Langsung ke konten utama

Postingan

Highlighted

My Leadership History (2): Sosiologi dan Forum Diskusi Ilmiah

  Sebelumnya, saya mohon maaf jika tulisan ini terkesan terlalu melebih-lebihkan. Tidak ada maksud sombong atau merendahkan. Hanya ingin mengabadikan cerita hidup saja. ..................... Lanjutan dari My Leadership History (1): Gontor dan ITQAN Group Petualangan kepemimpinan di Gontor telah usai karena saya dinyatakan lulus dan mengabdi di Gontor 3 sebagai ustadz dan juga menjalani kuliah di jurusan perbandingan agama. Usai pengabdian selama setahun, saya pulang ke Malang dan mendaftar menjadi mahasiswa di Sosiologi UMM. Semester pertama, saya dipilih menjadi ketua kelas lewat voting. Baca selengkapnya di SINI . Melihat penampilan saya yang terlalu formal dan selalu duduk depan, otomatis pada milih saya. Bolehlah. Saya juga tidak segan-segan untuk speak up kalau ada apa-apa. Tapi, mengorganisir kawan-kawan dengan latar belakang bermacam-macam itu sulit! Tidak semuanya paham organisasi. Saya akhirnya belajar bagaimana cara persuasi anggota kelas dengan lebih kreatif. H
Postingan terbaru

My Leadership History (4): Sampai Hari Ini

Sebelumnya, saya mohon maaf jika tulisan ini terkesan terlalu melebih-lebihkan. Tidak ada maksud sombong atau merendahkan. Hanya ingin mengabadikan cerita hidup saja. .....................  Lanjutan dari My Leadership History (3): IMM Renaissance FISIP UMM Semenjak lengser dari jabatan ketua umum di Renaissance, saya tidak menjadi pengurus di organisasi manapun. Tidak sampai saya menjadi student master di Universiti Sains Malaysia (USM). Di UMM kan hanya sebagai dosen perjanjian khusus saja dan tidak ada jabatan. Hanya dosen.  Di USM, saya bertemu dengan PPI-USM (Persatuan Pelajar Indonesia - USM). Usai acara Musyawarah Anggota PPI-USM, terpilihlah ketua baru, yaitu Alimul Imam untuk periode 2019-2020, menggantikan Nadira. Dalam kepemimpinan Imam, saya memutuskan untuk masuk kepengurusan dan bertugas sebagai anggota divisi Aspirasi dan Advokasi.  Foto bersama pengurus dan anggota PPI-USM yang masih di kampus (karena pandemi) usai menuntaskan Musyawarah Anggota. Ketua lama (Ketum Imam

My Leadership History (3): IMM Renaissance FISIP UMM

  Sebelumnya, saya mohon maaf jika tulisan ini terkesan terlalu melebih-lebihkan. Tidak ada maksud sombong atau merendahkan. Hanya ingin mengabadikan cerita hidup saja. .....................  Lanjutan dari My Leadership History (2): Sosiologi dan Forum Diskusi Ilmiah Tidak berhenti sampai di FDI, pelajaran kepemimpinan saya belanjut di IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) Komisariat Renaissance FISIP UMM. Tepat setelah Musyawarah Anggota Tahunan (MAT) FDI, saya mengikuti Musyawarah Komisariat di IMM Renaissance FISIP UMM (sebut: Renaissance). Saya waktu itu mencalonkan diri sebagai ketua umum.  Wait wait... Jadi gini.. Saya agak lupa. Pokoknya, kalau nggak salah, entah seminggu atau sehari sebelum MAT FDI selesai, saya sudah keduluan kepilih jadi Ketua Umum di Renaissance untuk periode 2015-2016.  Kalau ngga salah, waktu itu, Musyawarah Komisariatnya sudah berlangsung duluan daripada MAT FDI. Sudah berlangsung 2 minggu dan pasti pakai hari jumat sabtu minggu kan, biar tidak me

My Leadership History (1): Gontor dan ITQAN Group

Sebelumnya, saya mohon maaf jika tulisan ini terkesan terlalu melebih-lebihkan. Tidak ada maksud sombong atau merendahkan. Hanya ingin mengabadikan cerita hidup saja. ..................... Perjalanan belajar menjadi pemimpin sudah saya jalani semenjak di Pondok Gontor. Meskipun di organisasi, baik kepengurusan kepanitiaan maupun menjadi pengurus organisasi, saya selalu diletakkan di posisi Sekretaris, pada akhirnya saya sempat merasakan menjadi pimpinan dalam keredaksian majalah ITQAN Group. Pertimbangan orang-orang meletakkan saya di sekretaris adalah karena saya suka bergelut dengan komputer, dan ini terlihat bahkan semenjak kelas 1 KMI.  Kelas 1 KMI menjadi awal mula saya diamanahi menjadi Sekretaris Rayon atau Asrama Gedung Baru Sighor (GBS), bisa juga disebut Rayon Aligarh 1 lantai 2. Tugasnya lebih banyak dalam mempersiapkan dokumen-dokumen asrama, meskipun harus menguras banyak waktu, baik untuk belajar, maupun untuk sekedar mencuci baju, bahkan berkorban untuk tidak bertemu ora

Demam Naruto

Pertama, abaikan rambut yang berantakan ini, meskipun yaa anda pasti memperhatikan karena nampak jelas ya. Hahaha. Kedua, ini adalah mata sharingan. Jelas bukan betulan, hanya hadil editan dari inisiatif iseng yang tiba-tiba muncul di kepala. Lima bulan terakhir (kalau tidak salah) saya sedang menikmati perjalanan hidup bocah rubah ekor sembilan, yaitu Naruto. Pertama saya tidak terlalu paham Naruto itu bagaimana. Dulunya, kartun jepang yang saya suka yaitu Doraemon, Ninja Hattori, dan lain-lain. Tambahannya yang saya suka yaitu One Punch Man. Super lucu! Nggak sabar buat nunggu Season 3 nya. Selain kartun, saya juga suka nonton Kamen Rider dan sesekali ke Super Sentai atau Ultraman.  Eh, kok yaa hal ini terjadi. Saya tuh sengaja langganan Netflix biar bisa belajar bahasa Inggris. Setelah selesai nonton Sherlock, kok rasa bosan mulai muncul. Saya coba iseng nonton One Punch Man lagi (adanya yang Season 1 kalau di Netflix). Kebosanan semakin menjadi-jadi karena sudah paham ceritanya. Ke

Berlebaran di Universiti Sains Malaysia

Jelas sudah kalau lebaran tahun ini berbeda. Pandemi Coronalah penyebabnya. Pulang? Tidak mungkin rasanya. Eh, mungkin sih kalau di Indonesia. Hehe. IYKWIM. Karena kondisi inilah, saya tidak memilih untuk memaksakan diri kembali ke kampung halaman. Lebih baik di sini saja. Aman! Lebarannya? Ya di sini, di dalam kampus, Universiti Sains Malaysia, Penang. Di asrama lebih tepatnya. Seperti foto di atas, saya sholat Idul Fitri bareng teman-teman asrama di musholla. Barisan belakanag adalah kawan-kawan dari Afrika, yang jongkok dari Indonesia semua. Kok masih saja Sholat Ied berjama'ah? Iya. Soalnya menurut saya sudah aman sih di sini, jadi saya memutuskan untuk ikut sholat Ied. Di Penang, statusnya sudah Zona Hijau dari Covid-19. Meskipun ikut sholat ied berjamaah, saya masih tetap sholat 5 waktu sendirian di kamar setelah itu. Tetap, saya nggak bermaksud kenapa-kenapa. Hanya untuk sementara berusaha memotong jalur virus saja walaupun virusnya mungkin sudah aman.   Apa yang unik dari s

Alergi yang Sungguh Menyiksa

Sudah sejak 2018 kemarin, saya terdiagnosa alergi ke beberapa hal. Mengagetkan, karena sebelumnya tidak bermasalah. Tapi, mulai 2018 akhir, kalau tidak salah, entah kenapa tubuh saya merasakan gatal. Awalnya dari satu titik di paha. Lama-lama menyebar ke kaki, tangan, bahkan di kulit kepala. Tadinya mau cuek saja, siapa tahu nanti sembuh dengan sendirinya, karena dulu pernah terjadi seperti itu tapi hanya satu titik di telapak tangan. Bentuknya bentol tapi ada airnya. Please tidak perlu dibayangkan :) Semakin menyebar, semakin tidak nyaman. Saya memutuskan untuk periksa ke dokter spesialis kulit di Malang. Dokter mengatakan bahwa gatal saya ini merupakan gatal bakat. Artinya sudah dari sononya. Selain itu, beliau juga mengatakan bahwa ini bisa jadi karena stress. Hanya saja beliau tidak percaya karena seumuran saya begini tidak mungkin stress, karena mungkin yang dipikirkan hanya studi dan urusan pribadi. Pantas stress jika memikirkan keluarga, mencari nafkah, memikirkan karir,