Bersabar di Tengah PKP



PKP adalah kepanjangan dari Perintah Kawalan Pergerakan atau dalam bahasa Inggris disebut MCO (Movement Control Order). Ini merupakan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Malaysia semenjak Covid-19 mulai menyebar. Tadinya kan hanya beberapa kasus aja. Lama-lama jadi banyak. Jadi, sebagaimana negara-negara lain, Malaysia juga nerapin kebijakan lockdown gitu dah. Bermulanya tanggal 18 Maret 2020 sampai sekarang.

PKP-nya naik turun status, mengikuti kondisi kasus Covid-19 di masyarakat Malaysia. Awalnya memang PKP total. Sampai beberapa bulan, statusnya mulai diturunkan mengingat kasusnya juga semakin bisa ditekan. Di tempat saya tinggal saja, di penang, itu sampai bisa dikatakan sebagai Zona Hijau. Jadi aman. Status PKP itu, sepemahaman saya, ada PKP (mungkin yang ini full), PKPD (diperketatkan), PKPB (bersyarat), PKPP (pemulihan). Untuk lebih jelasnya, googling aja! Saya khawatir salah informasi, hehe.

Meksipun menurun, kasus Covid-19 di Malaysia juga sempat naik lumayan drastis, kalau tidak salah karena pemilu di Sabah, dan yang ikut pemilu juga ke mana-mana kan. Kondisinya juga waktu PKP sedang diturunin statusnya, jadi agak longgar dan aktivitas masyarakat juga lagi agak ramai mobilitasnya. Terakhir kali, beberapa bulan terakhir, kasus Covid-19 melunjak. Tadinya tuh cuma belasan, dua puluhan, sampai delapan puluhan gitu. Waktu nyampe angka ratusan, mulai pada waspada. Eh, tidak tahunya, naik sampai ribuan. Pernah sampai angka delapan ribu! Wah, parah tuh! Makanya akhirnya Malaysia nerapin PKP seluruh negara lagi. Tadinya beberapa wilayah udah PKP Pemulihan yang sifatnya tinggal proses penyelesaian kasus covid-19 dikit aja tuh. Maksudnya, beberapa wilayah udah tinggal dikiiit lagi nuntasin kasus Covid-19, eh naek lagi. Makanya statusnya pada PKP semua. Ini disebut sebagai PKP 3.0 karena untuk ketiga kalinya PKP untuk seluruh wilayah diterapkan.

Suasana setelah sholat Isya & sebelum sholat Tarawih

Alhamdulillahnya, waktu ramadhan kemarin, kondisinya masih agak longgar meskipun masih diketatin ya. Tapi agak longgar memang. Keluar kampus memang harus izin, tapi fleksibel. Saya masih bisa ikut jamaah di masjid, buka puasa di luar kampus, bahkan belanja juga ke supermarket. Di masjid, sholatnya di pisah-pisah gitu. Serunya tuh, kalau udah dapat kesempatan untuk sholat di dalam masjid. Ya Allah adeem banget. Suasananya mendukung, pake AC pula. Jadi enak kalau sholat. Kalau makan di kantin juga nggak bisa yang mepet-mepet. Satu meja cukup 1 orang saja. Tapi sekarang, kembali ke peraturan di mana kita tidak bisa ke Masjid, dan kalau beli makan di kantin harus bungkus.

Ngomong-ngomong soal makan, biasanya kalau makan saya beli di kantin asrama atau di kantin masakan India namanya Subaidah (ada di mana-mana, tapi di dalam kampus juga ada, dan lebih terjangkau buat mahasiswa harganya kalau di dalam kampus, hehe). Di kantin asrama biasanya saya beli nasi campur, pokoknya bebas bisa perkedel sama sayur, atau ayam, atau lele, tinggal pilih. Minumnya satu gelas es teh dibungkus. Kalau di Subaidah, saya pasti bungkus nasi, ayam, sayur, dikasih kuah kari dikit, dan minumnya es teh. Malahan biasanya, harganya lebih asyik di Subaidah, soalnya dapetnya RM 6 lebih berapa sen gitu. 

Serunya lagi, di Subaidah kampus ini ada mas mas dari Indonesia yang kerja di situ. Karena dia tahu saya orang Indonesia, orang Jawa pula, akhirnya jadi lumayan akrab. Meskipun dia orang Medan, tapi ngomong bahasa Jawanya lancar, euy! Heran. Tapi keren, sih! Saya jadi teringat kalau beberapa kawan saya yang dari Medan juga bisa lancar bahasa Jawa. Mungkin masuk Pujakesuma (Putera Jawa Kelahiran Sumatera) ya. Jadi waktu beli nasi di Subaidah kampus, kalau ketemus mas ini, serasa beli di warung Indonesia aja. Kocak! Orangnya baik pula. Ok, balik ke PKP.

Waktu PKP kayak gini, mahasiswa yang tinggal di asrama hanya boleh keluar kampus kalau mau isi bensin saja. Itupun dibatesin 15 menit. Kalau mau belanja atau aktivitas lain di luar kampus, sementara belum boleh. Dan hanya beberapa sektor ekonomi yang buka, seperti warung dan minimarket. Nah, sementara, rambut saya ini udah menggondrong, apalagi rambut kriwul. Jadi, kalau habis mandi, bisa tuh disisir, tapi tunggu saja 15 menit, pasti mulai belok-belok lagi rambutnya. 

Bantuan Logistik dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Penang

Alhamdulillah lagi, di PKP gini, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Penang memberikan bantuan ke para mahasiswa dengan membagikan bantuan logistik berupa kebutuhan makanan dan masker. Mantap, bisa banget untuk membantu berlangsungnya kehidupan selama PKP. Huhu.

Oiya, biasanya di PKP kayak gini, saya menyempatkan untuk lari tipis-tipis atau sekadar jalan-jalan santai saja di pagi hari sambil dengerin musik atau podcast di Spotify. Biasanya kalau podcast, saya dengerin podcast saya sendiri (ciyeileh narsis), Podcast Putri Kedhaton, atau Podcast Pojokan. Kadang kalau mahasiswa sosiologi UMM bikin podcast, saya dengerin juga, dan seru! Sambil lari, atau jalan, sambil dengerin, sambil menikmati udara dan pemandangan pagi. Seger! Kadang saya motret suasana-suasana yang saya temuin di kampus. Random aja gitu. Kalau nemu sesuatu yang menurut saya bagus buat difoto ya saya foto aja.

Salah satu hasil jepretan saya saat lari atau jalan di pagi hari

Kadang saya motret pemandangan, kadang yaa suasana kampus aja seperti gambar di atas. Iseng aja gitu. Gambar di atas itu pas banget kampus lagi sepi. Yaa langsung otomatis jepret dong. Haha!

Oiya, soal aktivitas sehari-hari, saya mah tiap hari di depan laptop mulu. Banyak kerjaan sebagai asisten supervisor saya, terlebih laptop juga perlu untuk diutak-atik lagi biar kerjanya bisa lebih cepet. Makin ke sini kok laptop makin lemot ya. Apa-apa jadi serba lama. Saya mau update video YouTube, bikin podcast juga nggak bisa-bisa karena kendala teknis, sama kebanyakan ngerjain tugas sebagai asisten sih, haha. 

Begitulah cara saya bersabar dengan PKP, yaitu dengan dijalanin aja. Bosan, sih, tapi mau bagaimana lagi. Ini harus dihadapi. Jujur saya rindu pantai, bersenda gurau dengan kawan-kawan, aktivitas organisasi secara tatap muka, forum diskusi, terlebih lagi rindu Indonesia. Tapi, lebih baik tetap sabar dengan terus menghadapi hari-hari dan menjalankan aktivitas sebisanya dan semampunya. 

Semoga sehat selalu, ya!


Komentar