SUKA DUKA MEMPERJUANGKAN STUDI LUAR NEGERI

Mewujudkan agar bisa kuliah di luar negeri nggak semudah ngomong "aku pasti bisa kuliah di luar negeri". Wuih bener capek. Yang nggak pengen capek, mending mikir-mikir dulu dah buat kuliah ke luar negeri. Suer deh. Daripada nggak jadi. Ini aja aku masih ragu apa aku bakal kuat. Tapi, selama masih optimis, pasti Yang Maha Kuasa bakal ngasih jalan.

Ceritanya...
Pelan-pelan ya. Flashback dulu.

Saat SD, aku berkeinginan dan bercita-cita ingin menjadi Professor. Agar bisa memberikan kontribusi penting bagi bangsa. Aku ingin bisa memajukan bangsaku dengan menjadi seorang professor.

Waktu berlalu, aku masih ingat dengan cita-cita seorang anak SD yang culun itu, walau dia pernah
juara kelas di saat akhir kelas 6 SD. Hahaha. Saat studi di pondok, aku banyak berkegiatan menulis, berjibaku dengan komputer dan kesekretariatan, serta pengalaman organisasi lain. Secara akademik, rendah! Tapi, aku semacam tak peduli. Yang penting jalani dulu aja. Singkatnya, aku lulus dengan lega, mengabdi di salah satu pondok Gontor cabang sembari kuliah jurusan perbandingan agama.

Namun, takdir telah tertulis. Ibuku almarhumah memintaku untuk pulang dan lanjut kuliah di Malang. Sempat bingung memilih jurusan karena suka sejarah tapi malah nggak keterima. Akhirnya masuklah ke sosiologi, setelah mendapat inspirasi serta mengingat kembali cita-cita masa lalu dari paman. Beberapa bulan pasca pertama masuk kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang, ibuku wafat. Setahun setelah itu, hadirlah ibu yang sangat kuat dan tegar dalam mengantarkanku juga adik-adikku menuju masa depan cemerlang, bersama ayah kami tentunya.

Selama belajar di bangku perkuliahan, aku semakin tertarik belajar, meskipun secara perilaku dan penampilan, aku seperti orang yang tidak niat belajar. Semua berlalu sampai pada saat di mana muncul keinginanku untuk kuliah di luar negeri. Mengarungi luasnya ilmu sosiologi dari negara-negara asal para sosiolog-sosiolognya. Harus bisa pokoknya kuliah di luar negeri.

Seiring berlalunya waktu, keinginan itu masih ada, namun belum ada usaha untuk mencari bagaimana mencapainya. Hanya sebatas ingin. Waktu itu, tertutup dengan penuntasan tugas akhir yang bikin puyeng dan tanggungjawab organisasi dengan segala dinamikanya.
Usai lulus, barulah kusadar bahwa aku sudah kelewat langkah jauh. Harusnya, aku harus nyiapin segalanya sejak lama.

Gimana nggak? Buat ke luar negeri, aku harus bisa bahasa inggris karena buat daftar kan harus punya sertifikat TOEFL atau IELTS. Biar bisa dapet ntu sertipikat kan aye kudu ikut tes. Udeh tes, mikir, bayar lagi. Bego ape gimane sih? Hahaha. Toefl sih mending, soal-soalnya pilihan ganda. Kalau IELTS, nggak ada ceritanya milih A B C tanpa mikir. Kudu mikir, man! Soalnya pertanyaannya essay. Dan dituntut untuk paham. Walaupun, tes toefl juga butuh skill bahasa inggris yang bagus sih. Hanya saja, dengan ngeliat kondisi kayak gitu, kan akhirnya belajar buat bisa IELTS jadi lebih lama. Belajarnya juga ga asal belajar. Di mulai dari belajar grammar dasar, sebulan lah. Kalau kurang ya akhirnya dua bulan. Abis itu belajar reading, listening dan coba-coba belajar reading for IELTS. Itu juga nggak cuma sebulan. Lama kan? Belum lagi IELTS ada 4 skill yang harus dikuasai kayak reading, listening, speaking dan reading. Sangat lama. Apalagi aku sulit banget buat belajar serius. Jadilah makin lama. Salahku sih, nggak bisa belajar serius. Beruntungnya mereka yang bisa belajar mati-matian. Akhirnya pada ke luar negeri duluan. Aku belajar bentar aja udah laper. Mereka kan bisa nahan laper.
Singkatnya, aku belajar bahasa setahun lebih. 3 bulan di kampung inggris pare, 3 bulan di English First, 1 Bulan di Royal Malang, 3 Bulan lagi di Pare, 1 bulan self study di rumah, test TOEFL sekali dan dapet 510 hingga test IELTS 2 kali dari dapet band score 5.5 sampai naik dikit ke 6.0. Cukup lama dan buang-buang waktu bukan? Saat aku belajar, teman-temanku sudah pada bekerja, menghasilkan uang, siap menikah, bahkan si dia juga mau menikah. Hahahaha. hus hus. Salah fokus. Lupakan!

Selain itu, selama belajar, aku juga mencoba mencari info-info kampus dan beasiswa dari rankingnya di dunia, ranking di benuanya, ranking di jurusan tingkat internasional, sejarahnya, tradisi ilmunya, dan tentu persyaratan-persyaratannya. Apalagi soal persyaratan ini. Makin lama aku makin menyesal, karena semua persyaratan itu bisa kulengkapi dengan mudah kalau aku sudah banyak komunikasi dengan dosen-dosend an professor-professor dari dulu. Banyak berkas yang harus kusiapin dan perlu banget ketemu dosen-dosen seperti surat rekomendasi, dan lain-lain.

Masih semangat buat baca?
Kalau nggak, tutup sekarang! Karena mungkin cerita hidupku nggak penting buat kamu.

Udah tutup. Soalnya mau kulanjutin di postingan lain. Part 2 nya.
Lanjuuuuttt............

Komentar