Apakah Pemimpin Harus Sempurna?

Barangkali judul di atas tidak menjadi pertanyaan besar bagi sebagian orang di seluruh dunia. Hal ini dikarenakan banyaknya orang yang beranggapan bahwa pemimpin itu haruslah orang yang sempurna. Kesempurnaan tersebut bisa dalam bentuk seseorang yang berwibawa, berkarisma, rupawan, berbadan tinggi dan tegap, matanya tajam, rapi, suaranya merdu, bisa ini dan itu, selalu memberikan pencerahan, punya relasi yang kuat, pengayom, bahkan ada yang bawa-bawa gender, harus laki-laki. Bermacam-macam! Saya secara pribadi lebih ke kurang setuju dengan anggapan ini.

Sebenarnya anggapan di atas itu wajar-wajar saja muncul di benak masyarakat karena pemimpin adalah seseorang yang menjadi sorotan utama dalam suatu perkumpulan/komunitas/masyarakat/kelompok. Paling muncul dan paling berwenang. Dia menjadi pemimpin juga bukan karena sembarang jadi. Bisa dengan siasat politik atau dengan cara-cara tertentu yang bukan hal sepele, misal, petunjuk dewa, garis keturunan, atau juga musyawarah mufakat. Pertimbangan-pertimbangannya juga beragam. Makanya muncul keyakinan-keyakinan bahwa pemimpin harus ini dan itu, sampai bawa-bawa fisik, gender, perilaku, yang intinya adalah dia harus sangat sempurna! Sungguh teori konstruksi sosial sangat bermain di sini.

Namun, pernahkah kita berpikir bahwa manusia sesempurna itu sebenarnya tidak ada? Atau mungkin ada tapi dia tidak banyak dan sudah meninggal? 

Yap! Kita lupa bahwa manusia itu pasti punya kekurangan. Jika kita menunggu ada manusia setengah dewa yang sesuai harapan-harapan kita lalu dia jadi pemimpin, tunggu saja. Sampai sebuah kelompok hancur dan bubar pun tidak akan ada manusia sempurna seperti itu. 

Lalu, bagaimana seharusnya untuk jadi pemimpin?

Jawabannya, yang bisa jadi pemimpin adalah orang yang secara praktik lebih dari yang lain, atau paling tidak dia itu lebih militan di kelompok atau organisasi. Mengapa demikian? Karena:

1. Militan (mencintai sesuatu dengan penuh pengabdian) itu penting. Orang yang militan selalu berada di garda terdepan untuk pergerakan sebuah organisasi. Dia tidak peduli apapun posisinya. Yang ada di dalam pikirannya adalah bahwa organisasi ini perlu digerakkan dan aku adalah salah satu penggeraknya. Namun, militansi tingkatannya bermacam-macam. Ada yang tinggi, ada yang setengah-setengah. Meskipun begitu, setengah-setengah masih bisa ditingkatkan lagi dengan mempererat ikatan saat di organisasi. Kalau militansi lemah, tentu harus ada penanganan khusus untuk meningkatkannya. 

2.  Jika militansi sudah tinggi, praktiknya pasti bagus. Praktik di sini adalah aktivitas apapun yang ada di dalam organisasi dari kegiatan, mempelajari landasan organisasi, sampai bagaimana hubungan organisasi tersebut dengan organisasi lain. Yang kayak gini, bisa dicapai kalau intensitas praktiknya tinggi. Maksudnya yaa dia ikut organisasi itu tidak hanya hadir dalam rapat dan agenda saja. Juga tidak sebatas sebagai event organizer, tapi bener-bener sampai ke aktivitas kesehariannya. Makanya, wajar kalau orang yang kayak gini, kalau ditanya soal permasalahn organisasi baik yang A atau B, pasti dia paham. Jelas, karena dia sering sekali berinteraksi, bahkan berpraktik di dalam organisasi. Kalau ada tugas orang lain yang belum selesai, dia siap membantu, begitupun sebaliknya. Ada masalah eksternal organisasi (biasanya yang tahu hanya tim inti di organisasi), karena dia selalu ada di sana, dia akhirnya jadi ikut tahu meskipun hanya anggota biasa. Bahkan, saking seringnya dia berinteraksi dalam proses berjalannya organisasi, sedikit demi sedikit ilmunya nambah. Artinya, tidak peduli bagaimana tingkat kepandaiannya, kalau sering bersinggungan dan melibatkan diri dalam proses di organisasi, dia akan pandai dengan sendirinya. Tidak peduli mau dia tidak pintar, tidak rupawan, tidak mahir dalam beberapa skill, yang jelas ketika dia banyak berpraktik, dia jadi tahu apa masalahnya dan bagaimana penyelesaiannya.

Apabila sudah militan dan praktiknya bagus, maka dia, menurut saya, bisa jadi pemimpin. Siapapun orangnya. Dia pasti siap untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin karena dia paham arah organisasi mau di bawa ke mana. Kalaupun dia tidak siap atau tidak mau mencalonkan diri, pasti anggota organisasi lain akan mencalonkan dirinya untuk jadi pemimpin, karena orang-orang tahu bahwa praktiknya bagus. Terlepas bagaimana orangnya ya. 

Lalu, bagaimana dengan kekurangan-kekurangannya? Bisa jadi orang seperti ini adalah orang yang kurang berpendirian dan kurang tegas. Ya kan?

Jawabannya adalah, dia tidak sendirian. Anda tahu kan kalau organisasi itu bukan milik satu orang saja? Ya! Anda tentu paham kalau arti dari organisasi adalah sekumpulan orang yang bersama-sama mencapai tujuan bersama. Yang namanya sekumpulan orang, tentu tidak dihadapi sendirian oleh si pemimpin itu sendiri. Maka dari itu, untuk menjalankan roda organisasi, pemimpin yang terpilih akan membentuk kepengurusan. 

Gunanya adalah bukan hanya sekedar formalitas atau ritual sebuah organisasi belaka, tapi demi mencapai tujuan yang sudah dirumuskan oleh si pemimpin tersebut. Si pemimpin tentu punya visi misi, maka pengurus merumuskan program kerja mereka berdasarkan visi misi yang dirumuskan oleh si pemimpin itu. Ada juga yang visi misinya sudah dirumuskan bersama saat musyawarah besar (mubes) sehingga ketua tidak perlu membuat visi misi, atau tetap menggunakan ketuanya. Tergantung organisasinya sih. 

Dan, kepengurusan dibentuk agar bisa melengkapi kekurangan si pemimpin. Maka wajar jika penetapan seseorang menjadi wakil, atau sekretaris jenderal, atau ketua bidang tertentu, itu memerlukan pertimbangan, karena perlu memikirkan apakah kebutuhan kaderisasinya bisa terpenuhi di tempat itu, dan apakah dia juga bisa melengkapi tim kepengurusan tersebut. Misal, jika si pemimpin adalah orang yang paham manajemen organisasi tapi tidak tegas, maka perlu didampingi oleh wakil atau mungkin sekjen yang tegas. Jika kurang berwibawa, maka ada orang di kepengurusan yang bertugas untuk kewibawaan itu, sembari si pemimpin belajar untuk berwibawa. 

Seiring berjalannya kepengurusan, si pemimpin pasti mulai belajar untuk menjadi tegas, atau belajar menjadi orang yang pandai memikirkan strategi. Dengan begitu, ia semakin memperbaiki kekurangannya, begitu pula dengan pengurus yang lain. 

Btw, ketegasan dalam kepemimpinan itu penting, sehingga kalau pemimpinnya kurang tegas, ya harus ada satu orang atau beberapa orang di dalam tim inti atau badan pengurus harian yang bisa tegas dan membantu pemimpin untuk bisa membuat keputusan tegas.

Inilah bentuk organisasi yang lebih baru dan lebih berkolaborasi. Selain itu, bentuk kerjasamanya jadi semakin terasa karena saling melengkapi, tidak one man show. Jika telah memahami konsep ini, tentu si pemimpin tidak perlu khawatir akan ada anggapan bahwa dia tidak becus jadi pemimpin. Pengurus yang lain juga tidak akan berpikiran demikian. 

Begitulah. Jadi, pemimpin itu tidak harus sempurna, karena ada tim yang melengkapinya.

Bagaimana menurut anda?

Komentar