PERHATIAN!

Blog ini berisi berbagai macam tulisan saya. Untuk memudahkan pencarian, silahkan pilih menu kategori di samping! (Setelah pilihan Editor)

Selamat Membaca!
Reaksikan dan beri komentar!

My Radio Station

Selasa, 02 September 2014

Aku, ITQAN Group dan Forum Diskusi Ilmiah

Pengurus ITQAN Group 685/2011
Saat aku kelas 5 KMI....
Aku terpilih untuk menjadi kader ITQAN Group. Situasiku setengah mendukung setengah menolak. Satu sisi aku ingin bergerak di ITQAN, bersaing pula dengan seorang sahabatku, namun di sisi lain aku berada di posisi kelas bawah, 5R. Terlebih, aku belum pernah mengalami menjadi pengurus asrama. Biarlah. aku terpilih dengan Taufik Nugroho menjadi Kader ITQAN Group 2010. Kata lain dari terpilihnya menjadi kader adalah terpilihnya aku dan taufik untuk menjadi Pimpinan Umum atau Pimpinan Redaksi. Entah salah satu dari kami nanti pasti berada di 2 posisi penting itu.

Waktu berlalu dengan cepatnya. Tibalah saatnya pergantian pengurus. Taufik, aku beserta kawan seangkatanku naik menggantikan posisi senior yang turun dari kepengurusan mereka. Yap. Akhirnya, Taufik lah yang berada di posisi Pimpinan Umum sedangkan aku di Pimpinan Redaksi. Bagaikan 2 ketua dalam 1 organisasi. Namun, posisinya dibuat Pimpinan Umum berada di paling atas dan di bawahnya barulah Pimpinan Redaksi. Kami masih duduk di kelas 5 saat itu. Pengurus harian ada 5 orang yaitu, Taufik, aku, Endri Prasetyo, Fachri Abu Bakar & satu lagi aku lupa antara Alkhaledi Kurnialam atau Ricky Nuari karena memang periodenya hanya beberapa bulan sebelum kenaikan kami ke kelas 6.
Usai kenaikan kelas, aku dan taufik harus berpisah dengan fachri dan endri karena mereka lulus namun di tempatkan di pondok cabang. Akhirnya, pengurus harian berganti  menjadi Taufik, aku, Laili Annas Sholihan, Ricky Nuari dan Alkhaledi Kurnialam. Saat itu, kami menerima 4 orang anggota baru ITQAN Group yang sudah kelas 6 berasal dari kendari. Salah satu dari mereka kami angkat menjadi pengurus harian. Mereka adalah Ahsan Qashash, Abdul Rachman Bahtiar, Laili Annas Sholihan dan Muhammad Nur Adiatma. Saat itu, terpilih 2 orang kader yang akan membantu kami dan sebagai benih kelanjutan ITQAN, yaitu Mohammad Iir Solahuddin dan Muhammad Iksan Rahmadian. Dan, pengurus harian berjulah 7 orang. Kawan seangkatan lain juga pengurus hanya saja tidak tinggal di kantor ITQAN karena mereka berada di bagian-bagian OPPM dan Non-OPPM.

Suka duka kami lalui dengan penuh halangan, rintangan serta cobaan bahkan cemoohan. Mungkin karena kekurangan-kekurangan. Biarlah. Itulah usaha kami. Ada beberapa moment yang tak terlupakan dalam memoriku, yaitu :
1. Pemilihan Kader ITQAN. Yang ini sudah kuceritakan di posting sebelumnya.

2. Pemilihan Pimpinan Umum dan Pimpinan Redaksi oleh pengurus harian angkatan atas. 

3. Perpisahan dengan Endri dan Fachri. Selama 3 bulan, mereka berdua mampu meramaikan kantor tiap harinya dengan canda tawa. Namun, mereka pergi untuk 1 tahun lamanya. Tak hanya Endri dan fachri, Ahmad Habib Musthofa, Prasetyo Budi Utomo dll juga terpaksa pergi ke tempat lain. Tak apa, tempat perjuangan tak hanya di Gontor Pusat. Pondok Cabang juga perlu diperjuangkan.

4. Saat aku menjadi panitia Panggung Gembira 685, aku sempat di tanya, "Kamu mau jadi bagian apa?". Aku tetap yakin. "Saya masih di ITQAN saja".

5. Kedatangan Penulis Negeri 5 Menara, Ust. Ahmad Fuadi yang merupakan senior kami, senior ITQAN Group tahun 1992. Saat itu, ITQAN hendak mengadakan acara bedah buku Negeri 5 Menara namun belum kesampaian. Hanya saja ITQAN berkesmpatan untuk menjadi marketer buku Negeri 5 Menara saat itu karena kebetulan Darussalam Press yang kesampaian untuk mengadakan Bedah Buku Negeri 5 Menara. Ini terjadi saat aku kelas 5.

6. Ust. Ahmad Fuadi datang untuk kedua kalinya. Beliau kali ini datang karena ITQAN Group mengadakan event bedah buku kedua beliau yaitu "Ranah 3 Warna". Kebetulan Ricky Nuari menjadi ketua pelaksana. Saat itu kondisi tubuhku kurang fit jadi tak maksimal untuk mempersiapkan serta turun untuk acara ini.

7. Ini saat paling memalukan. Aku dan Annas usai mengajukan majalah ITQAN yang kami buat ke pembimbing. Namun, beberapa hari kemudian, pembimbing membawa majalah mentah kami ke kantor dan kebetulan beliau mengisi saat itu. Lalu, aku dan annas datang setelah 30 menit beliau mengisi di ITQAN. Kami berdua di sambut dan diminta duduk di depan. Majalah yang kukerjakan dengan Annas habis-habisan di evaluasi pula habis-habisan. Namun, tragisnya, hal ini terjadi di depan para anggota ITQAN yang baru-baru dan tingkat menengah. Ada beberapa dari mereka yang mencemooh perlahan namun menyakitkan, ada pula yang hanya melihati kami berdua sedari tadi. Lantas, kami berdua tertunduk malu. Iir, iksan dan pengurus harian yang lain juga ikut tertunduk. Aku bingung harus berbuat apa saat itu. Semalaman, aku tak bisa tidur. Sempat aku putus asa. Namun, melihat Annas tetap semangat mengedit majalah, hatiku tergerak. Annas yang belum merasakan lama di ITQAN saja semangat, maka aku juga harus semangat. Majalah berlanjut meskipun penerbitannya usai kami lulus. Sungguh sebuah degradasi.

8. Pada masa-masa ujian, kami menggunakan gudang ITQAN untuk belajar bersama, sharing ilmu, sahur bersama dan tahajjud bersama. Kami tirakat bersama di gudang ITQAN yang lumayan sempit. Semoga kami sukses di masa depan. Aamiin...

9. Ngecat background adalah hal yang kurang bisa kami lakukan namun kami memaksa untuk membuat. Yah, kalau bukan kami, siapa lagi. Hehe meskipun bentuknya jelek namun menjadi kenangan terindah.

10. Kami seangkatan berjanji akan bertemu di tahun 2020.

11. Pemilihan Pimpinan Umum dan Pimpinan Redaksi yang baru. Kami memilih antara Iir dengan Iksan. Siapa yang akan berada di posisi PU atau Pimred. Yah, akhirnya jatuh pada Iir sebagai PU dan Iksan sebagai Pimred. Proses pemilihan amat panjang dan butuh pertimbangan.

12. Dan lain lain yang tak bisa kuceritakan satu per satu.

******

Kini, aku melanjutkan studiku di Universitas Muhammadiyah Malang. Sebagai seorang Rajih, aku tak mau hari-hariku hampa. Maka, kusibukkan diriku dengan berbagai aktivitas, asal kuliah juga terkontrol meskipun sempat tak terkontrol di semester 3. Aku aktif di Organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komissariat Renaissance FISIP dan aktif pula di Unit Kegiatan Mahasiswa Forum Diskusi Ilmiah (FDI). FDI ini mirip-mirip dengan ITQAN Group.

Beberapa waktu yg lalu, aku terpilih menjadi Ketua 1 di UKM FDI bersama dengan Sakinah Nur Rokhmah sebagai Ketua 2. Detik-detik itu membuatku teringat saat masa kelas 6 KMI dulu. Bersama Taufik aku berusaha memotori ITQAN agar menjadi lebih baik namun sangat kurang maksimal. Aku tak mau kekurang maksimalan yang telah terjadi dulu terulang kembali.

Ada beberapa kejelekanku yang harus aku jadikan pelajaran dan mungkin pembaca juga bisa menjadikan ini pelajaran.

1. Dulu, di ITQAN, aku selalu merasa ingin dihormati. Aku terlalu peduli dengan harga diriku yang dulunya kader ITQAN kemudian menjadi Pimred. Bahkan, PU pun ku kritik seakan-akan akulah yang pantas untuk menjadi PU. Secara, saat itu masih ada benih-benih ketidakterimaan dalam diriku. Mengapa bukan aku yang menjadi PU padahal aku sudah bekerja banyak sedangkan partnerku hanya sekedarnya saja. Terlebih ia cenderung memilih untuk berada di OPPM ketimbang di ITQAN. Tak hanya PU yang kujadikan sasaran. Seluruh Pengurus harian kukritik dan kuberi solusi seakan aku paling benar sendiri. Yah, perbuatan cerobohku ini berdampak pada diriku pula. Saat aku sakit gejala tipes, tak ada yang memerhatikanku. Beban permajalahan juga tertumpu padaku. Pernah suatu kali, Pimpinan Umum memintaku untuk berganti posisi selama seminggu agar aku menunjukkan bagaimana sih menjadi PU yang baik itu. Jika kupikir-pikir sekarang, betapa sombongnya aku dulu. Aku belum tahu diri.

2. Sempat ada salah satu pengurus harian yang membuatku jengkel dan mengkonstruksi pikiranku bahwa ia melangkahi gerakanku. Seakan-akan, posisiku sebagai Pimred direbut olehnya. Anehnya, PU sendiri tak menggubris hal itu. Aku benar-benar buta kewenangan. Sebenarnya, baik saja. Namanya juga organisasi. Saling membantu. Tapi saat itu, aku benar-benar ingin marah. Arahanku selalu tak diindahkan. Aku seakan direndahkan dan diremehkan. Entah ini naluriku atau memang perasaanku yang tak ingin diabaikan begitu saja, tak ingin direndahkan begitu saja. Tapi, memang harus kuakui aku khilaf. Mungkin dia juga khilaf. Aku terlalu berambisi untuk dilihat orang. Aku tak mau menjadi orang yang tak pernah melakukan apa-apa lantaran ia selalu mengambil apa yang menjadi wewenang, hak, kewajiban serta tugasku. Dia juga mengambil pekerjaan orang lain tanpa memikirkan pekerjaan dia yang masih belum selesai. Memang sama-sama salah dan kurang arahan.

3. Aku hanya bergaul pada beberapa orang saja yang mau mengerti keadaanku dan bisa kuajak bekerja sama. Dan yang tindak tanduknya berseberangan dengan pola pikirku, selalu berusaha kujauhi meskipun pada akhirnya harus bekerja sama dengan dia. 

4. Aku masih kurang memikirkan pekerjaanku sendiri di mana tugas Pimpinan Redaksi adalah bertanggungjawab penuh dengan terbitnya majalah yang seharusnya 3 bulan sekali. Aku terpaku pada birokrasi yang sulit serta pola kepemimpinan PU. Seharusnya, aku membantu PU dan mendukungnya lalu fokus pada permajalahan. 

5. Aku masih belum bisa membagi antara akademik dengan kepentingan organisasi. Akibatnya, berat sebelah, bahkan tak ada satupun yang berat. Sama-sama hampir kosong. Aku yang kaku membuat interaksi serta kerjasama menjadi minim.

6. Aku pernah dipermalukan di depan anggota muda (Al-Hambra) dan anggota madya (Ulul Albab) oleh pembimbing lantaran susunan majalah mentahan masih sangat keliru bersama Sekretaris yang membantuku. Jangan sampai hal ini terjadi lagi.

7. Sejatinya, aku dan PU adalah partner. Sudah semestinya kami berdua saling mengerti satu sama lain, bukan saling berseberangan. Perlu ada evaluasi diri dan saling mengingatkan. Bukan malah berjauhan. 

8. Karena merasa tidak enak dengan pengurus harian lain akibat tak ikut andil dalam beberapa proses, aku bersembunyi di gudang dan tinggal di sana selama 2 minggu. Setelah uzlah, aku sadar bahwa ini adalah perbuatan bodoh.

Sungguh nahas jika perbuatan-perbuatan bodoh di atas terulang kembali. Takdir sudah pasti berjalan. FDI memang hampir sama dengan ITQAN kepengurusannya dulu. Ada yang mungkin pemikirannya berseberangan denganku. Ada yang mungkin seakan-akan menganggapku tidak ada dengan berbuat layaknya seorang ketua, mengambil alih wewenangku dan melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Boleh jadi tugasnya belum selesai atau bahkan sudah terkerjakan. Ada pula yang tak menggubris arahanku sehingga terkesan merendahkan dan menganggapku tak ada atau aku hanya sekedar formalitas saja. Ada pula yang mau diajak bekerja sama. Ada pula yang ngikut saja. Ada pula yang bisa di ajak kerja sama namun sebenarnya ada sesuatu yang ia pikirkan. Semuanya ada. Dulu yang kualami semua ada di sini.
Aku dan Ketua 2 juga tak selaras dalam sifat, pola pikir serta tindak tanduk. Namun, sebagai pelajaran, aku harus berusaha menggandengnya untuk kemajuan organisasi agar masa lalu terpuruk itu tak terulang kembali. Aku juga harus belajar bersabar dengan orang yang mengambil alih, yang seakan merendahkan atau menganggapku tak ada dsb. Harus kutahan emosiku. Kasihan organisasi jika emosiku yang menjadi nomor satu. Mereka adalah bagian dari tubuh. Maka, aku akan berusaha untuk tak melukai. Jika bagian tubuh ini rusak, akan berusaha kuobati dengan bantuan bagian tubuh lain. Ada masalah, diselesaikan bersama-sama. Jangan ada lagi komunikasi yang kaku. Bismillah... Semoga kedepannya jauh lebih baik. Aamiin...