Langsung ke konten utama

Bergelut dengan Sosiologi

What do you think about sociology?
Society?
Problem Solving?
Auguste Comte?
Karl Marx?
Max Weber?
and so on???

Wahahahahaaaaa.......
Tak terasa sudah dua semester kulalui (tepatnya satu setengah semester sih) di Sosiologi UMM. Banyak hal kutemukan tentang Sosiologi. Ternyata belajar Sosiologi itu nggak ngebosenin. Dulu aku emang nggak terlalu suka Sosiologi karena terkesan membosankan, tapi nyatanya lumayan menyenangkan. Tokoh2nya bukan hanya beliau2 bertiga yang aku sebutin di atas, tapi super duper banyaaakk.. Orang-orang pasti tahu kalau Auguste Comte itu Bapak Sosiologi. Padahal masih ada satu lagi Bapak Sosiologi yang nggak kalah sangarnya, namanya Emile Durkheim. Yah, selain ilmu, aku menemukan banyak kenalan, teman, relasi bahkan berkenalan dengan dosen-dosen. 
Pulang bareng teman-teman

Satu per satu pengalaman dan memori-memori kegiatan terekam dalam pikiranku. Mulai dari pulang bareng teman-teman, futsal, farewell party yang super gila, sampai UTS dan UAS yang membingungkan. Walhasil, IPku di semester satu hanya sebesar 3,33. IPKnya 3,50. Kecil sekali bagiku karena teman-teman yang dari Gontor IPnya besar semua. Memang harus ada peningkatan mulai dari cara belajar sampai nilai bahkan sofskill.

Pemilihan Ketua Tingkat
Ceritanya, di awal perkuliahan, dosen-dosen kebanyakan nunjuk saya untuk menjadi penanggung jawab kelas buat bikin kelompok atau sebagai CP kelas untuk menerima kabar dari dosen. Lalu, dengan ajakan temanku yang bernama Astriadi Alimuddin dan kemauanku sendiri, kami beranikan diri untuk mencari keberadaan dosen wali kami yang sejak pertama kali masuk kuliah kami berlum bertatap muka sama sekali dengan beliau, Dr. Vina Salviana Darvina Soedarwo, M.Si, karena saat hari pertama masuk kuliah, yang mengisi jam mata kuliah saat itu adalah Bapak Ketua Jurusan Sosiologi, Bpk. Rachmad K. Dwi Susilo, MA yang memperkenalkan pada kami tentang jurusan Sosiologi. Perlahan kami cari nomor kontak Bu Vina dan ketemulah akhirnya. Beliau ternyata aktif di DPPM (Direktorat Penelitian dan Pengembangan Masyarakat). Setelah melalui komunikasi singkat, kami menemui beliau di kanor DPPM dan mendiskusikan soal pertemuan anggota kelas dengan Dosen pembimbing. Saya lupa hari apa, yang jelas kami akhirnya berhasil mengadakat pertemuan itu di Lab. Sosiologi. Saat kami menemui beliau di kantor DPPM, kami mengusulkan bu Vina untuk memberikan sedikit arahan pada kami tentang pandangan
perkuliahan kedepannya dan juga mengadakan pemilihan ketua tingkat (ketua kelas) yang akan mengayomi anggota kelas sampai akhir. Dan.............
Usai pemilihan yang dikandidati oleh 5 orang awalnya dan menjadi 6 orang pada akhirnya atas permintaan teman-teman semua, yaitu Astriadi Alimuddin, Anton Novantius, Sulistyaningsih, Ade Irma Soryani, Adril dan terakhir saya sendiri. Entah apa yang membuat teman-teman berfikir demikian, kenapa saya yang akhirnya menjadi seorang Ketua Tingkat. Tak apalah, itung2 pengalaman. Sekali2 jadi ketua yang penting Enjoy Aja!!! Hehehe....
Semuanya berlalu dengan lika-liku yang membingungkan. Tak terasa tugas semakin menumpuk, materi perkuliahan semakin banyak, banyak keperluan yang membutuhkan biaya pastinya dan WoW! sungguh kuliah yang melelahkan. Seringkali kuliah pasti pulang malam lantaran mengerjakan tugas di kampus (karena ada wifinya), ada kegiatan UKM dan organisasi. Jadi nggak enak nih sama Almh. Ibuku. Saat itu beliau masih ada.
Di awal kegiatan perkuliahan, ada satu kegiatan yang melibatkan semua Mahasiswa baru, yaitu Student Day. Waw....

bersambung ok.....

Komentar

  1. Wah.. selamat yah... youare the best :) hhee

    BalasHapus
  2. saya mengikuti jejak kakak :)
    semoga sukses selalu kak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.... Siipppp...
      Semoga sukses ya :)

      Hapus
  3. boleh lah dikirim tema diskusi yg mau didiskusikan...

    BalasHapus

Posting Komentar

Komentarin yaa... Saya seneng banget kalau dikomentarin. Terima Kasih :)

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Ke Gontor Putri 3

Owh.... Jum'at siang itu.....


Aku berangkat menuju tempat adik2ku berjuang. Di Gontor Putri 3, Karangbanyu, Widodaren, Ngawi. Jauuuuhh..... Puol... Yah... aku ingin melihat keadaan adikku di sana. Semoga mereka baik2 saja dan mereka bisa belajar dengan baik dan mendapatkan pendidikan yang sangat banyak. Mumpung hari2 ini masih kosong dan para santri sedang belajar untuk persiapan ujian tulis, ya... kenapa nggak. Sama, di gontor putri juga sedang hari2 belajar dan belum memulai untuk ujian. Perjalanan sungguh jauh. Aku sendiri masih mikir2 sebelum berangkat gara2 saat itu aku dalam keadaan seperempat sakit kepala. Sakit kepalanya nih, sisa dari sakit kepala 2 hari yang lalu yang pas sebelum UAS (seperti yang kuceritakan sebelumnya). Ok lah! Bismillah. Yakin semua akan baik-baik saja. Everything is Gonna be Okay!. Sebelum berangkat aku makan sop kikil dulu di warung lalu naik bis. Perjalanan dimulai....
Pertama naik, untung ada tempat duduk. Tapi, yang duduk di depanku nyalain AC. W…

Pengangkatan mudabbir

note : mudabbir: Pengurus di pondok gontor yang diambil dari kelas 5
rayon : Asrama

Tanggal 15 syawwal 1430 h / 4 Oktober 2009 m

Hehehe..... pengangkatan mudabbir. adalah suatu acara yang ditunggu2 oleh segenap siswa kelas 5. Gimana nggak lha wong itu yang menentukan dia tuh jadi pengurus atau jadi pengangguran gak punya kerjaaan selain ke Masjid dan Insya Allah cuma itu dan gak ada kerjaan lain... tapi beda dengan orang yang otaknya encer dia akan memanfaatkan waktukosong untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat.
Waktu itu aku bareng temen2 ITQAN berangkat bareng dari Gedung Tunis Lantai 2 ke masjid Lantai dua dengan menggunakan baju putih, peci dan celana hitanm serta tak lupa buku tulis dan pena tentunya. Saat yang mendebarkan... Hatiku bertanya2 aku jadi mudabbir ga ya?? kalo iya mudabbir rayon mana??? sedangkan aku sekarang duduk di kelas 5R . Rasanya ga mungkin aku jadi Mudabbir karena untuk memungkinkan jadi Mudabbir itu kelas B sampai N. Dibawah itu proletar semuanya. tah…

Update di Medsos Pakai Cuplikan Film di Bioskop? Boleh?

Film Dilan 1990 yang sedang tayang di bioskop berhasil meluluhkan hati para penontonnya, pun juga
yang belum nonton pasti dapet spoiler dikit-dikit lah ya dari yang udah nonton. Tak sedikit yang terpukau dengan keromantisan kisah Dilan dan Milea, pun juga sisi pribadinya sehingga banyak yang terinspirasi, atau mulai muncul bumbu-bumbu galau dalam kehidupannya.

Eits, di tulisan ini aku bukan nge-review Film Dilan 1990 loh, tapi membahas salah satu perilaku para penonton Film fenomenal yang didutradarai oleh Fajar Bustomi dan Ayah Pidi Baiq. Mereka baik yang belum maupun sudah menonton pasti pernah update media sosial mereka baik instastory, posting instagram, story di facebook, story di whatsapp dan banyak media soaial lain. Uniknya, banyak cara untuk mengungkapkan pemikiran atau perasaan mereka di medsos dan menggunakan film Dilan sebagai representasi atau juga media pembenar juga pelegitimasi pemikiran serta perasaan mereka. Pasalnya, ada cara yang kurang lazim bagiku.
Cara yang kuran…