Langsung ke konten utama

Ngecat Tembok Orang di Kampung Hijau Kota Batu


Keren, jooonn! Satu kata yang terbesit dalam hati dan pikiran saat pertama melihat lukisan karya adek-adekku di salah satu sudut Kampung Hijau di Desa Beji Kota Batu Jawa Timur ini. Mereka (Rahmi Rabbani/Rara, Dhia Amira/Mira, juga teman mereka yang juga satu pondok denganku yaitu Abdurrahman Daud/Daud) dengan asyiknya melukis di tembok rumah warga tanpa nampak rasa lelah.
Sek-sek, tunggu. Ini bukan aku promosi Kampung Hijaunya lho ya, meskipun secara nggak langsung bisa semacam ngepromoin sih, hahaha. Aku cuma ingin ngangkat lukisan mereka aja. Mereka ngecat ntu tembok dalam rangka lomba mural. Deadlinenya pas tadi malem (13/1). Jadi,
Dhia Amira sedang mengecat di bagian
bawah tembok
ngebutlah mereka. Ceritanya, mereka berkelompok. Unik! Yang mereka gambar itu ada dinosaurus gede, ada yang keluar dari bunga, ada yang berlapis tempe, pokoknya lucu dah! Katanya, temanya sih purbakala.

Di luar nalar sih. Soalnya, waktu mereka tuh mepet. Seingetku, sejak hari Jum'at mereka udah mulai dan nggak lancar gitu aja. Hujan mulu! Udah gitu lama hujannya. Jadinya, mereka nunggu sambil duduk depan rumah warga yang berbaik hati nyediain bagian depan rumahnya buat jadi base camp sementara, bahkan sampe tidur-tiduran, saking lamanya nunggu ujan. Nah, pas aku sekeluarga ngunjungin mereka kemaren sore, jelas kaget dong. Soalnya, udah jadi
Rara, walau capek, tapi masih semangat.
Senyumin aja.
segitu kerennya. Halus banget! Dipikiranku, ngecat kayak gini kan butuh seminggu lebih. Buatku lho ya. Buat mereka, tiga hari jadi, man!

Peralatannya dari mana dong? Untungnya udah disediain! Catnya ada, beberapa warna pula. Yaa, meskipun mereka tetep beli beberapa pigment juga sih biar lebih variatif. So, asyik-asyik aja. Hahahaha. Capek sih iya, tapi wuih, orang-orang di Kampung Hijau baik banget. Mereka sampe disediain minuman sama makanan. Kata ayahku, "Namanya orang ngecat, itu pasti laper! Kalau udah ada yang nyuguhin makanan, senengnya nggak ketulungan!". Setelah ayahku bilang kayak gitu, aku langsung keinget pas ngerjain skripsi dulu. Kayaknya rasanya sama. Soalnya, ngerjain skripsi itu bikin laper! Ngaku deh
Daud sedang mengecat dengan santai
namun berkualitas
kamu-kamu yang udah ato lagi ngerasain skripsian. Wajar aja tuh berat badan naik drastis. Hahaha.

Waktu ngunjungin mereka kemaren, ayahku sempet ngasih masukan. Aku coba nyerna masukan-masukan dari beliau. Aku kan bukan ornag seni, tapi paling nggak aku jadi ngerti dikit-dikit soal gambar menggambar, apalagi di outdoor gini. Btw, Ayahku ngasih masukannya ke mereka bertiga dan mereka langsung ngeh. Akunya aja yang masih loading. Tapi paling nggak lumayan dapet ilmu baru. Bisa buat nambah ide kalau pas lagi ngedesain. Masukan-masukannya apa aja? Rahasia bos! Hahaha... Nggak tahu mereka bertiga nerapin apa nggak langsung lihat lukisannya aja di Kampung Hijau Kota Batu!
masukannya. Kayaknya sih iya. Jadi, kalau mau tahu, mending


Lagi ngobrolin, "Enaknya dikasih
warna apaan neh?".
Oh iya, ngomong-nomong soal kampung hijau, aku jadi inget Kampung Warna-warni Jodipan yang udah terkenal banget kalau ini besutan anak-anak Ilmu Komunikasi UMM (Universitas Muhammadiyah Malang). Kontroversinya juga banyak. Cari aja sendiri gimana. Hahaha. Yang jelas, mereka kreatif! Tapi, bantuan untuk mereka itu sulitnya amit-amit, kalau nggak salah. Apalagi masalah izin-izin. Entah bener atau salah, kayaknya sejak ada Jodipan, banyak kampung wisata bermunculan di Malang. Ada Kampung Cempluk (akan kuceritain di postingan lain), Kampung Dokar, Kampung Putih dan lain-lain. Kampung Hijau sebenenrnya juga hasil kerjasama anak-anak Ikom UMM juga dengan beberapa pihak. Kalau nggak salah pihak yang sama dengan yang di Jodipan, soalnya di pamflet-pamflet yang dipasang di sepanjang jalan kampung hijau, itu keliatan banget nama-nama pihak yang berkontribusi di Jodipan. Yaa gitu deh. Berarti ini juga hasil praktikumnya anak-anak Public Relation nya Ilmu Komunikasi UMM.

Sebenernya, sebelum Jodipan disulap jadi mencolok dan menarik perhatian orang (sebenernya meskipun nggak dicat juga harusnya menarik perhatian karena kampung di pinggiran sungai dan bawah jembatan ini yang sisi sosialnya perlu disorot!), ada kampung yang udah muncul ke permukaan dan punya gerakan unik, yaitu Kampung 3G (Glintung Go Green). Tapi, orang mah, sukanya sama wisata, bukan sama gerakan kayak genee.. Akhirnya, kampung-kampung disulap jadi destinasi wisata dengan ngangkat kearifannya. Kalau soal bagaimana mengelola masyarakat kampung, aku sempet dapet inspirasi dari Kang Rahmat Jabaril, dalang di balik Kampung Kreatif Dago Pojok di Bandung. Soal Dago Pojok, akan kuceritain di postingan lain juga. Hehe.

So, Yuk mampir nengokin lukisan Rara, Mira dan Daud!
Di mana tempatnya? Hmmm, makanya baca dari awal!



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Ke Gontor Putri 3

Owh.... Jum'at siang itu.....


Aku berangkat menuju tempat adik2ku berjuang. Di Gontor Putri 3, Karangbanyu, Widodaren, Ngawi. Jauuuuhh..... Puol... Yah... aku ingin melihat keadaan adikku di sana. Semoga mereka baik2 saja dan mereka bisa belajar dengan baik dan mendapatkan pendidikan yang sangat banyak. Mumpung hari2 ini masih kosong dan para santri sedang belajar untuk persiapan ujian tulis, ya... kenapa nggak. Sama, di gontor putri juga sedang hari2 belajar dan belum memulai untuk ujian. Perjalanan sungguh jauh. Aku sendiri masih mikir2 sebelum berangkat gara2 saat itu aku dalam keadaan seperempat sakit kepala. Sakit kepalanya nih, sisa dari sakit kepala 2 hari yang lalu yang pas sebelum UAS (seperti yang kuceritakan sebelumnya). Ok lah! Bismillah. Yakin semua akan baik-baik saja. Everything is Gonna be Okay!. Sebelum berangkat aku makan sop kikil dulu di warung lalu naik bis. Perjalanan dimulai....
Pertama naik, untung ada tempat duduk. Tapi, yang duduk di depanku nyalain AC. W…

Pengangkatan mudabbir

note : mudabbir: Pengurus di pondok gontor yang diambil dari kelas 5
rayon : Asrama

Tanggal 15 syawwal 1430 h / 4 Oktober 2009 m

Hehehe..... pengangkatan mudabbir. adalah suatu acara yang ditunggu2 oleh segenap siswa kelas 5. Gimana nggak lha wong itu yang menentukan dia tuh jadi pengurus atau jadi pengangguran gak punya kerjaaan selain ke Masjid dan Insya Allah cuma itu dan gak ada kerjaan lain... tapi beda dengan orang yang otaknya encer dia akan memanfaatkan waktukosong untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat.
Waktu itu aku bareng temen2 ITQAN berangkat bareng dari Gedung Tunis Lantai 2 ke masjid Lantai dua dengan menggunakan baju putih, peci dan celana hitanm serta tak lupa buku tulis dan pena tentunya. Saat yang mendebarkan... Hatiku bertanya2 aku jadi mudabbir ga ya?? kalo iya mudabbir rayon mana??? sedangkan aku sekarang duduk di kelas 5R . Rasanya ga mungkin aku jadi Mudabbir karena untuk memungkinkan jadi Mudabbir itu kelas B sampai N. Dibawah itu proletar semuanya. tah…

Beberapa moment yang terlewat....

Foto 1 : Saat rekan konsul saya sedang merencanakan suatu acara, kami mesti berkumpul di suatu tempat agar mudah menyetarakan pendapat serta menyelesaikan kendala-kendalanya. Saat saya kelas empat KMI, tempat yang paling sering kami gunakan untuk berkumpul adalah rumah salah satu dari rekan konsulat malang yaitu Hirzul. Tapi, sekarang sudah tidak lagi karena ada beberapa masalah, akhirnya tempat berkumpul berpindah ke rumah Hisyam.


Foto 2 : Hmmm..... Indahnya kota Kediri memang tak seindah Kota Malang. Tapi, apa salahnya jika saya berkunjung ke pusat Kota ini. Saat itu, saya sedang menemani teman untuk suatu keperluan. Karena waktu Sholat Ashar sudah masuk, kami mencari masjid untuk Sholat. Ketemulah Masjid Agung Kediri. Bangunannya yang mega membuat saya terkagum-kagum sampai2 saya sempat mengambi gambar di masjid ini. Dari masjid ini saya bisa melihat ramainya jalan raya yang tiada habis dengan kendaraan serta alun-alun yang tak pernah kosong dengan pejalan kaki dan pedagang kaki …