Apa yang Kurasakan Ketika Sudah Bisa Studi S2 di Luar Negeri

Setelah berproses untuk waktu yang lama, akhirnya ada tanda-tanda aku bisa lanjut kuliah S2 di luar negeri. Walaupun di Malaysia, negara tetangga, tapi tetep aja prosesnya panjang dan nggak bisa diremehin! Gimana nggak? Coba bayangin:

1. Malaysia itu multikultur. Nggak semua bisa pakai bahasa melayu. Toh orang Indonesia juga nggak semua paham bahasa Melayu;
2. Kampus tujuanku peringkatnya nggak main-main. Masuk 200 besar loh tingkat ranking dunia. Tentu nggak semua orang bisa masuk sana dan bisa ke Malaysia.
3. Persyaratan masuknya, harus mempunyai sertifikat IELTS minimal 6.0. Buat dapet skor 5.5 aja aku usaha keras pake banget. Alhamdulillah IELTS ku sekarang 6.0 walaupun sebenarnya masih sangat kurang karena rata-rata kampus luar negeri menyaratkan minimum skor IELTSnya adalah 6.5.

dan berbagai faktor lain.

Jujur saja, yang kurasakan sekarang adalah:

1. Takut. Khawatir bahasa Inggrisku masih belepotan dan nggak semua orang Malaysia memahami omonganku;
2. Takut juga. Khawatir kualitasku tak bisa seimbang dengan mahasiswa-mahasiswa di sana. Atau bahkan takut mengecewakan Profesor yang menjadi supervisorku. Beliau bisa jadi berekspektasi besar bahwa aku mampu menorehkan prestasi gemilang, tapi sebenarnya aku takut tidak bisa mencapainya;
3. Takut lagi. Khawatir kalau nanti ketika seminar proposal atau depent, aku kurang mampu menyampaikan dengan baik isi proposalku karena bahasa yang belepotan dan cara ngomong yang masih ngalor ngidul. Entah bagaimana juga nantinya dengan ujian thesisku;
4. Ragu. Ragu apakah aku benar-benar bisa tahan banting untuk istiqomah belajar, juga evaluasi dari orang-orang sekitar akan proses belajarku yang mungkin menemui banyak kekurangan dan kecacatan;
5. Agak sedikit percaya diri. Karena Profesor mengatakan bahwa rencana penelitianku dapat dilanjutkan ke program fast track to PhD. Membaca hasil penilaian beliau, aku jadi semangat;
6. Bingung. Karena sebenarnya pekerjaan di kampus sangat banyak, tapi sekolah S2 adalah kebutuhanku.

Semoga aku bisa melaluinya. Sampai hari ini, aku masih perlu meyakinkan diri. Bahkan, sampai detik ini, aku belum membeli tiket pesawat untuk berangkat. Padahal rencanaku adalah hari Selasa, 19 November 2019, aku akan pergi ke Penang untuk melakukan cek kesehatan dan mengurus administrasi pendaftaran. Semoga lancar wahai diriku. Aamiin.

Mau kuliah ke luar negeri? Ayo! Siapin dari SEKARANG! Menunda persiapan akan menunda keberangkatanmu ke negara yang kamu tuju dan cita-citakan!

Komentar