PERHATIAN!

Blog ini berisi berbagai macam tulisan saya. Untuk memudahkan pencarian, silahkan pilih menu kategori di samping! (Setelah pilihan Editor)

Selamat Membaca!
Reaksikan dan beri komentar!

My Radio Station

Kamis, 29 Desember 2016

Perkenalkan, inilah channel baruku di youtube !

Hello World !
Perkenalkan, inilah channel baru saya di Youtube!

Alamatnya : https://www.youtube.com/channel/UCGp0BOhZyPqE3H-90Vxr2UQ

Jangan lupa di subscribe kawan-kawan...

Sabtu, 10 Desember 2016

Sudahkah Kita Menghargai?

Silaturrahim Santri dan Wali Santri Konsulat Malang
Hari ini merupakan saat yang berbahagia karena adikku pulang dari perjuangannya di Pondok Modern Gontor 3 Darul Ma'rifat Sumbercangkring Gurah Kediri. Semakin mengingatkanku pada masa-masa muda di mana semangat untuk bergerak sangat membara, menjalin kekompakan merupakan hal yang sangat membanggakan (seperti warna baju yang sama : warna biru lambang arema) serta sedang on fire dalam menelurkan karya-karya.
Ada yang baru dan sangat bagus pada acara perpulangan Konsulat kali ini. Konsulat Malang dari Gontor 1, Gontor 2, Gontor 3, Gontor 5 dan Gontor 6 bergabung serta bekerja sama menghelat sebuah acara silaturrahmi antara santri serta wali santri usai perjalanan pulang dari pondok. Bertempat di Masjid AR. Fakhruddin lt. 1 Universitas Muhammadiyah Malang. Acara berlangsung dengan meriah. Dan aku sangat mengapresiasinya, terlebih saat sambutan-sambutan disampaikan, juga sosialisasi mengenai agenda pagelaran seni yang rutin diadakan saat perpulangan akhir tahun. Semua mengikuti acara dengan seksama dan khidmat.
Bicara soal pagelaran seninya Konsulat Malang, Pagelaran seni ini dimulai semenjak tahun 2008 di bawah bimbingan Ustadz Ahmad Manshour, dipanitiai oleh Adli Ahdiyat, Fahrizal, Aunnur Rochman, Tafakkur Amin, Alfan Kurniawan, Ahmad Alfian, Abdul Majid, Abdul Majid (majid ada 2) dan kawan-kawan yang lain. Konsep direncanakan sedemikian rupa dengan penampilan-penampilan yang dikemas secara apik dan menarik (wenaak).Tentu adanya pagelaran seni ini bukan tanpa alasan. Pagelaran seni ini bertujuan sebagai bentuk dakwah, serta memperluas nilai-nilai kepondokmodernan pada masyarakat luas. Kemudian berlanjut pada tahun berikutnya yang dipanitiai oleh Hirzul Umam (Alm.), Faris Faishal, Baihaqi, Ivan Ahsanul Insan dan kawan-kawan yang lain. Berlanjut hingga saat ini kegiatan tersebut terus lestari dengan segala perkembangannya.

kembali ke judul...
Hari ini pula, aku menyoroti dengan kacamata pribadiku sendiri yang mungkin saja buram dan tak tajam, terdapat hal yang perlu untuk ditindak lanjuti dengan otokritik. Hal itu adalah soal menghargai. Dan mau tak mau, aku akan menggunakan otokritik itu. Otokritiknya kutujukan pada wali santri (termasuk aku sendiri yang sering mengantuk saat ada yang berbicara di panggung tadi termasuk saat Sosialisasi acara pagelaran seni), yaitu sudahkah kita menghargai para santri yang sedang bersemangat untuk melakukan dakwah? Sekiranya tadi saya (ganti wes ngga pake aku) melihat beberapa wali santri memberikan feedback yang bisa jadi menurunkan semangat para santri atas usaha kerasnya menyiapkan segala sesuatu untuk acara hari ini. Hal ini terlihat dengan terpejamnya mata saya (asleep) (jahat dan sangat kurang menghargai sekali) dan saat panitia ingin menunjukkan video hasil karya mereka hanya saja tersendat karena masalah sound system dan lain-lain mungkin, beberapa wali santri juga bersuara seakan memberikan semangat namun (bagi saya) semacam memiliki arti "yasudahlah wong nggak bisa" karena memang sudah gagal mencobanya berkali-kali (masalah teknis sih sebenarnya). Mohon maaf sebelumnya jika saya kurang sopan saat menggunakan otokritik ini kepada wali santri yang lebih tua jauh dari saya. Bagi saya, lebih baik saya diam atau bertindak sesuatu daripada hanya bersuara namun seperti itu. Yang kawan-kawan para santri beserta para Asatidz selenggarakan dan lakukan adalah hal positif, tidak merugikan sama sekali, dan ini adalah bentuk proses bagi para santri, menandakan bahwa mereka benar-benar belajar dengan sungguh-sungguh, maka seharusnya kita bangga kepada para santri yang semangat dalam proses. Mereka melakukan kesalahan berarti mereka belajar. Mereka belajar berarti wawasan mereka semakin bertambah juga memperbaiki praktek kehidupan mereka. Mohon maaf sekali lagi karena saya merasa kita sebagai wali santri kurang respect kepada para santri jika keadaannya seperi yang saya jelaskan di atas. Mungkin kita terburu banyak sekali urusan, terburu ingin pulang, segera melepas rindu karena santri-santri telah belajar di pondok untuk berbulan-bulan (bukan waktu yang sebentar), namun mari kita ingat bahwa mereka sedang belajar. Akankah kita mengebiri semangat belajar mereka?

Itulah otokritik bagi saya sendiri yang sangat hina ini dan beberapa wali santri saat itu. Semoga kita dapat memetik pelajaran atas segala peristiwa, bukan merasa paling benar sendiri dengan perasaan keinginan yang kuat untuk memenuhi kehendak diri yang "individualis" sifatnya.

Aku sendiri berharap semoga kawan-kawan santri tetap semangat dalam belajar, mikir-mikirlah kalau ingin mengambil keputusan untuk keluar dari pondok, berhenti mondok, pulang selamanya karena untuk membiayai kalian, orang tua tiap 1/3 akhir malam bersimpuh pada Dzat Yang Maha Kuasa, banting tulang mencari nafkah dengan segala cobaannya serta tetesan air mata mereka yang tak terhitung juga perlu kalian ingat selalu. Dan sebagai wali santri, sudah sepatutnya bagi kita untuk mendukung para santri belajar, berproses yang tentunya masih dalam koridor positif. Perlu di kontrol, namun tidak langsung "dikebiri" saat mereka tak sengaja melakukan kesalahan.

Kamis, 21 Juli 2016

Bergelut dengan Sosiologi 4

Hmmm.... usangnya blogku ini. Seperti ribuan tahun tak berpenghuni hahahahaha...

Lanjut..
Semenjak tahun 2012 di Sosiologi, aku melalui banyak sekali permainan, dinamika serta kenyataan hidup dengan sosiologi UMM baik itu dengan kawan sekelas, dosen, kakak tingkat bahkan dengan kawan-kawan sosiologi kampus lain. Akan kuceritakan secara mendetail khususnya siapa siapa saja yang ikut menjadi aktor dalam kehidupanku selama bergelut di Sosiologi. Yah, menulis dan menyebutkan bagaimana para aktor ini akan mengenang mereka, membuat mereka kekal dan tak hilang dalam ingatan. Meskipun aku tak punya foto, paling tidak memori yang dianugerahkan Allah ini akan sangat membantu sekali untuk mengingat mereka.

Mungkin akan lebih nyaman lagi jika dijelaskan per semester. Tapi, asal tahu aja, semua ini berawal dari niatku untuk kuliah Jurusan Sejarah di Universitas Negeri Malang dengan prioritas pilihan adalah Ilmu Sejarah murni dan Pendidikan Sejarah sebagai pilihan kedua. "Wah, bakal jadi mahasiswa kampus segede ini nih", gumamku dalam hati kala itu. Tapi, kenyataan berkata lain. Mungkin hasil ujian kemarin belum bisa membantu mendongkrak nilaiku sehingga dinyatakan tidak lolos. Baiklah, bimbang sejenak karena sejarah merupakan favorit bagiku dan keinginanku tak terwujud begitu saja. Namanya juga bimbang, gundah gulana, resah, gusar, bingung, lebih mbulet lagi kalau dipikir sendiri. Hmmm... Abo (panggilan untuk ayahku) dan pamanku (Cak Lili) bisa menjadi sarana diskusi. Akhirnya terpikirkanlah, kenapa tidak untuk mencoba jurusan yang sesuai dengan implementasi ilmu yang didapat saat di pondok? Di Pondok belajar agama, nilai, norma serta pelajaran umum lain secara seimbang. Penerapan di masyarakat juga perlu mengetahui dan mempelajari bagaimana masyarakat itu sehingga dakwah yang dilakukan tidak kaku serta nilai yang disampaikan tetap mengena. Dalam hal ini, sosiologi cocok untuk digeluti. Segera keesokan harinya menuju Gedung PMB UMM untuk mendaftar dengan pilihan pertama Sosiologi dan Pendidikan Bahasa Indonesia sebagai pilihan kedua. Kemudian menunggu hari tes gelombang 3. Tes berjalan lancar dan saat pengumuman, aku masuk dan diterima sebagai mahasiswa UMM pada pilihan pertama, yaitu Sosiologi. "Hmmm.. tak kusangka aku bakal kuliah di kampus tempat main bareng temen-temen dulu. Hahahahahaha", gumamku dalam hati. Tak terasa tersungging senyum merekah karena teringat masa lalu saat lift GKB 1 baru dibangun, Helipad masih berrumput, UMM DOME masih belum sempurna tertutup, mandi di sungai bawah DOME saat muktamar bareng teman-teman SD, dan lain sebagainya moment yang sangat rentan untuk terlupakan.

Wow.. aku menjadi mahasiswa UMM. Banyak yang seumuran, tapi kebanyakan beda setahun bahkan dua tahun karena memang kemarin aku sempat kuliah di ISID Kampus 4 Kediri sampai semester 2 jadi lewat setahun. PESMABA (OPSPEK) kulalui dengan riang gembira karena saking senangnya bertemu kawan-kawan yang aneh bin gokil. Mungkin sudah pada lupa hahaha. Soal PESMABA nanti kuceritakan di Tulisan lain.

SEMESTER 1
Mulai memasuki semester 1, di hari pertama kuliah, Ketua Jurusan (Bapak Rachmad Kristiono Dwi Susilo, MA) lah yang masuk dan memperkenalkan kepada kami yang culun-culun ini tentang Sosiologi dan Sosiologi di UMM. Sebelumnya sempat dikenalkan saat PESMABA tapi secara singkat tentang 3 Konsentrasi Sosiologi UMM serta dosen-dosennya. Kelas Sosiologi angkatan 2012 terbagi menjadi A & B. Aku di kelas B. Ada hal yang menurutku memalukan sih saat hari pertama masuk kelas itu. Kala itu Pak Rachmad menyinggung soal hobi menulis. "Siapa yang suka menulis?", tanya beliau. Beberapa detik berlalu dan tak ada yang mengacungkan tangannya. Ya karena hobiku menulis maka secara langsung kuacungkan tanganku. "Suka nulis apa?", tanya beliau kepadaku. "Cerpen pak sama artikel", jawabku singkat.

Kemudian beliau bertanya lagi, "Tahu tulisannya Umar Kayam?"

"Wah, saya kurang tahu pak"

"Coba dibaca, bagus itu tulisan Pak Umar Kayam". Kemudian sekelas menganggukkan kepala tanda mengerti.

Selang beberapa waktu, aku mengalami sedikit masalah. Karena saat itu flu yang kualami lumayan berat, maka seringkali (maaf) ingus yang ada di hidung pindahnya ke mulut. Dan ini terjadi saat Pak Rachmad sedang menjelaskan di depan. Yang kupikirkan saat itu adalah ingus ini akan kubuang saat kelas selesai. Namun, hal tak terduga itu terjadi. Pak Rachmad bertanya lagi, "ada yang lulusan pondok di sini?'. Seperti biasa, beberapa detik berlalu tanpa ada satupun mahasiswa yang mengacungkan tangan emas mereka. Baiklah, karena tidak ada yang mengacungkan tangan maka kuangkat tanganku dengan tanpa sepatah katapun. Yang kutakutkan adalah ketika beliau menanyakan dari pondok mana dan hal itu terjadi. Beliau bertanya kembali, "Dari Pondok mana?". Aku berhenti sejenak. Semua mata seakan memandangku. Suasana kelas mendadak sunyi. Seakan saat itu waktu terhenti hanya untuk mendengarkan jawabanku. Kenyataannya aku tak bisa menjawab karena menahan ingus yang ada di mulutku. Karena kebingungan, tak ada jalan lain selain membuang ingusku ini, spontan kuangkat tanganku dan menunjuk dengan cara menunjuk yang sopan ke arah luar dan segera keluar kelas untuk membuang ingus. Saat aku keluar, semua orang terperangah. Pasti dalam benak mereka bertanya-tanya "Anak ini ngapaiiiiiiinnnnnnn????". Hahahaha.. konyolnya waktu itu. Kemudian aku masuk kelas lagi dengan tawa kawan-kawan semua. Pak Rachmad menanyakan aku habis dari mana. Kujawab saja habis buang ingus pak. Kemudian kelas berlanjut dengan sukacita. Kami mengenal sosiologi dengan penuh kegembiraan karena penjelasan dari Pak Rachmad mungkin pembawaanya lucu tapi mengena.

Perkuliahan berjalan dengan suasana yang sama. Seperti biasa aku selalu duduk paling depan dengan teman di sampingku Abda Mahrul Fauza. Duduk di depan pula Mas Mohammad Arrifa'i, seorang yang tak jemu-jemunya menuntut ilmu meskipun usia jauh lebih tua daripada kami semua, terbukti dengan lulusan SMA angkatan 2008. Hanya saja duduknya lebih ke pojok. Sisanya para lelaki lebih memilih duduk di bangku ke 3 sampai paling belakang. Berbeda dengan perempuan di sisi sebelah yang suka memenuhi bangku depan hingga bangku keempat. Keadaan seperti ini membuat Dosen selalu meminta tolong kepadaku untuk mengambil kunci, absen dan lain sebagainya karena tempat dudukku yang dekat dengan dosen. Seperti yang pernah kuceritakan, akhirnya aku menjadi ketua tingkat. Mulai mengenali dosen-dosen Sosiologi dari Ketua Jurusan Pak Rachmad K. Dwi Susilo, MA, Dosen wali kami Bu Dr. Vina Salviana Darvina Soedarwo, M.Si, kemudian yang mengajar kami kala itu ada Bu Dra. Tutik Sulistyowati, M.Si dan dosen lain selain dosen sosiologi. Ada juga yang sangat dekat dengan kami yaitu Bu Ani Sri Rahayu, S.IP, M.AP dosen Mata Kuliah PPKn, saking dekatnya sampai kawan-kawan sering curhat ke beliau, bahkan sampai detik ini pun beliau masih ingat kepada kami. Ada Pak Sugeng Pujileksono yang sangat serius namun santai. Memang sampai saat ini kami tak melihat beliau lagi. Bu Ir. Endang Sri Hartati yang mungkin kami melihat beliau pendiam namun baik hati. Pembantu Dekan 1 kala itu Pak Dr. Asep Nurjaman, M.Si yang selalu kocak di kelas dan bikin ngakak, pelajaran ilmu politiknya tingkat tinggi. Bu Arum Martikasari, S.Ikom yang tegas dan selalu obyektif dalam penilaian mata kuliah Dasar-dasar logika. Saat itu juga ada matakuliah ESP (English for Spesific Purpose) 1 yang terbagi dalam 3 mata kuliah, yaitu Speaking, Reading dan Listening. Speaking diampu oleh Mr. Tee (Pak Teguh Hadi Saputro, S.Pd) yang saat pertama kali mengajar kami di minta untuk berbicara bahasa inggris dengan tema "Introduction" dan memperkenalkan diri. Tapi, kelas Speaking dibagi menjadi 2. Aku masuk kelasnya Pak Tee sedangkan sebagian ikut kelas Miss Shinta. Memang di awal masuk, ada 2 orang dosen yang datang yaitu Mr. Tee dan Miss Shinta. Kelas Listening diampu oleh Miss Asri Kusuma Dewanti. Beliau sangat ramah dan entah mengapa kami sekelas sangat enjoy dengan kelas Miss Asri. Yang paling terkenang saat listening dan melengkapi lirik Lagu More Than Word yang dinyanyikan kembali oleh Westlife dari awal sampai akhir karena diulang berkali-kali lagunya sampai keinget terus hahaha... Yang paling kocak adalah kelas Reading yaitu Miss Fida Hamidah. Orangnya santai dan kami mengikuti reading tanpa keluh kesah. Benar-benar semester 1 kami lalui dengan penuh kebersamaan entah aku juga bingung hahahaha. Aku bangga kawan kuliah bisa punya kebersamaan seperti itu sedangkan kelas lain bahkan jurusan atau fakultas lain bisa jadi teman sekelas tak saling mengenal.

Oh, iya. Di semester ini ada Sociology Camp yang diprakarsai oleh jurusan dan dipanitiai oleh Pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan. Di sini kami lebih mengenal satu sama lain antara kelas A dan kelas B. Dari kelas A yang paling dikenal saat itu ada Prisma Hastian, Ibnu Sulaiman, Novan Septa Fionanda, Winda Ika Prasetyoningtyas, M. Noor, Muhamad Ardiansyah, Satriawan Samokti dan lain-lain. Yang jelas anak kelas B mengenal Kelas A lebih urakan. Soscamp (akronim sociology camp) juga moment kami lebih mengenal Dosen Sosiologi. Saat itu kami melihat Pak Rachmad terlihat sangat semangat meskipun sebenranya beliau letih karena banyak sekali permasalahan terjadi pada kepanitiaan soscamp. Kami mulai mengenal Pak Muhammad Hayat, MA dan Bu Luluk Dwi Kumalasari, M.Si. Saat itu Pak Hayat melakukan Performance dengan menyanyikan lagu Dewa 19 berjudul Risalah Hati. Semua mengikuti dengan riang dan bergumam, "Dosen kita keren". Yang kusayangkan adalah saat itu aku tak mengikuti momen observasi dan turun ke warga secara langsung karena harus mengikuti lomba rangaian Student Day.


bersambung...
masih panjang.. sepanjang perjalanan ini..