My Leadership History (3): IMM Renaissance FISIP UMM

Sebelumnya, saya mohon maaf jika tulisan ini terkesan terlalu melebih-lebihkan. Tidak ada maksud sombong atau merendahkan. Hanya ingin mengabadikan cerita hidup saja.

..................... 

Lanjutan dari My Leadership History (2): Sosiologi dan Forum Diskusi Ilmiah

Tidak berhenti sampai di FDI, pelajaran kepemimpinan saya belanjut di IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) Komisariat Renaissance FISIP UMM. Tepat setelah Musyawarah Anggota Tahunan (MAT) FDI, saya mengikuti Musyawarah Komisariat di IMM Renaissance FISIP UMM (sebut: Renaissance). Saya waktu itu mencalonkan diri sebagai ketua umum. 

Wait wait... Jadi gini..

Saya agak lupa. Pokoknya, kalau nggak salah, entah seminggu atau sehari sebelum MAT FDI selesai, saya sudah keduluan kepilih jadi Ketua Umum di Renaissance untuk periode 2015-2016. 

Kalau ngga salah, waktu itu, Musyawarah Komisariatnya sudah berlangsung duluan daripada MAT FDI. Sudah berlangsung 2 minggu dan pasti pakai hari jumat sabtu minggu kan, biar tidak mengganggu jadwal kuliah. Tempatnya juga ganti-ganti karena mesti sewa balai desa atau ruangan yang luas, yang pas untuk melakukan musyawarah dengan sidang secara formal. Di tempat terakhirlah akhirnya pemilihan ketua dilakukan. Saat itu, FDI masih LPJ. Saya izin keluar forum untuk ikut Musyawarah Komisariat (MUSYKOM) di Renaissance. Pas banget, saya datang, dan pas proses sidang tata tertib pemilihan ketua umum. Sidang berjalan dan tiba saatnya pemilihan ketua. Ada 3 orang calon ketua waktu itu. Saya sih berharapnya banyak yang mencalonkan dari angkatan saya karena memang sudah waktunya estafet kepemimpinan ada di angkatan 2012 ini. Tapi, yang mencalonkan hanya 3, padahal say aberharap teman-teman saya lainnya yang pengalamannya lebih banyak dari saya juga ikut mencalonkan diri. Saya ikut mencalonkan diri dengan modal nekat dan mungkin jadi bahan omongan orang karena jarang aktif di Renaissance karena ada tanggungjawab di FDI ini karena ingin menunjukkan kalau orang sehina saya juga bisa nyalon, apa iya kawan-kawan yang lain tidak merasa paling tidak "sedikit malu" dan mau mencalonkan diri juga. Alhasil, tetap saja. Nama yang muncul hanya 3 orang, lengkap dengan visi misi masing-masing.

Saat itu, yang mencalonkan diri untuk menjadi ketua umum adalah Mochamad Imron Kurniawan, Mohammad Sandi Kurnia Setiawan, dan saya sendiri. Proses pemilihan pun dimulai. Ternyata, Imron mendapatkan suara terbanyak. Saya sudah sangat senang saat itu, karena, you know, bondo nekat dan miskin pengalaman iniliah yang membuat saya keder, tapi kok ya berani-beraninya ngisi formulir calon ketua. Karena Imron suaranya terbanyak, saya kegirangan banget! Tapi, ada salah satu senior yang mengajukan pemilihan ulang kepada para Paniti Pemilihan (PANLIH), karena suara yang didapat Imron, meskipun banyak dan mengunggili saya dan Sandi, tetap saja masih belum mencukupi setengah kuota forum. Akhirnya disepakati pemilihan ulang dengan tidak mengikutkan Sandi karena suara yang ia dapat sangat-sangat kecil. Baiklah, pemilihan yang menentukan ini akhirnya dimulai.

Mata saya benar-benar tertuju dan memperhatikan whiteboard di depan forum yang sedang diisi jumlah suara oleh Panlih. Deg-degan dan pikiran tak karuan berkecamuk dalam diri saya. Saya sudah lega, tapi khawatir lagi. Awalnya, suara Imron yang banyak. Saya semakin sumringah. Ternyata, semakin lama, kok banyak ke saya ya. Saya cuma bisa menunduk, sambil mendengar panlih serta saksi dari peserta musyawarah membacakan isi kertas-kertas suara dan mengatakan "sah" jika suara yang dituliskan benar. Sambil dibacakan, sambil panlih masih menulis hasil suara di whiteboard. Proses pemilihan berlangsung hening dan menegangkan. Saya tetap tertunduk.

Setelah penghitungan berakhir. Kekhawatiran saya semakin memuncak. Orang-orang mulai mendekati saya. Dalam hati saya berkata, "Waduh, gawat ini. Kayaknya aku yang terpilih". Sorak tepuk tangan membahana dalam ruangan itu. Saya masih tetap tertunduk. Panlih membacakan hasil pemilihan dan tepuk tangan kembali terdengar dari para musyawirin. Saya masih belum bisa mengangkat kepala. Tak terasa, air mata menetes. Guys! Saya nangis tersedu-sedu sampai tenggorokan sakit dan muka agak bengap. Saya bukan bahagia, saya sedih karena bondo nekat dan miskin pengalaman itu tadi. Untuk mempin Renaissance, kapasitas saya masih sangat kurang. Memimpin FDI mungkin masih bisa, tapi kalau Renaissance, rasanya saya masih perlu belajar banyak. Fikri (salah satu kawan angkatan saya) dan kawan-kawan lain mencoba menenangkan. Setelah saya tenang, saya diminta maju ke depan menyampaikan pidato awal sebagai seorang Ketua Umum Renaissance periode 2015-2016. Dengan demikian, resmi sudah saya menggantikan mas Rizki Ageng Kurnia (Ketua Umum IMM Renaissance FISIP UMM Periode 2014-2015) sebagai ketua umum di Renaissance.

Saat itu juga, usai Musykom, dan saat itu memang malam hari pukul 23.00, saya bersama kawan-kawan mengunjungi agenda komisariat lain, yaitu komisariat Ekonomi di Balai Desa Ngijo. Tradisi kunjungan ke agenda komisariat lain memang sudah menjadi tradisi di semua organisasi kemahasiswaan. Bukan masuk ke forum, hanya menyambung silaturahmi, berbagi info tentang agenda yang dilaksanakan dan mendoakan agar sukses.

Berfoto dengan Mas Ageng usai terpilih menjadi Ketua Umum IMM Renaissance FISIP UMM 2015-2016

Jalan cerita di Renaissance benar-benar menjadi bagian yang sangat-sangat memberikan cambukan bagi saya dalam berproses untuk menjadi seorang leader. Awal jadi ketua, saya bingung harus memulai dari mana. Kesadaran untuk memiliki peran seorang ketua di Renaissance itu saya masih belum punya. Saya tahunya gimana caranya jadi ketua di FDI, bukan di IMM. Saat itu, saya sadar betul kalau dunia keorganisasian di FDI dan IMM benar-benar berbeda. Mungkin kondisi di FDI bisa saja hampir mirip dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang lain. Demikian pula IMM. Sepertinya atmosfirnya IMM sama halnya seperti HMI, GMNI, PMII dll. Yang saya lakukan untuk mengatasi kebingungan itu bukannya berdiskusi dengan para pendahulu, malahan saya berlagak seakan bisa menghandle semuanya. 

Ketegasan saya benar-benar diuji sebagai ketua ketika terjadi banyak hal.

1. Ada konflik antar IMM dan HMI di kampus saat OSPEK Mahasiswa baru atau PESMABA

2. Ada ketua bidang yang tidak aktif untuk waktu yang lama tanpa alasan yang jelas, padahal perannya sangat kuat seharusnya di awal-awal kepengurusan

3. Ada konflik di internal 

Pelajaran utama jadi leader memang soal manajemen konflik. Karena saya kurang tegas dan minim pengetahuan, akhirnya penyikapan-penyikapan organisasi jadi lamban, konflik yang tersembunyi memang berhasil dibuka, tapi saya kurang mahir menutup dan mengatasinya hingga menyakiti banyak pihak, menegur juga masih belum berani lantaran saya orangnya takut berkonflik dengan orang lain. Ditambah lagi, bukannya fokus mengurusi organisasi, malahan saya sibuk dengan aktivitas pacaran. Sungguh benar-benar kurang bagus praktek organisasi saya selama jadi ketua di renaissance. Hanya pencitraan, tapi isinya kosong. 

Di akhir kepengurusan, saya baru sadar bahwa keputusan untuk pacaran bukanlah keputusan yang tepat. Padahal dulunya saya suka mengkritik orang yang berorganisasi tapi pacaran, karena seringkali melihat ketidakmaksimalan mereka dalam menjalankan organisasi lantaran sibuk pacaran. Eh, saat jadi ketua, malah saya memutuskan untuk pacaran. Sungguh menjilat ludah sendiri.

Tapi, selama menjalankan organisasi, saya mencoba berbagai cara untuk memecahkan masalah seperti mencoba berani bertindak tegas, A ya A, B ya B, berani menegur, banyak diskusi dengan kawan-kawan yang berpengalaman dalam hal keorganisasian dan perkaderan, serta banyak menimba ilmu dari para senior. 

Evaluasinya, saya miskin pengalaman dan bondo nekat, tapi justru lupa tugas utama sebagai ketua, justru malah sibuk pacaran.Tapi, perubahan yang saya dapat adalah, saya semakin paham tentang makna dari praktek organisasi yang baik, memahami secara filosofis tentang organisasi bahkan sampai praktek dalam berorganisasi sebagai seorang pimpinan, memahami mekanisme kerja organisasi, memahami proses politik yang terjadi di internal IMM maupun di luar IMM, dan juga menambah keilmuan saya dalam berbagai hal seperti manajemen organisasi, kepemimpinan, filsafat serta disiplin ilmu saya sendiri yaitu Sosiologi. Semakin lama, saya semakin paham arti dari dewasa dalam organisasi, meskipun sulit terrealisasi lantaran sudah terlanjur tenggelam dalam dunia pacaran. 

Setelah lengser dari tugas menjadi ketua, barulah saya betul-betul sadar akan banyak hal yang sering saya lewatkan dan lupakan saat menjadi ketua. Sehingga, usai ketua umum yang baru terpilih, yaitu Adi Surya Utama, maka saya tidak bisa meninggalkan Renaissance begitu saja. Saya tetap melihat, hadir di aktivitas Renaissance dan memantau dari jarak yang dekat. Saya coba memberikan masukan dan kritik atas praktek organisasi ketua dan pengurus lain yang menurut saya kurang tepat, tentu berdasarkan pertimbangan logis dan logika organisasi yang sudah saya pelajari selama menjadi ketua. Meskipun power para senior yang lebih tua justru jauh lebih besar. Saya tidak peduli. Dari siapapun ilmunya, saya tetap pelajari. Jika ada yang perlu didialektikakan, maka akan saya dialektikakan dan pertanyakan.

Dari situ, saya benar-benar mengalami lonjakan perkembangan yang sangat signifikan baik secara retorika, pengambilan keputusan, maupun kepribadian. Hasilnya membekas banget sampai sekarang. Saya jadi tertarik untuk teliti dan serius dalam forum-forum sidang organisasi. Saya juga semakin kuat melek. Orang-orang sebelumnya mengenal rajih sebagai orang yang tidak kuat rapat sampai malam, bahkan saat Darul Arqam Madya (DAM, sebuah agenda perkaderan utama di IMM), saya banyak tidurnya karena otak dan fisik benar-benar tidak kuat. Alhamdulillah. Sebuah proses yang memang saya akui tidak maksimal dan bahkan tidak patut dicontoh, serta menghasilkan cambukan yang teramat keras, tapi hasilnya sungguh terasa sampai sekarang.

Berlanjut ke My Leadership History (4): Sampai Hari Ini

Komentar