PERHATIAN!

Blog ini berisi berbagai macam tulisan saya. Untuk memudahkan pencarian, silahkan pilih menu kategori di samping! (Setelah pilihan Editor)

Selamat Membaca!
Reaksikan dan beri komentar!

My Radio Station

Senin, 30 Oktober 2017

We Can Be An Amateur Journalist!

First question is, who is amateur journalist?
How can i say that all of us can be an amateur journalist?

Well, in my opinion, amateur journalist is the person who catch anything around him with camera or other devices and publish it publicly even in any platform even whatsapp, facebook, youtube, etc. It is reasonable that we often receive some documentary videos via social media from our friends because they had received those video from another friends and share them again. And of course, we will share them to another but actually it depends of us. Someone was exactly catched or took a video in somewhere, and after that he/she share the video to other person, so other people will share it again and again. But, sometimes, the video that we take will back to us again and it's so funny. LOL.

All of us can be an amateur journalist if we take some picture or video and share it to another people. And yeah! We're already being an amateur journalist!

____________________________________

Alright! This writing is very bad because there are a lot of grammatically errors. I hope to you, the readers, to give me some suggestions, evaluations or corrections to my weird writing. I hope so much.

Thank You!

Petasan Pembawa Petaka

Petasan Pembawa Petaka
Cerpen Karya : Kerta Ranggah Rajasa Jayawardhana

Aku menyesali semua perbuatanku itu. Seandainya saja aku tak seceroboh itu. Andaikata aku bisa mengendalikan diri dan tidak gegabah dalam bertindak, semua tak akan berakhir seperti ini. Sungguh rasa penyeslan itu menghantuiku sepanjang waktu. Setiap detik penyesalan tersebut selalu terbayang-bayang di manapun aku berada.  Pikiran itu membuatku tak tenang menjalani kehidupan. Setiap kali mengerjakan tugas pasti terbayang. Setiap kali selesai sholatpun terbayang. Air mataku selalu meleleh di pipi dan tak kunjung berhenti. Sulit bagiku untuk melupakannya karena semua ini salahku.
*****
            “Sen, apakah kamu benar-benar mantap mau beli obat pembuat petasan di rumah Pak Supri? Aku serius lho. Karena kata Ayahku, Obat petasan itu jika tersentuh tangan sedikit saja bisa mengeluarkan suara yang sangat keras dan jika terkena anggota tubuh, pasti hancur. Aku jadi ngeri mendengarnya”, ucapku pada Sendy, teman sekelasku yang sedari kemarin ia bertekad ingin membeli obat petasan. “Mantap lah… Kalau aku beli obat petasan itu, aku bisa membuat petasan sendiri dan kujual. Dengan begitu aku bisa punya banyak uang dan aku bisa membeli apapun yang kusuka heheh”, jawabnya dengan penuh keyakinan.
            “Apakah tidak dengan cara lain saja”.
            Nggak. Aku sudah yakin dengan niatku ini”.
            “Sekali lagi aku Tanya, apakah kamu yakin?”
            “Ya”, jawabnya singkat. Akhirnya, kami berdua beranjak ke rumah Pak Supri. Hanya beberapa orang saja yang tahu Rumah Pak Supri adalah tempat pembuatan petasan atau mercon. Dan kami tahu karena mendapat informasi dari seorang penjual petasan di pasar karena kebetulan si penjual petasan tersebut adalah teman kami. Dialah Jupri. Seorang yang mampu menghasilkan uang dua ratus ribu dalam seminggu hanya dengan menjual petasan. Apalagi omzetnya bertambah saat Hari Raya Idul Fitri atau hari besar yang lain. Lebih-lebih tahun baru. Pasti semua petasannya dari yang paling bagus sampai yang paling jelek sekalipun habis dijual orang.  Hal ini membuat Sendy tertarik karena di rumah dia amat susah sekali mendapatkan uang jajan dari orang tuanya lantaran orang tuanya pelit. Bahkan, ayahnya sering pulang malam dan begitu pula ibunya jarang di rumah. Lebih-lebih Sendy tidak tahu apa yang dilakukan kedua orang tuanya tersebut. Yang jelas, setiap hari pasti ia melihat orang tuanya pergi saat ia sedang sarapan. Saat itu sarapan pasti sudah disiapkan dan makan siang ia membuat mie instan sendiri dengan nasi putih lalu makan malampun lagi-lagi dengan mie instan. Orang tuanya pergi tidak bersamaan. Ayahnya pergi dengan sepeda motor biasa dan ibunya pegi dengan sepeda motor matic. Dan Sendy, tak pernah tenang di malam hari karena tiap malam ia harus mendengar orang tuanya bertengkar melulu. Tiap hari tiada henti. Akhirnya, terpaksa ia berbuat sedemikian rupa.
*****
            “Obat petasan itu sekarang sudah berada di tanganmu. Lalu, apa yang kamu lakukan setelah ini?”, tanyaku pada Sendy. “Begini, din! Aku punya rencana yang sangat bagus untuk memulainya. Kemarin aku pergi ke hutan di sebelah selatan desa. Lalu..”
            “Selatan desa??? Bukannya di sana banyak ular berkeliaran”, tanyaku memotong pembicaraan.
            “Dengarkan aku dulu…. Aku ke sana hanya survey tempat saja karena di sana nanti tempat aku mengetes petasan buatanku dan bunyinya pasti lebih keras dari petasan-petasan lain….”, ucapnya lugas.
            “Wah… apalagi kalau kamu buat ledak-ledakan seperti itu pasti hewan-hewan banyak yang keluar karena tak tenang mendengar ledakan petasan buatanmu. Selanjutnya, mereka akan memakanmu sampai habis…”, ucapku menakut-nakuti.
            “Aku tak takut”
            “Ya.. terserah kamu sih.. yang penting pas kamu pergi ke hutan sana aku nggak mau ikut”
            “Aku akan mencoba bunuh diri lagi kalau kamu nggak  mau ikut nanti. Aku tak punya teman sekarang”, ucapnya menekan. Tiba-tiba kau teringat akan janjiku kalau aku akan menemaninya apapun keadaannya akrena ia tak punya teman sama sekali dan pernah mencoba bunuh diri tapi sempat kutenangkan dan bunuh diri ia urungkan.
            “Huft.. okelah kalau begitu..”, ucapku sambil menghela nafas.
            “Setelah survey, aku kemarin menemukan sebuah rumah tak berpenghuni di jalan setapak sebelum masuk ke hutan. Mungkin, di sana tempat aku membuat petasan nanti”, lanjutnya. Aku setuju saja karena aku takut ia akan kecewa dan mecoba bunuh diri lagi.
            Hari berikutnya, ia datang ke  rumah kosong kemarin dan bersiap memulai aktivitasnya membuat petasan setelah pulang sekolah. Dan pastinya aku harus hadir di sana juga mendukung niat dia membuat petasan. Aku tak berani menyentuh petasan tersebut karena takut terjadi yang tidak. Yah.. ketika ia mengajakku membuat bersama aku menolak dengan berbagai alas an. Untunglah ia tak banyak tanya jadi aku bisa menghindar dari pekerjaan berbahaya itu.
            Hari sudah menjelang Ashar. Sendy sudah hampir membuat dua puluh petasan yang bisa berbunyi sangat keras. Hampir tak kupercaya. Tapi ia selalu membuatku kesal karena tiap kali ia kekurangan sesuatu dalam membuat, aku dipanggilnya dan disuruh mengambil sesuatu yang ia butuhkan. Jika tidak ada aku pasti dibentaknya. Hal itu terjadi berkali-kali sampai-sampai ia membodoh-bodohiku. Kesabaranku mulai habis. “Udiin.. ambilkan korek api… cepat..”, bentaknya dengan suara diangkat. “iya iya…. “, jawabku tergesa-gesa. “cepatlah bodoh… tolol kamu ini… goblok… cepaaattt….!!!”, ucapnya tak sabar. Aku bertambah dongkol. Perasaan aku membawa korek api tadi siang tapi aku lupa di mana aku menaruhnya. Saat kumasukkan tanganku ke kantong celana, barulah aku ingat kalau korek apiku ada di sana. “Wooiiiii…… bisa cepat nggak..?? bodoh…..”, teriaknya lagi.
            Aku sudah tak tahan. Kesabaranku sudah habis. Karena korek api sudah ada di tanganku, spontang kulemparkan korek api itu kea rah Sendy seperti melempar bola tenis sambil berkata, “Ini korek api yang kamu minta, bodoh…”. Ucapanku tak sekeras apa yang ia ucapkan. Saat korek itu hamper mendarat di tempat Sendy, sempat terbesit rasa tak enak di dadaku. Lalu, korek itu mendarat tepat di petasan-petasan Sendy yang sudah dan jaraknya tak jauh dari tempat Sendy duduk. Seketika korek itu meledak sangat keras sekeras kerasnya sampai memekakkan telinga. Ledakan bertubi-tubi menghantam udara rumah kosong itu. Aku kaget setangah mati dan berteriak sekuat-kuatnya. Segera kututup telingaku dan membalikkan tubuhku seraya menelungkup ke bawah. Ledakan itu seperti ledakan bom yang kulihat di film-film. Pikiranku amburadul saat itu. Jarakku berjauhan dengan tempat duduk Sendy.
*****
            Ledakan telah usai. Tinggal asap tebal saja yang belum hilang. Aku bangkit dari telungkupanku. Kubuka telingaku dan berbalik badan. Kulihat asap tebal masih berterbangan. Kuhampiri tempat Sendy duduk perlahan-lahan. Asap tebal membuatku tak bisa melihat jalan. Akhirnya, aku berhenti sejenak sambil merenungi bagaimana keadaan Sendy sekarang.
            Asap sudah mulai hilang. Pandanganku tak terganggu lagi. Kulihat Sendy terbaring di atas lantai dengan bersimbah darah. Aku kaget bukan main dan segera kuhampiri dia. “Sen.. Sendy.. Kamu baik-baik saja kan?”, ucapku tergopoh-gopoh dan penuh rasa takut. Sekujur tubuhnya berlumuran darah. Kulihati seluruh tubuhnya. Ternyata seluruh jari kakinya telah teripsah dari kakinya dan perutnya terbuka. Usus terlihat keluar dan rahang bawahnya terlihat. Ih.. aku ngeri bukan main. “Sen.. sen.. jawab aku…”, ucapku sambil menggerak-gerakkan bahunya dengan kedua tanganku.
            Tiba-tiba terdengar jawaban darinya. “Din… kalau kamu marah kepadaku, aku minta maaf, ya! Aku telah banyak menyusahkanmu. Sampaikan salamku ke orang tuaku. Kamu tidak bersalah. Merekalah yang bersalah. Aku yakin dengan ini mereka sadar kalau mereka punya anak yang harus di sayangi bukan malah ditinggal pergi dengan orang lain dan berbuat zina… makasih din.. makasih…”, rintihnya. “Sen.. sen.. kamu nggak boleh mati… maafkan aku.. aku terlalu gegabah tadi.. maafkan aku…”.
            “Iya.. aku maafkan kamu… aku sengaja berbuat demikian… aku ingin cepat mati sebenarnya karena aku tak kuat menahan ini semua…”
            “Jangan.. jangan mati.. kamu masih punya harapn dan masa depan.. jangan.. “, ucapku sambil menangis dan terisak-isak.
            “Sudahlah, Din.. inilah takdirku.. Selamat tinggal, Din.. aku ingin istirahat… jaga dirimu baik-baik…”, ucapnya untuk terakhir kalinya lalu ia memejamkan matanya perlahan dan meninggal. Nyawanya tak tertolong. “AAAaaaaarrgghhhhh…. Sendyy……… tidak…….”. Teriakanku menembus keheningan rumah kosong itu. Aku menangis tak henti-hentinya. Aku berharap ia tetap hidup. Tapia pa hendak dikata. Nyawa telah dicabut oleh yang maha Kuasa. Aku hanya bisa menangis dan menangis dan menyesali semua yang terjadi.
            Selang lima menit kemudian, banyak orang berdatangan karena mendengar ledakan keras barusan. Ketika id tanya aku tak bisa menjawab apa-apa. Mulutku serasa bisu. Akhirnya, mayat Sendy di bawa ke rumahnya dan diurus keluarganya untuk kemudian dimakamkan di pemakaman desa. Aku pulang bersama ayahku yang kebetulan datang juga. Ia mencoba menenangkanku sampai akhirnya aku bisa bicara kembali dan aku bisa menjelaskan semua yang telah terjadi.

Bayang Semu Kemerdekaan

BAYANG SEMU KEMERDEKAAN
Puisi Karya : Kerta Ranggah Rajasa Jayawardhana

Mungkin umurku tak setua tanah air ini
Yang telah diproklamirkan kemerdekaannya semenjak 70-an tahun yang lalu hingga kini
Yang memiliki beragam suku bangsa hingga tak terhitung jari
Yang ber”Bhinneka Tunggal Ika semenjak aku belum lahir
Mungkin pula aku tak mengerti bagaimana keadaan serta kebutuhan negara ini
Tapi dengan naluri kemanusiaanku yang hanya secuil
Paling tidak aku masih bisa mempertanyakan tentang arti kemerdekaan bumi pertiwi

Entah benar atau salah, yang jelas kemerdekaan bagiku tak selaras dengan kenyataan yang ada di negeri ini
Kita Merdeka? Bebas dari penjajah?
Tapi, apakah kita sadar jika masih ada penjajah yang menjadi lintah raksasa namun “adem ayem” dengan segala harta yang berlimpah?

Apa benar kita telah merdeka?
Hanya karena benda kecil, seseorang dihabisi, tapi maling-maling berdasi tak dihabisi padahal bermilyar milyar uang telah masuk kantong kanan masuk kantong kiri

Apa benar kita telah merdeka?
Menjadi pemulung di negeri sendiri, pengemis, pesuruh, dan segala cara yang dilakukan demi mendapatkan recehan rupiah karena merasakan sengsaranya usaha untuk mendapat sesuap nasi demi keberlangsungan hidup di rumah sendiri, sementara yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin

Apa benar kita telah merdeka?
Harta kekayaan Ibu Pertiwi yang terpendam, diporak porandakan serta dijual, sementara anak-anak Ibu Pertiwi hanya bisa melihat, menatap dengan pandangan kosong, berharap mampu merebut kembali harta Sang Ibu Pertiwi, tapi malah orang lain yang mengambil dengan cara yang cantik nan tak lazim

Apa benar kita telah merdeka?
Kesuksesan bagi orang-orang adalah memperbanyak gedung pencakar langit dan pabrik-pabrik, sementara banyak tanah yang dirampas dengan cara licik nan cerdik hanya untuk mencakar langit juga memabrik.. dan lihatlah...
Apa benar kita telah merdeka?
Para petani tak lagi menjadi tuan di negeri sendiri. Karena lahan mereka, jiwa raga mereka tergerus oleh kepentingan-kepentingan mencakar langit, membangun pabrik, menggusur sawah-sawah dengan beton-beton keras yang perlahan mengikis kehijauan dari bumi pertiwi.. Lalu...

Apa benar kita telah merdeka?
Demi harta kekayaan, rakyat yang meneriakkan haknya pun terlindas dengan cara yang tak manusiawi bahkan dengan tangan-tangan orang lain. Bahkan demi kepentingan kapitalisnya, para buruh diperas dengan pekerjaan-pekerjaan yang menguras tenaga, namun upah mereka tak sepadan dengan hasil keringat yang nyata. Demi harta apapun dikorbankan. Demi harta amanah dikorbankan, padahal hanya seberapa persen dari kekayaan Negeri yang Indah ini. Tak secuil pun jika dibanding kemahakuasaan Yang Bersinggasana di Arsy.

Benarkah kita telah merdeka?
Putra-putri Ibu Pertiwi tak lagi berkuasa atas kebebasan Ibu Pertiwi dan rumah yang mereka huni karena rumah itu telah dikuasai oleh orang lain. Betapa murah hatinya ibu kami mempersilahkan mereka masuk untuk bertamu, tapi mereka justru masuk ke rumah kami, mengambil barang barang kami, menyiksa ibu kami, menakut-nakuti kami sebagai anak-anaknya yang tak tahu menahu apa-apa. 
Bahkan, dengan berani mereka membuat kami saling bertengkar adu pendapat hingga saling menyakiti.. sementara aku hanya duduk di ujung melihat ibuku disiksa, saudara-saudaraku berkelahi tanpa sebab yang nyata, dan aku terikat lemah tak berdaya apa-apa.. Hanya meneteskan air mata yang bisa kulakukan..

Dan..
Apa benar kita telah merdeka?
Memiliki lautan yang luas tapi sulit untuk menikmati garam. Memiliki tanah sakti yang mampu menghidupkan tongkat kayu namun tak mampu berkutik. Memiliki zamrud terindah namun tak kuasa mempertahankan kemilaunya.

Apa benar kita telah merdeka?
Penjajah Indonesia telah masuk dengan cara yang cantik serta tanpa ampun menumpas panah bangsa yang diarahkan pada mereka, bahkan mereka tuli dengan teriakan teriakan anak-anak Ibu Pertiwi

Apalah daya Ibu Pertiwi yang hanya bisa memberikan pengayoman dan kenyamanan bagi anak-anaknya justru dianiaya oleh orang lain
Ini Ibuku! Kalian apakan Ibuku! Aku masih kecil! Teganya kau mamu membunuh Ibuku! Teganya kau mau membunuh kami! Lalu di manakah sisi manusiawimu?? Apakah kau benar manusia? Apakah kau tak mengerti arti merdeka? Atau kau tak mengerti karena kata “Merdeka” itu memang bukan bahasamu? Bahkan anggota keluarga kami kau gunakan demi pelampiasan kepentinganmu

Maukah kau merasakan pahitnya bayang semu kemerdekaan?
Panji-panji merah putih yang berkibar di sepanjang jalanan saat Bulan Agustus merupakan bayang semu yang sangat indah nan elok untuk sebuah negara yang katanya “Merdeka”
Sebagai anak kecil, di ujung sini, aku hanya bisa menangis
Entah sampai kapan kemerdekaan ini menjadi hal yang simbolis
Kapan aku dan saudara-saudaraku mampu merasakan kemerdekaan yang hakiki

Kami terjajah tapi kami tak sadar
Kami tertindas tapi kami memilih untuk diam
Karena jika tak diam maka kami akan dilindas
Kami terdiam juga karena kami termakan iming-iming penjajahan
Penjajahan yang tak nampak namun berkelanjutan yang implikasinya pada moral serta etika kami
Kami tak lagi saling menghormati
Kami tak lagi menjaga indahnya zamrud yang kami miliki
Kami tak lagi membela eksistensi sawah dan lumbung padi kami yang katanya rumah kami ini “Negara Agraris”
Perilaku kami seakan bahagia melihat ibu kami disiksa oleh orang tak dikenal
Kuayunkan tanganku meraih panji-panji yang berkibar
Tak ada yang kurasakan selain pahit di hati
Karena aku dan saudara-saudaraku sendiri tak mampu berteriak lagi menolong ibu kami


Malang, 16 Agustus 2017
Menjelang hari yang katanya kemerdekaan Indonesia
Merefleksikan Proklamasi yang diperjuangkan dengan sedemikian rupa namun terurai begitu saja oleh... entah siapa aku juga tak tahu.. karena tak ada yang mau tahu dan yang memberitahu akan diberitahu untuk tidak memberitahu. Jika tetap memberitahu, maka akan diberitahu lagi dengan kedatangan malaikat maut yang tak diketahui. Keadilan yang samar.

Ketika Dunia Menyempit

KETIKA DUNIA MENYEMPIT
Puisi karya : Kerta Ranggah Rajasa Jayawardhana

Ketika dunia menyempit….
Raga terasa terhimpit
Semua yang manis menjadi pahit
Menyebar membakar kulit
Orang lain tak acuh di saat sulit
            Gunjingan merajalela
            Melalui mulut-mulut tak berdosa
            Entah kapan akhirnya
            Diri ini hanya bisa berdoa
Raga ini terasa beku
Saat angin keprasangkaan membelenggu
Lisan ini semakin kelu
Karena oknum memukul jitu
            Kini semua terasa sukar
            Sulit rasanya mencari jalan keluar
            Seperti nya tak ada yang membuka pintu hatinya lebar-lebar
            Dari diri ini mereka berpencar

Di Ujung Mata Pedang

DI UJUNG MATA PEDANG
Puisi Karya : Kerta Ranggah Rajasa Jayawardhana

Dan pandanganku gelap gulita
Saat ujung mata pedang itu menerobosjantung dengan tatapan menggila
Tubuhku bergetar dan mata terbelalakterbuka
Namun, apa daya aku tak bisa berbuat apa-apa
            Akumengerti maksud mereka yang ingin mewanti-wanti mata pedang itu padaku
            Danaku tahu maksud baik mereka dengan menakutiku
            Akutahu pula apa yang mereka pikirkan untuk kebaikanku
            Namun,karena kesalah pahaman mata pedang itu menerobos jantungku
Sudahlah
Biarlah bekas luka mata pedang ini mengering
Akan tetap kujalankan kewajibanku meski harus berbaring
Semoga ini menjadi pelajaran penting
Agar tak mudah lalai dalam suasana hening


Kampus putih
Dilanjutkan di rumah tercinta
Senin, 06 Mei 2013

Ini Urusanku

INI URUSANKU
Puisi Karya : Kerta Ranggah Rajasa Jayawardhana

Apa maumu mengaturku ?
Ini urusanku

Aku tahu masa depanku dengan kacamataku
Aku tahu masa depanku
Aku tahu masa depanku
Dan Aku tahu masa depanku
.

Lalu, kau mau apa?
Uruslah masa depanmu sendiri
Aku tak peduli
Sekarang aku sedang bersenang-senang dengan segala yang kupunya

Persetan
Nasehat-nasehat tak terpikirkan
Yang ada hanya
AKU SENANG SEKARANG
AKU BAHAGIA DENGAN MASA MUDAKU
AKU TAK PEDULI
INI URUSANKU !!!!


Malang, 12 Mei 2013. Pukul 22:44
Puisi ini kutulis untuk embrio-embrio pendobrak perubahan dunia
Lalu, sadarlah sebelum terlambat.

Kata Pemuda Nakal

KATA PEMUDA NAKAL
Puisi Karya : Kerta Ranggah Rajasa Jayawardhana

Hey Kau...
Seriusnya Kau belajar...
Lihatlah Aku....

Hidupku mudah
Uangku melimpah
Malamku selalu indah
Walau kadang susah saat aku payah
Hahahaha.....

Memang Parah..
Bagimu...
Tapi, Wah...
Bagiku...

Ah... Indanya dunia ini
Aku hanya perlu minum untuk memstakan diri
Dan Dara-dara cantik yang menemani
Aku tak butuh cita-cita tinggi
Yang penting...
Aku senang....
Hahahahaaa.....

Percetakan
Selasa, 11 Maret 2013

Lolongan Si Buruk Rupa

LOLONGAN SI BURUK RUPA
Puisi Karya : Kerta Ranggah Rajasa Jayawardhana

Aku benci untuk mengatakannya
Tapi apalah arti aku hidup jika seperti ini adanya
Karena semua seakan memandangku sebelah mata
Lalu, apa yang harus kulakukan
Sepertinya aku tak mau mati tapi hidup saja segan
Dan keluhan ini tak mampu lagi kusimpan
Maafkan aku Tuhan jika aku kurang bersyukur
Tapi apa daya
Aku hanya hamba-Mu yang lemah
Yang ada dihadapanku hanyalah
Pembelas kasih yang ada sesaat
Pemberi harapan palsu untuk hati
Pencemooh yang tak ada habisnya
Penjahat perasaan yang seenaknya menyepelekan diri
Tuhan,
Apakah jika aku mati ini semua akan berakhir...????
Tuhan...
Tuhan...
Aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali dari pertolonganmu
Terlalu jahat hatiku untuk meminta mereka musnah dari hadapanku
Tuhan...
Apakah mereka tak tahu besarnya kebaikan hatiku
Tuhan...

Bumi dingin yang kian memanas,
16 April 2013  

Rabu, 25 Oktober 2017

JCF, Acara Pameran di Bojonegoro yang Perlu Dicontoh Daerah-daerah Lain! (My First Experience with Qlapa.com)

Matoh! Kata ini yang pas untuk acara JCF 2017. Kenapa? Jelas karena acara besar inilah para
pengusaha industri kreatif memiliki kesempatan besar untuk menunjukkan produk-produk mereka, hasil buatan tangan mereka yang sangat indah nan variatif. Matoh sendiri berarti "sae" atau "baik". Matoh merupakan kata seru yang digunakan untuk mengekspresikan sesuatu yang baik bahkan di atas baik. JCF (Jonegoroan Creative Fair) 2017 merupakan agenda yang dihelat atas kerjasama Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dengan IKKON Bojonegoro. Agenda ini berisi pameran produk-produk lokal Bojonegoro seperti kerajinan gerabah, perhiasan, kerajinan songket atau rajut, batik,  hingga kuliner yang bermacam-macam seperti kripik olahan, bumbu pecel dan lain sebagainya. Tak hanya itu, e-commerce pun juga diundang seperti Qlapa.com dan Tokopedia agar menjadi sarana bagi para pengrajin untuk semakin mudah memasarkan produknya ke seluruh Indonesia bahkan seluruh dunia agar produk mereka mampu bersaing di kancah Internasional menyaingi brand-brand Internasional yang justru lebih diminati masyarakat Indonesia daripada produk lokal sendiri.

Booth Qlapa.com bersebelahan dengan Booth Tokopedia
Yap! Bagiku, acara ini memberikanku pengalaman berharga. Aku yang baru saja menjadi City Representative Qlapa.com untuk Kota Malang sangat berterima kasih sekali pada Qlapa.com yang memberikanku kesempatan untuk ikut berkecimpung serta menyukseskan booth Qlapa.com di acara ini. Mbak Ayu dari Qlapa.com siap memberikan briefing kepadaku dan juga Mas Khairul Amien yang juga City Representative dari Madura terkait sistem kerja Qlapa agar kami bisa melayani para tamu yang datang di booth Qlapa. Aku jadi mengerti arti penting adanya acara ini dan keterkaitannya dengan Qlapa.com. Dengan berpartisipasi di sini, aku jadi semakin mengenal Industri kreatif dan perlahan memahami kalau industri kreatif di Indonesia sungguh minim peminat. Betapa tidak, masyarakat Indonesia kebanyakan lebih bangga memiliki barang yang branded luar negeri daripada produk lokal yang sesungguhnya lebih indah. Tentu ada yang beranggapan bahwa produk lokal itu mahal. Eits, bukannya produk luar itu juga mahal ya? Apa susahnya sih bermahal-mahal untuk produk dalam negeri?

Kang Yoto (Bupati Bojonegoro) Sedang Mampir
ke Booth Qlapa.com
Acara ini juga membuatku semakin mengenal banyak orang. Dengan Mbak Ayu dan Mas Khairul Amien aku memang sudah kenal semenjak kuliah dulu karena beliau berdua adalah seniorku di UKM Forum Diskusi Ilmiah. Di acara tersebut, aku jadi kenal Mas Rizky Aldi yang gokil, kocak, heboh dan easy going dari Tokopedia dan ketiga kawannya juga. Begitu juga dengan kawan-kawan IKKON seperti Mbak Rani, Mbak Fatma, Mbak Ichris, Mbak Annisa dan lain-lain. Belajar untuk dekat dengan para pengrajin yang memiliki berbagai karakter, kelebihan serta kekurangan yang untuk mendekati mereka juga harus dengan cara yang baik agar kebutuhan mereka terlayani dengan baik.  

Mengapa acara pameran ini perlu dicontoh oleh daerah lain? Karena ini merupakan pintu bagi para pengrajin serta para pemilik industri kreatif untuk memperkenalkan produk-produk mereka yang beraneka ragam dan indah. Bahkan jika perlu, pameran ini dibuat permanen agar untuk memperkenalkan produk, para pengrajin tidak perlu menunggu momen karena bagi mereka setiap detik adalah momen mereka untuk memasarkan produk buatan tangan mereka. Dari sinilah aku menemukan keterkaitannya dengan Qlapa.com yang bersedia menjadi perantara antara pengrajin dengan para customer dalam skala yang sangat luas. Semoga aku berkesempatan untuk berkecimpung dalam acara seperti ini lagi dan semoga Industri kreatif serta para pengrajin mampu melesat hingga membawa besar nama Indonesia dan produk mereka justru mampu menyaingi barang-barang branded internasional yang malah menjadi kebanggaan banyak orang di Indonesia.

Minggu, 22 Oktober 2017

Bojonegoro, Panasnya Selangit!

Hari ini adalah hari ke-3 aku di Bojonegoro. Kedatanganku di Bojonegoro bukan tanpa sebab. Beberapa waktu yang lalu, aku diterima menjadi City Representative Qlapa.com untuk daerah Malang. Dan aku berpartisipasi dalam pameran Qlapa.com di agenda JCF (Jonegoroan Creative Fair) 2017 Bojonegoro mulai tanggal 21-23 Oktober 2017. Dan sejak hari Jum'at tanggal 20, aku sudah tiba di Bojonegoro untuk membantu rekan Qlapa.com yang ternyata juga seniorku saat di FDI (Forum Diskusi Ilmiah) UMM yaitu Mbak Noor Sukmo Ayu Lestari atau Mbak Ayu. Well, kami menyiapkan booth pameran mulai dari angkat-angkat sampai bolak-balik ganti desain booth. Akan kulanjutkan di lain tulisan.

Bojonegoro, merupakan daerah yang seumur hidup rasanya belum pernah aku tinggal atau sekedar menginap, namun hanya sekedar lewat karena tempat tujuanku sekeluarga selalu di Tuban serta jarang sekali untuk lewat Bojonegoro. Daerah yang berbatasan dengan Jawa Tengah ini memiliki suhu tinggi hingga lumrah jika orang-orang di sini merasakan gerah tak tertahankan khususnya siang hari.

Bojonegoro dipotong oleh Sungai Bengawan Solo yang sangat lebar hingga banyak sekali jalur-jalur penghubung antara daratan satu dengan daratan lain yang terpisah sungai, bahkan saat ini sedang dilakukan pembangunan jembatan baru yang bisa dibilang gede banget.

Orang-orang Bojonegoro sangat ramah dan baik. Mereka hobi ngopi di warung kopi, ngopi dalam arti sesungguhnya, minum kopi, dan di warung kopi. Mereka juga sangat antusias dengan obrolan-obrolan terkait perkembangan Bojonegoro.

Berbicara soal pengembangan Bojonegoro, keterbatasan pengetahuanku masih mengetahui jika Bojonegoro ini Kabupaten sehingga kepala daerahnya adalah Bupati. Bupati Bojonegoro adalah orang yang asyik meskipun belum pernah ngobrol langsung dengan beliau. Beliau orang yang santai namun kocak dan selalu memberikan surprise kepada kawan-kawan yang lain. Surprise dalam artian kejutan saat agenda kerja pemerintah. Beliau suka tiba-tiba nongol. Tujuannya mungkin baik karena ingin melihat apakah yang dikerjakan sudah maksimal atau belum.

Tulisan ini bukan sedang membaguskan seseorang, dan aku juga bukan mau promosi Bojonegoro, tapi aku hanya sedikit cerita dan berbagi pandangan serta opini remehku terkait Bojonegoro.

Panasnya Bojonegoro, yang bahkan pernah sampai 40 derajat celcius, memang berimplikasi pada tubuh. Implikasi yang remeh sih seperti berkeringat banyak, sering gerah, sering haus, air dingin jadi tak berasa, bahkan saat mandi pun, air rasanya seperi hanya lewat saja. Tapi, memang kalau untuk istirahat, nyaman! kecuali beberapa hal yang aan kuceritakan di tulisan lain terkait Bojonegoro juga.

Bagiku, Bojonegoro memiliki banyak potensi yang perlu dikembangkan seperti industri-industri kreatifnya. Hal yang jarang ada di tempat lainnya seperti BUMDes (Badan usaha Milik Desa), juga ada di sini. Bumdes yang mengerahkan warganya untuk berkarya dan meningkatkan ekonomi secara bersama, benar-benar membuat gebrakan banyak bahkan berkembang menjadi wisata edukasi untuk anak-anak. Pokoknya banyak sekali potensi yang perlu dikembangkan untuk lebih baik lagi bahkan lebih luas.

Potensi-potensi positif di Bojonegoro harus dimaksimalkan agar Bojonegoro juga bisa mencetak prestasi banyak dan Bojonegoro semakin maju. Maju di sini bukan hanya soal ekonomi. Kalau soal ekonomi sih... sabi lah ya tapi bagiku sih maju ini dalam hal pemaksimalan dalam memanfaatkan Sumber Daya Manusianya. Artinya, kalau Manajemen Sumber Daya Masyarakatnya bagus, maka karya-karya bahkan termasuk ekonomi juga ikut melesat. Maka, saran aja sih.. buat pemerintah untuk memantau dan memanage SDM di Bojonegoro agar terwadahi dan meningkat drastis prestasinya. Mungkin pemaksimalan ini butuh biaya banyak, tapi demi kemajuan Bojonegoro, kenapa tidak? :D

Senin, 02 Oktober 2017

Belajar Filsafat. Sesatkah?

Kalau ada pertanyaan, filsafat itu apa sih?
Pasti jawabannya :

FILSAFAT ITU SESAT!
FILSAFAT ITU BIKIN PUSING
FILSAFAT ITU RUWET
FILSAFAT ITU ......

dan lain-lain. Monggo dilanjutkan sendiri, kalau perlu dikomentarin di bawah juga nggak apa-apa.

Sejujurnya, aku sendiri agak risih kalau misal filsafat itu bikin sesat dan lain-lain karena sebenernya manusia itu berfikir pasti mereka berusaha untuk berfilsafat dong.

Sebelum jauh membahas tentang sesat nggaknya filsafat, mending ditelusuri dulu, sebenernya filsafat itu apa sih. Apa bener filsafat itu ngerusak?

Filsafat itu kan diambil dari kata philos dan sophia . Artinya cinta kebijaksanaan. Sejarahnya, dulu itu buanyak orang-orang yang sombong karena kepintaran dan kebijaksanaan mereka bahkan menggunakan kepintaran mereka untuk yang nggak baik. Mereka tidak mau membumi dan tidak mau pendapatnya ditentang atau pendapat mereka itu sifatnya absolut. Akhirnya mereka dijulukin kaum sophis sesuai dengan sophia itu tadi yaitu orang-orang yang bijaksana. Sedangkan para tokoh filsafat khususnya Phytagoras, kurang suka dengan hal tersebut. Phytagoras memang termasuk orang yang pintar tapi dia nggak merasa paling bijaksana, dia hanya suka dengan kebijaksanaan. Maka dari itu, mereka nggak mau kalau pendapat mereka itu paling benar, jadi mereka akan terus mencari dan mencari, mempertanyakan dan terus mempertanyakan tapi tetap cinta dengan bijaksana dan tak menodai kebijaksanaan itu sendiri. Jadi mereka mempertanyakan sesuatu itu gunanya untuk kebaikan dan bertambahnya ilmu pengetahuan. Pemikiran para filsuf pasti akan diperbaiki dan diperbaiki terus menerus. Jadi, kalau misal berfilsafat itu dianggap sesat, eits tunggu dulu. Kayak gimana dulu orang yang dibilang sesat itu cara berpikirnya.

Di filsafat itu kan ada cara berpikir filsafat. Maksudnya, dalam berfilsafat, biasanya berpikirnya itu kayak berpikir logis atau sesuai sama akal sehat, cara berpikirnya itu runtut nggak loncat-loncat (bukan sambil loncat) tapi kalau memikirkan sebab dari suatu peristiwa misalnya, itu dia berpikir dari awal kenapa bisa terjadi, apa sebabnya dan lain-lain secara urut atau biasa dibilang sistematis atau juga koheren, berpikir kalau semua itu pasti ada hubungannya juga sebab musababnya, berpikir secara menyeluruh soalnya kalau ada yang kelewat pasti hasil berpikirnya jadi agak timpang, trus berpikirnya sampai mendalam atau sampai ke akar-akarnya. Nah, kadang kita itu takut mikir dalem-dalem akhirnya mending milih nggak usah aja dah ntar kenapa-kenapa. Bukan berarti gitu. Kalau ciri yang aku sebutin di atas tadi dipake dengan sempurna, InsyaAllah nggak sesat. Kalau ada yang mempertanyakan yang aneh-aneh soal agama, tunggu dulu, dia sudah berfilsafat dengan benar belum? Bisa jadi pemikiran dia kurang menyeluruh atau kurang sistematis juga akhirnya wajar kalau ada yang bilang sesat. Kenapa Imam Ghazali bisa mempelajari agama lebih dalam? Karena beliau pake metode filsafat yang beliau usahakan sebaik mungin sehingga nggak asal nanya yang aneh-aneh. Makanya dalam berfilsafat juga harus dibarengi sama diskusi, baca buku, Dekat sama Yang di Atas dengan cara memperkuat ibadah, dan nggak sombong kayak kaum sophis.

Yaaa itulah tentang filsafat. Mengklain kalau berfilsafat itu sesat sebenarnya kurang tepat soalnya mereka yang mungkin kelihatan sesat bisa jadi karena pola berpikirnya kurang sesuai sama ciri berpikir filsafatnya. Tulisan ini bukan berarti paling benar, jadi segala masukan tetap aku terima. Semoga tulisan ini paling tidak bisa sedikit membantu untuk membuka pemikiran kita tentang pandangan orang mengenai filsafat ini.