PERHATIAN!

Blog ini berisi berbagai macam tulisan saya. Untuk memudahkan pencarian, silahkan pilih menu kategori di samping! (Setelah pilihan Editor)

Selamat Membaca!
Reaksikan dan beri komentar!

My Radio Station

Rabu, 06 Desember 2017

Wakil Walikota Bandung, Melanie Subono dan Pidi Baiq Warnai Pembukan Anti-Corruption Youth Camp 2017 Bandung

Anti-Corruption Youth Camp (ACYC) 2017 yang pada kali diadakan di Kota Bandung telah dibuka kemarin (4/12) oleh wakil walikota Bandung dan bertempat di Ruang Serbaguna Pemerintah Kota Bandung, Oded Muhammad Danial dengan sambutan yang sangat meriah nan menggugah. Tak lupa
Wakil Walikota Bandung
Oded Muhammad Danial
ia menghimbau kepada para hadirin akan bahaya ancaman korupsi bagi bangsa. "Korupsi merupakan ancaman terdepan bangsa ini. Maka kita semua, seluruh komponen bangsa, harus berperan dan melakukan upaya-upaya untuk meminimalisir", terang Oded dalam sambutannya.

Harapan besar dari Oded kepada para peserta khususnya generasi muda agar tetap dengan semangat tinggi melawan korupsi serta berpartisipasi dalam pembangunan. "Harapannya generasi muda ke depan mampu menghindari praktek korupsi dan dapat menjadi penerus pembangunan di Indonesia", tambahnya. Yang menjadi titik penting Oded adalah mental spiritualitas dalam diri para aktivis penekan praktek korupsi walaupun dengan metode canggih. Baginya, tanpa mental spiritualitas maka segala usaha pasti terkendala apapun caranya.

Dadang dari Transparency International
Indonesia sebagai Keynote Speaker
Berlanjut dengan keynote speaker yang diisi oleh Dadang Trisasongko dari Transparency International Indonesia dan Penasehat KPK Mohammad Tsani Annafari. Selaras dengan momen agenda Anti-Corruption Youth Camp, Dadang menyampaikan gambaran Indonesia di tengah pusaran korupsi global hingga peringkat korupsinya, pun Tsani menyambung dengan himbauan akan pentignya tugas generasi muda dalam memberantas korupsi minimal di lingkungannya.

Acara pembukaan ACYC semakin dimeriahkan oleh talkshow beberapa public figure yang aktif dalam kegiatan serta kepedulian sosial seperti Aktivis Digital Iman Sjafei, Aktivis Sosial Anita Wahid, Sujanarko dari Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat, Penyanyi Melanie Subono dan Seniman multitalenta Pidi Baiq. Kolaborasi para tokoh tersebut mampu membuat antusiasme peserta semakin tinggi. 

Iman dan Anita menyampaikan urgensi serta bagaimana sebenarnya dan seharusnya aktivisme digital. Dilanjutkan dengan Sujanarko terkait keterlibatan pemuda dalam penanggulangan korupsi dengan harapan agar generasi muda berperan merubah masyarakat visual menjadi masyarakat yang mampu mem-filter informasi. "Rubahlah masyarakat visual kita menjadi masyarakat yang memiliki kemampuan untuk verifikasi informasi", jelasnya.
Melanie Subono dan Ayah Pidi Baiq
sedang berbicara terkait
penanganan korupsi

Tak kalah penting dan seru yaitu kolaborasi antara Melanie dan Pidi. Melanie mempertanyakan kesiapan para generasi muda untuk sadar akan korupsi serta kritik terhadap pemuda yang mengaku gelisah akan korupsi namun tak memahami arti kegelisahannya. "Kalau loe diem, berarti loe sama aja kayak pelaku, karena loe sama aja dengan setuju", tambah Melanie dengan gaya bahasa yang khas. Demikian Pidi yang menyampaikan edukasi terhadap peserta melalui pandangan-pandangannya terkait korupsi. Pria dengan panggilan akrab "ayah" ini mengakhiri sesinya dengan melantunkan tembang-tembang ciptaannya sekaligus sedikit bercerita sejarah The Panas Dalam. Uniknya, Melanie dan Ayah Pidi mempersilahkan peserta yang ingin bertanya untuk menyampaikan pertanyaan di depan panggung, duduk bersanding bersama, sehingga ruang kedekatan antar peserta dengan pemateri sangat terbuka.

Minggu, 03 Desember 2017

Siapkan Generasi Milenial Perangi Korupsi Melalui ACYC 2017 Bandung

ACYC atau yang bisa disebut Anti-Corruption Youth Camp merupakan agenda yang diselenggarakan semenjak 2012 silam hingga saat ini. Terhitung sudah dihelat untuk keempat kalinya sampai tahun ini. Pertama kali diadakan di Bogor, kemudian berlanjut pada tahun 2015 di Yogyakarta, 2016 di Sabang dan tahun ini diadakan di Bandung Kota Kembang, bertempat di Wisma Pekerjaan Umum Jalan L. L. R. E. Martadinata sebagai lokasi kelangsungan acara mulai 3 hingga 10 Desember 2017.

Welcoming Night ACYC 2017 di Aula B
Wisma Pekerjaan Umum Bandung
Agenda yang merupakan program KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dengan dipanitiai oleh komunitas-komunitas seperti YP (Youth Proactive), Gusdurian, PEMANTIK (Pemuda Anti Korupsi) dan lain-lain ini merupakan acara bertaraf nasional. Mengajak generasi muda seluruh Indonesia untuk mengikuti acara ini melalui seleksi hingga terjaring sekitar lebih dari lima puluh generasi muda yang lolos seleksi untuk diundang menjadi peserta ACYC 2017.

Seleksi dilakukan melalui penilaian video profil para calon peserta yang diunggah pada channel YouTube mereka hingga 19 Nopember 2017. Video profil peserta berisi tentang profil singkat seperti nama dan asal daerah serta penjelasan singkat mengenai aktivitas terkini mereka, juga mengenai alasan mengapa panitia harus memilih mereka serta langkah kongkrit untuk menangani korupsi di lingkungan para calon peserta.

Sesi Perkenalan Peserta ACYC 2017
Perhelatan yang diadakan bertepatan dengan Hari HAM serta Hari Anti Korupsi Internasional ini berisi serangkaian acara seperti welcoming night, Talkshow, Anti-Corruption Class, juga agenda lain yang mampu memberikan ilmu baru bagi peserta terkait edukasi anti korupsi juga pengembangan untuk generasi milenials serta perluasan edukasi kepada masyarakat terkait anti korupsi. Tepat hari ini, diadakan welcoming night yang berisi perekatan antar peserta, pengenalan ACYC juga pembentukan kelompok guna menunjang kesuksesan acara hingga hari terakhir serta pengarahan kepada para peserta agar tetap semangat menyampaikan gagasan dan disiplin karena nantinya mereka akan ditempa untuk menjadi penggerak di masyarakat.

Sesuai dengan temanya yaitu Milenials, Beda dan Berkarya, ACYC 2017 benar-benar mengajak para generasi muda milenials untuk menjadi motor penggerak guna melawan korupsi yang semakin merajalela di bumi pertiwi nan indah pun juga subur ini. Terlebih generasi muda masa kini sangat erat kaitannya dengan karya-karya dunia maya atau internet seperti vlog, blog, podcast, komik, stand up comedy sehingga melalui acara ini diharapkan mereka mampu bergerak lebih untuk melawan korupsi melalui karya-karya mereka yang positif serta berpengaruh pada masyarakat.

Minggu, 19 November 2017

Intip Mimpi ke Luar Negeri di KEF (Kampung Inggris Education Fair) 2017

Seminar Pendidikan Bersama CNY China
dan Aupair Jerman
Nopember merupakan bulan di mana agenda besar, yaitu Kampung Inggris Education Fair 2017 dihelat oleh Global English Pare Kediri. Acara yang diadakan mulai tanggal 18 hingga 19 Nopember 2017 ini berisi seminar serta pameran pendidikan. Terdapat berbagai lembaga yang hadir dalam pameran serta mengisi seminar seperti AAS (Australia Award Scholarship), CNY China, Superstar Education, Aupair Jerman, beberapa kampus seperti UNSW, Western Sydney University dan masih banyak lagi lembaga lain yang hadir serta siap menjadi tempat bertanya para pemburu impian belajar di luar negeri.

Seminar yang diadakan dalam KEF, bermuatan tentang perkenalan lembaga-lembaga beasiswa, konsultan pendidikan, yayasan aupair indonesia, pun juga tak ketinggalan sesi berbagi dengan para awardee dari berbagai beasiswa guna memotivasi para generasi muda. Dengan begini,sangat memungkinkan bagi para pemburu kuliah luar negeri untuk mengetahui informasi lebih banyak mengenai kondisi di luar sana, persiapan yang harus mereka lakukan serta peluang-peluang apa saja yang bisa menjadi solusi bagi mereka.

Memang sih, acara-acara pameran dan seminar pendidikan itu perlu banget untuk membantu mereka-mereka yang mau sekolah ke luar negeri, sekalian sosialisasi beasiswa, lembaga konsultan pendidikan juga. Cocok banget buat aku yang pengen sekolah luar negeri tapi bingung harus ngapain, terus secara biaya juga belum punya. Semoga yang mau sekolah luar negeri bisa tercapai keinginannya.

Gagasan Kecil untuk Menumpas Korupsi

Aku tinggal di mana korupsi sudah menjadi hal biasa dibicarakan. Dia tabu tapi tak tabu. Seakan-akan buruk tapi sebenarnya banyak yang melakukan khususnya bagi manusia-manusia yang sedang diberi amanah untuk memegang uang. Dari tingkat pemerintah desa sampai pemerintah pusat. Well, pengetahuanku tentang korupsi itu sendiri masih kurang, pun juga penanggulangannya. Tapi paling tidak, jika aku berhadapan dengan korupsi, ada beberapa hal yang harus aku lakukan, yaitu :

a. Memberikan edukasi kepada Masyarakat

Edukasi yang diberikan adalah terkait penanggulangan serta pencegahan korupsi. Membuka mata masyarakat bahwa ada korupsi di sekitar mereka, mengenali tanda-tanda bahwa telah terjadi tindak pidana korupsi

b. Segera menegur para pelaku korupsi

Para pelaku tindak pidana korupsi, PIDANA lho pidana, harus segera ditegur agar mereka jera. Tegur dengan cara apapu, asal tidak dengan main hakim sendiri. Tegur dan dikontrol agar mereka mau mengganti uang yang dikorupsi

c. Memberikan kritik melalui karya

Kritik melalui karya berfungsi sebagai media penyalur aspirasi kepada masyarakat luas, baik berbentuk edukasi pada masyarakat maupun evaluasi terhadap kinerja para pemangku kebijakan yang rada kurang maksimal tapi malah duitnya yang habis maksimal

So, correct me if i'm wrong! Ini hanyalah ide kecil. Biar tahu lebih dalam, aku harus belajar lebih banyak lagi. Salam Anti Korupsi!

Rabu, 08 November 2017

Ke Ponorogo Setelah Sekian Lama

Akhirnya setelah sekian lama, aku mengunjunginya lagi. Tempat aku diasuh oleh Ibu selama bertahun-tahun. Ibu setelah ibu di rumah. Asuhannya benar-benar melengkapi asuhan ibuku. Sungguh sulit menggambarkan tentangnya, yang jelas ini sebuah kesempatan langka karena jarak yang jauh. Betapa tidak, ia berada di Ponorogo sedangkan rumahku di Malang. Hahaha, memang nostalgia rasanya saat bisa bertemu dengannya. "Oh Pondokku, Ibuku", begitulah yang kuingat saat menyanyikan hymne Oh Pondokku selama masih di asuh olehnya.

Well, Dialah Pondok Gontor, Ibuku yang kedua. Sebenarnya tujuanku ke Ponorogo bukan dalam rangka mengunjungi Ibuku ini, tapi bermaksud untuk ta'ziyah karena salah satu teman FDI, Yunda, telah ditinggal oleh ibundanya tercinta menghadap ke rahmatullah hari kamis dini hari. Kabar wafatnya tersebar saat pagi hari. Ceritanya, usai sholat subuh, aku iseng buka smartphone dan aplikasi Whatsapp. Ada yang menggelitik mataku, yaitu kata-kata "Innalillahi wa inna ilaihi roojiun" yang terlihat saat pertama kali membuka whatsapp. Tahu kan, whatsapp bentuknya gimana. Barisan ruang chat yang belum terbuka termasuk grup chat, tapi menampakkan sedikit kalimat awal dari sebuah pesan di setiap ruang chatnya. Nah, kata Innalillahi tersebut, ada di grup alumni FDI. Sintak kubuka ruang grup chat alumni FDI karena penasaran, siapakah gerangan yang telah dipanggil oleh Sang Khalik. Setelah kubaca perlahan, sungguh benar-benar pesan yang mengejutkan. Kami, anak-anak FDI angkatan 2012, tahu persis kalau Ibunya Yunda sedang sakit keras dan dalam proses perjuangan melawan sakit tersebut, pun juga anggota keluarga turut berusaha sekuat tenaga. 

Usai mengetahui kabar wafatnya Ibu Yunda, segera kutelepon Jalil. Sejak awal, Jalil selalu khawatir
Di rumah Yunda. (Dari kiri : Fina, Yunda,
Aku dibelakangnya, Alim, Jalil, Imron)
 dengan kondisi Yunda pun juga kondisi ibunya. Benar saja, setelah kukabari dengan nada perlahan, secara reflek Jalil berteriak histeris "YA ALLAH!". Ia benar-benar kebingungan, terkejut juga meratap sejenak. Kebingungannya bertambah ketika ia teringat jika hari itu adalah jadwal masuk sihft pagi di kantornya. Fix! Kami memutar otak waktu itu untuk mencari cara yang tepat agar bisa segera ta'ziyah ke tempat Yunda dengan tenang. Kami menghubungi teman-teman angkatan 2013 melalui Deni Fatmawati (Ketua 1 FDI 2015-2016 yang kebetulan juga saudara jauhku) bagaimana rencana mereka untuk ta'ziyah ke Yunda. Deni mengatakan kalau anak-anak 2013 sepakat berangkat bersepeda motor bersama teman-teman 2014. Sempat ada usulan travel tapi kami berpikir kalau travel bakal ribet. Yah.. ujung-ujungnya belum ada solusi. Saat jam menunjukkan pukul 06.45, barulah ada sedikit jalan yaitu dengan sewa mobil salah satu teman. Karena tak ada satupun dari kami yang bisa nyetir mobil, maka kami memohon bantuan Imron (teman IMM) untuk menjadi driver mobilnya, kebetulan ini mobilnya Imron juga sama Mas Hendru (teman IMM juga). Mereka berdua aktif di Grab sehingga wajar kalau "pegang mobil". Diputuskanlah, kami berangkat siang itu juga dengan mengajak Alim juga Fina.

Awalnya kami bingung mencari di mana rumah Yunda. Tapi, kami tertolong dengan kekhasan yang
Di depan aula Pondok
dimiliki rumah Yunda, yaitu "PECEL TUMPUK". Ya! Yunda sekeluarga memiliki warung pecel legendari di seantero Ponorogo yaitu "Pecel Tumpuk". Memang, saat kami menanyakan pada orang, "Pak, Pecel Tumpuk di sebelah mana ya?", orang yang kami tanyai segera menunjukkan arah yang jelas dan tepat! Tak sampai sepuluh menit, kami telah menemukan rumah Yunda. Besar dan luas, sangat menggambarkan bentuk bangunan dari warung pecel legendaris, dengan terop bertulisan Pecel Tumpuk di atasnya. Suasana berduka tergambar jelas dengan banyaknya orang bersilaturahim ke rumah itu. Karpet merah yang digelar di ruang depan rumahnya, juga barisan kursi-kursi di halaman rumah, benar-benar menggambarkan suasana kehilangan. Segera fina membuka kaca jendela mobil dan melambaikan tangan pada Yunda yang sedari tadi melihat mobil kami dari dalam rumah yang terbuka sangat lebar. Ternyata teman-teman 2013 dan 2014 masih di sana. Segera Imron memarkirkan mobil, dan Yunda mendatangi mobil kami dengan penuh kegembiraan walau sebenarnya dalam hati tersimpan kesedihan. Sapaan Yunda benar-benar mengejutkan kami. Kami turun satu per satu dan berjalan memasuki rumah, menyalami Ayah Yunda dan segera duduk melingkar bersama teman-teman FDI 2013 2014.

Obrolan kami berlangsung lama hingga Yunda menawarkan kami untuk menginap di rumahnya. Dengan bahasa yang lembut, kami tak ingin merepotkan keluarga yang sedang berduka. Walaupun harus berbincang lama dengannya, akhirnya Yunda merelakan untuk melepas kami. Sebenarnya ia belum merasakan ketegaran dan sangat terhibur dengan kedatangan kami untuk ta'ziyah. Saat kami bersiap untuk beranjak dari rumahnya, raut wajah kesedihan kembali muncul. Well, kami pergi dengan memberikan pesan-pesan padanya untuk tetap bersabar. Untuk menutupi kesedihannya, Yunda menyuruh kami untuk segera pergi dan ia sendiri segera berlari memasuki rumah, merapikan ruang depan yang berkarpet merah, menahan isak tangis, sementara kami berada di dalam mobil, melihatnya dari kejauhan dengan rasa trenyuh namun situasi dan kondisi yang menghalangi kami untuk tak bisa berlama-lama bersua dengannya. Kami harap ia dapat sesegera mungkin untuk tegar.

Bersama Veno di salag satu lukisan
penyemangat ujian santri.
Perjalanan kami berlanjut ke rumah ibuku dan ibu Jalil yang kedua. Dialah yang kuceritakan di awal. Pondok Gontor. Setibanya kami di sana, kami segera sholat dan bersih diri. Kami disambut oleh salah satu kawan kami yaitu Veno atau Qolbuddin Umar Tensatfeno. Masa pengabdiannya di Gontor 1 telah usai dan kini Pondok Al-Muqoddasah yang letaknya tak jauh dari Pondok Gontor 1 menjadi tempat pengadiannya. Kami sempat bernostalgia dengan suasana Pondok saat kamis malam walaupun Fina harus menunggu di dalam mobil karena dia perempuan sehingga cukup kami berlima (bersama Veno) yang bernostalgia dengan keliling pondok. Wajar, karena ini pondok putra. Suasana waktu itu benar-benar menggambarkan aktivitas saat duduk di kelas 5 dan 6 KMI dulu. Rapat wajib kamis malam, bagian koperasi dapur yang menyiapkan makanan untuk keesokan harinya, gedung-gedung yang menjulang tinggi namun tetap sederhana, papan-papan yang dipajang di beberapa sudut pondok berlukiskan kata-kata penyemangat ujian, jadwal ujian yang terampang besar di depan aula, dan yang mengejutkan adalah proses renovasi menara pondok.  

Tak hanya berkeliling, kami juga sempat mengambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan.

Salah satu neon box bertuliskan
panca jiwa pondok di depan 
gedung Sholihin
Obrolan tentang perkembangan pondok sudah menjadi suatu keniscayaan antara kami hingga akhirnya kami kembali ke bagian penerimaan tamu dan beristirahat setelah sebelumnya berterima kasih pada Veno atas sambutannya yang sangat baik.

Keesokan harinya, kami pergi menuju Malang pagi hari karena kami memiliki urusan masing-masing. Sementara Jalil ada jadwal shift siang di kantornya, Fina harus masuk Lab Sosiologi karena dia laboran, sedangkan aku ada post test di English First sore harinya, entah bagaimana dengan Alim dan Imron, hanya saja yang jelas bagi Imron adalah istirahat karena ia menyetir untuk perjalanan jauh pulang pergi. 

Senin, 30 Oktober 2017

We Can Be An Amateur Journalist!

First question is, who is amateur journalist?
How can i say that all of us can be an amateur journalist?

Well, in my opinion, amateur journalist is the person who catch anything around him with camera or other devices and publish it publicly even in any platform even whatsapp, facebook, youtube, etc. It is reasonable that we often receive some documentary videos via social media from our friends because they had received those video from another friends and share them again. And of course, we will share them to another but actually it depends of us. Someone was exactly catched or took a video in somewhere, and after that he/she share the video to other person, so other people will share it again and again. But, sometimes, the video that we take will back to us again and it's so funny. LOL.

All of us can be an amateur journalist if we take some picture or video and share it to another people. And yeah! We're already being an amateur journalist!

____________________________________

Alright! This writing is very bad because there are a lot of grammatically errors. I hope to you, the readers, to give me some suggestions, evaluations or corrections to my weird writing. I hope so much.

Thank You!

Petasan Pembawa Petaka

Petasan Pembawa Petaka
Cerpen Karya : Kerta Ranggah Rajasa Jayawardhana

Aku menyesali semua perbuatanku itu. Seandainya saja aku tak seceroboh itu. Andaikata aku bisa mengendalikan diri dan tidak gegabah dalam bertindak, semua tak akan berakhir seperti ini. Sungguh rasa penyeslan itu menghantuiku sepanjang waktu. Setiap detik penyesalan tersebut selalu terbayang-bayang di manapun aku berada.  Pikiran itu membuatku tak tenang menjalani kehidupan. Setiap kali mengerjakan tugas pasti terbayang. Setiap kali selesai sholatpun terbayang. Air mataku selalu meleleh di pipi dan tak kunjung berhenti. Sulit bagiku untuk melupakannya karena semua ini salahku.
*****
            “Sen, apakah kamu benar-benar mantap mau beli obat pembuat petasan di rumah Pak Supri? Aku serius lho. Karena kata Ayahku, Obat petasan itu jika tersentuh tangan sedikit saja bisa mengeluarkan suara yang sangat keras dan jika terkena anggota tubuh, pasti hancur. Aku jadi ngeri mendengarnya”, ucapku pada Sendy, teman sekelasku yang sedari kemarin ia bertekad ingin membeli obat petasan. “Mantap lah… Kalau aku beli obat petasan itu, aku bisa membuat petasan sendiri dan kujual. Dengan begitu aku bisa punya banyak uang dan aku bisa membeli apapun yang kusuka heheh”, jawabnya dengan penuh keyakinan.
            “Apakah tidak dengan cara lain saja”.
            Nggak. Aku sudah yakin dengan niatku ini”.
            “Sekali lagi aku Tanya, apakah kamu yakin?”
            “Ya”, jawabnya singkat. Akhirnya, kami berdua beranjak ke rumah Pak Supri. Hanya beberapa orang saja yang tahu Rumah Pak Supri adalah tempat pembuatan petasan atau mercon. Dan kami tahu karena mendapat informasi dari seorang penjual petasan di pasar karena kebetulan si penjual petasan tersebut adalah teman kami. Dialah Jupri. Seorang yang mampu menghasilkan uang dua ratus ribu dalam seminggu hanya dengan menjual petasan. Apalagi omzetnya bertambah saat Hari Raya Idul Fitri atau hari besar yang lain. Lebih-lebih tahun baru. Pasti semua petasannya dari yang paling bagus sampai yang paling jelek sekalipun habis dijual orang.  Hal ini membuat Sendy tertarik karena di rumah dia amat susah sekali mendapatkan uang jajan dari orang tuanya lantaran orang tuanya pelit. Bahkan, ayahnya sering pulang malam dan begitu pula ibunya jarang di rumah. Lebih-lebih Sendy tidak tahu apa yang dilakukan kedua orang tuanya tersebut. Yang jelas, setiap hari pasti ia melihat orang tuanya pergi saat ia sedang sarapan. Saat itu sarapan pasti sudah disiapkan dan makan siang ia membuat mie instan sendiri dengan nasi putih lalu makan malampun lagi-lagi dengan mie instan. Orang tuanya pergi tidak bersamaan. Ayahnya pergi dengan sepeda motor biasa dan ibunya pegi dengan sepeda motor matic. Dan Sendy, tak pernah tenang di malam hari karena tiap malam ia harus mendengar orang tuanya bertengkar melulu. Tiap hari tiada henti. Akhirnya, terpaksa ia berbuat sedemikian rupa.
*****
            “Obat petasan itu sekarang sudah berada di tanganmu. Lalu, apa yang kamu lakukan setelah ini?”, tanyaku pada Sendy. “Begini, din! Aku punya rencana yang sangat bagus untuk memulainya. Kemarin aku pergi ke hutan di sebelah selatan desa. Lalu..”
            “Selatan desa??? Bukannya di sana banyak ular berkeliaran”, tanyaku memotong pembicaraan.
            “Dengarkan aku dulu…. Aku ke sana hanya survey tempat saja karena di sana nanti tempat aku mengetes petasan buatanku dan bunyinya pasti lebih keras dari petasan-petasan lain….”, ucapnya lugas.
            “Wah… apalagi kalau kamu buat ledak-ledakan seperti itu pasti hewan-hewan banyak yang keluar karena tak tenang mendengar ledakan petasan buatanmu. Selanjutnya, mereka akan memakanmu sampai habis…”, ucapku menakut-nakuti.
            “Aku tak takut”
            “Ya.. terserah kamu sih.. yang penting pas kamu pergi ke hutan sana aku nggak mau ikut”
            “Aku akan mencoba bunuh diri lagi kalau kamu nggak  mau ikut nanti. Aku tak punya teman sekarang”, ucapnya menekan. Tiba-tiba kau teringat akan janjiku kalau aku akan menemaninya apapun keadaannya akrena ia tak punya teman sama sekali dan pernah mencoba bunuh diri tapi sempat kutenangkan dan bunuh diri ia urungkan.
            “Huft.. okelah kalau begitu..”, ucapku sambil menghela nafas.
            “Setelah survey, aku kemarin menemukan sebuah rumah tak berpenghuni di jalan setapak sebelum masuk ke hutan. Mungkin, di sana tempat aku membuat petasan nanti”, lanjutnya. Aku setuju saja karena aku takut ia akan kecewa dan mecoba bunuh diri lagi.
            Hari berikutnya, ia datang ke  rumah kosong kemarin dan bersiap memulai aktivitasnya membuat petasan setelah pulang sekolah. Dan pastinya aku harus hadir di sana juga mendukung niat dia membuat petasan. Aku tak berani menyentuh petasan tersebut karena takut terjadi yang tidak. Yah.. ketika ia mengajakku membuat bersama aku menolak dengan berbagai alas an. Untunglah ia tak banyak tanya jadi aku bisa menghindar dari pekerjaan berbahaya itu.
            Hari sudah menjelang Ashar. Sendy sudah hampir membuat dua puluh petasan yang bisa berbunyi sangat keras. Hampir tak kupercaya. Tapi ia selalu membuatku kesal karena tiap kali ia kekurangan sesuatu dalam membuat, aku dipanggilnya dan disuruh mengambil sesuatu yang ia butuhkan. Jika tidak ada aku pasti dibentaknya. Hal itu terjadi berkali-kali sampai-sampai ia membodoh-bodohiku. Kesabaranku mulai habis. “Udiin.. ambilkan korek api… cepat..”, bentaknya dengan suara diangkat. “iya iya…. “, jawabku tergesa-gesa. “cepatlah bodoh… tolol kamu ini… goblok… cepaaattt….!!!”, ucapnya tak sabar. Aku bertambah dongkol. Perasaan aku membawa korek api tadi siang tapi aku lupa di mana aku menaruhnya. Saat kumasukkan tanganku ke kantong celana, barulah aku ingat kalau korek apiku ada di sana. “Wooiiiii…… bisa cepat nggak..?? bodoh…..”, teriaknya lagi.
            Aku sudah tak tahan. Kesabaranku sudah habis. Karena korek api sudah ada di tanganku, spontang kulemparkan korek api itu kea rah Sendy seperti melempar bola tenis sambil berkata, “Ini korek api yang kamu minta, bodoh…”. Ucapanku tak sekeras apa yang ia ucapkan. Saat korek itu hamper mendarat di tempat Sendy, sempat terbesit rasa tak enak di dadaku. Lalu, korek itu mendarat tepat di petasan-petasan Sendy yang sudah dan jaraknya tak jauh dari tempat Sendy duduk. Seketika korek itu meledak sangat keras sekeras kerasnya sampai memekakkan telinga. Ledakan bertubi-tubi menghantam udara rumah kosong itu. Aku kaget setangah mati dan berteriak sekuat-kuatnya. Segera kututup telingaku dan membalikkan tubuhku seraya menelungkup ke bawah. Ledakan itu seperti ledakan bom yang kulihat di film-film. Pikiranku amburadul saat itu. Jarakku berjauhan dengan tempat duduk Sendy.
*****
            Ledakan telah usai. Tinggal asap tebal saja yang belum hilang. Aku bangkit dari telungkupanku. Kubuka telingaku dan berbalik badan. Kulihat asap tebal masih berterbangan. Kuhampiri tempat Sendy duduk perlahan-lahan. Asap tebal membuatku tak bisa melihat jalan. Akhirnya, aku berhenti sejenak sambil merenungi bagaimana keadaan Sendy sekarang.
            Asap sudah mulai hilang. Pandanganku tak terganggu lagi. Kulihat Sendy terbaring di atas lantai dengan bersimbah darah. Aku kaget bukan main dan segera kuhampiri dia. “Sen.. Sendy.. Kamu baik-baik saja kan?”, ucapku tergopoh-gopoh dan penuh rasa takut. Sekujur tubuhnya berlumuran darah. Kulihati seluruh tubuhnya. Ternyata seluruh jari kakinya telah teripsah dari kakinya dan perutnya terbuka. Usus terlihat keluar dan rahang bawahnya terlihat. Ih.. aku ngeri bukan main. “Sen.. sen.. jawab aku…”, ucapku sambil menggerak-gerakkan bahunya dengan kedua tanganku.
            Tiba-tiba terdengar jawaban darinya. “Din… kalau kamu marah kepadaku, aku minta maaf, ya! Aku telah banyak menyusahkanmu. Sampaikan salamku ke orang tuaku. Kamu tidak bersalah. Merekalah yang bersalah. Aku yakin dengan ini mereka sadar kalau mereka punya anak yang harus di sayangi bukan malah ditinggal pergi dengan orang lain dan berbuat zina… makasih din.. makasih…”, rintihnya. “Sen.. sen.. kamu nggak boleh mati… maafkan aku.. aku terlalu gegabah tadi.. maafkan aku…”.
            “Iya.. aku maafkan kamu… aku sengaja berbuat demikian… aku ingin cepat mati sebenarnya karena aku tak kuat menahan ini semua…”
            “Jangan.. jangan mati.. kamu masih punya harapn dan masa depan.. jangan.. “, ucapku sambil menangis dan terisak-isak.
            “Sudahlah, Din.. inilah takdirku.. Selamat tinggal, Din.. aku ingin istirahat… jaga dirimu baik-baik…”, ucapnya untuk terakhir kalinya lalu ia memejamkan matanya perlahan dan meninggal. Nyawanya tak tertolong. “AAAaaaaarrgghhhhh…. Sendyy……… tidak…….”. Teriakanku menembus keheningan rumah kosong itu. Aku menangis tak henti-hentinya. Aku berharap ia tetap hidup. Tapia pa hendak dikata. Nyawa telah dicabut oleh yang maha Kuasa. Aku hanya bisa menangis dan menangis dan menyesali semua yang terjadi.
            Selang lima menit kemudian, banyak orang berdatangan karena mendengar ledakan keras barusan. Ketika id tanya aku tak bisa menjawab apa-apa. Mulutku serasa bisu. Akhirnya, mayat Sendy di bawa ke rumahnya dan diurus keluarganya untuk kemudian dimakamkan di pemakaman desa. Aku pulang bersama ayahku yang kebetulan datang juga. Ia mencoba menenangkanku sampai akhirnya aku bisa bicara kembali dan aku bisa menjelaskan semua yang telah terjadi.

Bayang Semu Kemerdekaan

BAYANG SEMU KEMERDEKAAN
Puisi Karya : Kerta Ranggah Rajasa Jayawardhana

Mungkin umurku tak setua tanah air ini
Yang telah diproklamirkan kemerdekaannya semenjak 70-an tahun yang lalu hingga kini
Yang memiliki beragam suku bangsa hingga tak terhitung jari
Yang ber”Bhinneka Tunggal Ika semenjak aku belum lahir
Mungkin pula aku tak mengerti bagaimana keadaan serta kebutuhan negara ini
Tapi dengan naluri kemanusiaanku yang hanya secuil
Paling tidak aku masih bisa mempertanyakan tentang arti kemerdekaan bumi pertiwi

Entah benar atau salah, yang jelas kemerdekaan bagiku tak selaras dengan kenyataan yang ada di negeri ini
Kita Merdeka? Bebas dari penjajah?
Tapi, apakah kita sadar jika masih ada penjajah yang menjadi lintah raksasa namun “adem ayem” dengan segala harta yang berlimpah?

Apa benar kita telah merdeka?
Hanya karena benda kecil, seseorang dihabisi, tapi maling-maling berdasi tak dihabisi padahal bermilyar milyar uang telah masuk kantong kanan masuk kantong kiri

Apa benar kita telah merdeka?
Menjadi pemulung di negeri sendiri, pengemis, pesuruh, dan segala cara yang dilakukan demi mendapatkan recehan rupiah karena merasakan sengsaranya usaha untuk mendapat sesuap nasi demi keberlangsungan hidup di rumah sendiri, sementara yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin

Apa benar kita telah merdeka?
Harta kekayaan Ibu Pertiwi yang terpendam, diporak porandakan serta dijual, sementara anak-anak Ibu Pertiwi hanya bisa melihat, menatap dengan pandangan kosong, berharap mampu merebut kembali harta Sang Ibu Pertiwi, tapi malah orang lain yang mengambil dengan cara yang cantik nan tak lazim

Apa benar kita telah merdeka?
Kesuksesan bagi orang-orang adalah memperbanyak gedung pencakar langit dan pabrik-pabrik, sementara banyak tanah yang dirampas dengan cara licik nan cerdik hanya untuk mencakar langit juga memabrik.. dan lihatlah...
Apa benar kita telah merdeka?
Para petani tak lagi menjadi tuan di negeri sendiri. Karena lahan mereka, jiwa raga mereka tergerus oleh kepentingan-kepentingan mencakar langit, membangun pabrik, menggusur sawah-sawah dengan beton-beton keras yang perlahan mengikis kehijauan dari bumi pertiwi.. Lalu...

Apa benar kita telah merdeka?
Demi harta kekayaan, rakyat yang meneriakkan haknya pun terlindas dengan cara yang tak manusiawi bahkan dengan tangan-tangan orang lain. Bahkan demi kepentingan kapitalisnya, para buruh diperas dengan pekerjaan-pekerjaan yang menguras tenaga, namun upah mereka tak sepadan dengan hasil keringat yang nyata. Demi harta apapun dikorbankan. Demi harta amanah dikorbankan, padahal hanya seberapa persen dari kekayaan Negeri yang Indah ini. Tak secuil pun jika dibanding kemahakuasaan Yang Bersinggasana di Arsy.

Benarkah kita telah merdeka?
Putra-putri Ibu Pertiwi tak lagi berkuasa atas kebebasan Ibu Pertiwi dan rumah yang mereka huni karena rumah itu telah dikuasai oleh orang lain. Betapa murah hatinya ibu kami mempersilahkan mereka masuk untuk bertamu, tapi mereka justru masuk ke rumah kami, mengambil barang barang kami, menyiksa ibu kami, menakut-nakuti kami sebagai anak-anaknya yang tak tahu menahu apa-apa. 
Bahkan, dengan berani mereka membuat kami saling bertengkar adu pendapat hingga saling menyakiti.. sementara aku hanya duduk di ujung melihat ibuku disiksa, saudara-saudaraku berkelahi tanpa sebab yang nyata, dan aku terikat lemah tak berdaya apa-apa.. Hanya meneteskan air mata yang bisa kulakukan..

Dan..
Apa benar kita telah merdeka?
Memiliki lautan yang luas tapi sulit untuk menikmati garam. Memiliki tanah sakti yang mampu menghidupkan tongkat kayu namun tak mampu berkutik. Memiliki zamrud terindah namun tak kuasa mempertahankan kemilaunya.

Apa benar kita telah merdeka?
Penjajah Indonesia telah masuk dengan cara yang cantik serta tanpa ampun menumpas panah bangsa yang diarahkan pada mereka, bahkan mereka tuli dengan teriakan teriakan anak-anak Ibu Pertiwi

Apalah daya Ibu Pertiwi yang hanya bisa memberikan pengayoman dan kenyamanan bagi anak-anaknya justru dianiaya oleh orang lain
Ini Ibuku! Kalian apakan Ibuku! Aku masih kecil! Teganya kau mamu membunuh Ibuku! Teganya kau mau membunuh kami! Lalu di manakah sisi manusiawimu?? Apakah kau benar manusia? Apakah kau tak mengerti arti merdeka? Atau kau tak mengerti karena kata “Merdeka” itu memang bukan bahasamu? Bahkan anggota keluarga kami kau gunakan demi pelampiasan kepentinganmu

Maukah kau merasakan pahitnya bayang semu kemerdekaan?
Panji-panji merah putih yang berkibar di sepanjang jalanan saat Bulan Agustus merupakan bayang semu yang sangat indah nan elok untuk sebuah negara yang katanya “Merdeka”
Sebagai anak kecil, di ujung sini, aku hanya bisa menangis
Entah sampai kapan kemerdekaan ini menjadi hal yang simbolis
Kapan aku dan saudara-saudaraku mampu merasakan kemerdekaan yang hakiki

Kami terjajah tapi kami tak sadar
Kami tertindas tapi kami memilih untuk diam
Karena jika tak diam maka kami akan dilindas
Kami terdiam juga karena kami termakan iming-iming penjajahan
Penjajahan yang tak nampak namun berkelanjutan yang implikasinya pada moral serta etika kami
Kami tak lagi saling menghormati
Kami tak lagi menjaga indahnya zamrud yang kami miliki
Kami tak lagi membela eksistensi sawah dan lumbung padi kami yang katanya rumah kami ini “Negara Agraris”
Perilaku kami seakan bahagia melihat ibu kami disiksa oleh orang tak dikenal
Kuayunkan tanganku meraih panji-panji yang berkibar
Tak ada yang kurasakan selain pahit di hati
Karena aku dan saudara-saudaraku sendiri tak mampu berteriak lagi menolong ibu kami


Malang, 16 Agustus 2017
Menjelang hari yang katanya kemerdekaan Indonesia
Merefleksikan Proklamasi yang diperjuangkan dengan sedemikian rupa namun terurai begitu saja oleh... entah siapa aku juga tak tahu.. karena tak ada yang mau tahu dan yang memberitahu akan diberitahu untuk tidak memberitahu. Jika tetap memberitahu, maka akan diberitahu lagi dengan kedatangan malaikat maut yang tak diketahui. Keadilan yang samar.

Ketika Dunia Menyempit

KETIKA DUNIA MENYEMPIT
Puisi karya : Kerta Ranggah Rajasa Jayawardhana

Ketika dunia menyempit….
Raga terasa terhimpit
Semua yang manis menjadi pahit
Menyebar membakar kulit
Orang lain tak acuh di saat sulit
            Gunjingan merajalela
            Melalui mulut-mulut tak berdosa
            Entah kapan akhirnya
            Diri ini hanya bisa berdoa
Raga ini terasa beku
Saat angin keprasangkaan membelenggu
Lisan ini semakin kelu
Karena oknum memukul jitu
            Kini semua terasa sukar
            Sulit rasanya mencari jalan keluar
            Seperti nya tak ada yang membuka pintu hatinya lebar-lebar
            Dari diri ini mereka berpencar

Di Ujung Mata Pedang

DI UJUNG MATA PEDANG
Puisi Karya : Kerta Ranggah Rajasa Jayawardhana

Dan pandanganku gelap gulita
Saat ujung mata pedang itu menerobosjantung dengan tatapan menggila
Tubuhku bergetar dan mata terbelalakterbuka
Namun, apa daya aku tak bisa berbuat apa-apa
            Akumengerti maksud mereka yang ingin mewanti-wanti mata pedang itu padaku
            Danaku tahu maksud baik mereka dengan menakutiku
            Akutahu pula apa yang mereka pikirkan untuk kebaikanku
            Namun,karena kesalah pahaman mata pedang itu menerobos jantungku
Sudahlah
Biarlah bekas luka mata pedang ini mengering
Akan tetap kujalankan kewajibanku meski harus berbaring
Semoga ini menjadi pelajaran penting
Agar tak mudah lalai dalam suasana hening


Kampus putih
Dilanjutkan di rumah tercinta
Senin, 06 Mei 2013

Ini Urusanku

INI URUSANKU
Puisi Karya : Kerta Ranggah Rajasa Jayawardhana

Apa maumu mengaturku ?
Ini urusanku

Aku tahu masa depanku dengan kacamataku
Aku tahu masa depanku
Aku tahu masa depanku
Dan Aku tahu masa depanku
.

Lalu, kau mau apa?
Uruslah masa depanmu sendiri
Aku tak peduli
Sekarang aku sedang bersenang-senang dengan segala yang kupunya

Persetan
Nasehat-nasehat tak terpikirkan
Yang ada hanya
AKU SENANG SEKARANG
AKU BAHAGIA DENGAN MASA MUDAKU
AKU TAK PEDULI
INI URUSANKU !!!!


Malang, 12 Mei 2013. Pukul 22:44
Puisi ini kutulis untuk embrio-embrio pendobrak perubahan dunia
Lalu, sadarlah sebelum terlambat.

Kata Pemuda Nakal

KATA PEMUDA NAKAL
Puisi Karya : Kerta Ranggah Rajasa Jayawardhana

Hey Kau...
Seriusnya Kau belajar...
Lihatlah Aku....

Hidupku mudah
Uangku melimpah
Malamku selalu indah
Walau kadang susah saat aku payah
Hahahaha.....

Memang Parah..
Bagimu...
Tapi, Wah...
Bagiku...

Ah... Indanya dunia ini
Aku hanya perlu minum untuk memstakan diri
Dan Dara-dara cantik yang menemani
Aku tak butuh cita-cita tinggi
Yang penting...
Aku senang....
Hahahahaaa.....

Percetakan
Selasa, 11 Maret 2013

Lolongan Si Buruk Rupa

LOLONGAN SI BURUK RUPA
Puisi Karya : Kerta Ranggah Rajasa Jayawardhana

Aku benci untuk mengatakannya
Tapi apalah arti aku hidup jika seperti ini adanya
Karena semua seakan memandangku sebelah mata
Lalu, apa yang harus kulakukan
Sepertinya aku tak mau mati tapi hidup saja segan
Dan keluhan ini tak mampu lagi kusimpan
Maafkan aku Tuhan jika aku kurang bersyukur
Tapi apa daya
Aku hanya hamba-Mu yang lemah
Yang ada dihadapanku hanyalah
Pembelas kasih yang ada sesaat
Pemberi harapan palsu untuk hati
Pencemooh yang tak ada habisnya
Penjahat perasaan yang seenaknya menyepelekan diri
Tuhan,
Apakah jika aku mati ini semua akan berakhir...????
Tuhan...
Tuhan...
Aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali dari pertolonganmu
Terlalu jahat hatiku untuk meminta mereka musnah dari hadapanku
Tuhan...
Apakah mereka tak tahu besarnya kebaikan hatiku
Tuhan...

Bumi dingin yang kian memanas,
16 April 2013  

Rabu, 25 Oktober 2017

JCF, Acara Pameran di Bojonegoro yang Perlu Dicontoh Daerah-daerah Lain! (My First Experience with Qlapa.com)

Matoh! Kata ini yang pas untuk acara JCF 2017. Kenapa? Jelas karena acara besar inilah para
pengusaha industri kreatif memiliki kesempatan besar untuk menunjukkan produk-produk mereka, hasil buatan tangan mereka yang sangat indah nan variatif. Matoh sendiri berarti "sae" atau "baik". Matoh merupakan kata seru yang digunakan untuk mengekspresikan sesuatu yang baik bahkan di atas baik. JCF (Jonegoroan Creative Fair) 2017 merupakan agenda yang dihelat atas kerjasama Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dengan IKKON Bojonegoro. Agenda ini berisi pameran produk-produk lokal Bojonegoro seperti kerajinan gerabah, perhiasan, kerajinan songket atau rajut, batik,  hingga kuliner yang bermacam-macam seperti kripik olahan, bumbu pecel dan lain sebagainya. Tak hanya itu, e-commerce pun juga diundang seperti Qlapa.com dan Tokopedia agar menjadi sarana bagi para pengrajin untuk semakin mudah memasarkan produknya ke seluruh Indonesia bahkan seluruh dunia agar produk mereka mampu bersaing di kancah Internasional menyaingi brand-brand Internasional yang justru lebih diminati masyarakat Indonesia daripada produk lokal sendiri.

Booth Qlapa.com bersebelahan dengan Booth Tokopedia
Yap! Bagiku, acara ini memberikanku pengalaman berharga. Aku yang baru saja menjadi City Representative Qlapa.com untuk Kota Malang sangat berterima kasih sekali pada Qlapa.com yang memberikanku kesempatan untuk ikut berkecimpung serta menyukseskan booth Qlapa.com di acara ini. Mbak Ayu dari Qlapa.com siap memberikan briefing kepadaku dan juga Mas Khairul Amien yang juga City Representative dari Madura terkait sistem kerja Qlapa agar kami bisa melayani para tamu yang datang di booth Qlapa. Aku jadi mengerti arti penting adanya acara ini dan keterkaitannya dengan Qlapa.com. Dengan berpartisipasi di sini, aku jadi semakin mengenal Industri kreatif dan perlahan memahami kalau industri kreatif di Indonesia sungguh minim peminat. Betapa tidak, masyarakat Indonesia kebanyakan lebih bangga memiliki barang yang branded luar negeri daripada produk lokal yang sesungguhnya lebih indah. Tentu ada yang beranggapan bahwa produk lokal itu mahal. Eits, bukannya produk luar itu juga mahal ya? Apa susahnya sih bermahal-mahal untuk produk dalam negeri?

Kang Yoto (Bupati Bojonegoro) Sedang Mampir
ke Booth Qlapa.com
Acara ini juga membuatku semakin mengenal banyak orang. Dengan Mbak Ayu dan Mas Khairul Amien aku memang sudah kenal semenjak kuliah dulu karena beliau berdua adalah seniorku di UKM Forum Diskusi Ilmiah. Di acara tersebut, aku jadi kenal Mas Rizky Aldi yang gokil, kocak, heboh dan easy going dari Tokopedia dan ketiga kawannya juga. Begitu juga dengan kawan-kawan IKKON seperti Mbak Rani, Mbak Fatma, Mbak Ichris, Mbak Annisa dan lain-lain. Belajar untuk dekat dengan para pengrajin yang memiliki berbagai karakter, kelebihan serta kekurangan yang untuk mendekati mereka juga harus dengan cara yang baik agar kebutuhan mereka terlayani dengan baik.  

Mengapa acara pameran ini perlu dicontoh oleh daerah lain? Karena ini merupakan pintu bagi para pengrajin serta para pemilik industri kreatif untuk memperkenalkan produk-produk mereka yang beraneka ragam dan indah. Bahkan jika perlu, pameran ini dibuat permanen agar untuk memperkenalkan produk, para pengrajin tidak perlu menunggu momen karena bagi mereka setiap detik adalah momen mereka untuk memasarkan produk buatan tangan mereka. Dari sinilah aku menemukan keterkaitannya dengan Qlapa.com yang bersedia menjadi perantara antara pengrajin dengan para customer dalam skala yang sangat luas. Semoga aku berkesempatan untuk berkecimpung dalam acara seperti ini lagi dan semoga Industri kreatif serta para pengrajin mampu melesat hingga membawa besar nama Indonesia dan produk mereka justru mampu menyaingi barang-barang branded internasional yang malah menjadi kebanggaan banyak orang di Indonesia.

Minggu, 22 Oktober 2017

Bojonegoro, Panasnya Selangit!

Hari ini adalah hari ke-3 aku di Bojonegoro. Kedatanganku di Bojonegoro bukan tanpa sebab. Beberapa waktu yang lalu, aku diterima menjadi City Representative Qlapa.com untuk daerah Malang. Dan aku berpartisipasi dalam pameran Qlapa.com di agenda JCF (Jonegoroan Creative Fair) 2017 Bojonegoro mulai tanggal 21-23 Oktober 2017. Dan sejak hari Jum'at tanggal 20, aku sudah tiba di Bojonegoro untuk membantu rekan Qlapa.com yang ternyata juga seniorku saat di FDI (Forum Diskusi Ilmiah) UMM yaitu Mbak Noor Sukmo Ayu Lestari atau Mbak Ayu. Well, kami menyiapkan booth pameran mulai dari angkat-angkat sampai bolak-balik ganti desain booth. Akan kulanjutkan di lain tulisan.

Bojonegoro, merupakan daerah yang seumur hidup rasanya belum pernah aku tinggal atau sekedar menginap, namun hanya sekedar lewat karena tempat tujuanku sekeluarga selalu di Tuban serta jarang sekali untuk lewat Bojonegoro. Daerah yang berbatasan dengan Jawa Tengah ini memiliki suhu tinggi hingga lumrah jika orang-orang di sini merasakan gerah tak tertahankan khususnya siang hari.

Bojonegoro dipotong oleh Sungai Bengawan Solo yang sangat lebar hingga banyak sekali jalur-jalur penghubung antara daratan satu dengan daratan lain yang terpisah sungai, bahkan saat ini sedang dilakukan pembangunan jembatan baru yang bisa dibilang gede banget.

Orang-orang Bojonegoro sangat ramah dan baik. Mereka hobi ngopi di warung kopi, ngopi dalam arti sesungguhnya, minum kopi, dan di warung kopi. Mereka juga sangat antusias dengan obrolan-obrolan terkait perkembangan Bojonegoro.

Berbicara soal pengembangan Bojonegoro, keterbatasan pengetahuanku masih mengetahui jika Bojonegoro ini Kabupaten sehingga kepala daerahnya adalah Bupati. Bupati Bojonegoro adalah orang yang asyik meskipun belum pernah ngobrol langsung dengan beliau. Beliau orang yang santai namun kocak dan selalu memberikan surprise kepada kawan-kawan yang lain. Surprise dalam artian kejutan saat agenda kerja pemerintah. Beliau suka tiba-tiba nongol. Tujuannya mungkin baik karena ingin melihat apakah yang dikerjakan sudah maksimal atau belum.

Tulisan ini bukan sedang membaguskan seseorang, dan aku juga bukan mau promosi Bojonegoro, tapi aku hanya sedikit cerita dan berbagi pandangan serta opini remehku terkait Bojonegoro.

Panasnya Bojonegoro, yang bahkan pernah sampai 40 derajat celcius, memang berimplikasi pada tubuh. Implikasi yang remeh sih seperti berkeringat banyak, sering gerah, sering haus, air dingin jadi tak berasa, bahkan saat mandi pun, air rasanya seperi hanya lewat saja. Tapi, memang kalau untuk istirahat, nyaman! kecuali beberapa hal yang aan kuceritakan di tulisan lain terkait Bojonegoro juga.

Bagiku, Bojonegoro memiliki banyak potensi yang perlu dikembangkan seperti industri-industri kreatifnya. Hal yang jarang ada di tempat lainnya seperti BUMDes (Badan usaha Milik Desa), juga ada di sini. Bumdes yang mengerahkan warganya untuk berkarya dan meningkatkan ekonomi secara bersama, benar-benar membuat gebrakan banyak bahkan berkembang menjadi wisata edukasi untuk anak-anak. Pokoknya banyak sekali potensi yang perlu dikembangkan untuk lebih baik lagi bahkan lebih luas.

Potensi-potensi positif di Bojonegoro harus dimaksimalkan agar Bojonegoro juga bisa mencetak prestasi banyak dan Bojonegoro semakin maju. Maju di sini bukan hanya soal ekonomi. Kalau soal ekonomi sih... sabi lah ya tapi bagiku sih maju ini dalam hal pemaksimalan dalam memanfaatkan Sumber Daya Manusianya. Artinya, kalau Manajemen Sumber Daya Masyarakatnya bagus, maka karya-karya bahkan termasuk ekonomi juga ikut melesat. Maka, saran aja sih.. buat pemerintah untuk memantau dan memanage SDM di Bojonegoro agar terwadahi dan meningkat drastis prestasinya. Mungkin pemaksimalan ini butuh biaya banyak, tapi demi kemajuan Bojonegoro, kenapa tidak? :D

Senin, 02 Oktober 2017

Belajar Filsafat. Sesatkah?

Kalau ada pertanyaan, filsafat itu apa sih?
Pasti jawabannya :

FILSAFAT ITU SESAT!
FILSAFAT ITU BIKIN PUSING
FILSAFAT ITU RUWET
FILSAFAT ITU ......

dan lain-lain. Monggo dilanjutkan sendiri, kalau perlu dikomentarin di bawah juga nggak apa-apa.

Sejujurnya, aku sendiri agak risih kalau misal filsafat itu bikin sesat dan lain-lain karena sebenernya manusia itu berfikir pasti mereka berusaha untuk berfilsafat dong.

Sebelum jauh membahas tentang sesat nggaknya filsafat, mending ditelusuri dulu, sebenernya filsafat itu apa sih. Apa bener filsafat itu ngerusak?

Filsafat itu kan diambil dari kata philos dan sophia . Artinya cinta kebijaksanaan. Sejarahnya, dulu itu buanyak orang-orang yang sombong karena kepintaran dan kebijaksanaan mereka bahkan menggunakan kepintaran mereka untuk yang nggak baik. Mereka tidak mau membumi dan tidak mau pendapatnya ditentang atau pendapat mereka itu sifatnya absolut. Akhirnya mereka dijulukin kaum sophis sesuai dengan sophia itu tadi yaitu orang-orang yang bijaksana. Sedangkan para tokoh filsafat khususnya Phytagoras, kurang suka dengan hal tersebut. Phytagoras memang termasuk orang yang pintar tapi dia nggak merasa paling bijaksana, dia hanya suka dengan kebijaksanaan. Maka dari itu, mereka nggak mau kalau pendapat mereka itu paling benar, jadi mereka akan terus mencari dan mencari, mempertanyakan dan terus mempertanyakan tapi tetap cinta dengan bijaksana dan tak menodai kebijaksanaan itu sendiri. Jadi mereka mempertanyakan sesuatu itu gunanya untuk kebaikan dan bertambahnya ilmu pengetahuan. Pemikiran para filsuf pasti akan diperbaiki dan diperbaiki terus menerus. Jadi, kalau misal berfilsafat itu dianggap sesat, eits tunggu dulu. Kayak gimana dulu orang yang dibilang sesat itu cara berpikirnya.

Di filsafat itu kan ada cara berpikir filsafat. Maksudnya, dalam berfilsafat, biasanya berpikirnya itu kayak berpikir logis atau sesuai sama akal sehat, cara berpikirnya itu runtut nggak loncat-loncat (bukan sambil loncat) tapi kalau memikirkan sebab dari suatu peristiwa misalnya, itu dia berpikir dari awal kenapa bisa terjadi, apa sebabnya dan lain-lain secara urut atau biasa dibilang sistematis atau juga koheren, berpikir kalau semua itu pasti ada hubungannya juga sebab musababnya, berpikir secara menyeluruh soalnya kalau ada yang kelewat pasti hasil berpikirnya jadi agak timpang, trus berpikirnya sampai mendalam atau sampai ke akar-akarnya. Nah, kadang kita itu takut mikir dalem-dalem akhirnya mending milih nggak usah aja dah ntar kenapa-kenapa. Bukan berarti gitu. Kalau ciri yang aku sebutin di atas tadi dipake dengan sempurna, InsyaAllah nggak sesat. Kalau ada yang mempertanyakan yang aneh-aneh soal agama, tunggu dulu, dia sudah berfilsafat dengan benar belum? Bisa jadi pemikiran dia kurang menyeluruh atau kurang sistematis juga akhirnya wajar kalau ada yang bilang sesat. Kenapa Imam Ghazali bisa mempelajari agama lebih dalam? Karena beliau pake metode filsafat yang beliau usahakan sebaik mungin sehingga nggak asal nanya yang aneh-aneh. Makanya dalam berfilsafat juga harus dibarengi sama diskusi, baca buku, Dekat sama Yang di Atas dengan cara memperkuat ibadah, dan nggak sombong kayak kaum sophis.

Yaaa itulah tentang filsafat. Mengklain kalau berfilsafat itu sesat sebenarnya kurang tepat soalnya mereka yang mungkin kelihatan sesat bisa jadi karena pola berpikirnya kurang sesuai sama ciri berpikir filsafatnya. Tulisan ini bukan berarti paling benar, jadi segala masukan tetap aku terima. Semoga tulisan ini paling tidak bisa sedikit membantu untuk membuka pemikiran kita tentang pandangan orang mengenai filsafat ini.

Jumat, 22 September 2017

Mempermainkan Agama (Pelajaran Perjalanan ke Blitar)

Gambar oleh Rajih Arraki'
Persoalan agama memang merupakan hal yang sangat sensitif, di seluruh penjuru dunia mana pun. Lebih-lebih Indonesia. Masih segar dalam ingatan tentang peristiwa beberapa waktu lalu yaitu masalah penistaan agama hingga aksi massa 212 dan aksi-aksi selanjutnya. Menandakan betapa sensitifnya segala hal yang menyangkut agama.

STOP !

Nanti dulu asumsi tidak-tidaknya.
Baca dulu!

Pembicaraanku tentang agama masih belum selesai, kawan! Ini baru susunan kalimat-kalimat pertama yang bahkan belum mencapai seperempatnya. Butuh keberanian untuk menulis seperti ini karena kesensitifan tersebut. Setiap dari kita harus menjaga diri agar tidak menyakiti hati ummat beragama, agama apapun itu, di penjuru dunia mana pun itu. Berbicara soal agama berarti berbicara soal kepercayaan serta keyakinan. Maka, sedikit melukai hal-hal yang berkaitan dengan agama, akan berakibat menyakiti ummat beragama. Di sini aku sedang berusaha menyampaikan sebuah opini tentang agama yang dipermainkan dengan usaha selemah lembut mungkin dan sesantun mungkin karena mau tak mau ujung-ujungnya pasti ada yang kukritik dalam tulisan ini. Bagi para pembaca, harap mencerna perlahan-lahan agar tak serta merta men-judge bahwa aku orang yang "menyimpang".

Berkaitan dengan soal kepercayaan serta keyakinan, tentu akan ada yang namanya keimanan. Keimanan tingkat tinggi adalah ketaqwaan, di mana seorang makhluk hidup akan merasa bahwa dunia bukanlah prioritas utama dan sifatnya fana serta yang kekal adalah kehidupan di akhirat nanti. Bagi ummat beragama, tentu akan berusaha untuk mencapai tingkat ini. Tingkat ketaqwaan yang semua orang tentu berusaha untuk mencapainya dengan segala usaha mereka. Tingkat di mana ia merasa bahwa ia merasa "bersama Tuhan dan dekat dengan-Nya". Yang terpenting, kadar keimanan dan ketaqwaan seseorang hanyalah Tuhan Yang Maha Esa yang lebih mengetahuinya serta orang itu sendiri. Belum tentu seseorang yang secara penampilan terlihat sangat beriman dan bertaqwa memiliki jiwa yang benar-benar beriman juga bertaqwa. Dan sebagai makhluk Tuhan yang berakal, seharusnya manusia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang kurang baik, juga keimanan dan ketaqwaan secara pencitraan atau memang benar-benar demi mendekatkan diri kepada-Nya.

Bicara soal agama yang dipermainkan, prolog yang kusampaikan sebelumnya setidaknya mampu sedikit menjelaskan secara permukaan mengenai bentuk dari agama yang dipermainkan. Bagiku, institusi agama adalah institusi yang paliiiing baik sedunia akhirat yang kemudian disusul dengan institusi keluarga. Benar saja, manusia ketika kesusahan pasti mulai mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, berharap diberikan kemudahan dalam melalui segala kesulitan hidup yang menimpanya. Namun, tatkala mereka digelimangi harta serta segala kemudahan dalam menyelesaikan urusan, mereka secara tidak langsung ambil atret dan "Say Goodbye" pada Tuhan.

Institusi agama merupakan sarana yang sudah tak asing lagi bagi manusia untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa, Sang Pencipta. Di dalamnya terdapat perbuatan-perbuatan baik, ibadah-ibadah yang membuat manusia semakin dekat kepada-Nya, serta penyejuk-penyejuk rohani. Ini adalah unsur-unsur yang tak bisa diganggu gugat keberadaanya karena sudah suatu keniscayaan akan keberadaanya untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Terlebih karena memang manusia itu butuh untuk dekat dengan Sang Maha Kuasa, maka mereka akan berusaha dengan beribadah, menyejukkan rohani mereka serta berbuat baik yang tentu sesuai dengan ajaran agama mereka. Aku sangat yakin bahwa semua agama mengajarkan untuk berbuat baik.

Namun, menjadi keresahan bagiku sendiri jika seandainya, dengan karunia akal yang diberikan oleh Tuhan kepadanya, ada manusia-manusia yang memanfaatkan institusi agama sebagai lahan penghidupan bagi mereka. Karena begitu baiknya institusi agama ini, ada saja oknum-oknum manusia yang mencari celah untuk dapat bertahan hidup serta mencari "penghasilan" melalui institusi agama yang indah nan luhur ini. Institusi agama ini kan sifatnya keluhuran, kebaikan, sifat hubungan di dalamnya jelas tak ada yang bernilai ekonomi karena hubungan manusia dengan Tuhannya itu Gratis, tidak membayar! Jika ada manusia yang "sampai hati" mengomersilkan institusi agama, mohon maaf, aku secara pribadi tak akan mendukung karena bagiku ini sudah keterlaluan. Bagaimana tidak keterlaluan? Tuhan memberikan segala kenikmatan pada hamba-Nya itu tanpa pamrih. Bahkan nafas adalah kemurahan-Nya. Tapi, kalau institusi agama, hubungan antara manusia dengan Tuhannya sampai dikomersilkan, itu tanda bahwa manusia yang mengomersilkan ini sangat sangat sangat sangaaaat dan sangat rendah kesyukurannya. 

Saat aku ke Blitar tempo hari, aku berkunjung ke sebuah lembaga tempat adikku ditugaskan. Adikku sempat berkeluh kesah tentang manajemen keuangan di lembaga ini. Donatur yang sangat banyak seharusnya mampu membuat lembaga ini berkembang dengan sangat pesat serta memberikan dampak yang signifikan pada tata kelola lembaganya yang mapan. Namun, banyaknya donatur untuk lembaga ini justru tak kunjung membuat lembaga ini semakin besar. Adikku sempat mau menanyakan mengenai manajemen keuangan di lembaga ini, tapi beberapa kawannya yang sudah beberapa waktu berjuang di lembaga itu menahan adikku agar tidak menanyakan. Bagi mereka, percuma saja sebab tetap saja tertutup atau bahkan masa tugas mereka akan dipermasalahkan oleh pemimpin lembaga. Adikku juga berbagi denganku tentang tata kelola yang kurang rapi sehingga dalam melaksanakan tugas kelembagaan juga kurang maksimal. Pengaruhnya juga berasal dari dana donasi yang entah bagaimana pengelolaannya sehingga semua dijalankan seadanya bahkan memaksa untuk dioperasikan seadanya padahal untuk berkembang juga perlu dana operasional. Sumber dananya jelas dari para donatur. Padahal tim penggalang donatur juga ada. Tapi.....

Kejadian yang kuceritakan di atas bagiku merupakan salah satu contoh tentang "mempermainkan agama" yang sangat jelas. Donatur memberikan donasi atas dasar keikhlasan serta bermaksud agar melalui donasi yang ia keluarkan, ia mampu mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa. Donasi yang didonasikan oleh donatur juga merupakan amanah dari donatur untuk lembaga agar uangnya digunakan untuk pembangunan lembaga sesuai proposal yang diajukan oleh lembaga kepada donatur. Eits, bahkan ada yang memberikan donasi tanpa proposal. Meskipun tanpa proposal, tetap saja itu amanah dan sifatnya sesuai yang kusebutkan sebelumnya bahwa donatur berdonasi atas dasar keinginnanya untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Donasi yang sifatnya amanah, harus digunakan sesuai kebutuhan lembaga karena donatur datang bertujuan memberikan donasi untuk lembaga, bukan demi perseorangan atau kepentingan pribadi orang-orang yang ada di lembaga. Maka dari itu, manajemen keuangan lembaga juga harus jelas, transparan serta keluar sesuai kebutuhan. Jika tak ada kejelasan atau transparansi, kemudian saat ditanyai transparasi, birokrasinya berbelit-belit atau bahkan ditutup-tutupi, sudah jelas ini pertanda bahwa institutsi agama sedang dipermainkan. Yang sifatnya keikhlasan, yang sifatnya ada kaitannya dengan hubungan pada Yang Maha Kuasa, sedang dipermainkan.

Entah yang kusampaikan ini benar atau salah. Aku hanya bisa beropini, karena kesensitifan agama, untuk menegur sebuah lembaga saja, nanti pasti dikaitkan dengan agama (ngerti kan maksudku?). Sebenarnya, aku sudah menyuruh adikku untuk memastikan dulu. Bisa jadi donasinya memang sengaja ditabung agar bisa digunakan sewaktu-waktu untuk pembangunan lembaga. Yang dilakukan adikku bahwa ia berniat untuk menghadap pemimpin lembaga guna mempertanyakan manajemen keuangan lembaga, itu bagiku sudah sangat bagus. Aku juga sadar kalau adikku ini sangat progresif dari yang dulunya main-main aja eh sekarang bisa menghadapi masalah serius sepelik itu serta lebih dewasa. Yaa karena khawatir masa tugasnya dipermasalahkan oleh pemimpin lembaga, akhirnya niat mulianya itu ia urungkan. Aku sendiri juga jadi ragu, ini benar donasinya diselewengkan atau memang sengaja ditabung? Asumsiku yang muncul sudah terlalu banyak. Pada akhirnya aku berpikir, meskipun toh mau ditabung, tetap harus transparan! Harus dikelola dengan baik! Karena itu uang ummat! Perkembangan atau kondisi uang yang dititipkan pada lembaga itu harus jelas ke mana perginya. tetap diam kah? atau sudah dibelanjakan sesuai kebutuhan lembaga kah? Harus tercatat! Harus terorganisir! Karena, kejahatan yang terorganisir itu lebih baik daripada kebaikan yang tak terorganisir. Kejadian ini bisa saja kebaikan yang tak terorganisir, bahkan bisa saja kejahatan yang terorganisir dalam artian sudah terorganisir bahwa setiap donasi yang masuk ya segera masuk kantong saja tanpa masuk kas lembaga.

Sampai di sini, ngerti kan poin yang aku maksud?

Semoga kita terhindar dari memanfaatkan kebaikan institusi agama. memanfaatkan agama dan mengambil celah ekonomi dari agama.

Wallahu a'lam bis showab....

Beri komentar jika kurang jelas..
Terima kasih...

Senin, 18 September 2017

Hati-hati Saat di Perjalanan Malang - Surabaya!

Yeah! Nikahan lagi nikahan lagi. Kenapa di umur-umur kayak gini kok banyak banget acara nikahan. Nikahan teman-teman pula. Hmm... Bukan masalah datang ke nikahannya, tapi, masalahnya, aku kapannn???? Hahahahah...

Masalah nikah di bahas nanti aja lah!
Yang jelas tiap ada temen nikah, aku akan usahain dateng.. Kalau masih bisa aku jangkau... Biar segera ketularan.. Ciaaatt ciaaatt..

Sekarang, aku mau ngebahas soal perjalananku tadi malam, eh, bukan cuma tadi mallem sih, udah beberapa kali kok. Seingetku memang nggak sampai lima kali kalau naik motor tapi paling nggak kerasa banget lah. kalau naik mobil bareng keluarga dan bareng teman-teman yaa sering hahaha.. 
Ini adalah tentang perjalanan dari Malang ke Surabaya. Sebenernya lupa pas ke mana. Yang keinget cuma pas perjalanan ke rumah Mantan Ketua Umum Renaissance periode 2016-2017,  sama tadi malem ke nikahan teman namanya Aziz Sholehuddin.

Ada yang perlu diperhatikan saat mau melakukan perjalanan dari Malang ke Surabaya. Kalau Surabaya ke Malang InsyaAllah lancar-lancar aja sih hehe..

1. Macet 

Macet memang suatu keniscayaan. Tapi macet di jalan Malang - Surabaya, itu udah kayak khas banget. Aku sudah beberapa kali mengalaminya saat berkunjung ke rumah dosen yang ada di Lawang, kebetulan juga aku berkunjung di hari Sabtu, pernah juga di hari Minggu. Kebetulan juga memang waktu itu aku sibuk ngurus organisasi, akhirnya berangkat ke rumah beliau pasti sebelum Maghriban atau bahkan setelah Maghrib. Sudah janjian tapi akunya yang molor memang. Well, yang aku dapetin malah kejebak macet. Sebenernya dosenku udah ngewanti-wanti sih kalau sore sampai malem pasti kejebak macet. Hahaha..(Maaf Bu)

Macetnya ini biasanya gara-gara banyak yang berwisata ke Malang pas hari libur kayak hari Minggu atau pas malem minggu juga sih. Kalau hari Minggu kan biasanya orang-orang pada rekreasi tuh. Pas banget kalau Malang banyak tempat rekreasinya. Ya udah, semua orang dari luar Malang pada nyerbu Malang, khususnya Batu sih soalnya destinasi wisata lebih banyak di Batu. Saat mereka ke Malang sudah pasti ada kemacetan yang terjadi, tapi menurutku belum seberapa. Yang mau aku sorotin di sini adalah saat para wisatawan dari luar Malang itu pulang ke daerah mereka masing-masing.

Pulangnya para wisatawan ini yaaaa pas sore kalau nggak pas mendekati waktu senja. Layaknya orang rekreasi, mumpung mereka sedang di daerah tempat rekreasi (dalam hal ini Malang & Batu), ya.. dipuas-puasin laaah.. Akhirnya wajar kalau pulangnya sore sampai malem gitu. Daaaann.. BOOM! Semuanya numpuk di jalan, jadilah macet! hehehe... Dari mana analisisnya? Dari observasiku saat melihat tempat-tempat rekreasi di Malang dan Batu. Pasti rame dah kalau malem minggu sama hari libur juga hari Minggu. Biasanya mulai malem minggu itu udah ramai. Observasi lainnya yaitu,  kemarin-kemarn saat aku mengalami macet di perjalanan Malang - Surabaya, aku lihat kendaraan-kendaraan di sana jaraaang banget yang plat N (untuk Malang, kecuali Pasuruan, kan N juga). Kebanyakan L (Surabaya), W (Sidoarjo, Gresik), P (Probolinggo, Jember, Bondowoso, Situbondo dll.), M (Madura), S (Bojonegoro, Lamongan, Tuban dll). Jadi wajar kalau aku bilang kalau macetnya itu disebabkan oleh banyaknya wisatawan yang pulang jam segitu. Belum lagi kalau ada yang memang orang Malang, tapi punya keperluan ke daerah pasuruan atau Surabaya dan daerah Pantai utara sehingga mau nggak mau harus lewat jalur Malang - Surabaya, kayak aku ini tadi malem yang mau ke Purwosari karena ada nikahan teman hehe..

2. Jalan yang Kurang Bagus

Kenapa aku kategorikan ini ke dalam masalah? Karena dengan jalan aspal yang kurang bagus, kenyamanan serta keamanan pengendara jadi lumayan terganggu loh! Ngerti kan maksudnya? Jalan yang kurang bagus itu dimulai pas sebelum Fly Over Lawang sampai beberapa jarak setelah Kebun Raya Purwodadi. 

Ceritanya, aku agak ngebut tadi malem. Ini memang kesalahanku karena nggak seharusnya ngebut sambil lihat GPS (Bayangin aja gimana tuh. JAUHKAN HAL SEPERTI INI DARI PERILAKU BERKENDARA ANDA!) karena nggak tahu lokasi tujuannya. Posisi saat itu sudah di depan Kebun Raya Purwodadi. Aku posisinya agak nengah. Kebetulan ada celah kosong lumayan lebar di sebelah kiri Truk Pertamina depanku. Pas banget, truknya ada di lajur kanan, jadi kan luas banget tuh celahnya. Segera aja aku gas, niatnya mau nyalip ini truk dari sebelah kiri karena space yang kosong itu. Karena nggak terlalu kelihatan plus terpengaruh kencengnya kendaraan di sekitar, akhirnya aku kebut aja (INI SALAH JUGA). Eh, nggak taunya, jalan aspal yang aku lalui di sebelah kiri truk itu rusak banget (jalannya mblenduk-mblenduk mleyot mleyot) entah apalah bahasanya yang jelas bahasa jawanya gitu. Alhasil motorku yang posisinya sedang dalam kecepatan lumayan tinggi, jadi goyang-goyang kenceng banget setirnya plus motornya juga. Saking kencengnya, aku nyariss nyaris dan nyariss jatuh nggelepar. Setirnya udah nggak terkendali waktu itu. Tanganku berusaha untuk nahan biar ngga secuilpun tubuhku nyentuh aspal walaupun dengan kondisi mleyot-mleyot gitu. Akhirnya, setelah berjuang dengan sekuat tenaga, motor bisa berjalan normal lagi tanpa harus jatuh dan setirnya mulai bisa kukendalikan. Alhamdulillah... Uh, aku Istighfar sepanjang jalan sampai Purwosari. Sebenarnya aku udah ngerasa sentakan batin (eakk) tepat sesaat sebelum melalui jalan jelek itu tadi. Sentakan batinnya itu semacam rasa merinding gitu kalau jalan di depanku bakal bikin aku kenapa-napa. Tapi alhamdulillah bisa dilalui. (Jadi curhat rek...) Setelah itu, aku pelan-pelan bawa motornya meskipun masih sambil lihat GPS sih. Hmmm... JAUHKAN dan JAUHKAN PERILAKU SEPERTI INI! Bagaimanapun kondisi anda! Waspada sama jalan yang jelek di depan anda! Bisa membahayakan nyawa anda! 

3. Kendaraan Besar & Ngebut-ngebut

Ini juga yang perlu diperhatiin. Bahaya! Kenapa? Soalnya kendaraan besar dan ngebut-ngebut itu bisa membahayakan keselamatan pengendara terutama pengendara sepeda motor. Yang ngebut memang bukan hanya Truk, Bus, Kontainer de el el tapi juga mobil seperti Avanza, Pajero, Ayla juga. Apalagi Pajero kan besar juga tuh ukurannya. Nyenggol motor, kepental juga tuh motor. 

Sebabnya bisa jadi karena penat abis kejebak macet terus ketemu jalan yang lebih bebas dari macet, akhirnya ngegasnya nggak nanggung-nanggung karena merasa abis bebas dari macet yang begitu menyiksa. Jalan yang udah bebas dari macet ya biasanya dimulai tepat sebelum fly over Lawang sampai Surabaya sono.

Hal ini perlu diwaspadai terlebih untuk pengguna sepeda motor. Selalu lihat ke spion kalau mau geser ke lajur kanan atau mau atret dan lain-lain lah yang ada urusannya sama arah belakang anda. Soalnya kendaraan kalau udah kenceng, susah ngontrolnya. Sering kan denger berita kecelakaan di daerah perjalanan Surabaya - Malang / Malang - Surabaya? Pasti penyebabya ada truk yang remnya blong. Rem blong juga nggak bisa kan diantisipasi secara dadakan. Kalau udah ngebut, terus rem blong, alamat dah, tamat! 

Kadang juga karena kendaraan lain pada ngebut, kita jadi terpacu untuk ngebut. Yaa jadinya kebut-kebutan ala MotoGP ntar, padahal sepeda motor lawan truk, bus sama kontainer, tambah juga sama mobil Pajero segede gaban hahaha... Maka itu perlu waspada. Tetap tenang tapi waspada. Mending nggak terpengaruh, pelan, tapi sampai di tujuan. 

YUPPPPSSS.... seperti itulah 3 hal yang perlu kita waspadai. Jangan jadikan momen bahagia anda tertunda atau bahkan terhenti (Na'udzubillahi min dzalik) karena kurang kewaspadaan kita saat di perjalanan. Aku nulis ini biar bisa jadi pelajaran untuk semuanya para pembaca yang tersayang (eaaak). Kalau mau perjalanan ke Surabaya, diitung dulu jarak, waktu dan kemungkinannya. Misal kuatir macet, ya berangkat lebih awal aja biar meskipun kejebak macet, datengnya tetap tepat waktu. Bagi yang masih muda, yang baca tulisanku ini, pasti pada ngebatin kalau aku ini cemen. Hal kayak gini aja dipermasalahin. Sorry bro.. Maut itu nemenin kita tiap hari di mana-mana dan kapan aja tauk! Nggak ada salahnya kok untuk waspada dan mengamankan diri. hehehe... Soalnya, masa depan kita masih jauh!

Uusiikum wa iyyaya nafsii...