Ikut Nimbrung dalam Sosialisasi Mengenai Cerdas Bermedia Sosial


"Sosial Media kini bagaikan sumber pengetahuan. Anda dapat mencari apapun yang ingin anda ketahui di sosial media"

Begitulah kira-kira penggalan kalimat yang saya sampaikan pagi tadi di depan bapak ibu wali murid SD Muhammadiyah 6 Lawang bersama 3 orang dosen Sosiologi UMM, yaitu Ibu Tutik Sulistyowati, Ibu Luluk Dwi Kumalasari dan Mas Aan Sugiharto. Pagi tadi, kami berempat bersinergi dalam menyosialisasikan how to deal with social media dengan cerdas.  Ini merupakan kesempatan emas buatku secara pribadi karena tak semua orang dapat merasakannya. 

Sebenarnya sosialisasi ini merupakan bagian dari program Pengabdian Kepada Masyarakat yang dilakukan oleh Bu Tutik, Bu Luluk dan Mas Aan. Diikutkan dalam program ini merupakan suatu kehormatan bagiku, karena yang bisa melakukan pengabdian masyarakat hanya dosen yang sudah ber-NIDN. Sedangkan aku masih belum, terlebih masih alumni S-1. Jadi, yaaa gimana nggak bersyukur :D.

Sosialisasi yang dilakukan pada hari Sabtu kemarin (21 September 2019) di SD Muhammadiyah 6 Lawang ini dimulai dari pukul 09.30 sampai sekitar pukul 12.15. Penyampaiannya didahului oleh Mas Aan, kemudian aku, dilanjutkan Bu Tutik dan terakhir Bu Luluk. Pembagiannya, Aku dan mas Aan menyampaikan mengenai pengenalan beberapa maca media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, YouTube, sampai Tik Tok. Sedangkan Bu Tutik dan Bu Luluk menyampaikan mengenai bagaimana peran orang tua dalam mengontrol anak-anak ketika menngunakan gadget dan media sosial.

Sedikit Opini Tentang Bermedia Sosial Bagi Orang Tua dan Anak
Penggunaan perangkat-perangkat canggih masa kini memang tak bisa dihindari oleh masyarakat zaman ini di segala umur. Baik orang tua maupun anak-anak pasti akan memiliki kesempatan menggunakan dan memanfaatkannya. Tapi, diperlukan kontrol lebih lanjut baik pada diri dan orang lain khususnya orang terdekat mengenai penggunaan perangkat-perangkat tersebut. Untuk bisa melakukan pengontrolan, perlu adanya pengetahuan yang cukup dalam penggunaan gadget dan media sosial.

Ada yang jadi permasalahan. Seringkali penggunaan gadget dan media sosial masih kurang cerdas dan cermat. Banyak yang berpikir bahwa saat ini adalah era teknologi, sehingga wajar jika anak kecil diperbolehkan mengonsumsi apapun yang diproduksi oleh barang-barang elektronik. Apalagi saat ini semuanya semakin canggih. Telepon genggam terutama.

Tak sedikit orang tua menyediakan gawai atau telepon pintar khusus untuk anaknya yang masih usia muda belia, yang masih belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, yang masih pada masa pertumbuhan, juga pada masa imitasi (meniru apa yang ada di sekitarnya). Bagi mereka, gawai untuk anak-anaknya adalah jalan agar mereka tak ketinggalan zaman. Tapi, apakah kita tidak memikirkan bagaimana dampaknya?

Dampak positifnya, anak-anak jadi tahu banyak hal. Mungkin bisa belajar juga. Namun, negatifnya, anak-anak melupakan hal-hal motorik yang sebenarnya dibutuhkan untuk perkembangan tubuh mereka di masa-masa pertumbuhan. Mereka jadi semakin malas karena terfokus pada gawainya. Bahkan, tak sedikit yang memanfaatkan gawai hanya untuk bermain game. Bukankah ini semacam merenggut masa-masa emas mereka?

Jika orang tua memang benar-benar mau anak-anaknya tidak ketinggalan zaman, boleh saja sih menyediakan gawai. Namun intensitasnya tidak sering-sering juga dan yang terpenting adalah pendampingan. Akan nihil hasilnya jika penyediaan gawai tidak dilengkap dengan pendampingan inens dari orang tua. Jika tak ingin beresiko karena khawatir kehilangan waktu untuk pekerjaan, maka lebih baik memberikan banyak kesempatan bagi anak-anak untuk hal-hal lain selain gawai seperti permainan fisik yang mengasah otak, membaca buku, mengenalkan gambar-gambar hewan dan benda-benda, dan lain-lain.

Bagaimana pendapatmu?  

Komentar