Mimpi dan Kemampuan Meraih Mimpi


Salah satu nasihat ayah saya, dengan beliau mengutip kata-kata dari Bapak Menko PMK RI saat ini, yaitu "Bermimpilah setinggi-tingginya. Toh mimpi itu gratis". Ada juga yang mengatakan, "Meraih mimpi itu harus setinggi-tingginya. Kalau kita tak bisa mencapai langit, setidaknya kita masih tersangkut di ujung pohon kelapa yang tinggi".

Foto di atas adalah pemandangan yang saya saksikan melalui jendela pesawat terbang salah satu maskapai Indonesia dari Penang ke Jakarta. Saya bersyukur banget bisa agak berkali-kali menikmati pemandangan kayak gini. Dulu, mentok-mentok ya naik angkot. Lama-lama tahu bagaimana naik bus. Semakin tahun, saya akhirnya mencoba kereta api. Lalu, masa-masa perkuliahan S1 lah yang membuat saya pertama kalinya menikmati moda transportasi udara, yaitu pesawat terbang. Ini salah satu mimpi, tapi bukan inti.

Semua orang punya mimpi yang beragam. Bahkan, sesederhana ingin tahu rasanya bagaimana naik pesawat terbang. Saya pribadi juga punya banyak mimpi, seperti kuliah di luar negeri, menjadi Professor di usia muda, menikah dengan uang sendiri, jadi public figure, dan seabrek banyaknya. Anda pun demikian (punya mimpi yang banyak). Tapi, pernah kan kita ketemu orang yang seperti tidak suka dengan mimpi-mimpi kita, atau orang yang ragu kalau kita bisa mencapai mimpi? Saya sering banget.

Ambil contoh, studi di luar negeri. Suatu kesyukuran bahwa saat ini saya sudah berhasil mewujudkannya. Meskipun di negara tetangga, tapi kerasa banget perbedaannya. Itulah yang membuat saya tetap merasa berbesar hati. Sekedar informasi bagi anda, untuk bisa seperti ini, saya mengalami betapa banyaknya orang meragukan kemampuan saya. Saya nyadar sih sebenernya karena bahasa inggris nggak pinter-pinter banget, pinter juga kurang, apalagi saya tidak punya banyak prestasi. Merasa minder karena banyak mahasiswa-mahasiswa Indonesia di luar sana yang pinter-pinter dan berhasil dapet beasiswa adalah hal yang tak jarang saya rasakan.



Orang-orang selalu mempertanyakan mengenai keberangkatan saya ke luar negeri entah ke negara apapun itu, tentang keseriusan saya, tentang beasiswanya, juga tentang apa yang saya lakukan selama sebelum bernagkat studi karena nampak di mata mereka adalah seorang Rajih yang menganggur. Mereka hanya tidak tahu betapa sulitnya meraih impian studi lanjut di luar negeri dengan kemampuan diri yang pas-pasan. Mereka pikir studi di luar negeri sama halnya mendaftar perguruan tinggi di Indonesia. Seandainya mereka tahu, mungkin mereka akan bungkam seribu bahasa. Pikiran orang-orang pasti setelah lulus S1 ya cari kerja, atau ke luar negeri sambil kerja, kerja, kerja, uang, uang, uang, uanggg, uuuuaaaanggg, uanngggg.

Memang paradoks, sih! Uang bukan segalanya. Tapi, segalanya tak bisa didapatkan tanpa uang. Menurut saya, tak apa jika uang menjadi hal yang harus dicari bagaimanapun caranya. Tapi, tidak sampai jadi motivasi hidup juga, bahkan cita-cita. Jika ini terjadi, hal yang lebih penting dari uang akan mati dengan sendirinya. Tak jarang terjadi mengenai kasus orang-orang kaya tapi tidak bahagia padahal uangnya berlimpah dan mudah sekali bagi mereka untuk mendapatkan keinginannya. Memang benar jika uang itu untuk memudahkan meraih cita-cita. Hanya saja, jangan sampai nilai dari cita-cita itu musnah begitu saja hanya karena uang, sehingga pikiran kita tidak hanya soal melulu bagaimana mendapatkan keuntungan uang melulu, tapi hal-hal yang lebih substantif dari uang. Ngerti kan maksud saya?

Oke! Contohnya gini. Saya sangat bermimpi ingin jadi dosen. Lalu saya berusaha untuk bisa menjadi dosen dengan belajar sungguh-sungguh, beli buku, sekolah S1, sekolah S2, bahkan harus berkelana juga. Semua itu butuh biaya, kan? Ya sudah memang butuh biaya. Namun, setelah saya berhasil jadi dosen, saya lupa akan tugas dosen itu sendiri. Tugas dosen yangs eharusnya mencerdaskan anak bangsa, malah saya tinggalkan. Saya justru terfokus dengan mencari cara menambah ketebalan dompet saya, mengingat kebutuhan juga banyak, apalagi kebutuhan keluarga. Ini yang saya maksud dengan hilangnya nilai-nilai yang lebih substantif dan lebih didominasi oleh uang, uang dan uuuuaaaaannngggg.

Kembali ke persoalan mimpi! Kenyataan yang ada di dunia ini adalah manusia bisa banget untuk bermimpi walaupun kemampuan mereka belum mumpuni untuk meraih apapun yang mereka impikan. Kalau sudah seperti ini, ya mending beri ruang mereka untuk mewujudkannya, dong! Tidak perlu dinyinyirin di belakang, atau nanya-nanyain mulu. Percayalah, tiap orang punya waktunya sendiri-sendiri karena mereka juga punya kemampuan yang berbeda-beda. Nggak bisa dong disamaratain orang yang mau kuliah ke luar negeri itu sama pinternya seperti B. J. Habibie. Jangan nyinyir aja kerjaannya! Coba tengoklah pada diri kita sendiri. Apakah diri kita sudah mampu mencapai apa yang kita inginkan? Daripada nyinyir, mending saling membantu, deh! Itu lebih bermanfaat.

Jika orang-orang yang berusaha merasa kesulitan dan butuh bantuan, ya kita bantu. Cara bantunya juga bukan dengan menyudutkan mereka. Pintar-pinterlah baca karakter orang. Tidak semua orang sama seperti kita. Maka, sejatinya semua orang berhak untuk bermimpi dan berusaha mewujudkannya. Prosesnya beda-beda, jadi cobalah belajar memahami proses, bukan melulu melihat keberhasilan seseorang saja. Keberhasilan bisa diraih dengan usaha yang keras dan tangisan darah. Setahu saya gitu sih. Walaupun anda anak orang kaya dan mudah mendapatkan apa yang anda cita-citakan, ingatlah bahwa di balik kemudahan anda, ada orang-orang yang bekerja keras. Cobalah lebih merendah dan merenung!

So, siapapun boleh bermimpi! Sudah punya mimpi? Bagus!!

Komentar