Langsung ke konten utama

Ya Allah, Aku Jatuh Cinta Pada Salah Satu Ciptaan-Mu


Kuakui, berpindah hati dari mantan kekasih memang berat. Kini dia telah hidup bahagia bersama suami dan anak yang sedang dikandungnya. Kurasa proses ini lumayan seru karena membuatku berpetualang mencari tambatan hati yang baru, walaupun memang susah pake banget. Aku sadar bahwa secara visual sangat kurang menarik, apalagi tak memiliki kepintaran yang baik. Dasar Rajih, muka dan kepintaran pas-pasan ini tak membuat pikiran dan hatinya mudah jatuh hati pada perempuan. Banyak perempuan ia temui, tapi belum jatuh hati juga si Rajihnya.

Selama proses melupakan sang mantan, aku banyak menyukai perempuan memang. Tak sedikit aku menyukai mahasiswi, atau bahkan yang menjaga warung kopi. Tapi hanya sebatas suka. Hingga suatu ketika ada seorang perempuan yang membuatku benar-benar jatuh hati lagi setelah sekian lama. Bukan dia yang sengaja membuatku jatuh hati, karena akulah yang jatuh cinta padanya dengan sendirinya.

Apa yang membuat rasa cinta dan sayang padanya tumbuh dalam diriku?

Kuakui, awal kuterpikat padanya adalah saat melihat wajah dan dirinya yang mempesona di suatu event. Matanya memancarkan kepedulian, perangai dan tutur katanya sangat lembut. Ia mampu menjadi pendengar yang baik. Bahkan, ia tegas dan mau menentukan sesuatu yang sifatnya pilihan. Umurnya tak jauh di bawahku. Tiap kali ia tersenyum, rasanya suasana menjadi sangat sejuk. Aku merasa sepertinya aku menemukan belahan jiwaku. Dia bukan orang yang IPKnya tinggi sekali, namun ia merupakan perempuan yang sangat sederhana (bedakan sederhana dengan biasa-biasa aja atau bahkan kekurangan ekonomi) karena secara pribadi (menurutku) ia pandai bersyukur. Hanya saja, ada saja penghalang-penghalangnya.

Pertama, apakah aku pantas untuk dia yang memiliki inner beauty yang terpancar terang? Aku sadar bahwa aku perlu memantaskan diri. Di masa-masa kuliah masterku ini, sembari mempersiapkan untuk bisa menikah (baik ekonomi maupun batin), aku juga harus memperbaiki diriku yang mungkin terlalu sombong, sering-sering mandi dan cuci muka, dan mengatur emosiku agar tidak menjadi orang yang kasar. Ini sangat menantang, mengingat aku masih jauh di bawah dia dalam hal kesederhanaan, emosi dan rasa syukur.

Kedua, kemungkinan dia sudah punya calon pendamping hidup. Ini yang membuatku mundur alon-alon karena lagi-lagi harus tahu diri. Suatu ketika, dengan skill investigasiku, aku mengetahui bahwa dia sebenarnya sudah punya kekasih dan bisa jadi laki-laki itu adalah calon suaminya. Kuperhatikan, memang jauh sih perbandingannya, tapi hanya perbandingan visual dan itu tidak objektif. Namun, mau dipikir objektif subjektif, tetap saja ada kemungkinan besar perempuan pujaan hatiku ini telah memiliki calon pendamping hidup. Jujur aku menulis ini sambil tersenyum, menertawai diriku sendiri yang bermimpi terlalu tinggi untuk bisa berjodoh dengan perempuan ini. However, sebagian diriku berkeyakinan kalau dia memang tidak sedang menjalin hubungan dengan laki-laki siapapun.

Halangan-halangan di atas memang sangat menantang dan bisa jadi benar-benar menghalangi. Tentu yang bisa kulakukan saat ini hanya berserah pada Yang Maha Kuasa. Jika dia memang jodohku, pasti entah bagaimana cara dan ceritanya, secara tidak sengaja memang didekatkan oleh Yang Maha Kuasa dan tentu aku tak akan menduga bagaimana skenarionya. Namun jika memang bukan, aku ikhlas dan semoga ia mendapatkan jodoh yang jauuuuh lebih baik dariku agar kehidupannya kelak semakin bahagia.

Aku bersyukur dikaruniai rasa cinta ini dan proses perjalanan pencarian cinta membuatku mengerti bahwa cinta memang tak harus memiliki. Karena, seharusnya jika ia bahagia, maka aku juga bahagia. Mantan kekasih sudah bahagia, maka seharusnya aku juga bahagia karena melihat dia bahagia. Pemikiranku soal cinta ini juga selaras dengan seni mencintai karya Erich Fromm. Jika mencintai, tak perlu mengharap dicintai balik, karena jika sama-sama cinta, maka keduanya akan sama-sama memberi cinta dan akan mendapatkan cinta.

Begitulah... So, kamu pernah jatuh cinta? Cerita aja di komentar.

Komentar

  1. Aku pernah jatuh cinta hingga mendalam.
    Yang sialnya.. Aku jatuh cinta pada mantan kekasih.
    Aku ingin bercerita, mungkin kau akan kebingungan membacanya.
    Diluar sana ada sosok lebih bisa menarik perhatianku.
    Bukan sosok baru yang sehari-dua hari ini ku temui di lingkungan baruku.
    Dia sosok yang sama seperti beberapa tahun lalu.
    Sosok yang sama sekali tak pernah berbeda dari sebelumnya, kecuali senyumnya yang kian hari kian menyiksa.
    Manis sekali seperti gula.

    Pernah suatu kali dia mengajakku bermain kata.
    Setiap ucapannya selalu menyiksa
    "Ya Tuhaaan! Kenapa makhluk ini diciptakan semakin menggemaskan rupa?"
    Lagi-lagi senyumnya tak pernah bisa ku lupa.

    Namun, aku terjebak dengan sesuatu diantara kedua bibirnya.
    Selama bersamaku dulu tak pernah sekalipun senyumnya semenarik ini.
    Yaa.. Aku semakin terjebak. Aku terlalu terjebak. Aku jatuh lagi

    "Mau apa dia? Mau apa lagi dia?"
    Aku hanya berpikir dia hanya ingin membuatku goyah..

    Jika memang bukan. Maukah Tuhanku dan Tuhannya mempersatukan kami?
    "Sudikah Engkau memberikan kesempatan itu lagi ya Tuhaaan?" jeritku malam-malam itu

    Memang bodoh. Dia datang hanya untuk membuatku menjadi semakin bodoh. Semakin tak karuan dengan semua ketidak jelasan ini.

    Doakan aku semoga dia segera mencariku lagi sebagai tulang rusuknya yang sejak dulu hilang.

    BalasHapus

Posting Komentar

Komentarin yaa... Saya seneng banget kalau dikomentarin. Terima Kasih :)

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Ke Gontor Putri 3

Owh.... Jum'at siang itu..... Aku berangkat menuju tempat adik2ku berjuang. Di Gontor Putri 3, Karangbanyu, Widodaren, Ngawi. Jauuuuhh..... Puol... Yah... aku ingin melihat keadaan adikku di sana. Semoga mereka baik2 saja dan mereka bisa belajar dengan baik dan mendapatkan pendidikan yang sangat banyak. Mumpung hari2 ini masih kosong dan para santri sedang belajar untuk persiapan ujian tulis, ya... kenapa nggak. Sama, di gontor putri juga sedang hari2 belajar dan belum memulai untuk ujian. Perjalanan sungguh jauh. Aku sendiri masih mikir2 sebelum berangkat gara2 saat itu aku dalam keadaan seperempat sakit kepala. Sakit kepalanya nih, sisa dari sakit kepala 2 hari yang lalu yang pas sebelum UAS (seperti yang kuceritakan sebelumnya). Ok lah! Bismillah. Yakin semua akan baik-baik saja. Everything is Gonna be Okay!. Sebelum berangkat aku makan sop kikil dulu di warung lalu naik bis. Perjalanan dimulai.... Nasi Sop Kikil Pengamen di Bis (sorry gelap. kamere HPnya jele

Pengangkatan mudabbir

note : mudabbir: Pengurus di pondok gontor yang diambil dari kelas 5 rayon : Asrama Tanggal 15 syawwal 1430 h / 4 Oktober 2009 m Hehehe..... pengangkatan mudabbir. adalah suatu acara yang ditunggu2 oleh segenap siswa kelas 5. Gimana nggak lha wong itu yang menentukan dia tuh jadi pengurus atau jadi pengangguran gak punya kerjaaan selain ke Masjid dan Insya Allah cuma itu dan gak ada kerjaan lain... tapi beda dengan orang yang otaknya encer dia akan memanfaatkan waktukosong untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Waktu itu aku bareng temen2 ITQAN berangkat bareng dari Gedung Tunis Lantai 2 ke masjid Lantai dua dengan menggunakan baju putih, peci dan celana hitanm serta tak lupa buku tulis dan pena tentunya. Saat yang mendebarkan... Hatiku bertanya2 aku jadi mudabbir ga ya?? kalo iya mudabbir rayon mana??? sedangkan aku sekarang duduk di kelas 5 R . Rasanya ga mungkin aku jadi Mudabbir karena untuk memungkinkan jadi Mudabbir itu kelas B sampai N. Dibawah itu proletar semuan

Beberapa moment yang terlewat....

Foto 1 : Saat rekan konsul saya sedang merencanakan suatu acara, kami mesti berkumpul di suatu tempat agar mudah menyetarakan pendapat serta menyelesaikan kendala-kendalanya. Saat saya kelas empat KMI, tempat yang paling sering kami gunakan untuk berkumpul adalah rumah salah satu dari rekan konsulat malang yaitu Hirzul. Tapi, sekarang sudah tidak lagi karena ada beberapa masalah, akhirnya tempat berkumpul berpindah ke rumah Hisyam. Foto 2 : Hmmm..... Indahnya kota Kediri memang tak seindah Kota Malang. Tapi, apa salahnya jika saya berkunjung ke pusat Kota ini. Saat itu, saya sedang menemani teman untuk suatu keperluan. Karena waktu Sholat Ashar sudah masuk, kami mencari masjid untuk Sholat. Ketemulah Masjid Agung Kediri. Bangunannya yang mega membuat saya terkagum-kagum sampai2 saya sempat mengambi gambar di masjid ini. Dari masjid ini saya bisa melihat ramainya jalan raya yang tiada habis dengan kendaraan serta alun-alun yang tak pernah kosong dengan pejalan kaki dan pedagang k