PERHATIAN!

Blog ini berisi berbagai macam tulisan saya. Untuk memudahkan pencarian, silahkan pilih menu kategori di samping! (Setelah pilihan Editor)

Selamat Membaca!
Reaksikan dan beri komentar!

My Radio Station

Senin, 07 Agustus 2017

Pembaharuan Diri

Aku merasa perlu adanya pembaharuan diri semenjak Ramadhan lalu karena semenjak tahun 2015 aku mulai merasakan indahnya nikmat dunia yang berjalan penuh bumbu kehidupan. Nikmat yang telah membutakan mata manusiaku dan mata hatiku. Tapi, bagiku tidak ada yang sia-sia. Semua berjalan dengan prosesnya yang memang tanpa rencana juga sih. Hanya saja aku merasa seperti manusia yang jauh dari penciptanya akhir-akhir ini hingga tahun 2017. Tiba-tiba terbesit bahwa usaha yang kulakukan untuk mendekati Sang Pencipta agak menjadi kurang maksimal, kurang sip, kurang... apaaa gitu. Semacam ada pembatas antara aku dan Dia sehingga untuk mencoba istiqomah deket sama Dia itu jadi agak nggak enak sendiri. Maka, aku perlu mengambil sebuah keputusan besar yang sangat menguras jiwa untuk berikhlas. Entah ini bisa kujalani secara terus menerus hingga waktunya tiba, atau bakal tersandung lagi di tengah jalan, entahlah. Aku sadar kalau aku ini semangatnya "anget-anget tahi ayam". Seandainya ada jalan pintas atau pintu khusus yang bisa aku lalui untuk mengobati jarak antara au dan Dia dulu itu bahkan sampai sekarang. Yang bisa kulakukan hanya berusaha sedikit demi sedikit dan berharap akan ada kawan yang selalu mengingatkan saat aku mulai terpejam dan hampir tersandung.

Pembaharuan diri yang telah kulakukan ini mungkin bisa jadi merupakan fase istirahat dari pembatasan antara aku dan Dia. Bisa saja dalam waktu dekat ini aku malah membuat sekat lagi antara aku dan Dia. Yaaa membuat sekat itu gampang sih, bahkan indah sekali. Sulit rasanya untuk beristiqomah untuk tidak membangun sekat antara aku dan Dia. Aku sampai bingung, kira-kira, sampai kapan aku akan menahan diri untuk membuat sekat? Sedangkan peluang membuat sekat itu besarnya amit-amit.

Semoga bisa dan berjalan lancar. Aamiin

Aku yang Sekarang, Hina!

Selalu, kalimat pertama yang kutulisan di blog legendarisku ini adalah "Betapa usangnya blog ini. Banyak sarang laba-labanya". Saking nggak pernah kesentuh hahahaha :D

Saat ini, aku berada di titik paling bawah untuk derajat seorang manusia berumur 23 tahun. Bayangkan jika diri kalian seperti diriku saat ini. Tanpa pekerjaan, tanpa prestasi, tanpa perubahan signifikan dalam diri, tanpa semangat, tanpa uang, tanpa perencanaan ke depan, tanpa kejelasan hidup, tanpa cinta, tanpa harapan, tanpa kesempatan, tanpa langkah penuh semangat, tanpa air mata, tanpa tawa, tanpa kebahagiaan, tanpa kemampuan menembus batas, dan segala bentuk ke-tanpaan lain yang menumpuk.

Sampai detik ini, apa yang kupunya?

Buku? Nggak kebaca
Modul kursus? Bahasa Inggris, bahasa jerman, bahasa jepang? Nggak kesentuh sama sekali. Ngulang materi aja nggak pernah
Laptop ? Cuma buat nonton film, ngetik-ngetik nggak jelas, liat youtube, dan segala hal nggak jelas lain
Handphone ? HP 2 tapi nggak produktif semua, cuma buat seneng-senengan
Channel YouTube ? punya 3 nggak jelas semua orientasinya, update jarang, video yang dibiin nggak bermutu, cuap cuap thok
Sepeda Motor ? Halah cuma buat ke mana sih? paling buat keluar jalan-jalan
Radio Online ? Radio opo, nggak ada yang ndengerin gitu.. bisa ngarepin ada dari radiomu iku
Ijazah S1 ? Halah cuma tergeletak tak berdaya.. kerjaanmu sekarang tetep nggak jelas
And so on.

Sadar tak sadar, memang aku ini orang yang terlalu gila. Memiliki mimpi yang sangat tinggi namun tak berusaha untuk meraih mimpi-mimpi itu. Cita-citaku yang sangat tinggi, hanya kupupuk dengan main gitar, tiduran di kamar, nonton film, makan, jalan-jalan, chattingan terus... alah.. sungguh nyaman hidup ini, tapi sungguh pahit kenyataan ini. Aku lupa kalau Pak Jokowi bisa jadi Presiden Indonesia ke-7 itu bukan hal yang tiba-tiba. Beliau pasti telah merencanakannya.

Seorang kawan pernah menamparku dengan kata-katanya setelah mendengar ribuan jawabanku tentang segala yang kuhadapi saat ini. Ia berkata, "Nggak usah ngomong kuliah di luar negeri kamu kalau hal-hal yang berkaitan sama kuliah masih belum kamu urus". Tamparannya begitu keras hingga membekas sampai sekarang. Yang jadi masalah adalah bekas tamparan itu tak kunjung membuatku sadar akan langkah yang harus kuambil dengan segera.

Yang bisa kulakukan sekarang adalah mencari cara untuk meningkatkan skill bahasaku agar aku bisa segera kuliah S2 di luar negeri. Aku juga berusaha mencari-cari info beasiswa yang sekiranya dapat menyokong kebutuhanku dalam menimba ilmu di perantauan.

Saat ini aku benar-benar menjalani kenyataan pahit bahwa di umur yang semakin bertambah ini aku belum melakukan apa-apa. Pahit karena saat kawan-kawanku telah menempuh studi masternya, sedangkan aku masih duduk termenung di sini. Pahit saat melihat kawan-kawan telah berhasil dan mampu menyempurnakan separuh agamanya, sedangkan aku masih saja bergelut dengan diriku sendiri yang tak kunjung memikirkan untuk penyempurnaan separuh agama. Pahit di saat kawan-kawanku telah mampu membiayai hidup mereka sendiri, sedangkan tiap nafasku sampai detik ini masih mengandung jerih payah orang tua. Maka, bisa kukatakan bahwa situasi diriku saat ini adalah situasi paling hina yang pernah kualami. Keinginan untuk mengejar pendidikan tinggi, berpenghasilan sendiri, menyempurnakan separuh agama, berkiprah di masyarakat, hanyalah sebatas keinginan. Aku yang hanya bisa membual ini hanya akan terus membual, karena yang bisa kulakukan hanya menunggu pintu terbuka tanpa berusaha membuka pintu tersebut.

Apa yang terjadi biarlah terjadi. Aku sudah terlanjur seperti ini. Bahkan lebih hina dari seonggok daging yang terbuang di pinggir jalan. Lebih hina dari tumpukan sampah yang bau menyengatnya merugikan orang banyak. Lebih hina dari kotoran yang selalu berusaha untuk dimusnahkan.