PERHATIAN!

Blog ini berisi berbagai macam tulisan saya. Untuk memudahkan pencarian, silahkan pilih menu kategori di samping! (Setelah pilihan Editor)

Selamat Membaca!
Reaksikan dan beri komentar!

My Radio Station

Selasa, 02 September 2014

Aku, ITQAN Group dan Forum Diskusi Ilmiah

Pengurus ITQAN Group 685/2011
Saat aku kelas 5 KMI....
Aku terpilih untuk menjadi kader ITQAN Group. Situasiku setengah mendukung setengah menolak. Satu sisi aku ingin bergerak di ITQAN, bersaing pula dengan seorang sahabatku, namun di sisi lain aku berada di posisi kelas bawah, 5R. Terlebih, aku belum pernah mengalami menjadi pengurus asrama. Biarlah. aku terpilih dengan Taufik Nugroho menjadi Kader ITQAN Group 2010. Kata lain dari terpilihnya menjadi kader adalah terpilihnya aku dan taufik untuk menjadi Pimpinan Umum atau Pimpinan Redaksi. Entah salah satu dari kami nanti pasti berada di 2 posisi penting itu.

Waktu berlalu dengan cepatnya. Tibalah saatnya pergantian pengurus. Taufik, aku beserta kawan seangkatanku naik menggantikan posisi senior yang turun dari kepengurusan mereka. Yap. Akhirnya, Taufik lah yang berada di posisi Pimpinan Umum sedangkan aku di Pimpinan Redaksi. Bagaikan 2 ketua dalam 1 organisasi. Namun, posisinya dibuat Pimpinan Umum berada di paling atas dan di bawahnya barulah Pimpinan Redaksi. Kami masih duduk di kelas 5 saat itu. Pengurus harian ada 5 orang yaitu, Taufik, aku, Endri Prasetyo, Fachri Abu Bakar & satu lagi aku lupa antara Alkhaledi Kurnialam atau Ricky Nuari karena memang periodenya hanya beberapa bulan sebelum kenaikan kami ke kelas 6.
Usai kenaikan kelas, aku dan taufik harus berpisah dengan fachri dan endri karena mereka lulus namun di tempatkan di pondok cabang. Akhirnya, pengurus harian berganti  menjadi Taufik, aku, Laili Annas Sholihan, Ricky Nuari dan Alkhaledi Kurnialam. Saat itu, kami menerima 4 orang anggota baru ITQAN Group yang sudah kelas 6 berasal dari kendari. Salah satu dari mereka kami angkat menjadi pengurus harian. Mereka adalah Ahsan Qashash, Abdul Rachman Bahtiar, Laili Annas Sholihan dan Muhammad Nur Adiatma. Saat itu, terpilih 2 orang kader yang akan membantu kami dan sebagai benih kelanjutan ITQAN, yaitu Mohammad Iir Solahuddin dan Muhammad Iksan Rahmadian. Dan, pengurus harian berjulah 7 orang. Kawan seangkatan lain juga pengurus hanya saja tidak tinggal di kantor ITQAN karena mereka berada di bagian-bagian OPPM dan Non-OPPM.

Suka duka kami lalui dengan penuh halangan, rintangan serta cobaan bahkan cemoohan. Mungkin karena kekurangan-kekurangan. Biarlah. Itulah usaha kami. Ada beberapa moment yang tak terlupakan dalam memoriku, yaitu :
1. Pemilihan Kader ITQAN. Yang ini sudah kuceritakan di posting sebelumnya.

2. Pemilihan Pimpinan Umum dan Pimpinan Redaksi oleh pengurus harian angkatan atas. 

3. Perpisahan dengan Endri dan Fachri. Selama 3 bulan, mereka berdua mampu meramaikan kantor tiap harinya dengan canda tawa. Namun, mereka pergi untuk 1 tahun lamanya. Tak hanya Endri dan fachri, Ahmad Habib Musthofa, Prasetyo Budi Utomo dll juga terpaksa pergi ke tempat lain. Tak apa, tempat perjuangan tak hanya di Gontor Pusat. Pondok Cabang juga perlu diperjuangkan.

4. Saat aku menjadi panitia Panggung Gembira 685, aku sempat di tanya, "Kamu mau jadi bagian apa?". Aku tetap yakin. "Saya masih di ITQAN saja".

5. Kedatangan Penulis Negeri 5 Menara, Ust. Ahmad Fuadi yang merupakan senior kami, senior ITQAN Group tahun 1992. Saat itu, ITQAN hendak mengadakan acara bedah buku Negeri 5 Menara namun belum kesampaian. Hanya saja ITQAN berkesmpatan untuk menjadi marketer buku Negeri 5 Menara saat itu karena kebetulan Darussalam Press yang kesampaian untuk mengadakan Bedah Buku Negeri 5 Menara. Ini terjadi saat aku kelas 5.

6. Ust. Ahmad Fuadi datang untuk kedua kalinya. Beliau kali ini datang karena ITQAN Group mengadakan event bedah buku kedua beliau yaitu "Ranah 3 Warna". Kebetulan Ricky Nuari menjadi ketua pelaksana. Saat itu kondisi tubuhku kurang fit jadi tak maksimal untuk mempersiapkan serta turun untuk acara ini.

7. Ini saat paling memalukan. Aku dan Annas usai mengajukan majalah ITQAN yang kami buat ke pembimbing. Namun, beberapa hari kemudian, pembimbing membawa majalah mentah kami ke kantor dan kebetulan beliau mengisi saat itu. Lalu, aku dan annas datang setelah 30 menit beliau mengisi di ITQAN. Kami berdua di sambut dan diminta duduk di depan. Majalah yang kukerjakan dengan Annas habis-habisan di evaluasi pula habis-habisan. Namun, tragisnya, hal ini terjadi di depan para anggota ITQAN yang baru-baru dan tingkat menengah. Ada beberapa dari mereka yang mencemooh perlahan namun menyakitkan, ada pula yang hanya melihati kami berdua sedari tadi. Lantas, kami berdua tertunduk malu. Iir, iksan dan pengurus harian yang lain juga ikut tertunduk. Aku bingung harus berbuat apa saat itu. Semalaman, aku tak bisa tidur. Sempat aku putus asa. Namun, melihat Annas tetap semangat mengedit majalah, hatiku tergerak. Annas yang belum merasakan lama di ITQAN saja semangat, maka aku juga harus semangat. Majalah berlanjut meskipun penerbitannya usai kami lulus. Sungguh sebuah degradasi.

8. Pada masa-masa ujian, kami menggunakan gudang ITQAN untuk belajar bersama, sharing ilmu, sahur bersama dan tahajjud bersama. Kami tirakat bersama di gudang ITQAN yang lumayan sempit. Semoga kami sukses di masa depan. Aamiin...

9. Ngecat background adalah hal yang kurang bisa kami lakukan namun kami memaksa untuk membuat. Yah, kalau bukan kami, siapa lagi. Hehe meskipun bentuknya jelek namun menjadi kenangan terindah.

10. Kami seangkatan berjanji akan bertemu di tahun 2020.

11. Pemilihan Pimpinan Umum dan Pimpinan Redaksi yang baru. Kami memilih antara Iir dengan Iksan. Siapa yang akan berada di posisi PU atau Pimred. Yah, akhirnya jatuh pada Iir sebagai PU dan Iksan sebagai Pimred. Proses pemilihan amat panjang dan butuh pertimbangan.

12. Dan lain lain yang tak bisa kuceritakan satu per satu.

******

Kini, aku melanjutkan studiku di Universitas Muhammadiyah Malang. Sebagai seorang Rajih, aku tak mau hari-hariku hampa. Maka, kusibukkan diriku dengan berbagai aktivitas, asal kuliah juga terkontrol meskipun sempat tak terkontrol di semester 3. Aku aktif di Organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komissariat Renaissance FISIP dan aktif pula di Unit Kegiatan Mahasiswa Forum Diskusi Ilmiah (FDI). FDI ini mirip-mirip dengan ITQAN Group.

Beberapa waktu yg lalu, aku terpilih menjadi Ketua 1 di UKM FDI bersama dengan Sakinah Nur Rokhmah sebagai Ketua 2. Detik-detik itu membuatku teringat saat masa kelas 6 KMI dulu. Bersama Taufik aku berusaha memotori ITQAN agar menjadi lebih baik namun sangat kurang maksimal. Aku tak mau kekurang maksimalan yang telah terjadi dulu terulang kembali.

Ada beberapa kejelekanku yang harus aku jadikan pelajaran dan mungkin pembaca juga bisa menjadikan ini pelajaran.

1. Dulu, di ITQAN, aku selalu merasa ingin dihormati. Aku terlalu peduli dengan harga diriku yang dulunya kader ITQAN kemudian menjadi Pimred. Bahkan, PU pun ku kritik seakan-akan akulah yang pantas untuk menjadi PU. Secara, saat itu masih ada benih-benih ketidakterimaan dalam diriku. Mengapa bukan aku yang menjadi PU padahal aku sudah bekerja banyak sedangkan partnerku hanya sekedarnya saja. Terlebih ia cenderung memilih untuk berada di OPPM ketimbang di ITQAN. Tak hanya PU yang kujadikan sasaran. Seluruh Pengurus harian kukritik dan kuberi solusi seakan aku paling benar sendiri. Yah, perbuatan cerobohku ini berdampak pada diriku pula. Saat aku sakit gejala tipes, tak ada yang memerhatikanku. Beban permajalahan juga tertumpu padaku. Pernah suatu kali, Pimpinan Umum memintaku untuk berganti posisi selama seminggu agar aku menunjukkan bagaimana sih menjadi PU yang baik itu. Jika kupikir-pikir sekarang, betapa sombongnya aku dulu. Aku belum tahu diri.

2. Sempat ada salah satu pengurus harian yang membuatku jengkel dan mengkonstruksi pikiranku bahwa ia melangkahi gerakanku. Seakan-akan, posisiku sebagai Pimred direbut olehnya. Anehnya, PU sendiri tak menggubris hal itu. Aku benar-benar buta kewenangan. Sebenarnya, baik saja. Namanya juga organisasi. Saling membantu. Tapi saat itu, aku benar-benar ingin marah. Arahanku selalu tak diindahkan. Aku seakan direndahkan dan diremehkan. Entah ini naluriku atau memang perasaanku yang tak ingin diabaikan begitu saja, tak ingin direndahkan begitu saja. Tapi, memang harus kuakui aku khilaf. Mungkin dia juga khilaf. Aku terlalu berambisi untuk dilihat orang. Aku tak mau menjadi orang yang tak pernah melakukan apa-apa lantaran ia selalu mengambil apa yang menjadi wewenang, hak, kewajiban serta tugasku. Dia juga mengambil pekerjaan orang lain tanpa memikirkan pekerjaan dia yang masih belum selesai. Memang sama-sama salah dan kurang arahan.

3. Aku hanya bergaul pada beberapa orang saja yang mau mengerti keadaanku dan bisa kuajak bekerja sama. Dan yang tindak tanduknya berseberangan dengan pola pikirku, selalu berusaha kujauhi meskipun pada akhirnya harus bekerja sama dengan dia. 

4. Aku masih kurang memikirkan pekerjaanku sendiri di mana tugas Pimpinan Redaksi adalah bertanggungjawab penuh dengan terbitnya majalah yang seharusnya 3 bulan sekali. Aku terpaku pada birokrasi yang sulit serta pola kepemimpinan PU. Seharusnya, aku membantu PU dan mendukungnya lalu fokus pada permajalahan. 

5. Aku masih belum bisa membagi antara akademik dengan kepentingan organisasi. Akibatnya, berat sebelah, bahkan tak ada satupun yang berat. Sama-sama hampir kosong. Aku yang kaku membuat interaksi serta kerjasama menjadi minim.

6. Aku pernah dipermalukan di depan anggota muda (Al-Hambra) dan anggota madya (Ulul Albab) oleh pembimbing lantaran susunan majalah mentahan masih sangat keliru bersama Sekretaris yang membantuku. Jangan sampai hal ini terjadi lagi.

7. Sejatinya, aku dan PU adalah partner. Sudah semestinya kami berdua saling mengerti satu sama lain, bukan saling berseberangan. Perlu ada evaluasi diri dan saling mengingatkan. Bukan malah berjauhan. 

8. Karena merasa tidak enak dengan pengurus harian lain akibat tak ikut andil dalam beberapa proses, aku bersembunyi di gudang dan tinggal di sana selama 2 minggu. Setelah uzlah, aku sadar bahwa ini adalah perbuatan bodoh.

Sungguh nahas jika perbuatan-perbuatan bodoh di atas terulang kembali. Takdir sudah pasti berjalan. FDI memang hampir sama dengan ITQAN kepengurusannya dulu. Ada yang mungkin pemikirannya berseberangan denganku. Ada yang mungkin seakan-akan menganggapku tidak ada dengan berbuat layaknya seorang ketua, mengambil alih wewenangku dan melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Boleh jadi tugasnya belum selesai atau bahkan sudah terkerjakan. Ada pula yang tak menggubris arahanku sehingga terkesan merendahkan dan menganggapku tak ada atau aku hanya sekedar formalitas saja. Ada pula yang mau diajak bekerja sama. Ada pula yang ngikut saja. Ada pula yang bisa di ajak kerja sama namun sebenarnya ada sesuatu yang ia pikirkan. Semuanya ada. Dulu yang kualami semua ada di sini.
Aku dan Ketua 2 juga tak selaras dalam sifat, pola pikir serta tindak tanduk. Namun, sebagai pelajaran, aku harus berusaha menggandengnya untuk kemajuan organisasi agar masa lalu terpuruk itu tak terulang kembali. Aku juga harus belajar bersabar dengan orang yang mengambil alih, yang seakan merendahkan atau menganggapku tak ada dsb. Harus kutahan emosiku. Kasihan organisasi jika emosiku yang menjadi nomor satu. Mereka adalah bagian dari tubuh. Maka, aku akan berusaha untuk tak melukai. Jika bagian tubuh ini rusak, akan berusaha kuobati dengan bantuan bagian tubuh lain. Ada masalah, diselesaikan bersama-sama. Jangan ada lagi komunikasi yang kaku. Bismillah... Semoga kedepannya jauh lebih baik. Aamiin...

Minggu, 10 Agustus 2014

Eh, ada yg lupa diposting... padahal penting

Hari-hari kujalani dengan seperti biasa. Selalu di depan laptop mungil yang terbeli saat aku menginjak semester dua dengan salon kecil yang melantunkan lagu-lagu penyemangat, terlebih meja belajarku tetap dalam keadaan berantakan kecuali dua hari ini. Semenjak selasa sore kemarin, hatiku tergerak untuk mengakhiri keberantakan meja belajarku yang sudah berbulan-bulan bak kapal pecah yang masuk dalam kamarku. Akhirnya, dengan segala kemampuanku, perlahan tapi pasti, meja belajar dan lemariku kembali tersusun rapi dengan format tatanan yang baru. Lebih nyaman dilihat dan lebih menyamankanku saat berada di depan laptop mungilku.

Ada yang membuatku sedikit terperanjat saat membereskan kapal pecah dalam kamarku. Saat itu, aku menemukan selembar kertas agak kusut. Tergores di atasnya tulisan tangan alami dari seorang yang sangat tak asing bagiku. Aku tersadar, itu adalah tulisan cerpen perdana dan masih amatir sekali milik adik laki-laki ku. Namanya Ashja Sabira. Aku teringat, dua bulan yang lalu, aku memintanya untuk membuat tulisan apa saja karena kulihat aktivitasnya sangat tidak produktif. Jikalau di depan laptop setiap hari untuk belajar mengutak-atik komputer, aku memaklumi. Tapi yang ia lakukan hanya nge-game melulu. Pulang sekolah, pulang dari TPQ, bahkan malam hari sampai les yang haru ia ikuti luput dan terbengkalai. Alhasil, ia membolos les selama berbulan-bulan. Sebagai kakak, mataku sangat gatal melihat perilakunya yang menjadi-jadi. Daripada aku marah besar, aku minta dia untuk membuat cerpen atau puisi. Saat itu, aku memang memintanya untuk membuat puisi dengan iming-iming, jika puisinya bagus pasti akan mendapatkan hadiah berupa uang jutaan. Hahaha. Saat itu memang kebetulan ada lomba menulis untuk anak-anak. Jadi sekalian latihan untuknya. Adik perempuanku yang bungsu, Akhtar Razana, juga tak mau kalah dengan kakaknya. Dia ikut berkompetisi dalam latihan membuat puisi, terang saja karena kebetulan ia menguping iming-iming yang aku ucapkan. Biasa, anak kecil.

Dua puluh menit berlalu. Mereka berdua berlomba menuju meja belajarku untuk menyerahkan hasil tulisan mereka. Memang pada awalnya mereka bingung ingin menulis tentang apa. Sedikit kuinspirasi untuk menulis tentang keluarga saja. Lucunya, mereka benar-benar menulis tentang keluarga dengan segala keluguan dan kejujurannya. Dik Ashja menulis tentang Ibu dan Dik Tara (Akhtar) menulis tentang dik Ashja dengan judul “Kakakku yang Jahat”. Aku tertawa dalam hati hanya tak kutunjukkan. Mulutku hanya tersenyum. Namun, sekarang yang masih ada hanya tulisan milik dik Ashja dan lebih pantas untuk disebut cerita flash true fiction, bukan puisi. Berikut tulisannya….

Aku Sayang Ibu
Oleh : Ashja Sabira
Suatu hari aku mandi kemulian ibuku menangis suaranya sangat besar kemudian saya Berangkat sekolah setelah itu Aku pulang kemudian ibuku dibawa kerumah sakit 3 hari / 4 hari kemudia Aku sekolah itu membuat Es pasaku mengambi pisau dirumah adaa pa ini kemudian saudaraku Bertanya tidak ada apa2 kemudian aku kesolagi aku masih Bingung ada apa ini Setelah itu guruku mengajak ke kantor mengatakan ibuku telah meninggal aku sedi sekali terus Aku Dian tarka guruku dirumah kemudian aku pulang sampamenangi pashari juat alhadulilah ibuku meningga kusnul hutomah kemudian Aku sholat jumat dan sholat untuk senasah setelah itu senasapun dibawah kerumah setelah itu senasah ya itu dikubukan Diomah kampus di Dermo kemudian sudadi kuburkan kemudian semua pulang.

Sedikit mengharukan karena itu adalah cerita tentang kronologi meninggalnya ibuku. Sudah hamper setahun ibu mendahului kami. Padahal adik-adikku masih kecil, aku dan adik-adik perempuanku yang masih di pondok juga belum maksimal untuk melakukan hal terbaik bagi beliau. Saat mendengar kabar ibu meninggal, aku menjerit histeris. Terbayang dosa-dosaku yang belum terhapus dan segala hal yang kujanjikan untuk ibu namun belum terlaksanakan. Ak belum sempat menunjukkan prestasi-prestasiku di perguruan tinggi kepada beliau. Intinya, kami berlima (aku dan adik-adikku lima bersaudara) masih belum sempat membuat beliau tersenyum. Paling tidak, karena beliau sudah di alam kubur, kami akan berusaha membuat beliau tersenyum di alam kubur. Begitu pula Abo (Panggilan akrab kami untuk Ayah kami) yang sedihnya melebihi kesedihan kami saat ibu telah tiada. Jelas, Abo menunggui ibu di rumah sakit saat itu dan ketika ibu diambil oleh Allah, Abo juga ada di situ. Jika aku jadi beliau, mungkin aku telah menjerit-jerit histeris sampai tak tertolong kehisterisanku.

Diceritakan oleh adikku di dalam tulisannya bahwa suatu hari ia akan pergi ke sekolah dengan adik bungsu dan saat itu pula ia mendengar tangisan ibu dengan jeritan histeris. Abo berusaha menenangkan namun tak berhasil. Aku tak tahu apa-apa karena saat itu aku sedang mandi. Melihat waktu yang mepet, adik-adikku tetap berangkat meskipun sedikit khawatir dengan tangisan ibu barusan. Saat aku keluar, Abo memintaku untuk melihat ibu yang sedang menangis kesakitan. Aku sendiri kebingungan dan tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ibuku. Aku kembali ke kamar dan melanjutkan pengerjaan tugas di laptop mungilku. Setengah jam berlalu. Tangisan ibu semakin menjadi-jadi. Ibuku sejak pagi memang sudah terbaring di kasur. Abo memanggilku untuk membantu menenangkan ibu. Namun, ibu semakin mengerang kesakitan. Kami panik sepanik-paniknya. Yang bias kami lakukan hanya menenangkan ibu dan mengucapkan kalimat tasbih, takbir, istighfar agar ibu tak mengerang kesakitan. Tak lama kemudian, ibu terdiam. Ternyata beliau tak sadarkan diri. Kami semakin kebingungan. Spontan abo memintaku untuk memanggil nenek. Untunglah nenak rumahnya tetanggaan dengan kami.
Saat itu juga abo mengganti baju ibu karena basah oleh keringat dan segera kubuka pintu mobil serta membantu abo untuk membawa ibu ke mobil. Dirasa kurang kuat karena nenek juga sudah tua, datanglah Mas Andris, om ku yang kebetulan tinggal serumah dengan nenek. Mas Andris membantu kami membawa ibu ke mobil. Saat itu juga kami pergi ke rumah sakit terdekat. Tak terpikirkan oleh kami jika ada saudara yang memang bekerja di rumah sakit umum daerah dengan fasilitas yang lengkap karena saat itu memang panik sekali dan tujuan kami adalah menyelamatkan ibu di rumah sakit terdekat agar segera tertolong. Mas Andris mengunci pintu rumah dan menyusul dengan menggunakan motor.

Ibu ternyata mengalami pecah pembuluh darah di otak. Aku terkejut setengah mati. Terlebih abo yang terkejutnya pasti lebih dari aku. Namun, wajah beliau tetap berusaha untuk tenang. Pada akhirnya, ibuku kehabisan jatah rumah sakit karena rumah sakit yang kami datangi kurang dalam segi fasilitas sedangkan yang fasilitasnya lengkap sudah tak mampu lagi menerima pasien lantaran penuh oleh pasien JAMKESDA. Dalam hati aku tak terima. Segala cara ditempuh oleh Abo. Alhasil, Rumah Sakit yang jaraknya lumayan jauh mampu menerima dengan cara terpaksa. Meskipun begitu, aku bersyukur, masih ada tempat untuk ibuku. Hanya saja, di rumah sakit ini juga kurang mumpuni fasilitasnya sehingga harus pindah lagi ke Rumah Sakit dengan fasilitas lengkap dan memang ada saat itu (menerima pasien) karena sudah ada pasien yang pulang meskipun sebelumnya telah menjalani operasi dan sukses, terpaksa ibuku pindah lagi.

Di rumah sakit yang baru, ibuku diberi pelayanan lebih lanjut dan lebih baik. Aku tenang dan trenyuh saat melihat wajah ibu dari balik jendela kamar. Ibuku berada di ruang ICU dan tak bias diganggu kecuali jika keadaan darurat. Aku hanya bias berdoa untuk beliau. Sedangkan adik-adikku, aku lebih trenyuh lagi karena dari kelima bersaudara, hany aku yang tahu keadaan kritis beliau. Dik Ashja dan dik Tara hanya tahu jika Ibu berada di rumah sakit. Mereka tak tahu keadaan ibu yang sebenarnya. Terlebih adik-adik perempuanku yang masih di pondok. Mereka tak tahu apa-apa. Yang kuharapkan saat itu, semoga ibu lekas sembuh. Tiap hari aku ikut menemani ibu di rumah sakit, membaca doa untuk beliau dan pulang ke rumah di malam hari. Yang kurasakan di rumah saat itu adalah, aku sedikit merinding karena sendirian di rumah, ada yang mengatakan kalau ibuku meninggal dan yang mengatakan bukan manusia, tapi seperti terbisik dalam hati dan telinga. Entah apakah itu aku tak memahaminya. Adik-adik kecil tidur di rumah nenek.

Rabu pagi ibuku mengerang kesakitan dan tak sadarkan diri lalu kami membawa beliau ke rumah sakit, Jum’at pagi aku merasakan hal yang berbeda. Saat itu, sekitar pukul enam lebih sepuluh menit, abo meneleponku untuk segera memberitahu nenek bahwa ibu dalam keadaan kritis. Hanya saja aku mendapat firasat buruk dengan ucapan abo “keadaan kritis” itu. Aku sempat terpikir jika ibu sudah meninggal. Tapi, lebih baik aku melupakan hal itu. Kulihat matahari amat cerah. Semoga secerah harapan kami sekeluarga. Aku tak mau jika selama berhari-hari pengorbananku untuk tidak masuk kuliah jadi sia-sia, abo yang tak pernah mengunjungi percetakan selama berhari-hari dan jihad kami untuk membantu ibu agar kuat dan bias menemani keseharian kami tidak akan sia-sia. Ibu harus sembuh dan kuat.

Lantaran mempersiapkan sekolah adik-adik, aku belum sempat memberitahu nenek jika ibu dalam keadaan kritis. Lantas, abo meneleponku lagi dan memintaku untuk segera memberitahu nenek. Usai mengantarkan adik-adik ke sekolah meskipun jaraknya dekat, aku segera mempersiapkan diri untuk ke rumah sakit karena khawatir dengan keadaan ibu. Saat itu waktu menunjukkan pukul setengah delapan. Saat aku mandi, Mbak Ivana, istri Mas Andris meneleponku. Saat itu handphoneku terbawa ke kamar mandi karena memang terburu-buru. Entah ada perasaan aneh saat HP bordering. Aku sedikit gemetar saat mengangkatnya. Ternyata nomor nenek. Tapi saat kuangkat, MMbak Ivana yang berbicara. Mbak Ivana mengatakan kalau ibuku telah meninggal. Kurang yain dengan ucapan beliau, aku bertanya lagi. Mbak Ivana mengulangi ucapannya dan jelas, Mbak Ivana mengatakan kalau ibu memang meninggal sejak tadi pagi. Abo mengatakan jika ibu dalam keadaan kritis itu sesungguhnya ibu sudah meninggal. Benar sudah dugaanku. Perasaanku memnag tak bias dibohongi kalau tentang hal ini. Aku menjerit histeris di kamar mandi. Tetangga mampu mendengar suaraku saking kerasnya. Usai mandi, segera kuganti pakaian dan ke rumah nenek. Di sana, Mbak Ivana memberiku isyarat untuk diam saja karena nenek memang belum tahu jika ibuku meninggal.

Sebenarnya aku benci menceritakan hal ini. Aku sedih dan kembali mengingat saat aku melihat ibuku terbujur kaku dengan wajah berseri. Sudahlah… Tulisan adikku mengingatkanku akan hal ini. Di cerita, dik Ashja memang pulang sebentar untuk mengambil pisau karena kebetulan di sekolah sedang ada pelajaran membuat Es. Ia kebingungan karena di rumah, Mbak Ivana dengan ibu-ibu sekitar rumah sedang mempersiapkan sesuatu di rumah. Tapi Karena terburu-buru, ia segera kembali ke sekolah dengan pisau di tangannya meskipun masih diliputi rasa kebingungan. Barulah saat jenazah ibu tiba di rumah, Dik Ashja dipanggil ke kantor dan diberitahu jika ibu telah meninggal. Mungkin ia sedih namun dik ashja mampu menerima dengan lapang dada. Aku melihat ia pulang dengan diantar oleh salah seorang guru yaitu Bu Maskurniawati, dengan wajah sedih, tangan kanannya mengusap air mata. Ia sedikit tertawa karena dianggap memang orang-orang telah membohonginya. Memang seperti itu adikku jika pikirannya masih setengah percaya akan suatu hal. Namun, akhirnya ia tahu jika ibu telah meninggal. Ia melihat dengan mata kepala sendiri. Beda dengan dik Tara, si bungsu. Dik Tara sudah diminta pulang terlebih dahulu dan diamankan oleh saudara-saudara di dalam kamar sebelum jenazah ibu tiba. Karena jika dik Tara tahu pastinya lebih kacau nantinya.

Namun, muncul masalah baru. Adik-adikku yang masih di pondok bagaimana? Pondok mereka jauh di Ngawi sedangkan perjalanan dari Ngawi ke Malang adalah tujuh jam. Enam jam jika dengan kecepatan tinggi sedangkan Budhe menjemput adik-adikku dengan menempuh perjalanan tiga sampai lima jam. Apakah sempat adik-adikku untuk melihat ibu terakhir kalinya?

Lagi-lagi aku trenyuh bukan main. Kasihan sekali adik-adik perempuanku ini. Usai sholat Jum’at, Dik Ashja juga ikut Sholat Jum’at, Ibuku di Sholati di Masjid dekat rumah. Dik Ashja juga ikut. Lalu jenazah dibawa kembali ke rumah. Aku turut membawa jenazah ibu dengan keranda atau istilahnya kereto jowo sing rodone rodo menungso. Banyak orang bertanya kepadaku, mengapa jenazah tak segera dikuburkan? Spontan aku dan ayahku menjawab, kami masih menunggu adik yang dari pondok datang. Rencana habis Ashar dimakamkan.
Ashar berlalu. Adik-adik dan Budhe ku belum tiba juga. Saat kutelepon budhe, ternyata beliau masih di Madiun. Memang keputusan yang sulit. Tapi jika tidak segera dimakamkan, kasihan ibuku pula. Akhirnya, sore itu juga, kami meberangkatkan jenazah ibu ke pemakaman. Aku dan ayahku turut menurunkan jenazah beliau ke liang kubur. DIk Ashja hanya melihat dari kejauhan ditemani oleh Cak Hepi, Om ku. Teman-temanku sekelas ikut takziyah tapi hanya satu yang mengikuti kami sampai pemakaman karena memang aku meminjami motorku ke dia. Dia sahabatku dari Aceh, Abda Mahrul Fauza. Meskipun dia agak menjengkelkan tapi kami amat dekat dan sering berbagi pengalaman. Tak hanya itu, teman-temanku dari konsulat malang saat di pondok dulu, teman-teman pondok yang ada di UMM, teman kelas P2KK, terlebih teman-teman IMM juga datang. Apalagi teman-teman FDI juga datang untuk menghibur kami sekeluarga.

Malam hari tiba. Tepat pukul delapan malam, adik-adik perempuanku dan Budhe tiba di rumah. Adik-adikku kebingungan dan ada perasaan tak enak dalam benak mereka karena ada terop di depan rumah. Rumah juga tampak ramai. Mereka memang belum tahu kalau ibu meninggal karena saat izin di pondok untuk pulang, Budhe hanya mengatakan kalau ibu sakit keras. Mungkin Budhe mengatakan hal yang sebenarnya kepada Ustadzah Pengasuhan Santri sampai akhirnya adik-adikku diberi izin empat hari.

Setibanya di rumah, Budhe baru memberitahu mereka kalau ibu telah meninggal. Mereka berdua segera masuk rumah. “Bo, Aa ambek Iya wis teko”, ucap Dik Ashja kepada Abo. Spontan aku segera mendatangi mereka. Rahmi Rabbani (Dik Rara) dan Dhia Amira (Dik Mira) namanya. Mereka bertanya-tanya tentang kebenaran. Ku bawa mereka ke kamar terlebih dahulu. Abo memberitahu mereka yang sebenarnya dengan penuh keteduhan. Namun, hal itu tak mampu membendung ledakan tangis Dik Rara dan Dik Mira. Wajar, mereka tak tahu apa-apa tiba-tiba ibu sudah tiada dan tak sempat melihat untuk terakhir kalinya.

Semoga Ibu tenang di alam sana. Kami, aku, Abo dan Adik-adik serta saudara-saudara akan tetap mendoakan ibu dan berusaha agar ibu selalu tersenyum di alam kubur hingga hari akhir nanti. Aamiin.

 

lihat juga tulisan ini di catatan facebook saya

Jumat, 01 Agustus 2014

Dua Hari Penuh Makna

Selasa kemarin, aku, ayah dan keempat adikku pergi ke rumah saudara-saudara dari almarhumah ibu di daerah Tuban dan sempat juga ke saudara-saudara ayah di Lamongan. Usai berkunjung ke tetangga-tetangga, kami segera mempersiapkan barang-barang yang dibutuhkan untuk pergi ke Tuban. Tepat pukul 11, kami berangkat setelah sebelumnya berpamitan dengan nenek dan saudara-saudara yang mudik ke rumah nenek sekaligus meminta do'a agar kami selamat sampai tujuan. Suatu kesyukuran bahwa Kijang L300 kami mampu memberi kenyamanan selama di perjalanan (sorry, bukan promosi).

Tepat seperti dugaan kami, jalan ke arah Kota Batu lumayan macet. Dengan segera kami memutar haluan menuju Karanglo untuk melewati jalur menuju Surabaya. Hal yang tak diharapkan terjadi. Ternyata di Singosari lebih macet daripada Batu. Baiklah, sekali lagi kami memutar haluan dan menuju Jalur Kota Batu. Alhamdulillah, Jalur Kota Batu memang macet tapi bisa merambat sedikit demi sedikit. Perjalanan mulai lancar setelah keluar jalur daerah BNS dan Jatim Park. Memang banyak wisatawan yang ingin refreshing di tempat-tempat ini. Maklum hari lebaran. Pukul 13.15, kami bersantap siang di Warung Amanah. Warung yang sering kami kunjungi saat almarhumah ibu masih ada.

Perjalanan berlanjut. Kami melewati Jombang karena ada jalur menuju Babat dan Tuban. Maksud kami, agar kami bisa berkunjung di rumah saudara yang ada di Babat. Alhamdulillah, pukul 17.00 kami tiba di rumah saudara Babat. Suatu kesyukuran pula mereka sehat wal afiat. Saudara yang ini adalah kakak dari almarhumah ibuku tapi beda ibu. Tetap kami memanggilnya pakdhe. Pakdhe Uce atau Pakdhe Yono. Kebetulan Pakdhe juga sudah meninggal beberapa tahun yang lalu sehingga hanya tinggal Budhe Kis dan ketiga anaknya. Suatu kebetulan pula anak sulung Budhe Kis seumuran dengan saya, namanya mbak Lisa yang sebentar lagi akan menyelesaikan studinya di akademi keperawatan. Saat itu, adik-adik mbak lisa di dalam kamar dan kami tidak melihatnya. Saat itu, terlihat bagaimana Allah SWT memuliakan kehidupan Budhe Kis. Meskipun almarhum pakdhe telah tiada, namun Budhe Kis tetap tegar dan kuat. Allah memudahkan dalam berbagai hal terutama perekonomian keluarga. Pukul 18.30, kami berpamitan dan melanjutkan perjalanan ke saudara-saudara di Tuban.

Sesampainya di Tuban, seperti biasa, di kanan kiri jalan kami melihat banyak orang menjual minuman khas yang bernama "Legen" dan buah siwalan. Menjadi memori tersendiri bagi kami saat berkunjung ke Tuban beberapa tahun lalu dan almarhumah masih ada. Bukan berarti aku menyesali kepergian beliau, hanya saja sewajarnya manusia pasti pernah terlintas memori-memori indah bersama keluarganya. Awalnya kami segera menuju alun-alun untuk menikmati makan malam nasi cumi-cumi. Tapi, berhubung takut kemalaman, kami segera ke rumah saudara-saudara terlebih dahulu.

Alhamdulillah, saudara-saudara kami di Tuban, tepatnya di Karang Pucang, sehat wal afiat semua. Saudara-saudara kami tinggal sekomplek. Saudara tertua sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Kami menyebut beliau Mbah Pakdhe. Selain Mbah Pakdhe, ada Mbah2 yang masih ada. Mereka adalah Bulik dan Paklik dari almarhumah Ibuku maka itu kami memanggilnya Mbah, yang alhamdulillah masih ada. Di sini, aku teringat saat aku masih duduk di bangku kelas 2 SD. Dulu, kami sekeluarga sempat hijrah dari Malang ke Tuban, tepatnya tinggal serumah dengan Almarhum Mbah Pakdhe selama sebulan. Aku melanjutkan studiku di SDN Ronggomulyo 1 yang jaraknya tak jauh dari rumah. Tak disangka, kebetulan, ada dua orang putri dari Mbah Bulik yang sekolah di sini juga.

Yang pertama yaitu, Mbak Ari yang juga telah mendahului kami beberapa tahun lalu karena pendarahan saat melahirkan. Mbak Ari adalah kakak kesayanganku di sana. Saat di sekolah aku sering di ganggu karena keluguanku dan "beler" juga. Saat Mbak Ari melihatku menangis, ia menghiburku dan menemaniku hingga kesedihanku berlarut hilang. Aku tak akan melupakan beliau selamanya. Sungguh terpukul saat aku menginjak kelas 5 di pondok, almarhumah ibuku memberi kabar bahwa Mbak Ari meninggal dunia. Aku sedih. Paling tidak aku ingin melihat Mbak Ari untuk terakhir kalinya namun apa daya karena situasi yang tidak memungkinkan. Yang kedua yaitu, Mbak Ira. Mbak Ira seumuran denganku sama seperti Mbak Lisa putri Budhe Kis. Mbak Ira dulu jarang menemaniku saat di kelas. Maklum karena temannya banyak dan aku orang baru di SD. Dan kami akhirnya tidak terlalu akrab. Bertahun-tahun berlalu. Saat aku duduk di bangku kelas 4 atau 3 KMI (sorry lupa), kami sempat berkunjung ke saudara tuban. Aku terkejut ternyata Mbak Ira lebih tinggi dan lebih besar dari aku. Waaah... aku menjadi agak minder. Ibu menyuruh untuk ngobrol dan berbagi cerita dengan Mbak Ira tapi aku malu karena aku terlihat seperti anak kecil. Lalu, kami hanya sebatas menyapa saja. Waktu berlanjut. Beberapa waktu lalu kami sempat ke Tuban juga karena ada saudara yang akan menikah, yaitu Mbak Tika. Saat itu, aku bertemu Mbak Ira hanya sejenak bersalaman saja. Aku kembali dibuat terkejut. Mbak Ira berambut panjang dan tingginya lebih pendek sekitar tujuh sentimeter dariku. Hahahaha... lucu sekali. Minderku mungkin hilang, tapi yang muncul saat itu bukan minder lagi tapi sungkan. Selain itu Mbak Ira juga menjadi semakin berparas menarik. Hahahaha... aku selalu ingin tertawa saat mengingat kejadian ini. Usai bersalaman dengan Mbak Ira, kami sekeluarga pulang. Dan kemarin, saat kami ke sana, aku tak menemui Mbak Ira. Hanya sempat melihat fotonya terpampang di rumah. Mbak Ira adalah peserta Duta Pariwisata. Bisa-bisa ngefans aku ke Mbak Ira hahahahaha.....  

Ada satu orang lagi yang aku kurang tahu dia sekolah di SDN Ronggomulyo 1 atau tidak tapi masih terbilang muda. Yaitu Mbak Tika. Tepat setahun lalu Mbak Tika melangsungkan pernikahannya dengan Mas Arda dan saat ini sudah dikaruniai seorang putri. Mbak Tika sama seperti Mbak Ari bagiku. Aku pernah hafalan surat pendek di rumah dengan dipandu Mbak Tika.

Sebenarnya ada juga satu lagi yang ingin aku ceritakan, yaitu Mbak Yuli (Kok perempuan semua ya.. o.O ). Mbak Yuli sudah seperti teman dengan Ibuku meskipun jarak umur mereka lumayan jauh. Dulu, aku sempat diasuh Mbak Yuli hanya saja aku tak ingat. Beliau sangat baik.

Usai berkunjung ke Karang Pucang, kami menuju alun-alun Tuban untuk merasakan kembali nikmatnya Nasi Cumi-cumi yang biasanya selalu kami santap saat berkunjung ke Tuban bersama Ibu. Saat menyantap, kami sangat gembira dan penuh sukacita. Hanya saja rasa pedas nasi cumi-cumi sudah berkurang. Meskipun begitu, kami tetap bersyukur atas karunia Allah SWT karena masih diberi kesempatan seperti ini. Selepas makan malam, kami mencari penginapan. Rencana awal adalah hotel purnama yang terkesan lawas tapi lumayan. Karena kebetulan kamar penuh, kami akhirnya mencari hotel lain. Dapatlah Hotel Dinasty yang juga punya kesan lawas. Setelah check in, kami segera bersih diri, sholat dan istirahat.

*****

Pagi hari menyambut. Kami segera bersiap untuk melanjutkan petualangan kami di Kota yang katanya Kota Wali ini. Sholat Subuh, mandi, ganti baju dan melesat. Kami kembali menuju alun-alun Tuban untuk mencicipi nasi pecel. Ada sedikit perbincangan antara aku dan ayah soal Kota Tuban. Tuban kian lama kian meningkat perekonomiannya semenjak ada dua pabrik semen masuk Kota ini. Dan semakin ramai pula kota ini. Mulai banyak pedagang-pedagang dan penduduk yang membuka warung serta kos-kosan dan kontrakan.

Usai sarapan pecel Tuban, kami menuju rumah kawan-kawan lama ayah. Mereka yang telah membantu ayah kami saat masih muda dulu dalam hal apapun baik materi maupun non materi. Dari kawan-kawan ayah, banyak sekali pelajaran kami dapat untuk selalu mensyukuri hidup, untuk selalu memanfaatkan waktu senggang terlebih harta dan MASA MUDA agar tak menyesal di kemudian hari. 

Kemudian, kami menuju Makam Sunan Bonang. Di perjalanan, kami ditelepon untuk kembali ke Karang Pucang agar makan siang di sana. Sesampainya di Makam Sunan Bonang, kami segera memasuki gerbang dan berjalan menuju area Makam Sunan Bonang. Ada tulisan yang saya buat untuk kunjungan ke Makam Sunan Bonang ini. Tulisan saya bisa dilihat di sini. Kami juga sempat mampir ke Masjid Agung.



Selesai dari makam, kami segera menuju Karang Pucang. Sesampainya di karang pucang, kami segera dipersilahkan untuk makan siang. Karena jarang bertemu, kami masih sungkan meskipun mbah-mbah kami bilang "Nggak usah malu-malu, wong sama mbah sendiri kok". Sebagai kakak pertama, aku memulai untuk mengambil nasi. Aroma masakan mbah benar-benar mengingatkan kami pada masakan almarhumah ibu. Garang asem yang lezat dengan lauk tempe dan tahu. Kami makan sampai kenyang. Kami bersyukur, meskipun ibu kami telah tiada, tapi masih ada saudara-saudara beliau yang mampu mengobati rasa rindu kami. Ayah banyak berbagi cerita tentang ibu kepada mbah-mbah kami. Kami hanya mendengarkan dan sesekali tertawa juga sedih. Memang kemelut hidup tak semudah membalikkan telapak tangan penyelesaiannya. Tepat pukul 10.45 kami berpamitan. Aku masih belum bertemu Mbak Ira saat itu. Sebenarnya aku penasaran dengan Mbak yang satu ini. Tapi, biarlah. Semoga masih ada kesempatan lain waktu untuk bertemu mbak unik ini.

Kami sempat mampir ke daerah Palang. Di sana, kawan-kawan SMA ayah ku sedang berkumpul untuk melepas rindu kawan lama. Keluarga mereka juga tak ketinggalan. Setelah itu, kami melanjutkan ke saudara di lamongan kemudian lanjut ke Malang. Tiba di rumah, kami segera bersih diri, sholat dan istirahat. Banyak sekali pelajaran yang kami dapat. Semoga bermanfaat untuk hari ini, esok dan kemudian hari.

Minggu, 12 Januari 2014

Bergelut dengan Sosiologi 3

Okelaaaah...

Setelah berminggu-minggu dan berbulan-bulan kulalui semester 1 dengan berbagai aral rintangan, teman terus bertambah dan masalah pun bertambah pula hahahaha... ngga juga sih... masa-masa itu aku dan teman-teman sekelas sibuk dengan kuliah dan kegiatan Sociology Camp. Kelas saya kebetulan udah nyiapin panampilan "Tari Saman" dengan pemainnya yaitu Karimah, Jita Nur Harini, Arfina Novita Sari, Indah Mia Lestari, Yoga Arachmawati Wachid, Jivita Dwi Cahyani, Vitaria Martikasari, Wari' Lohjinawi dan terakhir saya sendiri saudara-saudara hahahahaha.... :D . Biar tampang blo'on gini tapi bakat men jadi penari. Tari Saman lagi hehehe (GR).. Sedangkan kelas satunya, Kelas A, belum kecium bau persiapan mereka buat penampilan di SosCamp. Kami semangat banget...
Saya di paling kiri. Pasti kalo di foto keliatan merem :(
Kami ber-9 sering make kantor HMJ buat latihan tari saman. Konon, saat itu kantor HMJ jarang dipake apalagi sama pengurusnya. Paling di pakenya pas lagi ada rapat HMJ aja hari Selasa. Setelah itu HMJ kosong. Daripada Setan yang nempatin, yah kami tempatin buat latihan kadang sampe malem juga plus beli nasi bungkus segala di makan di sana. Hahaha serunya minta ampun... cuma kami kadang agak grogi gitu kalau ada kakak tingkat yang dateng truz ngeliatin kami lagi latian.. kalau teman-teman grogi karena mereka perempuan, kalau saya bukan grogi, tapi jengkel minta ampun soalnya mereka dateng2 bikin masalah. Nyemangatin tapi ngeganggu gitu. Pokoknya saat itu kalau ada orang selain kelas B sendiri yang datang liat kami latihan, pasti saya bawaannya suram terus. Dengan mengernyitkan dahi dan muka tertunduk tanpa melihat siapapun. Males... Biarlah, yang penting kami bisa serius latihan. Tapi, nggak tahu juga sih teman-teman yang lain gimana perasaannya...

Memang kami lagi sibuk-sibuknya nyiapin untuk soscamp sama fisip competition (student day) jadi HMJ juga agak rame gitu karena pengurusnya agak sibuk dengan student day pula. Kami pernah dikumpulin di kantor HMJ dua kelas sekaligus (kebetulan angkatan saya cuma dua kelas, angkatan 2012). Kelihatan sekali perbedaan antara 2 kelas ini. Kok bisa? Iyalah! 
Soalnya kelas A & B memang beda sifat. Kelas A itu cenderung urakan dan suka rame, banyak omong kerja kosong ( nggak semuanya sih. Sorry ya nyinggung ). Tapi kalau kelas B, meskipun ada yang bengal juga, tapi dia teratur dan tenang, kebanyakan kelas B tenang / anteng semua orangnya, nggak suka ribut karena kalau rame pasti bakalan nggak selesai-selesai jadi kelas B mikirnya cepet selesai cepet di kerjakan or Talk Less do More hehe... tapi ada juga beberapa yang talk less do less juga hehe...
Capek... habis main futsal. Saya yang mana?? yang motret!
Meskipun banyak kegiatan, kuliahnya juga, tapi kami nggak segan-segan untuk main kompak-kompakan. Berkali-kali kami main futsal bareng, meskipun setiap main futsal saya datang tapi nggak main (main cuman sekali hehe.. maklum nggak bisa main futsal), namun teman-teman merasa ikatan persaudaraannya semakin kuat khususnya yang laki-laki. 
Yang perempuan juga nggak kalah kompak. Mereka cara kompaknya beda. Mereka kompak kalau jalan pulang habis kuliah... kalau ketemu di jalan... kalau ada tugas... cuma perempuan kan agak gimanaa gitu perasaannya, jadi kalau mereka ada konflik dikit gitu, redanya lamaaaa banget.. Kadang suka ketawa sendiri saya kalau inget-inget masa-masa permasalahan mereka. Sekarang (12 Jan 2014) udah pada akur meskipun ada konflik gede-gedean kemarin. Ada juga yang unik. Kadang kalau abis pulang kuliah, pasti ada beberapa orang yang nongkrong alias duduk-duduk di dekat jembatan. Lalu, yang lainnya waktu keluar gedung dan melihat mereka, jadi ikutan duduk juga akhirnya terus aja semuanya jadi ikutan. Hahahaha... lucu banget (gambar samping kanan futsal). Kalau udah duduk-duduk yang diomongin macem-macem, dari ngomongin mmata kuliah yang ternyata tidak sama dengan SMA dulu, sampai ngomongin dosen, bahkan ketua tingkat (saya merasa diomongin jeleknya) hahaha....

 Bersambung.....






Editan Baru Iseng2 :)

 

 Kritik dan sarannya di tunggu.... ^_^