Mempermainkan Agama (Pelajaran Perjalanan ke Blitar)

Gambar oleh Rajih Arraki'
Persoalan agama memang merupakan hal yang sangat sensitif, di seluruh penjuru dunia mana pun. Lebih-lebih Indonesia. Masih segar dalam ingatan tentang peristiwa beberapa waktu lalu yaitu masalah penistaan agama hingga aksi massa 212 dan aksi-aksi selanjutnya. Menandakan betapa sensitifnya segala hal yang menyangkut agama.

STOP !

Nanti dulu asumsi tidak-tidaknya.
Baca dulu!

Pembicaraanku tentang agama masih belum selesai, kawan! Ini baru susunan kalimat-kalimat pertama yang bahkan belum mencapai seperempatnya. Butuh keberanian untuk menulis seperti ini karena kesensitifan tersebut. Setiap dari kita harus menjaga diri agar tidak menyakiti hati ummat beragama, agama apapun itu, di penjuru dunia mana pun itu. Berbicara soal agama berarti berbicara soal kepercayaan serta keyakinan. Maka, sedikit melukai hal-hal yang berkaitan dengan agama, akan berakibat menyakiti ummat beragama. Di sini aku sedang berusaha menyampaikan sebuah opini tentang agama yang dipermainkan dengan usaha selemah lembut mungkin dan sesantun mungkin karena mau tak mau ujung-ujungnya pasti ada yang kukritik dalam tulisan ini. Bagi para pembaca, harap mencerna perlahan-lahan agar tak serta merta men-judge bahwa aku orang yang "menyimpang".

Berkaitan dengan soal kepercayaan serta keyakinan, tentu akan ada yang namanya keimanan. Keimanan tingkat tinggi adalah ketaqwaan, di mana seorang makhluk hidup akan merasa bahwa dunia bukanlah prioritas utama dan sifatnya fana serta yang kekal adalah kehidupan di akhirat nanti. Bagi ummat beragama, tentu akan berusaha untuk mencapai tingkat ini. Tingkat ketaqwaan yang semua orang tentu berusaha untuk mencapainya dengan segala usaha mereka. Tingkat di mana ia merasa bahwa ia merasa "bersama Tuhan dan dekat dengan-Nya". Yang terpenting, kadar keimanan dan ketaqwaan seseorang hanyalah Tuhan Yang Maha Esa yang lebih mengetahuinya serta orang itu sendiri. Belum tentu seseorang yang secara penampilan terlihat sangat beriman dan bertaqwa memiliki jiwa yang benar-benar beriman juga bertaqwa. Dan sebagai makhluk Tuhan yang berakal, seharusnya manusia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang kurang baik, juga keimanan dan ketaqwaan secara pencitraan atau memang benar-benar demi mendekatkan diri kepada-Nya.

Bicara soal agama yang dipermainkan, prolog yang kusampaikan sebelumnya setidaknya mampu sedikit menjelaskan secara permukaan mengenai bentuk dari agama yang dipermainkan. Bagiku, institusi agama adalah institusi yang paliiiing baik sedunia akhirat yang kemudian disusul dengan institusi keluarga. Benar saja, manusia ketika kesusahan pasti mulai mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, berharap diberikan kemudahan dalam melalui segala kesulitan hidup yang menimpanya. Namun, tatkala mereka digelimangi harta serta segala kemudahan dalam menyelesaikan urusan, mereka secara tidak langsung ambil atret dan "Say Goodbye" pada Tuhan.

Institusi agama merupakan sarana yang sudah tak asing lagi bagi manusia untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa, Sang Pencipta. Di dalamnya terdapat perbuatan-perbuatan baik, ibadah-ibadah yang membuat manusia semakin dekat kepada-Nya, serta penyejuk-penyejuk rohani. Ini adalah unsur-unsur yang tak bisa diganggu gugat keberadaanya karena sudah suatu keniscayaan akan keberadaanya untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Terlebih karena memang manusia itu butuh untuk dekat dengan Sang Maha Kuasa, maka mereka akan berusaha dengan beribadah, menyejukkan rohani mereka serta berbuat baik yang tentu sesuai dengan ajaran agama mereka. Aku sangat yakin bahwa semua agama mengajarkan untuk berbuat baik.

Namun, menjadi keresahan bagiku sendiri jika seandainya, dengan karunia akal yang diberikan oleh Tuhan kepadanya, ada manusia-manusia yang memanfaatkan institusi agama sebagai lahan penghidupan bagi mereka. Karena begitu baiknya institusi agama ini, ada saja oknum-oknum manusia yang mencari celah untuk dapat bertahan hidup serta mencari "penghasilan" melalui institusi agama yang indah nan luhur ini. Institusi agama ini kan sifatnya keluhuran, kebaikan, sifat hubungan di dalamnya jelas tak ada yang bernilai ekonomi karena hubungan manusia dengan Tuhannya itu Gratis, tidak membayar! Jika ada manusia yang "sampai hati" mengomersilkan institusi agama, mohon maaf, aku secara pribadi tak akan mendukung karena bagiku ini sudah keterlaluan. Bagaimana tidak keterlaluan? Tuhan memberikan segala kenikmatan pada hamba-Nya itu tanpa pamrih. Bahkan nafas adalah kemurahan-Nya. Tapi, kalau institusi agama, hubungan antara manusia dengan Tuhannya sampai dikomersilkan, itu tanda bahwa manusia yang mengomersilkan ini sangat sangat sangat sangaaaat dan sangat rendah kesyukurannya. 

Saat aku ke Blitar tempo hari, aku berkunjung ke sebuah lembaga tempat adikku ditugaskan. Adikku sempat berkeluh kesah tentang manajemen keuangan di lembaga ini. Donatur yang sangat banyak seharusnya mampu membuat lembaga ini berkembang dengan sangat pesat serta memberikan dampak yang signifikan pada tata kelola lembaganya yang mapan. Namun, banyaknya donatur untuk lembaga ini justru tak kunjung membuat lembaga ini semakin besar. Adikku sempat mau menanyakan mengenai manajemen keuangan di lembaga ini, tapi beberapa kawannya yang sudah beberapa waktu berjuang di lembaga itu menahan adikku agar tidak menanyakan. Bagi mereka, percuma saja sebab tetap saja tertutup atau bahkan masa tugas mereka akan dipermasalahkan oleh pemimpin lembaga. Adikku juga berbagi denganku tentang tata kelola yang kurang rapi sehingga dalam melaksanakan tugas kelembagaan juga kurang maksimal. Pengaruhnya juga berasal dari dana donasi yang entah bagaimana pengelolaannya sehingga semua dijalankan seadanya bahkan memaksa untuk dioperasikan seadanya padahal untuk berkembang juga perlu dana operasional. Sumber dananya jelas dari para donatur. Padahal tim penggalang donatur juga ada. Tapi.....

Kejadian yang kuceritakan di atas bagiku merupakan salah satu contoh tentang "mempermainkan agama" yang sangat jelas. Donatur memberikan donasi atas dasar keikhlasan serta bermaksud agar melalui donasi yang ia keluarkan, ia mampu mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa. Donasi yang didonasikan oleh donatur juga merupakan amanah dari donatur untuk lembaga agar uangnya digunakan untuk pembangunan lembaga sesuai proposal yang diajukan oleh lembaga kepada donatur. Eits, bahkan ada yang memberikan donasi tanpa proposal. Meskipun tanpa proposal, tetap saja itu amanah dan sifatnya sesuai yang kusebutkan sebelumnya bahwa donatur berdonasi atas dasar keinginnanya untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Donasi yang sifatnya amanah, harus digunakan sesuai kebutuhan lembaga karena donatur datang bertujuan memberikan donasi untuk lembaga, bukan demi perseorangan atau kepentingan pribadi orang-orang yang ada di lembaga. Maka dari itu, manajemen keuangan lembaga juga harus jelas, transparan serta keluar sesuai kebutuhan. Jika tak ada kejelasan atau transparansi, kemudian saat ditanyai transparasi, birokrasinya berbelit-belit atau bahkan ditutup-tutupi, sudah jelas ini pertanda bahwa institutsi agama sedang dipermainkan. Yang sifatnya keikhlasan, yang sifatnya ada kaitannya dengan hubungan pada Yang Maha Kuasa, sedang dipermainkan.

Entah yang kusampaikan ini benar atau salah. Aku hanya bisa beropini, karena kesensitifan agama, untuk menegur sebuah lembaga saja, nanti pasti dikaitkan dengan agama (ngerti kan maksudku?). Sebenarnya, aku sudah menyuruh adikku untuk memastikan dulu. Bisa jadi donasinya memang sengaja ditabung agar bisa digunakan sewaktu-waktu untuk pembangunan lembaga. Yang dilakukan adikku bahwa ia berniat untuk menghadap pemimpin lembaga guna mempertanyakan manajemen keuangan lembaga, itu bagiku sudah sangat bagus. Aku juga sadar kalau adikku ini sangat progresif dari yang dulunya main-main aja eh sekarang bisa menghadapi masalah serius sepelik itu serta lebih dewasa. Yaa karena khawatir masa tugasnya dipermasalahkan oleh pemimpin lembaga, akhirnya niat mulianya itu ia urungkan. Aku sendiri juga jadi ragu, ini benar donasinya diselewengkan atau memang sengaja ditabung? Asumsiku yang muncul sudah terlalu banyak. Pada akhirnya aku berpikir, meskipun toh mau ditabung, tetap harus transparan! Harus dikelola dengan baik! Karena itu uang ummat! Perkembangan atau kondisi uang yang dititipkan pada lembaga itu harus jelas ke mana perginya. tetap diam kah? atau sudah dibelanjakan sesuai kebutuhan lembaga kah? Harus tercatat! Harus terorganisir! Karena, kejahatan yang terorganisir itu lebih baik daripada kebaikan yang tak terorganisir. Kejadian ini bisa saja kebaikan yang tak terorganisir, bahkan bisa saja kejahatan yang terorganisir dalam artian sudah terorganisir bahwa setiap donasi yang masuk ya segera masuk kantong saja tanpa masuk kas lembaga.

Sampai di sini, ngerti kan poin yang aku maksud?

Semoga kita terhindar dari memanfaatkan kebaikan institusi agama. memanfaatkan agama dan mengambil celah ekonomi dari agama.

Wallahu a'lam bis showab....

Beri komentar jika kurang jelas..
Terima kasih...

Komentar

  1. Masya Allah,your freind! Palestina Hostel. Irwansyah. Amazing!!!

    BalasHapus
  2. Seharusnya pihak terkait dapat di laporkan kepada KPK. Namun permasalahannya apakah sudah ada bukti yg cukup untuk permasalahan tersebut?
    Semoga orang yg berlaku curang, dan para pembaca mengerti makna daro tulisan ini







    BalasHapus

Posting Komentar

Komentarin yaa... Saya seneng banget kalau dikomentarin. Terima Kasih :)

Paling Banyak Dibaca

Perjalanan Ke Gontor Putri 3

Pengangkatan mudabbir

Catatan Yudisiumku