Penyakit Tahun Baru


Serba salah sih kalau udah tiba tanggal 31 Desember di setiap tahun. Pasti banyak yang ngajakin malam tahun baruan (meskipun bukan pacar atau pasangan hahaha). Bagiku, bukan tradisi yang baik gitu kalau tanggal 31 Desember harus begadang sampai jam 12 lewat, main kembang api, menikmati keseruan pergantian tahun, dan biasanya juga dengan nuansa bersenang-senang. Hal seperti ini bagiku buang-buang waktu dan uang. Bayangkan, kita perlu beli jagung, ubi, arang, ikan dan ayam mentah mungkin buat dibakar, apalagi kembang apinya (ini the real buang-buang duit sih). Tapi, karena hal seperti itu sangat bisa digunakan sebagai media pemersatu dan semangat kekeluargaan untuk anggota komunitas-komunitas, akhirnya aku harus berkompromi pada diriku sendiri untuk mendukung. Artinya, ada pengecualian bagi diriku untuk setuju pada kegiatan seperti ini yang sifatnya memang bukan hura-hura, karena ada kebersamaannya dan menumbuhkan kekeluargaan. Makanya aku secara pribadi juga tak menegur teman-temanku yang ada di organisasi kemahasiswaan saat mengadakan bakar-bakar sate di malam tahun baru. Harapannya, kegiatan non-taktis itu bisa mempererat persaudaraan mereka, biar nggak kaku karena aktivitas organisasi yang banyak seriusnya memang (kuakui kalau soal ini).

Serba salahnya di mana?

Aku jadi nggak enak aja sama teman-teman yang ngajakin keluar, jalan-jalan, rame-rame motoran, atau makan-makan besar di tempat mewah, atau bakar-bakar tapi hanya untuk seneng-seneng belaka tanpa ada unsur perekatan anggota organisasi. Karena kalau diajak pasti ada aja alasanku, demi tidak ikut agenda tersebut. Aku bahkan sampai bikin video di instagram. Ini videonya.
Sebenarnya, aku sudah menegur lewat video juga sebelumnya. Bentuknya semacam video motivasi ala-ala gitu. Begini videonya.

Cuma yaa hal-hal seperti ini nggak akan efektif dan butuh waktu yang lama, unless aku adalah seorang artis terkenal. Kalau artis sekalinya bikin video, apalagi sifatnya tantangan, orang-orang pada ngikut. Tak apalah, namanya juga proses. Siapa tahu tahun depan aku jadi orang terkenal, sehingga untuk mengajak ke hal-hal yang lebih positif seperti memanfaatkan malam tahun baru dengan diskusi atau istirahat seperti biasa gitu jadi lebih mudah.

Au hanya menyayangkan uang yang terbuang untuk kembang api. Kalau untuk bakar-bakar jagung, ubi, atau mungkin ikan ya, itu kan nggak sia-sia banget karena bisa ngenyangin perut. Tapi kalau kembang api tuh, ibaratnya seperti anda membakar uang anda sih. 

Begitulah, cuap-cuap ayeku untuk tahun baru yang masih segini-gini aja, yang masih dipakai untuk meriah-meriahan dan buang-buang uang. Apalagi keluar malem sama pacar sampe besok paginya wuh, ngapain aja tuh? :D


Komentar