Tantangan Baru dalam Berorganisasi (Aku & PPI Malaysia)


Awal Januari lalu, saat makan siang bersama supervisor dan kawan-kawan, saya dikontak oleh Ketua Umum terpilih PPI Malaysia periode 2020-2021, Muhammad Haidar Mohalisi. Beliau mengajak saya untuk bergabung bersama di kepengurusan PPI Malaysia, tepatnya di departemen Penelitian dan Kajian Strategis atau Penkastrat. Spontan saya jawab, "mungkin saya perlu rundingan dengan ketua ppi usm dulu, tum!". Waktu itu, bagi saya, berunding dengan Ketua Umum PPI-USM, Mbak Hidayah Sunar, adalah sangat sangat penting karena saya khawatir jika ketua punya pertimbangan lain mengenai delegasi anggotanya ke kepengurusan PPI Malaysia, terlebih saya juga ketua divisi di PPI-USM, yaitu divisi Pengembangan Organisasi dan Akademik. 

Setelah bertanya ke mbak Nana, eh beliau bilangnya, "pilihan ada pada dirimu". Waduh! Makin bingung kan gueh. Apalagi ketum Haidar nanyain terus tentang kesanggupan saya untuk gabung di kepengurusan. Karena bingung, saya meminta waktu satu hari ke ketum Haidar dan untung disetujui. Lumayan, sehari untuk merenung dan diskusi sana sini.

Sebenarnya, saya juga perlu gambaran tentang kondisi dan kultur organisasi di PPI Malaysia, khususnya tentang penkastrat. Setelah diskusi dengan beberapa orang, akhirnya saya mantap untuk menyatakan kesiapan dalam bergabung di kepengurusan. 

Saya memang sempat agak khawatir dengan posisi yang dua jabatan ini, meskipun bukan di posisi ketua umum ya, karena khawatir sulit membagi waktu dan mungkin mengecewakan PPI-USM disebabkan praktek saya yang mungkin bakalan minim. PPI-USM itu penting bagi saya karena ini adalah tempat saya bermula di PPI. Belakangan, mbak Nana juga khawatir dengan keterlibatan saya di PPI Malaysia karena bisa jadi nanti orang-orang di PPI-USM akan menganggap Rajih adalah orang yang plin plan. Kok gitu? jadi gini. Saat Musyawarah Anggota Tahunan PPI-USM di Oktober 2020 lalu, forum mencalonkan beberapa orang untuk menjadi ketua umum baru. Salah satunya adalah saya. Saat ditanyai kesanggupan, saya menyatakan tidak sanggup karena persoalan akademik (saya belum sempro dan harusnya sih pelajar master kayak saya nih harus udah sempro di 6 bulan pertama studi). Orang-orang mungkin banyak yang protes dengan alasan ini, tapi akhirnya diterima forum. Iya juga, sih! Saya jadi khawatir. Tapi sudah terlanjur menyatakan kesiapan untuk jadi koordinator departemen penakstrat PPI Malaysia. Yaa akhirnya yaudah deh. Saya jalanin aja.

Tantangan

Penkastrat adalah lahan proses yang baru bagi saya, meskipun prakteknya agak tahu dikit sih. Ini mirip-mirip bidang Hikmah dan bidang Riset & Pengembangan Keilmuan di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Kayak 2 bidang tersebut digabung jadi satu gitu. Kalau di bidang Keilmuan (nama lama dari bidang Riset & Pengembangan Keilmuan) mungkin saya ada pengalaman. Tapi kalau di bidang Hikmah, wuih, pengalaman saya kurang dalem. Selain belum pernah di bidang Hikmah, saya juga kurang aktif di aktivitas-aktivitas kawan-kawan bidang hikmah dulu. Meskipun saat jadi ketua komisariat, saya mencoba untuk terjun dan hasilnya ternyata saya sendiri nggak kuat. Hahaha. Entah kenapa saya kurang paham juga. Seakan hanya orang tertentu saja yang bisa benar-benar bermain dan aktif di bidang Hikmah serta segala aktivitas juga prosesnya. Saya sering nyadar diri dan mundur alon-alon aja gitu kalau kumpul sama "orang-orang bidang Hikmah" karena seringkali tak memahami apa yang mereka bicarakan. Padahal, sekelas ketua komisariat, harus paham dong dengan yang dibicarakan bidang yang banyak berperan dalam diskursus politik, komunikasi eksternal organsiasi dan edukasi politik, karena peran ketua komisariat di ranah politik dan eksternal juga sangat penting. Tapi tetep saya usahakan untuk mengejar mereka meskipun "agak sedikit minder". Tantangan banget buat saya yang masih bodoh ini.

Itulah tantangannya. Saya menyanggupi untuk bergabung di kepengurusan dan mengoordinir Penkastrat karena saya ingin belajar di wilayah yang dari dulu sudah jadi tantangan tersendiri untuk saya. Saya sadar kalau nanti, setelah lulus, dan kembali ke UMM lagi, saya akan ketemu lagi dengan hal-hal yang sifatnya diskusi wilayah makro, sosial, politik dan juga penelitian. Jadi, sepertinya nggak ada salahnya kalau saya ngelatih diri lagi nih di penkastrat, bahkan kayaknya penempaannya makin keras lagi. 

Tantangan berikutnya, jujur aja nih. 

Semoga kalau ada pengurus PPI Malaysia, apalagi para pembesarnya, baca ini, tidak tersinggung. Hahaha. Jadi gini. Jujur, saya kaget, ternyata di PPI Malaysia tuh kebanyakan mahasiswa undergraduate. Masih muda-muda. Umurnya mungkin 3 sampai 8 tahun di bawah saya, meskipun beberapa orang yang senior dari saya juga ada. Di penkastrat aja, ada 2 orang yang jauh lebih senior dari saya, yaitu Mbak Muslihatun Maulidian dan Bang Bukran. 

Salah satu rapat bersama Penkastrat ditambah dengan Waketum & Ketum
 
Tapi tapii.. meskipun mereka undergraduate, mereka tuh udah kayak orang yang senior buanget tauk. Maksudnya gini, mereka udah seperti orang yang sangat paham lapangan, sangat tegas, sangat nampak berwibawa, dan saya lihat seperti orang yang sangat berpengalaman dalam organisasi. Keren sih. Ini menandakan kalau umur tuh bukan menandakan seseorang itu punya pengalaman. Jujur aja ini jadi tantangan bagi saya untuk bisa menyesuaikan diri dengan mereka. Selain menyesuaikan dalam hal bercandaan (karena beda generasi bisa menentukan level dan cara bercanda juga), saya juga harus siap mengimbangi dengan kapasitas organisasi mereka yang nampak sudah sangat berpengalaman. Larinya juga kenceng banget mereka. Keren emang! Jiwa muda banget! 

Tapi terkadang, secara manusiawi hahaha, saya juga kesel karena mereka kadang seperti merasa superior dan "rodo ngelamak" juga, padahal seumuran mereka tuh sama kayak mahasiswa saya di Malang. hahaha. Hush, tidak boleh, jih! Ini organisasi. Jadi wajar hal kayak gitu terjadi karena posisinya tuh kita sedang belajar dan berproses bersama. Kerjasama! Bukan sama-sama kerja. Saya sadar kalau organisasi dibumbui dengan "rasa sungkan", harus hormat sama yang lebih tua walaupun beda umur dikit, malah bikin organisasinya tersendat dan jalan di tempat. Nyandet! Lagian gap umurnya juga ngga jauh-jauh amat. Jadi, kurang pantas juga kalau saya kesal kalau mereka kayak gitu. Sehingga, tiap kali ada yang kayak gitu, saya otomatis ngeredam amarah dan nyelingin dengan bercandaan versi mereka. hahahaha. Seruuu seru banget! Bener bener tantangan.

Kalau soal gap umur, bukan sama yang lebih muda saja saya harus beradaptasi, tapi dengan yang lebih senior secara umur juga. Selayaknya teman-teman yang umurnya lebih muda, saya kadang suka sulit menerima bagaimana cara anggota organisasi yang lebih senior umurnya kalau memberikan pendapat. Banyak sebab seperti mungkin terlalu memaksakan kehendak, atau, mohon maaf, lebih banyak ceramahnya daripada langsung tertuju pada memberikan solusi, juga terkesan agak-agak menghakimi. Itu pandangan saya aja. Tapi itu diseimbangin dengan peran beliau-beliau dalam tugas organisasi dan interaksi sesama anggota. Tugasnya nggak ditinggalin dan bahkan suka bergaul dengan kami-kami yang jauh di bawah beliau-beliau umurnya. Salut banget saya. Ah, bumbu di organisasi ini banyak sekali, saya suka emosional kalau kayak gini. Suka dukanya kerasa banget. Kadang emosi, tapi kadang rindu dan seneng.

Satu lagi tantangan yang gede banget dan dulu sudah terjadi. Saya harus bisa menyesuaikan mengatur dengan baik antara aktivitas organisasi dan kuliah. Sejauh ini sih, masih sulit ya hahaha. Padahal dulu waktu masih S1 tuh kayak aktivis organisasi banget. Bahkan, pernah dalam satu tahun menjadi pengurus di 3 organisasi, dan kuliah masih terbilang lumayan aman, walaupun mulai dicap jelek oleh beberapa dosen karena sering telat kuliah. Entahlah, ini tiap hari saya masih belajar mengatur diri biar urusan yang numpuk banget ini bisa diatur dengan baik. Doain, ya!

Harapan

Harapannya sih semoga proses yang saya ambil ini bukan menjadi wasting time dan bermanfaat untuk kedepannya. Kawan-kawan seangkatan saya banyak yang bilang kalau kita ini sudah tidak saatnya lagi berkecimpung di organisasi kemahasiswaan yang perlu banyak berpraktek organisasi di dalamnya. Mungkin akan lebih baik jika bergabung di komunitas yang sifatnya pengembangan diri, atau fokus pada profesi saja. Secara tidak langsung, saya sudah berlawanan pendapat dengan mereka. Alasannya yaa yang sudah saya sebutkan di atas tadi. Mumpung saya masih mahasiswa dan bisa kumpul dengan kawan-kawan yang masih semangat berorganisasi, yaa kenapa ngga. 

Komentar