke ITQAN untuk menagih majalah buatan angkatanku. Owh... lama sekali aku menunggu pengurusnya. Sampai waktu Isya' hampir tiba aku baru bertemu kader ITQAN. Usai Adzan Isya' aku baru bertemu mereka. Tapi sebelum itu, aku teringat oleh seseorang... seorang teman lama yang tak pernah kujumpai selama 6 tahun. Wow.. lama sekali... Dialah Rae.. Yap. Kudengar dia tinggal di bagian Olah raga. Aku meminta seorang anggota konsulatku untuk memanggilkannya. Kebetulan dia sekamar dengan Rae. Sambil menunggu pengurus ITQAN datang, aku melihat-lihat sekeliling dengan duduk di atas kursi. Terkejut aku bukan main dengan orang yang kulihat di depan mataku. seseorang datang dan tersenyum ceria. "Rae! Apa kabar....????? Lama tak jumpa!". Yah.... Wajahnya tetap seperti dulu tapi kini ia lebih ceria daripada dulu. Yap. Akupun iktu senang. Kemudian kami mengobrol panjang sekaligus melepas kerinduan kami. 6 tahun adalah waktu yang lama untuk memisahkan seorang sahabat. Tapi, memang waktu selalu berlalu dengan cepatnya. Dengan terpaksa kami berpisah. Tapi sempat mengambil gambar sejenak. Kenang-kenangan untukku dan untuknya. Mumpung masih ada kesempatan kapan lagi... Good Luck Rae!!! Meskipun masih kelas 6, aku yakin kamu bisa menjadi Alumni yang Khusnul Khotimah!

Koin Baru

Koin Seratus Rupiah

Koin Seribu yang baru
Koin Dua Ratus Rupiah
Sebulan yang lalu, sampailah ke tanganku sebuah koin yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Ya! Koin seribu rupiah terbaru... hahaha... aku teringat sesuatu. Saat aku pertama kali melihat pertama kalai uang koin seratus rupiah dan dua ratus rupiah. Itu terjadi saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Masih segar dalam ingatan, Waktu itu aku dan temanku ingin membeli makanan di kantin sekolah dan mendapat uang kembalian dua ratus rupiah tapi dalam bentuk satu koin. Lantas, kami heran. Apakah ini uang baru? Spontan ibu penjual di kantin berkata,"itu uang baru, nak! nggak apa....". Owh... kami kira itu uang palsu. Hahahaaaa....

Facebook, in it use..

FACEBOOK sepertinya sudah tidak asing lagi di telingaku. Begitu pula orang-orang yang melihat komputer plus internet di kehidupan sekelilingnya. Kalaupun dia bilang "aku nggak punya facebook dan nggak akan punya", itu terserah dia. Lama kelamaan dia akan kepingin punya facebook. Dasar anak muda.... Hahahaaa..... Mumpung masih muda.
Kebanyakan, orang yang punya facebook menuliskan keluh kesahnya di facebooknya sehingga semua temannya tahu apa yang ia pikirkan saat itu. Memang bagus. Tapi, alangkah baiknya jika berbagi sesuatu yang bermanfaat dan keluh kesahnya pun juga bermanfaat...( emang gue kayak gitu ya..?? ) . Aku sendiri berusaha untuk itu meskipun tak menarik perhatian orang (emang status untuk perhatian orang ? ;( ....). Hahaha... yang paling nggak berarti lagi, saat chattingan isinya cuman nanya "kamu lagi ngapain?", atau "gimana kabarnya?".... menggelikan!
Note : Buat facebookers yang seperti itu jgn tersinggung ya!..

Jumat, 24 Februari 2012

Beberapa moment yang terlewat....

Foto 1 : Saat rekan konsul saya sedang merencanakan suatu acara, kami mesti berkumpul di suatu tempat agar mudah menyetarakan pendapat serta menyelesaikan kendala-kendalanya. Saat saya kelas empat KMI, tempat yang paling sering kami gunakan untuk berkumpul adalah rumah salah satu dari rekan konsulat malang yaitu Hirzul. Tapi, sekarang sudah tidak lagi karena ada beberapa masalah, akhirnya tempat berkumpul berpindah ke rumah Hisyam.


Foto 2 : Hmmm..... Indahnya kota Kediri memang tak seindah Kota Malang. Tapi, apa salahnya jika saya berkunjung ke pusat Kota ini. Saat itu, saya sedang menemani teman untuk suatu keperluan. Karena waktu Sholat Ashar sudah masuk, kami mencari masjid untuk Sholat. Ketemulah Masjid Agung Kediri. Bangunannya yang mega membuat saya terkagum-kagum sampai2 saya sempat mengambi gambar di masjid ini. Dari masjid ini saya bisa melihat ramainya jalan raya yang tiada habis dengan kendaraan serta alun-alun yang tak pernah kosong dengan pejalan kaki dan pedagang kaki lima.

Foto 3 : Saat itu adalah saat yang sekarang dengan sebenarnya ingin sekali saya ulangi. karena rasa penyesalan yang tak akan pernah hilang sampai akhir hayat. Yah, di situlah saya berjuang bersama keenam kawan saya. Dari Kanan bawah : Al-Khaledi Kurnialam, Rajih Arraki' (Myself), Taufik Nugroho, Ricky Nuari, Laili Annas Sholihan. Kanan Atas : M. Iksan Rahmadian, Iir Sholahuddin. Sekarang saya ingin sekali memberikan bantuan apapun untuk ITQAN tapi, ada saja penghalang yang tak bisa saya tembus. Entahlah... Takdir Allah berkata lain. Tapi saya yakin pasti Allah memberikan jalan keluarnya....

Foto 4 : Saya lupa bulan apa, yang penting di awal tahun, saya sempat berkunjung ke tempat adik2 saya berjuang. Gontor Putri 2 dan Gontor Putri 3. Entah apa yang membuat bingung yang pasti pikiran saya lebih bingung ditumpuk bimbang ditambah galau dan dilapisi risau serta pilihan.... akhrinya saya memutuskan untuk menggunakan sepeda motor untuk pergi ke sana. Saya tidak sendirian. Dengan teman saya bernama Huda Ihsanilhaq, kami berselancar dari Kediri ke Ngawi. Memang kalau tidak karena pertolongan Allah kami tak akan sampai tepat waktu. Karena, waktu itu hari kamis dan adik saya ingin periksa di hari Jum'at. Sedangkan saya baru dapat izin pada hari kamis siang. Jika saat itu saya naik bis mungkin saya akan sampai sana Jum'at siang atau lebih siang lagi. Pikiran saya panjang karena bis. Yah... ini memang sekali seumur hidup dan Insyaallah jika tidak ada sesuatu genting yang membuat saya bigini tidak akan saya lakukan lagi. Memang keselematan itu lebih penting. Walhasil, saya sempat terjatuh gara-gara di depan saya ada truk gandeng menyelip truk tangki pertamina. Terang saja jalan aspal selebar itu langsung penuh tak tersisa. Terpaksa saya k pinggir sedangkan kecepatan masih 40. saat rem saya injak tepat ada lubang yang tidak lumayan besar di depan saya. otomatis keseimbangan hilang dan ....... Allah berkehendak lain dari pikiran saya. Keajaiban Allah terlihat...... benar-benar saya kurang do'a dan kurang ibadah.... benar-benar menyesal.... di perjalanan pulang, saya merasa sedikit tertekan dan tidka tenang mengingat saat saya terjatuh, saya membonceng adik saya. Adik saya memang tidak apa-apa. hanya sedikit luka. Tapi, kasihan... dia belum merasakan kejadian sedemikian rupa. Yang terjadi biarlah terjadi. Ambil sisi positifnya. Itu menjadi pengalaman hidup bagi saya dan adik saya agar selalu mengingat keluarga dan mengingat apa tujuannya menuntut ilmu di pondok... owh... untunglah ada Huda.... teman saya ini baik sekali.. kalau tidak ada dia mungkin saya tidak bisa kembali ke pondok hari itu juga... Allah maha tahu apa isi hati hamba-Nya....
Pesan untukku :
1. Mementingkan apa yang orang tua katakan
2. Bersikap tenang saat mengendarai motor
3. Positive thinking....

Foto 5 : Hey! Ada anak burung!... begitulah gumam saya saat menggeser mouse ke arah kanan. awalnya saya belum sadar kalau ada anak burung di samping kanan mouse komputer di kantor DCC. Tapi saya kaget saat itu. tak bisa dipercaya. siapa yang membawanya ke sini.. hahahaaaa...... ternyata salah seorang rekan saya karena melihat burung tersebut terjatuh dari pohon depan kantor Guru lalu membawanya ke kantor DCC. Hmm... saya dgn huda memberinya sedikit beras dan air selama 2 hari tapi setelah dua hari, burung ini bersikeras untuk keluar dari ruangan. ia ingin terbang!. Ya.. saya bawa ia ke mana ia suka. Saat ia mencoba terbang... jatuh!.. untuk kedua kalinya saya bantu dia untuk terbang.. kepak.. kepak.. kepak.. jatuh! terus menerus sampai ke tempat yang banyak pohon. Akhirnya dia lepas dan tak mau lagi saya bantu.. Baik.. tak ada lagi yang bisa saya lakukan kecuali ucapan selamat tinggal... semoga kamu bisa terbang dan menemukan indukmu.. senang bisa merawatmu meskipun hanya dua hari... kemudian saya berlalu sambil sesekali menengok ke burung tersebut...


Kantor Teknologi Informasi
Pondok Modern Gontor 3 Darul Ma'rifat
Jum'at dini hari, 24 Februari 2012