Langsung ke konten utama

Postingan

Highlighted

My Leadership History (2): Sosiologi dan Forum Diskusi Ilmiah

  Sebelumnya, saya mohon maaf jika tulisan ini terkesan terlalu melebih-lebihkan. Tidak ada maksud sombong atau merendahkan. Hanya ingin mengabadikan cerita hidup saja. ..................... Lanjutan dari My Leadership History (1): Gontor dan ITQAN Group Petualangan kepemimpinan di Gontor telah usai karena saya dinyatakan lulus dan mengabdi di Gontor 3 sebagai ustadz dan juga menjalani kuliah di jurusan perbandingan agama. Usai pengabdian selama setahun, saya pulang ke Malang dan mendaftar menjadi mahasiswa di Sosiologi UMM. Semester pertama, saya dipilih menjadi ketua kelas lewat voting. Baca selengkapnya di SINI . Melihat penampilan saya yang terlalu formal dan selalu duduk depan, otomatis pada milih saya. Bolehlah. Saya juga tidak segan-segan untuk speak up kalau ada apa-apa. Tapi, mengorganisir kawan-kawan dengan latar belakang bermacam-macam itu sulit! Tidak semuanya paham organisasi. Saya akhirnya belajar bagaimana cara persuasi anggota kelas dengan lebih kreatif. H
Postingan terbaru

Tantangan Baru dalam Berorganisasi (Aku & PPI Malaysia)

Awal Januari lalu, saat makan siang bersama supervisor dan kawan-kawan, saya dikontak oleh Ketua Umum terpilih PPI Malaysia periode 2020-2021, Muhammad Haidar Mohalisi. Beliau mengajak saya untuk bergabung bersama di kepengurusan PPI Malaysia, tepatnya di departemen Penelitian dan Kajian Strategis atau Penkastrat. Spontan saya jawab, "mungkin saya perlu rundingan dengan ketua ppi usm dulu, tum!". Waktu itu, bagi saya, berunding dengan Ketua Umum PPI-USM, Mbak Hidayah Sunar, adalah sangat sangat penting karena saya khawatir jika ketua punya pertimbangan lain mengenai delegasi anggotanya ke kepengurusan PPI Malaysia, terlebih saya juga ketua divisi di PPI-USM, yaitu divisi Pengembangan Organisasi dan Akademik.  Setelah bertanya ke mbak Nana, eh beliau bilangnya, "pilihan ada pada dirimu". Waduh! Makin bingung kan gueh. Apalagi ketum Haidar nanyain terus tentang kesanggupan saya untuk gabung di kepengurusan. Karena bingung, saya meminta waktu satu hari ke ketum Haidar

Nikmatnya Menyantap Masakan Sendiri

  Sarapan nasi, pecel, telur ceplok dan nugget ayam Kemarin (28/1/2021), saya masak untuk makan dari pagi sampai sore. Cukup menanak nasi, bikin sambel pecel (meskipun instan), goreng telur sama nugget popcorn ayam. Semua serba instan sih hahaha. Seinget saya, karena masih cupu banget soal masak memasak gini, kemarin perlu waktu satu jam untuk menyiapkan semuanya ini. Kirain tadinya bisa nunggu nasi mateng sambil senam SKJ 2004 di kamar. Ternyata dugaanku salah. Bukannya senam, tapi malah harus cuci piring sama peralatan makan lain. Hahaha. Numpuk! Selain itu harus ke dapur lantai satu buat ngambil telur, jeruk nipis, air panas buat bumbu sambel pecel dan air minum. Sampai kamar, malah ngiris bawang merah sama putih buat dicampur ke telur. Jeruk nipisnya iseng saya tambahin dikit ke adonan telur dan ke bumbu sambel pecel yang udah diaduk aduk dengan air panas. Oiya, saya tambain juga ke beras yang lagi di masak. Setelah mateng semua, ada sesuatu yang muncul dalam benak dan pikiran saya

My Leadership History (4): Sampai Hari Ini

Sebelumnya, saya mohon maaf jika tulisan ini terkesan terlalu melebih-lebihkan. Tidak ada maksud sombong atau merendahkan. Hanya ingin mengabadikan cerita hidup saja. .....................  Lanjutan dari My Leadership History (3): IMM Renaissance FISIP UMM Semenjak lengser dari jabatan ketua umum di Renaissance, saya tidak menjadi pengurus di organisasi manapun. Tidak sampai saya menjadi student master di Universiti Sains Malaysia (USM). Di UMM kan hanya sebagai dosen perjanjian khusus saja dan tidak ada jabatan. Hanya dosen.  Di USM, saya bertemu dengan PPI-USM (Persatuan Pelajar Indonesia - USM). Usai acara Musyawarah Anggota PPI-USM, terpilihlah ketua baru, yaitu Alimul Imam untuk periode 2019-2020, menggantikan Nadira. Dalam kepemimpinan Imam, saya memutuskan untuk masuk kepengurusan dan bertugas sebagai anggota divisi Aspirasi dan Advokasi.  Foto bersama pengurus dan anggota PPI-USM yang masih di kampus (karena pandemi) usai menuntaskan Musyawarah Anggota. Ketua lama (Ketum Imam

My Leadership History (3): IMM Renaissance FISIP UMM

  Sebelumnya, saya mohon maaf jika tulisan ini terkesan terlalu melebih-lebihkan. Tidak ada maksud sombong atau merendahkan. Hanya ingin mengabadikan cerita hidup saja. .....................  Lanjutan dari My Leadership History (2): Sosiologi dan Forum Diskusi Ilmiah Tidak berhenti sampai di FDI, pelajaran kepemimpinan saya belanjut di IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) Komisariat Renaissance FISIP UMM. Tepat setelah Musyawarah Anggota Tahunan (MAT) FDI, saya mengikuti Musyawarah Komisariat di IMM Renaissance FISIP UMM (sebut: Renaissance). Saya waktu itu mencalonkan diri sebagai ketua umum.  Wait wait... Jadi gini.. Saya agak lupa. Pokoknya, kalau nggak salah, entah seminggu atau sehari sebelum MAT FDI selesai, saya sudah keduluan kepilih jadi Ketua Umum di Renaissance untuk periode 2015-2016.  Kalau ngga salah, waktu itu, Musyawarah Komisariatnya sudah berlangsung duluan daripada MAT FDI. Sudah berlangsung 2 minggu dan pasti pakai hari jumat sabtu minggu kan, biar tidak me

My Leadership History (1): Gontor dan ITQAN Group

Sebelumnya, saya mohon maaf jika tulisan ini terkesan terlalu melebih-lebihkan. Tidak ada maksud sombong atau merendahkan. Hanya ingin mengabadikan cerita hidup saja. ..................... Perjalanan belajar menjadi pemimpin sudah saya jalani semenjak di Pondok Gontor. Meskipun di organisasi, baik kepengurusan kepanitiaan maupun menjadi pengurus organisasi, saya selalu diletakkan di posisi Sekretaris, pada akhirnya saya sempat merasakan menjadi pimpinan dalam keredaksian majalah ITQAN Group. Pertimbangan orang-orang meletakkan saya di sekretaris adalah karena saya suka bergelut dengan komputer, dan ini terlihat bahkan semenjak kelas 1 KMI.  Kelas 1 KMI menjadi awal mula saya diamanahi menjadi Sekretaris Rayon atau Asrama Gedung Baru Sighor (GBS), bisa juga disebut Rayon Aligarh 1 lantai 2. Tugasnya lebih banyak dalam mempersiapkan dokumen-dokumen asrama, meskipun harus menguras banyak waktu, baik untuk belajar, maupun untuk sekedar mencuci baju, bahkan berkorban untuk tidak bertemu ora

Demam Naruto

Pertama, abaikan rambut yang berantakan ini, meskipun yaa anda pasti memperhatikan karena nampak jelas ya. Hahaha. Kedua, ini adalah mata sharingan. Jelas bukan betulan, hanya hadil editan dari inisiatif iseng yang tiba-tiba muncul di kepala. Lima bulan terakhir (kalau tidak salah) saya sedang menikmati perjalanan hidup bocah rubah ekor sembilan, yaitu Naruto. Pertama saya tidak terlalu paham Naruto itu bagaimana. Dulunya, kartun jepang yang saya suka yaitu Doraemon, Ninja Hattori, dan lain-lain. Tambahannya yang saya suka yaitu One Punch Man. Super lucu! Nggak sabar buat nunggu Season 3 nya. Selain kartun, saya juga suka nonton Kamen Rider dan sesekali ke Super Sentai atau Ultraman.  Eh, kok yaa hal ini terjadi. Saya tuh sengaja langganan Netflix biar bisa belajar bahasa Inggris. Setelah selesai nonton Sherlock, kok rasa bosan mulai muncul. Saya coba iseng nonton One Punch Man lagi (adanya yang Season 1 kalau di Netflix). Kebosanan semakin menjadi-jadi karena sudah paham ceritanya. Ke