My Leadership History (2): Sosiologi dan Forum Diskusi Ilmiah

Sebelumnya, saya mohon maaf jika tulisan ini terkesan terlalu melebih-lebihkan. Tidak ada maksud sombong atau merendahkan. Hanya ingin mengabadikan cerita hidup saja.

.....................

Lanjutan dari My Leadership History (1): Gontor dan ITQAN Group

Petualangan kepemimpinan di Gontor telah usai karena saya dinyatakan lulus dan mengabdi di Gontor 3 sebagai ustadz dan juga menjalani kuliah di jurusan perbandingan agama. Usai pengabdian selama setahun, saya pulang ke Malang dan mendaftar menjadi mahasiswa di Sosiologi UMM. Semester pertama, saya dipilih menjadi ketua kelas lewat voting. Baca selengkapnya di SINI. Melihat penampilan saya yang terlalu formal dan selalu duduk depan, otomatis pada milih saya. Bolehlah. Saya juga tidak segan-segan untuk speak up kalau ada apa-apa. Tapi, mengorganisir kawan-kawan dengan latar belakang bermacam-macam itu sulit! Tidak semuanya paham organisasi. Saya akhirnya belajar bagaimana cara persuasi anggota kelas dengan lebih kreatif. Hasilnya, sorry nggak berniat sombong, saya merasakan bahwa kawan-kawan sangat asyik diajak bekerja sama. Bahkan hingga semester yang bisa dibilang cukup tua, semester 6, semuanya masih ingin satu kelas, tidak pindah-pindah, tetap di kelas Sosiologi B. Bahkan anak kelas A ada yang ingin pindah kelas B saja, mengingat atmosfirnya lebih nyaman. Bersyukur banget.

Saya pernah masuk dalam kepengurusan HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) Sosiologi di periode 2013-2014 sebagai Ketua Bidang HUMAS. Waktu itu, ketuanya adalah Abdussyukur Eko Wisundana. Seingat saya, wakilnya itu Hairuzzadi. Tapi entah bagaimana diganti Prisma Hastian. Tapi, menurut saya bagus juga kalau Prisma Hastian jadi wakil ketua karena saya tahu betul leadership dia yang santai tapi benar-benar serius. Selama menjadi humas, saya sering ditugaskan mewakili ketua umum dalam agenda-agenda eksternal yang memerlukan kehadiran HMJ Sosiologi UMM di sana. Seringkali saya bersama kawan-kawan lain seperti Ichsan Garrick Chusmintyo, Muhamad Ardiansyah, Moh. Sidik, Dewandaru Braga Adipura, Wari' Lohjinawi hadir dalam agenda-agenda eksternal seperti diskusi, bincang-bincangs antai dengan HMJ Sosiologi Universitas Brawijaya, bahkan dengan kawan-kawan Jaringan Mahasiswa Sosiologi se-Jawa (JMSJ) seperti dalam acara Malam Keakraban dan Musyawarah Besarnya. Bahkan sampai mengajak kawan-kawan non-pengurus HMJ seperti Dwi Afiyani, Rias Susanti dan Dwi Nur Riyana. Di JMSJ, saya bertemu Moh. Dana Arga Dinata selaku Koordinator Wilayah IV Jawa Timur di JMSJ. Sampai sekarang kami berkawan baik. Bersama Dana dan kawan-kawan, termasuk Ichsan dkk., petualangan saya semakin meluas. Tak jarang saya sampai ke Surabaya untuk koordinasi, bahkan ke UNEJ di Jember. Di Mubes JMSJ, Wilayah IV pernah mencalonkan saya sebagai calon Koordinator Umum JMSJ. Tapi, saya kalah suara, yang terpilih adalah Kresna dari Sosiologi UGM.

Tahun 2014, saat Musyawarah Anggota Tahunan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Forum Diskusi Ilmiah (FDI), saya dan kawan saya Sakinah Nur Rokhmah (Nina) terpilih menjadi Ketua 1 dan Ketua 2 UKM FDI UMM periode 2013-2014. Saya menjadi Ketua 1 karena suara terbanyak, dan Nina suara terbanyak kedua. Di sini saya mulai belajar lagi menjadi pemimpin. Ternyata, rasa egois saya yang dulu saat menjadi Pimred ITQAN masih belum bisa hilang. Tak jarang saya jengkel dengan Nina karena perilakunya yang menurut saya sangat kurang melibatkan saya sendiri sebagai sesama ketua, dan banyak pokoknya yang saya kritik atas perilaku organisasi dia yang menurut saya kurang maksimal. Sampai suatu ketika, kami harus ditengahi oleh Yunda (Sekretaris Umum) dan Akhyar Anadiansyah (Bendahara Umum) karena FDI sedang macet, tidak ada kemajuan, dan yang ada hanya saya dan Nina yang berkonflik. Keputusan tak kunjung dibuat, organisasi tidak terkontrol. Yunda dan Akhyar benar-benar kecewa dan memarahi kami berdua yang sama-sama childish. Kami sadar kami salah. Semenjak itu, saya dan Nina bisa agak lebih dewasa lagi dalam berorganisasi. Untungnya, hal semengerikan ini tidak diketahui anggota dan pengurus lain. 

Saya dan Nina berfoto pasca agenda Workshop PKM-GT FDI. Pasti kocak posenya setiap kali berfoto sama Nina

Tapi, dasar seorang Rajih, meskipun sudah bisa sama-sama berdamai dengan Nina, tapi Rajih tetap saja ada sisi kurang bijaknya. Ada keputusan yang seharusnya diketahui bersama, tapi waktu itu saya tidak memberitahu Nina. Menurut saya waktu itu, memberitahu Nina justru akan membuat ia jadi terganggu, plus saya berpikir mungkin ini adalah saat di mana saya harus berkorban, karena kami saat itu sama-sama mendapatkan suatu kesempatan emas, hanya saja bertepatan dengan agenda perkaderan FDI yang jauh lebih penting. Akan disayangkan sekali jika saat agenda perkaderan, ketua dua-duanya tidak ikut. Maka, saya inisiatif memutuskan tidak ambil kesempatan itu tanpa memberitahu Nina yang memang sangat tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Sehari sebelum acara, saya berbincang dengan Nina perihal persiapan agenda perkaderan tersebut. Saya akhirnya mengatakan hal yang sebenarnya. Seketika itu Nina menangis seperti tersayat. Saya mencoba menjelaskan pertimbangan yang saya ambil dan menurut saya memang logis. Dia sangat kecewa. Tapi mau bagaimana lagi. Kami sempat berdebat panjang walaupun akhirnya bisa berdamai lagi. Agenda bisa berjalan dengan baik. 

Konflik dan emosi memang jadi pelajaran banget untuk diri saya dalam menjadi pemimpin, terlebih di organisasi yang ketuanya ada 2. 2 orang ketua ini juga merupakan ciri khas FDI dan tupoksinya dibagi menjadi internal dan eksternal. Saya eksternal, Nina internal. Meskipun banyak konflik, tangis, marah, kesal, tapi canda, tawa dan sukacita juga sangat saya dan kawan-kawan alami selama jadi pengurus. Seimbang semuanya. Seru! Banyak hal mengesankan dan lucu saat tiada hari tanpa bertemu dengan Nina dan kawan-kawan di FDI. Kami senang bisa mengakhiri kepengurusan dengan sukacita. Saya, Nina, Yunda, Akhyar, Wiwik, Arwin, Jalil, Alim, Arfina, Bayu, Pipit, dan Manda lanjut menjadi Dewan Pertimbangan Organisasi (DPO) dengan dikoordinatori oleh sahabat karib saya, yaitu Jalil atau Abdul Jalil Mursyid. Koordinator DPO dipilih tepat setelah ketua 1 dan ketua 2 yang baru terpilih di forum Musyawarah Anggota Tahunan. Ketua-ketua yang menggantikan saya dan Nina ialah Deni Fatmawati sebagai Ketua 1 dan Milzam Kazaruni Rabathi sebagai Ketua 2.

Saya dan Nina berpose bersama Deni Fatmawati dan Milzam Kazaruni yang terpilih sebagai ketua untuk periode kepengurusan baru UKM FDI UMM periode 2015-2016

 Berlanjut ke My Leadership History (3): IMM Renaissance FISIP UMM

Komentar