My Leadership History (4): Sampai Hari Ini

Sebelumnya, saya mohon maaf jika tulisan ini terkesan terlalu melebih-lebihkan. Tidak ada maksud sombong atau merendahkan. Hanya ingin mengabadikan cerita hidup saja.

..................... 

Lanjutan dari My Leadership History (3): IMM Renaissance FISIP UMM

Semenjak lengser dari jabatan ketua umum di Renaissance, saya tidak menjadi pengurus di organisasi manapun. Tidak sampai saya menjadi student master di Universiti Sains Malaysia (USM). Di UMM kan hanya sebagai dosen perjanjian khusus saja dan tidak ada jabatan. Hanya dosen. 

Di USM, saya bertemu dengan PPI-USM (Persatuan Pelajar Indonesia - USM). Usai acara Musyawarah Anggota PPI-USM, terpilihlah ketua baru, yaitu Alimul Imam untuk periode 2019-2020, menggantikan Nadira. Dalam kepemimpinan Imam, saya memutuskan untuk masuk kepengurusan dan bertugas sebagai anggota divisi Aspirasi dan Advokasi. 

Foto bersama pengurus dan anggota PPI-USM yang masih di kampus (karena pandemi) usai menuntaskan Musyawarah Anggota. Ketua lama (Ketum Imam) bertopi berkacamata. Ketua Baru (Mbak Nana) berjilbab hitam dan berkacamata di tengah
 

Jujur, selama di PPI, saya mengalami penurunan dalam praktek berorgansiasi. Entah kenapa, perilaku saya tidak mencerminkan otak saya yang mengutamakan organisasi. Mungkin karena terlalu fokus pada studi. Alhasil, kinerja divisi saya adalah kinerja paling minim jika dibandingkan dengan divisi lain. Saya merasa bersalah dan meminta maaf pada Ketum Alimul Imam di akhir periode. Saat ini, ketua baru telah terpilih menggantikan Ketum Imam, yaitu Mbak Hidayah Sunar, untuk Ketua Umum PPI-USM Periode 2020-2021.

Di tahun 2020, tepatnya bulan September tanggal 4, dalam sebuah forum online via zoom yang diinisiasi oleh Prof Madya Dr. Mohammad Reevany Bustami (my supervisor in USM) dengan mengundang IR UniSZA (Universiti Sultan Zainal Abidin), IR UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), HI UNJANI (Universitas Jenderal Achmad Yani) dan Nusantara Studies Center PSU (Prince Songkla University) Thailand, disepakatilah untuk membentuk sebuah organisasi yang berfokus dalam melestarikan warisan Nusantara. Bentuknya adalah asosiasi karena terdiri dari banyak lembaga. Nama asosiasi tersebut adalah INHA (International Nusantara Heritage Association) yang kemudian berganti nama menjadi NUSA (Nusantara International Heritage Association). Saat itu juga, saya terpilih sebagai Ketua Umum NUSA, bersama dengan Iskandar Zailani dari UniSZA sebagai Wakil Ketua Umum NUSA. 

Agenda pertama kami adalah Lomba Video Sajak Nusantara. Sangat menantang, karena saya, iskandar dan kawan-kawan yang lain tidak pernah bertatap muka sama sekali. Sisi negatifnya, koordinasi akan sangat sulit. Sisi positifnya, anggota NUSA menjadi belajar bahasa Indonesia dan Malaysia secara tidak langsung. Agenda ini berlangsung lancar dan 70% online. Sisanya, beberapa panitia perlu untuk bertatap muka dalam rangka kelancaran agenda Video Sajak.

Hingga kini, NUSA masih saya usahakan memiliki legalitas, landasan organisasi dan administrasi organisasi yang jelas, serta program kerja konkrit. Semoga lancar, karena kepengurusan satu periodenya masih belum ditentukan. Mungkin 2 tahun, mungkin juga 3 tahun.

Komentar