Jadi Pengurus di IMM Lagi

 

Sudah sekian lama semenjak 2016 silam, akhirnya saya berproses lagi sebagai pengurus di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah atau IMM. Kali ini, bukan di level komisariat, namun di tingkat cabang. Bukan seperti cabang pada biasanya, karena ini merupakan Cabang Luar Negeri. Namanya Pimpinan Cabang Luar Negeri IMM Malaysia. 

19 Februari 2022 lalu sudah melakukan Musyawarah Cabang (Musycab) yang pertama dan kemudian terpilihlah ketua serta beberapa jajarannya, termasuk saya. Meskipun musycabnya diadakan online dan offline, semua bisa berjalan dan nggak mengurangi semangat teman-teman dalam menjalankannya.

Saya pengen cerita hal-hal berkesan dari proses musycab ini sampai sekarang jadi pengurus.

Hal berkesan pertama adalah ketika saya tergabung dalam tim materi yang menyiapkan draft musycab, mulai dari tata tertib, GBHO, mekanisme kerja, rekomendasi, sampai tata cara pemilihannya. Berkesan banget karena kami selaku tim materi (Ahmad Shidqi Mukhtasor, Mansurni Abadi & saya sendiri) bener-bener harus berangkat dari awal. Untunglah IMM sudah punya pedoman yang jelas, sehingga kami banyak berpulang ke landasan yang berlaku, yaitu Tanfidz Muktamar XVIII di Malang. Selain itu, sebuah kesyukuran karena dulu berproses di IMM Komisariat Renaissance FISIP UMM, sehingga saya banyak terbantu dalam proses perumusan draft-draft musycab. Pengalaman-pengalaman, teori serta praktik pada saat berproses di komisariat dulu sangatlah membantu. Selain itu juga ada masukan-masukan dari senior yang pernah jadi instruktur di IMM Malaysia, serta pimpinan DPP juga.

Berkesan juga ketika proses musyawarahnya. Sudah saya duga, tidak semua yang kami tawarkan di draft akan mudah untuk disepakati begitu saja, mengingat ini merupakan fase pengembangan. Yang kami tawarkan sangat banyak dan merupakan bentuk usaha agar IMM Malaysia mampu melalui perkembangan dan pemantapan pada sistem keorganisasian serta perkaderan yang lebih baik dan terorganisir. Maka wajar jika tawaran kami juga lumayan bikin "kaget" sehingga perlu ada penyesuaian-penyesuaian. Mantap dan seru, sih!

Satu lagi, berkesan rasanya ketika terpilih sebagai formatur. Sebagai informasi, di IMM, berlaku dua metode pemilihan yang digunakan pada musyawarah tertinggi di setiap level, yaitu "pemilihan langsung" dan "pemilihan formatur". Formatur ini adalah tim yang menyusun personalia kepengurusan dan jumlahnya juga sudah ditentukan di tata tertib pemilihan. Metode pemilihan langsung diawali dengan memilih ketua, kemudian baru memilih tim formatur. Sedangkan pemilihan formatur yaa langsung saja memilih calon formatur dengan jumlah yang sudah ditetapkan. Misal harus memilih 13, maka milihnya 13. Calonnya bisa banyak. Tapi yang dipilih adalah 13 suara tertinggi. Saat ini, peraturan yang berlaku adalah level cabang sampai pimpinan menggunakan pemilihan langsung, sedangkan level komisariat menggunakan pemilihan formatur. Namun, semua itu melihat kondisi juga, karena ada komisariat, karena beberapa alasan, masih belum bisa melaksanakan pemilihan formatur, dan justru menggunakan pemilihan langsung. Pada musycab ke-I kemarin, IMM malaysia menggunakan metode pemilihan formatur dengan beberapa penyesuaian dalam mekanismenya, dan saya masuk di dalam tim formatur yang terpilih. Rasa berkesannya itu karena ini merupakan pertama kali dalam hidup saya merasakan berada di forum formatur hasil pemilihan dengan metode pemilihan formatur. Sebelumnya, pernah di forum formatur tapi hasil dari metode pemilihan langsung saja di tingkat komisariat. Saya juga hanya sebatas tahu sedikit soal mekanisme dan dinamika dalam rapat formatur. Eh akhirnya ini ngerasain.

Dari rapat formatur pada musycab kemarin, ditetapkanlah Ketua Umum IMM Malaysia periode 2022-2024, yaitu Immawan Aunillah Ahmad, seorang mahasiswa di International Islamic University Malaysia (IIUM), alumni Muallimin Jogja, ornag Surabaya, putranya almarhum Pak Nadjib Hamid, tokoh Muhammadiyah Jawa Timur. 

Kocaknya, saya dapat amanah jadi Sekretaris Umum di kepengurusan baru ini. Hehe, terakhir kali pegang administrasi tuh pas tahun 2014-2015 sebagai sekretaris bidang keilmuan di IMM Komisariat Renaissance FISIP UMM. Waktu menjabat sebagai ketua umum di Renaissance dulu (periode 2015-2016) juga sedikit banyak belajar tentang administrasi, bareng Sekretaris Umum waktu itu, yaitu Mochamad Imron Kurniawan, dan Ketua Bidang Organisasi yaitu Muhammad Hamdan. Belajar juga sama Sekretaris Umum & Bendahara Umum periode sebelumnya yaitu M. Sandi Kurnia Setiawan dan Faridha Kautsariyah Noor Kusuma (sekarang Sekretaris Umum DPD IMM Kalimantan Selatan). Amanah jadi sekum (singkatan sekretaris umum) ini lumayan kaget juga, karena dulu selama berproses, saya nggak ada pandangan untuk jadi sekretaris umum. Kalaupun mau lanjut ke struktural di atas komisariat mungkin di beberapa bidang tertentu atau apapun berdasarkan kebutuhan komisariat. Tapi, nggak apa-apa. Semoga amanah baru ini membuat semangat belajar saya nggak padam.

Semoga kedepannya IMM Malaysia bisa makin sip, khususnya perkaderan, keorganisasian dan juga gerakannya. Good luck for IMM Malaysia!

 

Komentar