SUKA DUKA MEMPERJUANGKAN STUDI LUAR NEGERI Bagian 2

Lanjutan...
Jadi, 2 tahunku yang nampak sebagai orang "nganggur tak punya pekerjaan dan kerjaan" jika dibandingkan teman-temanku atau para kerabat, kuisi dengan belajar bahasa, tes bahasa, nyari info kampus, mbandingin, daftar-daftar kampus dengan persyaratan yang seadanya, nerjemahin dokumen-dokumen, coba-coba daftar beasiswa meskipun sering submit di injury time karena sok-sok pengen nulis essay bagus, juga sampai bikin personal statement atau motivation letter buanyak dengan tujuan kampus bermacam-macam. Yah... sampai sering banget scan dokumen, ke dosen, scan, ke dosen lagi. Banyak. Sempet juga daftar ke sebuah kampus yang mengharuskan aku ngirim berkas asli ke sana di mana biayanya mahal banget, namun apa daya dokumennya nggak nyampai juga. Tuhan Maha Berkehendak dan Maha Mengatur Segalanya. Eits, yang namanya ngedatengin edufair, udah berapa kali tuh.

Begitulah...

Tapi aku dapet pelajarannya. Yang tadinya nggak punya SKCK akhirnya jadi tahu gimana ngurusnya. Tahu juga bagaimana sih ngirim dokumen ke luar negeri. Ngerti kalau edufair itu nggak cuma sekedar tahu persyaratan daftar kampus, karena kalau kita punya riset yang menarik, ntar bisa diprioritasin buat daftar. Kalu cuma pengen tahu kan bisa cukup dengan ngunjungin webnya. Aku juga akhirnya punya kartu BPJS karena dapet beasiswa MSPP (Muhamamdiyah Scholarhsip Preparation program) karena menyaratkan untuk punya BPJS. Buanyak! Aku mendapat pengalaman dari kawan-kawanku juga soal studi di luar negeri, cerita-cerita mereka.

Cemoohan juga banyak sih. Yang bilang untuk nggak usah karena nggak mungkin juga banyak. Yang nyemangatin buat kuliah di Indonesia juga nggak sedikit, dengan berbagai alasan. Entah kenapa badai-badai ini semacam angin lalu saja bagiku. Aku juga heran, kok ya aku jadi orang yang tak akan pernah bergeming dari usaha biar bisa kuliah ke luar negeri. Aku yakin orang-orang udah males lihat muka dan keberadaanku karena aku pengen ke luar negeri tapi belum berangkat juga. Akhirnya dibilanginlah lagi aku untuk mending di dalam negeri aja. Karena kalau dalam negeri kan sudah pasti keterimanya.Itu juga tetep aja jadi angin lalu.

Aku bersyukur, kedua orang tuaku masih selalu memberikan dukungan buatku yang bahkan tak pernah bergeming dari usaha mencapai yang kucita-citakan. Harusnya aku tahu diri sih. Semuanya ini butuh uang. Dan kamu tahu kan wahai pembaca, apa saja yang kulakukan selama 2 tahun itu? Bukankah itu butuh duit banyak? Sangat! Saking nggak enaknya aku, aku pengen coba-coba cari uang dengan berkarya melalui tulisan, video, bikin toko online yang ujung-ujungnya kurang maksimal juga. Bahkan, aku juga kena tipu orang asing yang harus bayar 2 juta. Mungkin itu biasa. Bagiku, nyari Rp 100 aja susah, gimana 2 juta?

Hingga pada akhirnya, aku sadar bahwa aku sudah menunda waktu hampir 2 tahun. Aku harus segera mencari cara. Kulakukan pendaftaran ke segala tempat baik dalam maupun luar negeri, sesuai arahan ayahku. Banyak! Jerman, Inggris, China, Saudi Arabia, Malaysia bahkan Republik Ceko. UNAIR juga kudaftarin.

Singkat cerita, aku lolos di 2 tempat. di UNAIR dan Republik Ceko. Untuk daftar-daftar, asal kamu tahu wahai pembaca, butuh duit juga, banyak malah. Aku makin merasa bersalah. Aku harus memilih antara 2 tempat itu. Keputusan akhir antara aku dan kedua orang tua, kami memilih menyeriusi kuliah di Ceko, Masaryk University tepatnya. Aku mengikuti arahan yang diberikan pihak kampus guna mempersiapkan keberangkatanku seperti berkas-berkas penting yang sudah dilegalisasi oleh kementerian guna penyetaraan gelar S1 di Indonesia dengan Ceko, visa, booking asrama, pembayaran registrasi dan masa orientasi, panduan untuk pemrograman mata kuliah dan hitung-hitungan biaya.

Semua telah kuhitung mulai dari SPPnya yang sebanyak 6000 EUR selama kuliah 2 tahun, biaya hidup per bulannya dan juga untuk keperluan visa. Aku masih juga menyusahkan ayahku dengan mohon bantuan untuk mengajukan bank statement. Duh, karena ini biaya sendiri, aku jadi agak nggak enak sebenarnya, soalnya adik-adikku perlu juga untuk ditopang kebutuhannya. Tapi, dengan tekad yang kuat dan optimisme, pasti bisa. Ketika orang tua ikhlas, semangatku pun tak kandas.

Sudah capek? 
Tutup aja. Ini masih banyak.

Pengurusan visa sangat dan kuliah luar negeri sangat butuh berkas-berkas banyak. Aku harus mengurus SKCK khusus untuk luar negeri sebagai syarat pengurusan visa, dan juga legalisasi-legalisasi beberapa dokumen yang super ribet. Gimana nggak ribet, ngurusnya di Jakarta! Ribetnya ngurus berkas akan kuceritakan di postingan lain.

Sejauh ini, telah banyak uang keluar demi persiapanku menuju kuliah di luar negeri. Tanpa beasiswa. Bagiku, dan jug aorang tua, beasiswa akan menghambat langkah gerak kami. Karena jika menunggu beasiswa, kami nggak akan segera maju, walau tak bisa dipungkiri bahwa beasiswa amat menguntungkan. Yah.. aku tahu diri lah. Aku masih segini-gini aja, yang bahkan tak sukup kemampuanku untuk menerima sebuah penghargaan dari beasiswa. Yang kubisa hanyalah bergerak dengan tanganku sendiri. Toh, aku sudah diterima di kampus di luar negeri. Penerimaannya juga nggak main-main, ada seleksi berkas, ada juga seleksi wawancara lewat video call oleh kaprodinya langsung yang seorang associate professor. Aku hanya bisa berharap, keluarnya uang, tenaga, waktu dan kesempatan ini benar-benar mampu memberikan hasil yang sangat gemilang, apapun. Dan apapun hasilnya, aku sekeluarga menerimanya dengan lapang dada, sesuai dengan kehendak Yang Maha Kuasa.

Semoga tulisan nggak jelas ini bisa jadi motivasi buat teman-teman untuk terus semangat. Orang yang lemah kayak aku aja bisa, masa' kalian yang pinter nggak bisa? Pasti bisa dong! Bisa kok!

Komentar