Langsung ke konten utama

Pantaskah Aku Ditempa di Anti-Corruption Youth Camp 2017?

Pantaskah?
Entahlah...
Tapi, mungkin bisa jadi nggak
Kayaknya aku kurang bersyukur bisa jadi peserta ACYC 2017 di Bandung, alhasil aku belum melahirkan karya apapun sampai sekarang.
Aku harus instrospeksi diri.
Aku harus inget kalau ACYC bukan sekedar permainan belaka.
Telah terukir sejarah bagaimana aku bisa masuk di ACYC dan segala prosesnya.
Aku harus ingat,
harus tetap mengingat...
Harus tetap semangat...

Beginilah kisahku bersama ACYC, Anti-Corruption Youth Camp 2017.

.
**
*

2017, salah satu tahun yang mengukir kenangan senang dan sedih di hidupku. Di tahun itu aku dinyatakan lulus dari studi S-1, tahun itu juga aku mulai belajar lagi bahasa inggris di tempat yang berbeda-beda, pun juga aku kedapetan beberapa kesempatan tak terduga yang nggak semua orang bisa ngedapetinnya karena sifatnya kompetisi yang diikuti orang se-Indonesia raya. Kali ini, aku bakal ceritain salah satunya. 

Bulan Desember 2017 kemarin, aku diberi kesempatan untuk gabung di acara Anti-Corruption Youth Camp (ACYC) di Bandung, sebuah acara besar yang diadain oleh KPK dan komunitas-komunitas seperti Youth Proactive, Gusdurian, Ketjil Bergerak dan masih banyak lagi.

Awalnya, salah seorang kawanku, Dana Arga Dinata, Mahasiswa Sosiologi Universitas Brawijaya, ngajakin aku buat ikut ACYC yang persyaratannya harus bikin video dan punya karya digital. Dalam hati, “ini sih, gue banget”. Akhirnya kuiyain ajakan dia. Kusebar info tentang acara ini yang kudapat dari Dana ke mana-mana. Dia udah bikin video dan diupload di channel Youtubenya, sedangkan aku masih belum sempat juga walau akhirnya bisa kebikin itu video.

Jujur aku nggak nyangka dan bersyukur segede-gedenya soalnya aku ikut kompetisi ini hanya dengan bermodalkan nekat serta video dan karya yang biasa-biasa aja. Terus juga kompetisi ini diikutin oleh para anak-anak muda di tanah air, jadi rasanya bangga banget bisa kegabung di ACYC ini. Uniknya lagi, kan aku sempet ngajakin anak-anak IMM komisariat FISIP UMM, nah, ada satu kader yang ikutan juga (kebetulan dia Youtuber dan subcribernya udah 1K lebih. Ini channel Youtubenya) namanya Mirza Bareza, dan dia lolos seleksi juga buat ikut acara keren ini. Kagetlah kami berdua soalnya udah satu daerah, satu organisasi pula.

Kalau nggak salah pengumumannya itu bulan Nopember via E-mail, dilampirin juga rundown acara sama ketentuan-ketentuan yang harus disiapkan sebagai peserta. Kageta aja aku sama Mirza soalnya di rundown tertulis, pematerinya Cameo Project, Raditya Dika atau Panji Pragiwaksono, ada materi dari Kok Bisa (ini channel Youtube Kok Bisa), dan lain-lain yang amazing. Seneng buan main waktu itu kami berdua soalnya ini bener-bener kesempatan langka coy. Akhirnya, kami pesen tiket kereta pasundan dari Wonokromo ke Kiaracondong (kebetulan pasundan paling terjangkau harganya buat kami-kami anak kos-kosan, padahal aku anak rumahan haha). Tanggal 2 Desember pagi kami berangkat naik bus ke Surabaya.
*****
Tiba di Bandung, ketemulah kami dengan salah satu peserta asal Yogyakarta, namanya Arif Budi Darmawan. Sempet mampir makan soalnya laper banget dan posisi kami tiba jam setengah 12, plus di perjalanan nggak makan nasi. Keluar Kiaracondong, akhirnya kami nyari nasgor sama Arif. Sambil makan sambil ngobrol macem-macem, dari politik sampai multikultural, hanya saja lingkupnya di kampus masing-masing. Dia UGM (Universitas Gajah Mada) dan kami berdua UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) jadi ya wajar suasana masing-masing kampus beda-beda. Jam 12 lebih seperempat, kami akhiri makan malam itu dan segera memesan Go-Car karena panitia udah nungguin di Wisma Bina Marga Jalan R.E. Martadinata.

Tiba di wisma, kami dibagi kamar, dan istirahat di kamar masing-masing. Eh, di kamar aku ketemu sama anak UGM lagi tapi S2, kalau Arif kan S1. Namanya Hasian Sidabutar (ini channel Youtubenya). Bang Hasian ini orang Medan tapi dia udah ngerti banget gimana kultur di Jawa jadi asyik aja ngobrol sama dia sambil ada bahasa Jawanya dikit seperti manggil dia pake “sampeyan” bukan “bang” haha.  Oh iya, aku salut banget sama Bang Hasian ini karena dia menjaga banget toleransi beragama. Dia bahkan ngingetin buat sholat meskipun dia dari Umat Kristiani di sepanjang hari kami bersama sekamar.

Aku kaget lihat kamarnya. Wuih! Ber-AC, spring bed, TV 24 inch, almari, kamar mandi dalam, bener-bener ini acara gokil dan nggak main-main. Sebelum tidur dan sholat jelas aku mandi dulu kan. Lagi-lagi aku dibikin kaget gara-gara itu kamar mandi ada keran air panasnya. Buat aku yang jarang ngerasain kaya gini jelas kegirangan dong, hahaha. Jadi, mandilah aku pakai air hangat yang keluar dari keran dan showernya. Eits, sorry aja ya. Aku nggak katrok, cuman jarang aja kayak gini jadi yaaa dinikmatin aja, mumpung ada.

Besoknya, kami kedatangan 2 orang. Mereka adalah Handaru Arya Pradana yang biasa dipanggil Daru (podcaster paling ngeri se-jagat raya dari Podcast Pojokan. Ini link Podcast Pojokan) dari Jakarta dan Handriva Fauzi dari Sumatera Barat dan biasa dipanggil Andri. Sesama bernama depan “Han” bukan berarti mereka kakak adek an loh ya, hahaha. Kebetulan aja sama namanya. Ternyata, teman-teman kamarku ini gokil-gokil. Bercandanya ingkat dewa, jadi wajar aja aku sering ketawa kalu bareng mereka. Cerita soal mereka, akan kujelasin dah nanti.

Kelompok 6 ACYC 2017.
(Dari kiri bawah : Dhiyaurrahman, Mirza.
Dari kiri atas : Khaula, Sigit, Aku, Gisna)
Tanggal 3 malam, kami dikumpulkan di salah satu aula wisma untuk briefing dan perkenalan plus pembagian kelompok. Kesekian kalinya aku dibikin kaget lagi karena aku sekelompok sama Mirza. Duh, ketemu sama anak ini lagi. Hahaha. Aku dikelompokkan bareng teman-teman dari berbagai daerah dan dengan berbagai background yang sangat unik. Ada yang namanya Dhiyaurrahman, manusia di balik wasatha.com, salah satu media di Aceh. Ada juga Sigit Kuncoro, pemuda asal Kalimantan yang kuliah di AMIKOM Yogya namun aksennya udah Yogya banget. Gisna Maulida, perempuan asal Bandung yang jadi unik dengan kacamata bulet khasnya. Terakhir ada Khaula Syahida, asal Sulawesi tengah, paling muda di antara kami semua dan sangat punya semangat tinggi buat belajar. 

Uniknya lagi, aku kedapetan 2 orang fasilitator yang super keren. Salah satu dari mereka semacam nggak asing wajahnya tapi entah di mana aku liatnya, lupa waktu itu. Mirza juga punya pikiran yang sama. Mereka berdua adalah Mas Rivo Pahlevi dari Jakarta dan Mas Crisna Akbar asal Aceh. Sebagai alumni ACYC tahun sebelumnya, mereka bertugas mengarahkan kami selama berhari-hari di Bandung agar jadi jebolan ACYC yang berkualitas. Soal bagaimana mereka berdua, akan kuceritain nanti. Pokoknya super anjay dah beliau berdua ini.
Foto bareng setelah acara Pembukaan

Besoknya, tanggal 4 Desember pagi, kami ikut acara pembukaan di kantor Walikota Bandung. Kami
berangkat naik angkot warna putih, bareng-bareng, jumlahnya banyak. Sampai sana, keliatan banget Pak Ridwan Kamil lagi mimpin apel. Kirain beliau bakal ikutan acara pembukaan, ternyata beliau berhalangan, jadi Pak Wakil walikota yang ngegantiin, Kang oded.

Bersambung....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengangkatan mudabbir

note : mudabbir: Pengurus di pondok gontor yang diambil dari kelas 5
rayon : Asrama

Tanggal 15 syawwal 1430 h / 4 Oktober 2009 m

Hehehe..... pengangkatan mudabbir. adalah suatu acara yang ditunggu2 oleh segenap siswa kelas 5. Gimana nggak lha wong itu yang menentukan dia tuh jadi pengurus atau jadi pengangguran gak punya kerjaaan selain ke Masjid dan Insya Allah cuma itu dan gak ada kerjaan lain... tapi beda dengan orang yang otaknya encer dia akan memanfaatkan waktukosong untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat.
Waktu itu aku bareng temen2 ITQAN berangkat bareng dari Gedung Tunis Lantai 2 ke masjid Lantai dua dengan menggunakan baju putih, peci dan celana hitanm serta tak lupa buku tulis dan pena tentunya. Saat yang mendebarkan... Hatiku bertanya2 aku jadi mudabbir ga ya?? kalo iya mudabbir rayon mana??? sedangkan aku sekarang duduk di kelas 5R . Rasanya ga mungkin aku jadi Mudabbir karena untuk memungkinkan jadi Mudabbir itu kelas B sampai N. Dibawah itu proletar semuanya. tah…

Perjalanan Ke Gontor Putri 3

Owh.... Jum'at siang itu.....


Aku berangkat menuju tempat adik2ku berjuang. Di Gontor Putri 3, Karangbanyu, Widodaren, Ngawi. Jauuuuhh..... Puol... Yah... aku ingin melihat keadaan adikku di sana. Semoga mereka baik2 saja dan mereka bisa belajar dengan baik dan mendapatkan pendidikan yang sangat banyak. Mumpung hari2 ini masih kosong dan para santri sedang belajar untuk persiapan ujian tulis, ya... kenapa nggak. Sama, di gontor putri juga sedang hari2 belajar dan belum memulai untuk ujian. Perjalanan sungguh jauh. Aku sendiri masih mikir2 sebelum berangkat gara2 saat itu aku dalam keadaan seperempat sakit kepala. Sakit kepalanya nih, sisa dari sakit kepala 2 hari yang lalu yang pas sebelum UAS (seperti yang kuceritakan sebelumnya). Ok lah! Bismillah. Yakin semua akan baik-baik saja. Everything is Gonna be Okay!. Sebelum berangkat aku makan sop kikil dulu di warung lalu naik bis. Perjalanan dimulai....
Pertama naik, untung ada tempat duduk. Tapi, yang duduk di depanku nyalain AC. W…

Update di Medsos Pakai Cuplikan Film di Bioskop? Boleh?

Film Dilan 1990 yang sedang tayang di bioskop berhasil meluluhkan hati para penontonnya, pun juga
yang belum nonton pasti dapet spoiler dikit-dikit lah ya dari yang udah nonton. Tak sedikit yang terpukau dengan keromantisan kisah Dilan dan Milea, pun juga sisi pribadinya sehingga banyak yang terinspirasi, atau mulai muncul bumbu-bumbu galau dalam kehidupannya.

Eits, di tulisan ini aku bukan nge-review Film Dilan 1990 loh, tapi membahas salah satu perilaku para penonton Film fenomenal yang didutradarai oleh Fajar Bustomi dan Ayah Pidi Baiq. Mereka baik yang belum maupun sudah menonton pasti pernah update media sosial mereka baik instastory, posting instagram, story di facebook, story di whatsapp dan banyak media soaial lain. Uniknya, banyak cara untuk mengungkapkan pemikiran atau perasaan mereka di medsos dan menggunakan film Dilan sebagai representasi atau juga media pembenar juga pelegitimasi pemikiran serta perasaan mereka. Pasalnya, ada cara yang kurang lazim bagiku.
Cara yang kuran…