PACARAN, MENIKAH: Sebuah Kebanggaan? (bagian 2)

Lanjutan...

Eits, tapi tenang. Aku termasuk orang yang percaya kalau Yang Maha Kuasa itu menciptakan makhluk-makhluknya dengan segala kelebihan. Kalau manusia itu mau berusaha, jelas kuat dong. Apalagi nahan perasaan soal cinta-cintaan begini, kecil!

Pernikahan


Siapa sih yang nggak bahagia kalau sudah ada di jenjang serius kayak gini? Menikah, cuy! Kamu dipertemukan dengan lawan jenismu dalam sebuah ikatan kuat, pakai janji suci lagi. Laki-laki, katanya, sampai deg-degan setengah mati kalau mau ijab kabul. Perempuan juga nggak kalah deg-degannnya karena dia akan melepas masa lajang, dan selepas ijab kabul, dia akan hidup bersama lelaki yang berani meminangnya, juga dicintainya, eak!

Semua orang sadar kalau nikah itu acara sakral dan ada sangkut pautnya dengan kehidupan masa depan seseorang. Maka wajar jika mereka ingin pernikahan ini adalah sesuatu yang mereka alami cukup sekali seumur hidup. Pasangannya cukup satu untuk selamanya. Kalau udah kayak gini, yang namanya cinta, kesetiaan, pengorbanan, perjuangan, hidup, mati, semua campur jadi satu. Jelas nggak ada lagi bersenang-senang karena dengan menikah kamu akan hidup sampai akhir hayat dengan orang yang menikahimu, anak-anakmu, bertemu dengan dua keluarga baru, berbeda sifat dan latar belakang meskipun ada yang masih satu suku. Ini bukan acara main-main.

Keputusan menikah merupakan sesuatu yang tidak bisa kamu lakukan dengan mengalir-mengalir saja, tanpa pertimbangan matang, tanpa melihat keluargamu, apalagi tanpa melihat dirimu sendiri. Dan juga, ini juga bukan ajang pamer ke orang-orang kalau kamu sudah melampaui mereka yang masih lajang, masih jomblo dan ngenes pula, masih single, sudah tua masih single, dan lain-lain. Sadari bahwa yang menjalani kehidupan setelah pernikahan adalah dirimu dengan sang pasangan yang kau cintai sepenuh jiwa raga itu.

Masalah nikah menikah, akan kubahas pandangan subjektifku yang lebih jauh di tulisan lain.

Orang-orang memandang bermacam-macam soal pernikahan. Karena dia sakral, maka harus dibikin semeriah mungkin dan semewah mungkin, biar bisa pamer juga ke orang lain. Ada juga yang mandang, nikah mah sederhana-sederhana saja. Aku lebih sepakat yang tidak harus ngeluarin duit banyak, tapi juga bisa memberikan kesan mewah. Kesannya aja. Padahal biayanya murah-murah aja. Hahaha! Si Rajih lagi-lagi mengkhayal. Nikahmu itu masih luama buanget Rajih!!! Sadar woi! Bangun dari mimpi!

Satu sisi, pernikahan harus mewah. Otomatis ngeluairn duit banyak dong! Sewa gedung, hotel, Wedding Organizer, sampai cateringnya yang mahal. Eh, kalau perlu, undangannya harus anti-mainstream! Pokoknya nih, pokoknya dan pokoknya, karena ini sekali seumur hidup, harus dibikin semeriah mungkin. Kalau perlu, undang Raisa! Namun sekali lagi, uang akan selalu menjadi kontributor utama dalam pemeriahan yang diinginkan ini. Ya, buat yang duitnya banyak sih nggak masalah. Mungkin sebagai simbol juga kalau kehidupan si pasangan yang menikah ini bakal makmur, orang nikahannya aja serba mewah gitu.

Hanya saja, di sisi lain, tidak sedikit juga orang mau membuat acara pernikahannya dengan sederhana saja. Tanpa harus bermahal-mahal, yang jelas, sudah cukup untuk memeriahkan agenda sakral tersebut, meskipun inginnya cukup sekali seumur hidup. Kebahagiaan tak seharusnya digambarkan oleh barang-barang yang bernilai tinggi, juga tidak mesti dengan pernikahan yang super mewah dengan menghabiskan banyak uang. Toh kemewahan juga bukan jaminan bahwa pasangan yang menikah akan bahagia selalu pasca pernikahan bukan? Maka, seadanya dan semampunya pun sudah cukup.

Bagiku, pernikahan cukup diadakan sederhana saja. Lagipula, sederhana belum tentu kumus-kumus kan? Sederhana juga bisa diatur dengan rapi, jadi bisa terkesan mewah. Biaya pun juga nggak perlu keluar banyak. Ketika semua undangan datang dan mendoakan, serta orang tua pasangan yang sangat bahagia ketika acara ini berlangsung, bagiku itulah kemewahan yang sesungguhnya. Percuma juga kalau udah ngeluarin duit banyak tapi ada yang nggak bahagia, terlebih salah satu dari pasangan atau orang tua yang merasa tak bahagia. Uwh, sungguh miris!

Satu lagi, Pernikahan bukan ajang pamer. Baik hari H nya maupun sebelum hari H, mau itu proses lamaran kek atau proses nyeriusin pasangan, yang jelas, mau hidup berdampingan itu nggak perlu sampai pamer. Cukup minta doa restu orang tua, kawan-kawan, sanak saudara juga, atau kalau perlu guru-guru baik di sekolah maupun dosen di universitas atau siapapun yang dianggap guru dah. Nanti kalau nikahan juga orang-orang kan kamu undang. Di saat nikahan itulah mereka mendoakanmu dan pasanganmu.

Jadi, seharusnya pernikahan itu sederhana saja. Lebih baik dibikin serapi mungkin biar kelihatan atau terkesan mewah. Nggak harus kok ngeluarin duit banyak. Dan juga nggak perlu pamer, mending minta doa restu. Atau, doain teman-temanmu yang belum muncul jodohnya biar bisa segera seperti kamu. Itu lebih baik.

PACARAN DAN MENIKAH, SEBUAH KEBANGGAAN?


Bangga sudah pacaran? Bangga udah mau nikah? Bangga sudah punya pasangan? Bangga sudah menikah? Bangga sudah pacaran bertahun-tahun? Bangga sudah bisa beliin pacar kado ulang tahun? Bangga sudah bisa beliin pacar ini itu? Bangga sudah kenalan sama ornag tua pacar? Bangga Sudah punya anak?

Ya harus bangga dong! Tapi, eits. Nggak semua perlu dibanggain. Kalau sudah punya pasangan sah ya boleh bangga. Tapi kalau pacar-pacaran, mending nggak perlu bangga dulu deh. Karena seperti yang kujelasin sebelumnya, pacaran itu isinya main-main aja. Pokoknya suka, yang penting bahagianya kalian berdua aja. Udahlah, masih ada yang harus kamu kejar, sampai secara lahir bathin kamu sudah siap hidup berdampingan dengan lawan jenis. Kamu perlu berteman dulu dengan orang banyak. Nggak aneh kalau nanti pacarmu akan melarangmu berteman dengan siapa saja.

Lagipula dengan pacaran, waktumu akan habis dengan dia melulu. Kapan mau belajar? Kapan mau mengembangkan diri? Kapan mau berbakti pada orang tua? Kapan mau mengejar cita-cita? Sadari kalau pacarmu itu juga sama-sama masih muda. Sama-sama masih mengejar impian. Sama-sama duitnya masih minta orang tua. Bangga itu kalau sudah menikah. Sudah sah! Kalau masih proses nyeriusin, atau baru lamaran, jangan bangga dulu, apalagi pamer-pamer ke orang-orang. Masih belum pasti! Yang udah nikah aja masih ada kemungkinan bisa pisah! Bukan nakut-nakutin, tapi aku mau mencoba mengatakan, "Berhenti jadi orang sombong". Itu secara tidak langsung sombong, baik secara langsung, maupun tidak langsung. Nggak perlu berperilaku seakan-akan dunia milik kalian berdua! Ingat, dunia ini dihuni oleh milyaran orang! Dikira orang lain ngontrak apa?

Buat yang sudah menikah, boleh banget bangga. Tapi, tetep, jangan sombong, pamer-pamer. Mending doain kawan-kawan di sekitarmu atau orang lain yang belum bisa menempuh hidup baru dengan pasangan seperti kalian. Dan, menikah juga bukan untuk pamer-pameran. Karena, menikah adalah awal mula kamu memulai hidup tanpa permainan dengan segala jatuh bangunnya. Hidup tanpa cengeng-cengengan, tanpa manja-manjaan, siap mengasuh anak, mendidik anak, menyiapkan generasi penerus bangsa, bekerja sama dengan suami, menjadi keluarga baru dan menghadapi realita hidup yang super ganas, tanpa ayoman orang tua. Wuh, dikira nikah itu buat bangga-banggaan, kalau aku sudah punya, kamu belum punya, weeeekkk! Hina banget motivasi menikahmu. Kalau kayak gitu, kawan-kawanmu yang masih berusaha memperbaiki diri dan belum menikah, belum punya calon, itu martabatnya jauh lebih terhormat!

Aku tetap menaruh hormat pada yang masih berusaha mengejar jodoh dengan cara yang luhur, tidak dengan pacar-pacaran, tidak dengan mengatakan "ini bukan pacaran" padahal masih jalan berduaan gandeng-gandengan vidcallan sayang-sayangan cinta-cintaan bawa-bawa agama segala, yang selalu mendoakan kawan-kawannya, yang sudah menikah dan menjalani kehidupannya dengan penuh perjuangan, dan yang masih ingat kalau nikah dan pacaran itu tidak untuk bahan bangga-banggaan.

Dan tetap, di akhir, aku tetap mengucapkan selamat kepada kawan-kawan yang telah berani memantapkan hati meminang orang yang dicintainya, menikahi dan mengucapkan ijab qabul, janji suci, dan siap menerima pasangan sahnya apa adanya. Itu berarti, kalian memang benar-benar siap mengarungi dunia yang semakin korat-karit ini dengan niat tulus ikhlas. Selamat! Buat kalian yang masih pacar-pacaran, udah, segera nikahin aja! Daripada nggak enak di belakang, atau daripada kebablasan, ups! Hahahaha! hanya orang yang pacaran yang tahu, Aku mah apa.

Bagaimana menurutmu?
Sudah semakin emosi?

Komentar

Paling Banyak Dibaca

Perjalanan Ke Gontor Putri 3

Pengangkatan mudabbir

Catatan Yudisiumku