PPI Malaysia: Sebuah Perjalanan Berliku


Judul di atas bukanlah sekadar pemanis. Memang benar! Di artikel sebelumnya tentang tantangan baru dalam berorganisasi, saya telah menjelaskan betapa menantangnya keputusan untuk bergabung di PPI Malaysia, khususnya sebagai koordinator departemen penelitian dan kajian strategis (penkastrat). Dan, setelah saya jalani, Ya Allah bener-bener terasa banget tantangannya sehingga saya berani meletakkan kata-kata "sebuah perjalanan berliku". Berikut penjelasannya.

Pertama, saya harus menjadi orang yang siap menerima banyak informasi, khususnya isu-isu yang berkaitan dengan Indonesia atau warga Indonesia di Malaysia. Terlebih jika isunya bersifat mendesak, memanas secara nasional untuk beberapa waktu lamanya, juga berkaitan dengan kesejahteraan rakyat Indonesia. Berat, karena saya bukan orang yang peka akan hal-hal tersebut. Untuk bisa terus mengetahui kabar-kabar terbaru, saya harus mulai merubah kebiasaan hidup, seperti kalau misalkan biasanya saya makan siang atau makan malam sambil nonton video life lesson drama, komedi choki muslim, stand-up comedy, netflix, bahkan nontong ulang film-film kamen rider yang saya save di google drive, maka saya ubah kebiasaan itu dengan tetap sambil nonton, tapi yang ditonton adalah mata najwa, ILC, berita-berita, bahkan podcast atau video dialog dari tokoh-tokoh kunci yang berpengaruh di masyarakat. Tujuannya tidak lain adalah agar kepala saya tetep update dengan isu-isu terkini. Kalau nemu yang strategis, maka bisa didiskusikan bareng teman-teman penkastrat dan nanti luarannya bisa ke beberapa hal, seperti surat pernyataan sikap, podcast, infografis, artikel, bahkan bikin diskusi terbuka. Apalagi ketua umum PPI Malaysia nya, Muhammad Haidar Mohalisi, sering ngajakin saya ngobrol soal perkembangan isu terkini, padahal dia tuh masih undergraduate. Jurusannya teknik pula. Tapi ketertarikannya dengan perkembangan isu di Indonesia sangatlah tinggi. Jadi, mau nggak mau ya saya harus siap, kan?

Kedua, tentang bagi waktu yang lumayan rumit. Pasalnya, tahun 2021 adalah tahun di mana seharusnya saya bisa serius menuntaskan thesis dan artikel ilmiah untuk jurnal-jurnal bereputasi tinggi (buat persyaratan sidang soalnya). Tapi, karena terbagi, dan terbaginya nggak cuma untuk PPI Malaysia, jadinya agak berantakan. Tapi sudah terlanjur, jadi paling tidak saya dapat pelajaran manajemen waktu, manajemen diri dan manajemen tim. Dalam hal ini, bukan PPI Malaysia nya yang salah, tapi saya yang tidak bisa mengatur kerjasama tim dengan baik.

Ketiga, mengenai gap umur. Hal ini sudah saya sampaikan di artikel tentang tantangan baru berorganisasi. Beneran sih ini tantangan, karena cara berorganisasi dan bekerjasamanya juga beda. Contohnya saya sendiri dengan teman-teman. Perbedaan umur saya dengan teman-teman di penkastrat sekitar 3 sampai 7 bahkan 8 tahun lebih muda dari saya. Perbedaan generasi yang cukup berbeda ini, meskipun masih masuk generasi muda ya, ternyata lumayan membuat perbedaan dalam cara pandang berorganisasi. Meskipun tidak terucap secara lisan, tapi terlihat secara perilaku organisasi. Entah agak sulit juga menjelaskannya. 

Mungkin satu hal yang terlihat, yaitu, karena jarak umur tersebut, bisa jadi muncul kesungkanan dari yang lebih muda, atau biar tidak marah, mungkin cukup diiyakan saja. Sebaliknya, yang labih senior, merasa 'malas' atau mungkin kehilangan wibawa jika harus menjemput bola untuk menanyakan kesulitan ke yang secara umur lebih muda. Ini benar-benar jadi pelajaran. Artinya, kedepannya, yang seperti ini harus dipotong. Sebenarnya yang rawan adalah ketika dalam sebuah kepengurusan, ada salah satu, mungkin ketua divisi, mungkin anggota divisi, yang usianya jauh lebih senior. Karena rentan dengan merasa tidak dihormati, tidak didengarkan, dan sulit dikritik padahal apa yang dilakukan mungkin harus dievaluasi atau dalam keadaan terburuk bisa membahayakan organisasi. Superioritasnya ada karena merasa lebih lama hidup ketimbang yang lain. Ini juga pelajaran penting sih. 

Persoalan jarak usia ini sudah pasti ada di PPI manapun, karena anggotanya bisa dari berbagai tingkatan studi, kan? Bahkan tidak ada jenjang kaderisasi. So, tinggal bagaimana mengatur kedewasaannya. Ini tantangan berat sih. Di organisasi-organisasi yang saya geluti sebelumnya, gap memang terjadi, hanya saja tidak sangat jauh, dan ada jenjang kaderisasi, sehingga kemungkinan besarnya adalah orang-orang yang berada di pucuk pimpinan adalah berusia lebih senior dari jajarannya. Berdasarkan pengalaman, kasus di mana anggota bidang ternyata seangkatan atau bahkan jauh lebih senior secara umur dengan pimpinan atas atau ketua bidang sangatlah jarang terjadi. Hal itu bisa terjadi jika anggota bidang tersebut memasuki jenjang perkaderan di waktu yang agak terlambat, atau karena banyak tanggungan di luar organisasi sehingga bisanya hanya di posisi anggota bidang. Tapi, di PPI, siapapun yang akan bergabung di kepengurusan, berkaitan dengan kasus ini, harus siap berhadapan dengan adaptasi yang bagi saya lumayan perlu kerja keras, siapapun orangnya. Harus siap untuk bertindak tegas atau siap tahu diri kalau salah dan siap dievaluasi, karena jika tidak, organisasi akan mengalami kemacetan.

Oke, jih! Jalannya memang berliku. Tapi, masa iya nggak ada yang asyik?

Tentu ada, dong! Bertemu dengan orang-orang baru merupakan vitamin hidup. Ornag baru, dengan keunikan masing-masing yang bener-bener di luar pemikiran kita. Nggak disangka aja bisa ketemu mereka. Bahkan, jaringan jadi makin luas karena kenal orang-orang dari berbagai penjuru, sesama pelajar Indonesia, tapi dari kampus yang berbeda-beda di Malaysia. Pikiran yang tadinya sempit jadi makin terbuka. 

Momen mengasyikkan ketika perkenalan pertama dengan pengurus PPI Malaysia, dengan penkastrat, kalau rapat sama penkastrat asyik, bahkan setelah rapat kami lanjut ngobrol dari hati ke hati sampai keesokan harinya. Tak hanya ngobrol, bahkan nge-game! Seru! 

Sayangnya, kami cuma ketemuan daring. Coba bisa langsung ketemuan gitu sepertinya ikatan kami akan semakin erat. Sedih banget. Cuma bisa ketemu dengan beberapa aja, itupun karena agenda pertemuan dengan KJRI atau KBRI. 

Ya sudahlah. Seneng banget saya dapet banyak pelajaran melalui proses yang greget ini. Semoga temen-temen di PPI Malaysia, khususnya penkastrat, semakin sukses, lancar studinya, dan nggak berhenti mengembangkan diri! 

Semoga bermanfaat! 

Komentar